
Gabriel dimana zay?" Tanya ku saat memasuki mobil zayeen.
"Dia naik motor tunggu didepan jalan" jawab zayeen.
"Kenapa gak bareng kita aja?" Tanya ku.
"Gak tau dia" jawab zayeen.
"Tuh dia" tambah zayeen saat melihat gabriel didepannya, dia kemudian jalan.
"Eh bentar, kok gabriel pake jaket geng motornya?" Tanya ku yang melihat gabriel memakai jaket silent night.
"Lah iya, katanya gak bakal dia pake, mungkin nanti di lepas kali" Jawab zayeen.
"Mungkin" sahut ku.
Tak lama, gabriel berbelok ke arah perumahan, kemudian berhenti, ia turun dan aku membuka jendela.
"Nitip jaket gua" katanya setelah melepaskan jaketnya, aku meletakkan di bangku belakang.
"Terus mereka dimana?" Tanya zayeen.
"Di depan ada lapangan tempat biasa mereka kumpul, kita parkir disini aja" jawab gabriel.
"Eh kok gua deg"an ya" kata gabriel setelah aku dan zayeen keluar mobil.
"Kenapa lo?" Tanya ku.
"Kalian belum tau aja satria kenanga gimana" balas gabriel.
"Calvin gak mungkin nyakitin kita atau apa-apa kan kita kan" ucap zayeen.
"Gua heran sama lo gab, lo ngeri sama geng mereka, tapi lo mukulin ketuanya" sahut ku.
"kemarin gua kebawa emosi, Yaudah dah ayo jalan, kenapa kita jadi kumpul disini" sahut gabriel.
Kita bertiga jalan berjarak tiga meter ke depan memang ada sebuah lapangan dan terdapat 2 gazebo di pinggirnya.
Terdengar suara keramaian dari sana, kita masih dibalik semak-semak dan belum menampakkan diri kesana.
"Rame banget lagi" ucap gabriel.
"Yaudah ayo" ucap ku.
"Eh ini kenapa kita jadi mengendap-endap" begini, yang ada nanti mereka curiga" ucap zayeen, kita saling berbisik.
"Gab palain, lu kan geng motor masa takut" ucap ku.
"Yeh ini lagi dikandang mereka, mana rame" balas gabriel
"Eh kenapa jadi begini sih anjir" ucap zayeen.
__ADS_1
"Eh gua ngakak, please ayo eh cepetan" ucap ku lagi, yang kemudian mereka juga menahan tawa, untung saja disana terdengar sangat ramai.
Krengg.. Suara botol kareng yang terinjak oleh gabriel, kami semua saling bertatap.
"Siapa disana?" Terdengar Tanya dari seseorang dari lapangan.
Gabriel malah lari kembali, zayeen ikut lari, aku tak mau sendiri, jadi aku ikut lari mengejar mereka.
Gabriel langsung ke arah motornya dan pergi, begitupun aku dan zayeen masuk ke mobil dan pergi, kami mengikuti kemana gabriel pergi, dan ia berbelok di sebuah cafe outdoor, bernama siv, tempat ini sudah biasa kami singgahi.
Dia memarkirkan motornya, kami juga mencari parkir mobil.
"Eh kenapa malah lari dah?" Tanya zayeen.
"Gua juga gak tau, gua panik tadi, jadi refleks ahaha" balas gabriel lalu tertawa.
"Au eh ini gimana sih, katanya mau temuin calvin ahaha" aku ikut tertawa juga.
"Aduhh ngakak banget gua, kenapa jadi begini" zayeen pun ikut tertawa.
"Mereka gak ngejar kita kan ya?" Tanya ku setelah tertawa reda.
"Kayanya enggak" jawab gabriel.
"Gua pesen minum dulu ya, kalian mau pesen juga gak?" Ucap zayeen.
"Sekalian zay, americano coffe aja" ucap ku.
"Oke" zayeen pergi untuk memesan, begitu juga gabriel ke arah kamar mandi, aku menempati meja ini agar tidak ditempati yang lain tentunya.
Aku mengeluarkan hp, aku mencari calvin pencaharian. Aku buka room chat dengan nya, hah? Yang benar ceklis dua biru, tapi tidak ada jawaban, aku liat info, telah dibaca tadi sore.
