
Tak terasa waktu terus berjalan, hingga akhirnya waktunya ujian akhir semester, dan kami mahasiswa kedokteran melakukan beberapa ujian blok.
Di hari terakhir ujian blok yang kebetulan tanggalnya sama dengan hari terkahir uas, selesai ujian aku pergi ke kelas sherly, tak lupa membawa coklat yang sudah ku beli untuknya.
"Lo bisa gak ngejauhin daniel, gua tuh masih suka sama dia, biarin dulu gua usaha biar deket sama dia lagi, biar bisa kaya dulu lagi, saat gua masih sama dia" aku sempat berhenti di luar kelas, samping pintu kelas agar tidak terlihat di kelas yang saat ini sedang terbuka, aku mendengar suara teriakan yang lumayan keras.
"Daniel tuh gak pernah suka sama lo" aku mendengar suara sherly.
"Pelakor macam lo mana ngerti rasanya di duain" ucap hannah kasar.
"Heh, pikir bego, lo udah gak ada hubungan apa-apa lagi sama daniel" terdengar suara mila.
"tomboi, gak usah kasar gitu dong lo sama temen gua" seru kia, salah satu teman hannah.
"Lo diem aja, gua gak ngomong sama lo, dan lo sherly, bisa-bisanya lo tertarik sama cowok gua, kalo tau bakal begini, gua gak akan ..."
"udah hannah" Hingga akhirnya aku masuk, menatap hannah dengan kesal.
Disana sedang ada hannah yang sedang berhadapan dengan sherly, disampingnya ada zyana dan mila.
Hannah juga bersama 3 orang temannya.
"niel kok kamu malah bela sherly?" Tanya hannah.
"Lo punya otak gak sih? Ya karna sherly ceweknya" seru mila yang menjawab itu.
"Eh tomboi, mulut lo bisa gak diem dulu, dan jangan belain temen lo yang murahan itu, yang bisanya ngambil pacar temennya sendiri" ucap hannah.
"nil, lo gak mau belain hannah, atau setidaknya lo gak belain siapa-siapa gitu" ucap teman hannah yang lainnya, desi.
"Udah hannah, mending lo pergi, ajak temen lo sekalian" ucap ku pelan tapi tegas melihat ke arahnya.
"Eh niel, hannah tuh peduli sama lo, masih sayang sama lo, hargain dikit setidaknya" seru salah satu temannya hannah, pita.
"Maaf, tapi gua sama hannah udah gak ada hubungan apa-apa lagi, dan semoga hannah cepet segera lupain gua" ucap ku.
"Daniel, aku bener-bener masih sayang sama kamu, aku bahkan gak bisa lupakan semua kenangan kita, kamu terlalu indah buat aku" ucap hannah.
__ADS_1
"Nil, depan sherly bisa-bisanya gak peduli sama hannah ya, tapi di belakang sherly, lo masih suka ketemukan sama hannah, jalan berdua" ucap teman hannah yang lainnya lagi, desi.
"Hemmm" sherly, ia malah menangis.
"Hah? Jangan fitnah lo fitnah gua" ucap ku menunjuk desi, aku kesal mendengarnya bicara seperti itu yang tak benar, malah memfitnahku.
"Kenapa lo takut? Emang dasarnya playboy playboy aja, gak usah ditutup-tutupin" balas desi lagi.
"Au lo niel dibelakang sherly aja, peduli banget, perhatian, dibelakangnya begini" tambah temennya hannah lagi, kia.
"kalian jangan mengada-ada, lebih baik kalian keluar" ucap ku tegas.
"Ayu na, kita keluar aja" ucap pita, akhirnya mereka keluar.
"Sherly kamu jangan percaya apa kata mereka ya, itu tidak benar" aku mendekat ke sherly, mila dan zyana bergeser sedikit, memberiku celah, aku menarik bangku dan duduk di depannya.
Aku ingin mengusap air matanya, tapi ia malah menolak tangan ku mendekatinya.
"Aku mohon percaya sama aku, tadi itu gak benar" ucap ku lagi meyakinkannya.
