
"assalammualaikum" ucap salam ku di depan pintu rumah sherly. Sekarang hari minggu, sesuai janji, jika aku berhasil menjuarai lomba, sherly mau jalan dengan ku.
"Eh.. yang waktu itu ya?" Tanya bibi, pembantu sherly.
"Jangan panggil yang waktu itu, panggil saya daniel" jelas ku lalu tersenyum.
"Sherly nya ada?" Tambah ku.
"Ada, silahkan masuk dulu" bibi mempersilahkan aku masuk.
"Silahkan duduk dulu" bibi menyuruh ku duduk, aku duduk saja.
"Sebentar ya, saya buatkan teh dulu" ucapnya setelah aku duduk.
"Bi, jangan manis-manis ya, saya udah manis soalnya" jawab ku lalu tertawa kecil.
"Bisa aja.." jawabnya sebelum melangkah lagi.
"Eh ada siapa ini?" Seorang perempuan dan seorang lelaki datang bersama, aku berdiri lalu bergegas bersalaman dengan nya.
"Daniel, tante om" aku pun memperkenalkan diri.
Mereka pun duduk, aku ikut duduk berhadapan dengan mereka.
"Kenalin saya gilang, papa nya sherly, dan ini belly, mamanya sherly" ucap papa sherly ramah.
"Salam kenal om tante" jawab ku, tak ku sangka aku berbicara langsung dengan kedua orang tua sherly.
"Sherly udah cerita tentang kamu, katanya kamu baru saja memenangkan lomba olimpiade kedokteran ya juga juara 1" ucap mama sherly
"Iya ma? Hebat juga kamu" sahut pala sherly.
"Alhamdulillah om, tante" jawabku singkat, aku masih gugup, ini pertama kalinya aku bertemu dengan orang tua dati wanita yang ku dekati.
"Silahkan diminum ya, jangan sungkan-sungkan" bibi kembali membawakan 3 gelas teh kemudian kembali.
"Silahkan diminum" ucap papa sherly, aku mengangguk dan meminumnya seteguk.
"Sherly nya ada om tante?" Tanya ku, dari pada diam tak ada percakapan.
"Ada, gak sabar ya, sebentar ya, emang suka lama anaknya kalo rapi-rapi" mamanya yang menjawab ku
"Gapapa, santai aja tante" jawab ku sambil menggosok kedua tanganku.
"Kenapa? Dingin ya?" Tanya papa sherly.
"Enggak kok om" sejujurnya aku gugup.
"kamu jurusan kedokteran kan?" Tanya papa sherly lagi.
"Iya om" jawab ku.
"Nanti kalo akan jadi dokter dong?" Tanya nya.
"InsyaAllah om, doain aja"
"Nanti kamu obatin hati om ya"
"Emangnya om sakit apa?"
"Untuk nanti, untuk mengobati hati om agar ikhlas melepaskan putri om"
"YaAllah om, masih lama, jadi terharu juga saya" jawab ku, aku tak menyangka papa sherly juga suka bercanda.
"Pa, mama samper sherly dulu ya, kasian daniel jadi nunggu lama"ucap mamanya sambil menepuk pelan bahu suaminya, papa sherly mengangguk.
"Jadi, kamu udah jadian sama sherly?" Tanya lagi pala sherly setelah mamanya pergi
"Belum om" aku tersenyum. Aku tidak tau bagaimana respon papanya sherly jika tau sebelumnya aku adalah playboy, papanya sherly baik, aku akan berusaha tidak akan menyakiti sherly.
"Kalo kamu mau pacaran sama anak saya, jangan lupa hubungi om"
"Buat apa om?" Tanya ku bingung.
"Sherly kan anak nya om, saya juga mau tau anak saya bahagia" aku tersenyum mendengar jawabannya, juga takut membuatnya kecewa.
"Kalo gitu boleh minta kontak om" kata ku memberanikan diri.
__ADS_1
"Ohh . Boleh-boleh" papa sherly mengeluarkan hp nya, begitupun aku, kami bertukar kontak.
"Papa lagi apa?" Tanya sherly yang tiba-tiba saja datang bersama mamanya.
"Ini pacar kamu?" Tanya papanya.
"Apa sih pa, bukan, hanya teman" jawabnya setelah melihatku.
"Teman apa teman" papa sherly menggoda sherly,
"Ihh papa, udah yu daniel kita keluar sekarang aja" ajak sherly melihat ku.
"Om, tante, daniel pamit undur diri dulu" aku berpamitan, mereka mengangguk.
"Jangan pulang malam-malam ya" ucap papa sherly saat bersalaman dengan ku.
"Siap om" aku sambil mengambil sikap siap seperti saat baris berbaris.
"Haha lucu juga kamu, yaudah sana" ucap papanya sherly.
"Assalammualaikum" ucap ku sebelum melangkah keluar.
"Waalaikumsalam" jawab kedua orang tua sherly, baru aku dan sherly melangkah keluar.
"Papa kamu lucu juga ya" ucap ku saat sudah di dalam mobil.
"Iya, tapi dia disini hanya seminggu, setelah itu dia akan kembali lagi ke Singapura" jawabnya.
"Gak usah sedih kan udah ada aku disini yang siap menemani kamu" jawabku tersenyum kepadanya.
Dia menarik napas dalam lalu mengeluarkannya
"Bisa gak kamu fokus mengendarai aja?"
Tak ku sangka ternyata dia masih jutek kepadaku.
