
Penasaran sudah pasti. Viktor yang ingin tahu mobil siapa, akhirnya mencoba untuk mengeceknya sambil melajukan mobilnya dengan pelan.
"Mobilnya Papa? kok ada di rumahnya Vania. Apakah Papa kenal baik dengan orang tuanya Vania? mungkinkah ada kerja sama? entahlah. Tapi, jangan-jangan Vania yang mau dijodohin sama Kak Ergan. Enggak enggak enggak, tidak mungkin." Gumam Viktor penuh tanda tanya dengan mobil yang ada di depan rumahnya Vania.
Tidak mau kepikiran, Viktor memilih untuk pergi meninggalkan halaman rumahnya Vania karena takut berprasangka buruk dan yang tidak tidak pikirnya.
Sedangkan Vania yang baru saja masuk ke rumah, Vania dikejutkan dengan kedua orang tuanya dan seorang laki-laki seumuran orang tuanya tengah duduk di ruang tamu.
"Vania, duduklah. Papa ingin berbicara sesuatu padamu." Ucap ayahnya meminta putrinya untuk ikutan duduk.
"Iya, Pa." Jawab Vania yang menyimpan rasa penasaran, kemudian ia segera duduk di sebelah ibunya.
"Perkenalkan, dia ini putri saya satu-satunya yang bernama Vania. Dia sebentar lagi selesai kuliah. Sebenarnya Vania ini ingin kuliah di luar negri, tapi saya menghalanginya, karena sesuai perjanjian kita untuk menjodohkannya dengan putra pertamanya Tuan Robi." Ucap ayahnya Vania yang langsung memperkenalkan putrinya kepada Tuan Robi Nugraha.
"Baiklah, sepertinya waktu kita tidak bisa untuk ditunda lagi. Persiapkan saja hari pernikahannya, nanti saya yang akan memproses segala urusannya." Jawab Tuan Robi seperti mendapatkan kebahagiaan ketika putranya akan menikah.
Sedangkan Vania tidak berani menolak ketika berada di hadapan Tuan Robi. Hanya bisa pasrah dan tidak bisa memberi keputusan, meski jiwanya ingin memberontak.
"Kami akan siapkan hari pernikahan secepatnya. Lebih cepat lebih baik, bukan begitu Tuan Robi?"
"Benar sekali. Kalau begitu saya mau langsung pulang. Jika ada sesuatu yang penting dan ingin dibicarakan, hubungi saja langsung."
"Baik, Tuan. Semoga harapan kita tergapai, sesuai perjanjian dari kedua belah pihak keluarga, yakni keluarga Nugraha dengan keluarga Erlingga." Ucap ayahnya Vania.
__ADS_1
Setelah berpamitan, kini tinggal Tuan Daman, istrinya, dan Vania yang merasa dongkol saat dirinya harus menerima perjodohan layaknya jaman dulu kala.
"Ma, Pa. Memangnya gak bisa ditolak kah perjodohan dari Papa?"
Vania akhirnya angkat bicara, meski terasa berat untuk berucap.
"Tidak bisa ditolak. Keluarga Nugraha dengan keluarga Erlingga sudah ditetapkan sesuai perjanjian untuk dilakukan perjodohan. Entah siapa yang mempunyai anak perempuan dan laki-laki, yang jelas jika ada yang bisa dijodohkan, ya harus dijodohkan, terkecuali anaknya laki-laki semua atau perempuan semua. Namun, tetap saja akan jatuh ke cucunya. Jadi, keputusan Papa tidak bisa di rubah lagi, bahwa kamu akan tetap menikah dengan lelaki pilihan Papa, yakni pilihan keluarga Erlingga." Jawab sang ayah dengan sangat tegas.
"Baiklah, terserah Papa." Ucap Vania yang langsung pergi ke kamarnya untuk merebahkan tubuhnya yang terasa lelah dan tidak bersemangat sejak keputusan di terima.
Sambil menatap langit-langit kamarnya, Vania seperti kehilangan semangat hidupnya. Kini, seolah masa depannya telah hancur, juga dicuri tanpa izin darinya.
Sang ibu yang dapat melihat dan merasakan kesedihan yang dialami putrinya, segera menemui dan menghiburnya.
