Playboy Sang Raja Gombal

Playboy Sang Raja Gombal
Episode 35


__ADS_3

"makasih sayang, duluan ya" ucap sherly ketika keluar dari mobil ku, kami habis jalan-jalan bersama.


"Sama-sama cantik" jawab ku.


Kemudian aku mampir ke cafe abc dulu, sedang ada papa dan kakak ku di rumah, pulang sedikit lebih malam mungkin tidak apa-apa, sekarang malam rabu, jadi agak sepi di cafe ini sekarang tidak seperti malam minggu, malam sabtu atau malam jumat.


"America coffee satu" aku memesan di kasir dan mencari tempat kecil, tempat untuk berdua.


"Eh daniel, ketemu lagi kita" seseorang memanggil ku ketika aku hanya men scroll sosial media, aku menengok ke arahnya, itu adalah gibran.


"Eh bran, duduk-duduk" aku menawarinya duduk di depanku, dan ia duduk.


"Abis dari mana?" Tanya ku setelah ia duduk.


"Cari angin luar aja, lo sendiri disini ngapain?" Tanya gibran kembali.


"Mampir aja ngopi dulu" jawab ku singkat.


"Anak geng motor nih" ucap ku ketika melihat jaket berwarna hitam berlengan putih yang ia bawa-bawa ditangannya.


"Iya, biasa, tim pecinta motor sport" jawabnya lagi. aku hanya mengangguk.


"kegiatan sekarang apa nih?" tanya ku lagi.


"kerja gua, kapan-kapan mainlah ke tempat kerja gua" jawabnya.


"boleh-boleh, dimana?" tanya ku.


"cafe hati yang terdalam, terusin bisnis keluarga" ucap ku lagi.


"kerenn.. " jawab ku singkat.


"yoi, kapan-kapan main ya, nanti gua sharelock" ucap gibran lagi.


"oke, kirim aja" sahut ku.


"tapi lo udah punya cafe sendiri mainnya ke cafe lain ya" tambah ku.


"ahahah biasa menganalisis pesaing, kelebihannya buat gua aplikasikan ke cafe gua sendiri" jawab nya.


"harus belajar banyak nih gua dari lo kayanya ahaha" jawab ku.


"bisa aja lo, ahahaha" ucap nya kemudian tertawa kecil.


Tiba-tiba saja masuk 4 anggota satria kenanga, disana ada calvin, andika, vino dan keiza.


"Eh disini lo rupanya" ucap calvin sedikit kasar kepada gibran.

__ADS_1


"Vin, dika, ada apa?" Tanya ku pada mereka.


"Maaf ya nil, tapi lo gak usah tau masalah ini, gua gak ingin lo terlibat" jawab calvin pelan.


"Ikut gua lo, lo jelasin ke mereka kalo itu bukan gua, ataupun anggota gua" calvin sedikit kasar, tapi tidak terlalu keras.


"Lo kenal dia nil?" Tanya gibran.


"Kenal" jawab ku singkat.


"Gak usah tanya yang lain, sekarang lo keluar ikut gua, lo jelasin semua" tambah calvin lagi.


"Gak denger lo calvin ngomong apa, jangan bisanya cuma berkoar dibelakang, giliran udah begini lo kabur" tambah andika.


"Keluar sekarang, ikut kita" tegas keiza.


"Nil, kok lo bisa kenal mereka?" Tanya gibran.


"temen kuliah gua" jawab ku.


"Gak usah ikut campur nil, urusan lo ke gibran gak ada sangkut pautnya dengan gua, dan hubungan gua ke gibran juga dan ada sangkut pautnya ke lo" jelas calvin, aku diam saja daripada memperkeruh suasana.


"Nil, lo diam aja? Kita dulu pernah deket nil, usir mereka kek atau gimana gitu" ucap gibran.


"Gak usah cari perlindungan dibalik topeng" sahut vino kasar.


"Baik ka, kita akan pelan-pelan, maaf ya" jawab calvin lemah lembut.


"Terima kasih atas kerjasamanya kakak" jawab pekerja itu dan kembali.