"Milaaa..." Seseorang memanggil mila dari pintu, aku menengok, itu andika, pacarnya mila, mereka memang sudah balikan sejak kejadian itu jelas, bahwa andika bukan pelakunya dan tidak ikutan, aku jadi teringat calvin, andika juga teman dekatnya, juga satu geng motor dengannya, ingin aku menanyakan ini, tapi waktunya sekarang tidak tepat.
Aku kembali melihat sherly, mengusap air matanya, tapi ia masih menepak tangan ku.
"Aku mohon, itu fitnah, saat ini pacar ku hanya satu yaitu kamu, yang deket sama aku juga hanya satu, hanya kamu, kamu bisa bertanya sama zayeen atau gabriel, aku ngapain aja kalo lagi diluar, semalam aku kemana" jelas ku, ia malah makin menangis.
Lagi-lagi aku ingin mengusap air matanya, ia tidak menepak tangan ku lagi.
"Jangan dipikirkan ya perkataan mereka, jangan dipercaya, abaikan saja" ucap ku lagi.
"Kamu serius gak ada apa-apa?" Tanya sherly terisak.
"Iya, aku serius" jawab ku.
"Sekarang kamu liat mata aku" aku memintanya untuk melihat ku.
"Ada kebohongan dimata aku sekarang? Aku udah berjanji sama diri aku sendiri untuk tidak bermain dengan banyak wanita lagi" jelas ku.
__ADS_1
"Tolong percaya sama aku" tambah ku.
"Gimana aku bisa percaya, kemarin ada dahlia, terus della, sekarang hannah, saat kita berdua ada aja wanita lain" ucapnya pelan dengan suara terisak.
"Sekarang aku cuma ada kamu sherly, hanya kamu, yang kamu sebutkan tadi hanya masa lalu aku" aku sudah kehabisan kata-kata untuk menjelaskan semuanya.
Aku terus menatap matanya.
"Kalo masih ingin nangis, gapapa keluarin aja dulu biar lega, tapi kamu harus percaya sama aku ya" ucap ku lagi.
"Mil, na pulang yu" ucap nya.
"Ayo ly" sahut ana.
"Sama aku aja ya pulangnya, biar aku yang antar kamu" ucap ku, dia tidak menjawab atau bicara apapun.
"Ayo" ajak ku sambil memberikan tangan kepadanya.
Ia menerima nya dan berdiri.
"Gua sama sherly duluan ya" ucapku pada semuanya sebelum meninggalkan kelas itu.
Diperjalanan sherly hanya menunduk sampai akhirnya masuk mobil.
"dimakan ya sayang, biar kamu happy lagi" aku memberikan coklat yang tadi ku bawa ke pangkuannya.
"makasih" balasnya.
"iya, sama-sama" balasku singkat.
Saat didalam mobil, dia sudah agak tenang, tidak menangis lagi seperti tadi, jadi setelah itu aku tidak berbicara apa-apa lagi, atau mengajaknya bicara, takut dia malah menangis lagi karena mengingat kejadian sebelumnya jadi aku pilih untuk diam, biarkan dia tenangkan dirinya dahulu, dia juga senang menikmati coklat dari ku, jadi ku biarkan saja, asal dia sudah tidak menangis lagi.
hanya hening di dalam mobil, sampai akhirnya sampai di depan rumahnya.
"Makasih ya" ucapnya.
"sama-sama" jawab ku, kemudian ia keluar mobil dan masuk ke rumahnya.
__ADS_1
Katakan pada air tentang masa lalu ku, ia mengenang semuanya dalam genangan, dan ia bersatu juga dengan masa kini, air sulit dipisahkan setiap genangannya dalam kenangan. Api pun tak bisa melihatnya lebih jauh dan masuk ke dalamnya, begitu juga angin tak bisa menyatu atas pesan yang telah ku sampaikan padanya, hanya tersampaikan ke langit saja, tapi itu bagus, agar penduduk langit juga tau bahwa saat ini hanya ada kamu, tidak ada kata dia.