Aku hanya mengangguk mengerti, aku juga tau rasanya, karena papanya kurang lebih sama seperti ku yang suka keluar kota untuk bisnis.
Hari itu aku pergi ke luar kota bersama sherly seharian, aku sangat menikmati itu, tak disangka ternyata Sherly tidak pendiam seperti perkiraan ku, dia jauh lebih asik dari pada itu, apalagi semakin waktu berjalan, aku merasa dia mulai merasa nyaman dengan ku, sudah tidak malu-malu seperti dulu dan tidak sering menunduk jika di hadapanku.
hingga saatnya waktu makan malam
"mau makan dimana?" tanya ku padanya.
"disana gimana?" aku menunjuk sebuah tempat makan pinggir jalan.
"boleh" jawabnya.
"kamu senang?" tanya ku padanya
"belum pernah sebahagia ini" jawabnya.
"kamu tau? kenapa langit di malam ini cerah?" tanya ku sambil memandang langit, berhenti melangkah sebentar.
"kenapa?" tanyanya ikut memandang langit.
"langit ikut bahagia melihat kita bersama dan bahagia hari ini"
"kamu gombal terus ya, tapi berhasil buat aku bahagia" jawabnya kembali memandangku, kita saling memandang.
"ayo kita makan" ajak ku.
"ayo" jawabnya kita meneruskan langkah.
saat ingin masuk tak disangka sherly tersandung, sepertinya ia tidak menyadari bahwa ada 1 tangga. aku memegang tangannya agar ia tidak jatuh.
Aku terus memperhatikan lalu ia tertawa, membenarkan langkahnya, dia masih tertawa, aku juga ikut tertawa, hati ku senang rasanya melihat dia tertawa, kita duduk disebuah meja makan yang hanya ada aku dan dia.
"Kenapa?" Tanyanya sambil tersenyum dengan kedua tangan mewadahi wajah. Dia cantik sekali dan anggun, ini pertama kalinya aku merasa nyaman dan dekat dengan seseorang.
"Ketawa mu bagus, senyum mu indah" jawabku masih tersenyum melihat ke arahnya.
"Kamu bisa saja" jawabnya.
"Oiya kamu mau apa?" Tanyanya.
"Samain aja kaya kamu" jawab ku masih memandangnya.
__ADS_1
"Mie ayam aja ya" katanya.
"Boleh" jawab ku sambil tersenyum, rasanya senyum ku tak bisa pudar, lalu dia pergi memesan 2 mie ayam dan 2 es teh manis, lalu tersenyum.
"Makasih ya" katanya saat duduk kembali.
"Makasih untuk?" Tanya ku.
"Untuk hari ini" jawabnya.
"Gak perlu, aku yang harusnya terima kasih, terima kasih udah mau jalan sama aku" jawab ku, kali ini kita saling menatap satu sama lain dan tersenyum.
"Sama-sama"
"Lain kali kita jalan lagi ya, tapi..."
"Tapi apa?" Tanyanya
"tapi.. Aku mau kita jalan tanpa syarat" katanya ku, ia hanya tersenyum, mengingat jalan kali ini karena aku telah memenangkan lomba.
Sherly mengangguk pelan dan tersenyum.
"Makasih ya" sahut ku, aku senang sekali.
"Tapi, kamu harus janji, kamu gak boleh lagi deketin perempuan lain lagi selain aku" katanya lagi.
"Aku janji" katanya mengangkat jari kelingking ku kepadanya, sherly memasangkan jari kelingkingnya dengan ku dan saling mengait.
kami makan bersama, saat selesai makan ia malah memegang hp nya
"boleh pinjam?" tanya ku padanya.
"ini?" menunjukkan hp nya, aku mengangguk.
"jangan buka yang macam-macam" katanya dan memberikan ponsel itu padanya.
aku membuka note pada hp nya dan menuliskan isi hati ku.
ada hal di dunia ini yang sangat menarik,
indah tapi cepat menghilang
dingin tapi disukai
panas tapi dibutuhkan
tapi mereka juga cepat hilang
tiada yang lebih cepat hilang dari pelangi
tiada yang lebih dingin dari es
tiada yang lebih panas dari api,
tapi ada yang lebih menarik dari itu, yaitu kamu, tapi untuk hilang tidaknya, itu keputusanmu.
aku sunyi, debu tak bersua, hujan yang begitu dingin, angin tak menggoyah pohon yang diam itu, aku sepi, tapi hadirmu ramaikan semuanya.
lalu ku kembalikan hp kepadanya dan bicara
"kita pulang, nanti papa mu nyariin"
aku berdiri berdiri kemudian melangkah ke penjual dan membayar semua nya, sherly mengikuti ku.
aku mengantar sherly pulang
"jangan lupa baca note di hp kamu ya" ucap ku saat iya membuka kunci mobil, ia sempat menengok lalu menutup pintu kembali.
aku berbaring di tempat tidur ku, notifikasi terdengar dari sebuah chat itu dari sherly.
"kata-kata mu bagus, tapi ku harap itu hanya untukku"
"iya, itu hanya untuk mu, aku belum pernah merasa senyaman ini, hanya kamu" jawab ku di chat itu.
Aku benar-benar merasakan rasa nyaman, rasanya tidak ingin berhenti tersenyum dan berpisah dengannya. Waktu berhentilah sejenak saja, agar dia bisa lebih lama lagi dengan ku.
Sherly tetaplah di sampingku seperti ini, jangan pernah berubah walau pelangi pada akhirnya akan hilang juga setelah hujan hingga tersisa kenangan.
__ADS_1