"Gibran, lebih baik lo keluar sekarang atau..." Calvin berbicara pelan dan tenang sekarang, lalu menunjukkan layar hp kepada gibran, aku yang ingin melihat, tidak diberi celah sedikitpun oleh calvin bahkan untuk melirik saja tidak keliatan.


"Oke-oke gua akan jelaskan kepada mereka apa saja yang gua tau" ucap gibran.


"Bagus, sekarang juga kita berangkat" ucap andika.


"Nil, gua duluan" ucap calvin kepada ku pelan, juga beberapa yang lain, sedangkan gibran hanya keluar dan melangkah dengan wajah yang tidak menyenangkan.


Setelah itu aku pulang ke rumah.


"Eh, baru pulang lo?" Seru kakak ku ketika aku masuk rumah.


"Iya, kenapa emang?" Tanya ku lalu duduk di ruang keluarga bersama kakak, papa, mama dan elina. Aku dan kakak memang suka bercanda.


"adek gua murung aja, kenapa lagi lo? Cewek lagi? ahahaha" Tanya kakak ku iseng dan menepuk bahu ku, aku duduk disampingnya.


"Kepo lo ah" sahut ku kemudian tersenyum.

__ADS_1


"Udah makan daniel?" Tanya bunda.


"Kenapa? Bunda mau suapin aku?" Tanya ku.


"Boleh bun boleh" tambah ku sebelum bunda menjawab.


"Ihhh kakak udah gede juga, masih aja disuapin" sahut elina.


"Kenapa? Iri aja kamu" sahut ku.


"Bayi besar ahaha" sahut kakak.


"Elina gimana? Ajarin kakak kamu caranya makan ahaha" sahut papa lalu tertawa.


Aku hanya tertawa, semua nya ramai, keluarga kecil ini memang tempat untuk ku pulang, aku bahagia bisa lahir di keluarga ini.


"Baik saudara-saudara daniel, pangeran yang tampan izin pamit ke kamar dulu, sekian terima kasih" ucap ku seperti dengan nada pengumuman.


"Kakak baru juga kumpul, sini dulu aja" sahut elina.


"au lo gak kangen lo sama gua?" kakakku menepuk bahu ku lagi.


"iya daniel sini aja dulu, kumpul keluarga kita kapan lagi kan" sahut bunda.


"siap bun" aku mengangkat tangan seperti sikap siap.


"papa apa kabar?" tanya ku pada papa.


"baik, kamu juga apa kabar?" tanya papa.


"tidak sebaik kemarin pa, tapi daniel baik-baik aja" jawab ku.


"gimana ceritanya?" tanya papa.


"papa bingung ya pa, sama daniel juga ahaha" jawab ku kemudian tertawa kecil.


"hmm.... jalanin saja ya, masalah membuat kamu dewasa, perjalanan kamu masih jauh" sahut papa.


"siap raja ku yang juga imam ku juga" jawab ku kemudian tertawa, begitu juga yang lainnya.


setelah itu kami mengobrol bersama, sambil menonton, mengemil bersama, sebuah keluarga yang luar biasa bagi ku, terutama bunda, sang teladan bagi ku.


setelah cukup lama aku bersama keluarga, jam 9 malam elina sudah mulai ngantuk dan pindah ke kamarnya, aku juga menyusul ke kamar ku.


"Pangeran mau istirahat dulu, bay bay" jawab ku lalu melangkah ke arah kamar.


Setelah di kamar aku bertelepon dengan zayeen dan menceritakan semuanya yang terjadi, tapi katanya biarkan saja itu menjadi urusan calvin, ya sudahlah. Zayeen juga bilang, besok dia dan aku diminta untuk menemui bu clara, entah untuk apa. Kuliah sudah berjalan kurang dari seminggu.

__ADS_1


baru saja ku bertemu sherly tadi, tapi rasa rindu sudah menyelimuti hati, sayangnya tugas ku diawal semester ini cukup banyak, aku harus bisa membagi waktu untuk semuanya. sherly, keluarga, kuliah beserta tugas-tugasnya juga masalah hidup yang tiada habis-habisnya.


__ADS_2