Zayeen dan gabriel kembali bersamaan, aku memberi tahu ini ke mereka, mereka juga sama telah dibaca, tapi tidak dibalas.
"Berarti nomornya masih aktif dong?" Tanya zayeen.
Aku mencoba mengirim p,
"Sekarang cekelis satu lagi" aku memberi tahu.
"Langsung chat aja, nanti pasti dibaca sama dia, kita ajak dia ketemuan" ucap zayeen.
"Oke, gua coba bilang, gua kangen lo vin" sahut gabriel.
"Kangen-kangen tapi gak berani lo tadi" sahut ku.
"Dia lagi sama temen-temannya tadi eh rame banget" balas gabriel.
"Iya juga sih, lo aja anggota geng motor gak berani apalagi gua" ucap ku.
"Ajak geng an lo aja gab ahaha" ucap zayeen kemudian tertawa.
__ADS_1
"Ett dah zay jangan bercanda dah lo" balas gabriel.
"Ahaha, yaudah ayu kita temuin lagi, tapi sekarang serius" ucap zayeen.
"Boleh dah yu" gabriel setuju.
"Tapi jangan ada yang lari lagi ya" sahut ku.
"Oke, eh tapi gua sama kalian dulu ya naik mobil, nanti anterin gua kesini lagi ambil motor" ucap gabriel.
"Iya, tapi bentar gua abisin minum gua dulu, rugi tar" sahut zayeen
"Iya gua juga mau nenangin diri dulu, biar gak panik" ikut gabriel, aku mendengarkan saja, sambil menikmati minum ku.
Tak lama kita selesai minum, dan kembali ke tempat sebelumnya.
"Kita gak usah parkir disini aja ya, langsung ke depan aja" ucap zayeen.
"Yaudah coba zay" jawab ku.
Saat di depan lapangan, kami membuka aku membuka jendela sebelah kiri, begitu juga gabriel yang duduk di belakang, tapi disana sudah kosong, tidak ada siapapun lagi.
"Mereka udah pergi" ucap ku melihat keadaan itu.
"Lo tau lagi gab tempat kumpul mereka selain disini?" Tanya zayeen.
"Yang gua tau cuma disini" ucap gabriel.
"Yaudah sekarang kita pulang dulu aja, kita coba lain waktu" ucap ku.
Zayeen menjalankan kembali mobilnya, sampai di siv zayeen meminggirkan mobilnya, membiarkan gabriel keluar.
"Gabriel, kita duluan" ucap ku.
"Iya, hati-hati zay niel" balas gabriel dan masuk ke dalam. Aku dan zayeen meneruskan perjalanan, sampai aku pulang, baru kemudian zayeen ke rumahnya.
Saat di sudah dikamar aku membuka hp, menambahkan pesan ke calvin.
"Vin, lo dimana?"
"Gua, gabriel, zayeen nyariin lo, kita kangen sama lo, kita pengen ketemu sama lo"
"Jangan lupa tentang pertemanan kita yang sudah sejauh ini vin, senang sulit sudah kita lewati bareng-bareng, coba lo ingat-ingat lagi moment saat kita bareng-bareng vin, saat kita bersenang-senang, kita tertawa bersama"
"Gua masih ingin berteman baik sama lo vin, gua ingin ketemu sama lo"
"Oiya, tentang pertemuan terakhir kita saat dikamar zayeen, maaf gua kurang merhatiin kondisi lo, gua bener-bener minta maaf, gua juga mau terima kasih karena udah mau tolongin gua, gua tau dari gabriel, kalo itu geng motor lo, sekarang semuanya udah jelas vin dan yang melakukan penyerang itu bukan lo atau geng an lo, gua udah ngerti"
"Please balas chat gua setelah lo baca ini ya vin, besar harapan gua atas pertemanan gua dan maaf dari lo"
"Gua harap kita bisa bertemu lagi".
__ADS_1
Aku menarik napas, aku mengambil kata-kata yang ada dipikiran ku, aku benar-benar merasa bersalah dengannya, setelah tau bahwa apa yang dikatakannya benar, bahwa yang menyerang ku bukanlah geng motornya, malah dia yang menolong ku waktu itu.