"Mama tahu, keputusan dari Papa sangat sulit untuk kamu terima. Juga, Mama tidak bisa berbuat apa-apa selain menjadi teman curhat untukmu, Nak. Maafkan Mama yang tidak mempunyai kehendak untuk mengatur Papa kamu, meskipun dengan protes." Ucap ibunya sambil mengusap pucuk kepala putrinya.
Vania langsung membuka kedua matanya, dan menatap wajah ibunya yang masih terlihat cantik, meski sudah dimakan usia.
"Memangnya tidak ada cara lain kah, Ma? sampai-sampai Vania harus menikah. Padahal Vania ingin mengejar cita-cita setinggi langit, tapi harus pupus hanya karena perjodohan. Seolah tuh, Vania tidak diizinkan untuk sukses. Ya sih, ada kak Vando. Tapi kan, Vania juga pingin menjadi wanita karir." Jawab Vania yang kini mencoba protes kepada ibunya.
"Sepertinya tidak bisa menolak keinginan Papa kamu, Nak. Keputusan sudah bulat, dan juga tidak bisa untuk diganggu gugat. Jadi, jalan satu-satunya kamu tetap menikah. Soal karir, bisa dibicarakan nanti. Mama akan memberi usulan sama keluarga Nugraha untuk mengizinkan kamu lanjut kuliah, gimana? tapi tidak di luar negri, karena kamu sudah bersuami." Ucap ibunya.
Vania yang mendengarnya, pun terasa tidak bersemangat. Meski kuliah, maka akan tetap beban pikirannya bertambah, pikirnya.
__ADS_1
"Mungkin pilihan Papa itu yang terbaik untuk kamu. Belum tentu juga pilihan kamu itu yang terbaik, dan pilihan Papa itu salah. Mana ada orang tua sendiri akan tega melihat anaknya menderita, Papa pasti lebih tahu mana yang baik untukmu, dan mana yang tidak baik untukmu." Sambung ibunya lagi sambil memberi nasehat kecil untuk putrinya.
"Mama sendiri apakah sudah yakin, kalau yang mau dijodohin sama Vania itu, orangnya baik?"
"Tuan Nugraha mempunyai tiga anak laki-laki, pertama kembar, dan satunya tidak. Sedangkan yang akan menikah dengan mu itu, kembar pertama. Kata Papa kamu, meski sikapnya dingin, tapi dia tahu bagaimana cara memperlakukan Papa dengan baik, dan dia lelaki yang bertanggung jawab. Papa mengenalnya dengan baik. Berbeda dengan kedua, meski baik, Papa tidak menyukainya." Jawab ibunya menjelaskan dengan detail.
"Mama yakin yang dikatakan Papa?"
Ibunya Vania pun mengangguk dan tersenyum.
"Mama sudah mengenalnya dengan baik. Makanya, pilihan orang tua pasti tidak asal asalan mencarikan jodoh untuk putrinya. Jadi, jangan menolak keputusan Papa kamu." Jawab ibunya mencoba untuk meyakinkan putrinya.
Vania yang semakin dilema, seolah sulit untuk mencerna setiap ucapan yang terlontar dari ibunya.
"Sudah mau sore, mendingan kamu mandi, nanti malam kita akan pergi ke acara pernikahan anaknya teman Papa. Sekalian juga, kamu akan bertemu dengan calon suami kamu."
"Apa!"
"Tidak udah kaget gitu, Nak. Calon suami kamu tampan, lagi. Tapi awas, nanti kamu salah sasaran. Enggak, Mama cuma bercanda. Meski mereka kembar, nanti kamu bakal bisa membedakannya sendiri." Kata sang ibu.
"Punya suami kembar, benar-benar menjadi beban pikiran. Kenapa harus serumit ini sih, Ma? memangnya gak ada apa, lelaki yang tidak kembar. Hidupnya Vania itu udah rumit, pusing, ini lagi, mau punya suami kembar." Gerutu Vania yang semakin pusing memikirkan nasib yang menimpanya.
Entah harus bahagia atau enggaknya, Vania benar-benar merasa penat untuk memikirkannya. Namun, mau bagaimana lagi, Vania sendiri tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah dan menerima kenyataan yang ada. Menolak pun tidak akan bisa, pikirnya yang semakin penat.
__ADS_1