
"niel, maaf ya kemarin temen-temen aku berlebihan" kata sherly saat kita sedang duduk di taman kampus.
"Santai, aku gak permasalahkan tentang itu, aku juga mau minta maaf ya" jawab ku.
"Maaf untuk?" Tanya nya menatapku.
Aku terdiam dahulu sebelum menjawab, aku menatap balik matanya.
"Daniel" panggil lagi sherly.
"Mata mu indah" sahut ku, dia langsung salting dengan menunduk.
"Ih minta maaf untuk apa?" Tanyanya lagi.
"Saat di rumah sakit, maaf membuat kamu cemburu" sahut ku.
"Aku gak cemburu" balasnya.
"Kalo gak cemburu kenapa kamu gak jadi masuk saat ada hannah, padahal aku nungguin kamu buat datang" jelas ku.
"Maaf... aku hanya gak ingin menganggu" katanya pelan.
"Kamu gak ganggu sama sekali" cepat aku membalasnya. Dia tersenyum tipis.
"Kamu beneran gak ada hubungan apa-apa sama hannah?" Tanya sherly lagi.
"Iya" balasku singkat.
"Tapi kamu masih telponan kan sama dia?" Tanya nya, dia tau dari mana, bukannya aku masih ada rasa, tapi hannah yang meneleponku.
"Kadang, tapi dia yang hubungi aku, bukan maunya aku, kamu tenang aja, dia sama aku cuma teman gak lebih" jelas ku.
"Oiya kata kamu kita jadian besok saat hari kita jalan waktu itu, ini udah beberapa hari, gimana?" Tanya ku menatapnya.
"Gimana apanya?" Jawabnya seakan tidak peka.
"Mau enggak jadi pacar aku?" Tanya ku mengulangi lagi.
Sherly hanya mengangguk pelan, aku tersenyum.
"Unchh, makasih sayang" ucapku lagi"
"Kamu hari ini bareng sama zayeen?" Tanya sherly.
"Enggak, hari ini aku sama dia bawa mobil masing-masing, mau jalan?" Tanya ku.
"Kamu udah baikan bawa kendaraan sendiri?" Tanya nya lagi.
"Kalo belum gak bakal bisa nemuin kamu" jawab ku, dia tersenyum.
"Jalan?" Aku mengulangi pertanyaan yang belum terjawab.
"Mau kemana?" Tanyanya.
"Kemana aja, yang penting bumi mendukung kamu untuk bahagia" balas ku.
"Ihh serius mau kemana?"
"Kamu maunya kemana?" Tanya ku
__ADS_1
"Ke hati mu" jawabnya sambil meletakkan jari bentuk lovenya ke dada ku. Aku tersenyum lebar begitu juga dia. Kami tertawa bersama.
"Kamu bisa romantis juga ya" ucap ku.
"Kamu yang ngajarin aku" jawabnya, padahal aku tidak pernah mengajarinya, mungkin maksudnya aku yang sering menggombal dan dia membaliknya. Aku tersenyum.
"Ayo kita jalan aja, kelamaan disini gigi aku bisa kering gegera kamu" ucap ku.
"Kamu haus? Ini aku bawa minum" dia memberi ku botol minumnya.
"Maksudku, gigi aku kering gegara senyum mulu, karena kamu" jawab ku lalu mencolek ujung hidungnya.
"Bisa aja, yaudah yuk jalan" ajaknya.
"Ayo" aku berdiri begitu juga dia.
Saat berjalan disampingnya, sangat ingin rasanya bergandengan tangan dengannya, tapi aku belum berani, entah mengapa dengan dia aku merasa berbeda, kami menuju ke parkiran.
"btw, pelaku yang nyerang kamu gimana, udah ketemu?" tanya sherly di perjalanan saat dalam mobil.
"udah, hanya 5 yang diketahui, sisanya masih dalam penyelidikan" aku memberi tahu.
"hmmm, terus hukuman untuk mereka apa?" tanya dia lagi, sejujurnya aku sedang tidak ingin membahas masalah ini, tapi ku jawab seadanya sajalah.
"untuk sekarang belum ada, sabtu nanti pengadilan, mereka meminta itu" jawab ku.
"ohh..."
"kenapa? kamu khawatir sama aku?" tanya ku menengok lalu kembali ke jalanan lagi.
"jangan ke PD an kamu, aku cuma pengen tau aja" jawabnya.
"ohh oke"
"siapa?" tanya sherly.
"zayeen" jawab ku kemudian mengangkat telponnya, aku mengendarai dengan 1 tangan.
"percakapan di telpon"
"kenapa zay?" aku menanyai lebih dulu.
"ingat, malam ini kita ke markas silent night lagi ya, kita jelaskan semua aja, biar mereka ngerti dan bisa mengambil keputusan dengan baik" zayeen. aku tidak langsung menjawab, aku hanya ingat aku sedang bersama sherly.
"lo lagi dimana sekarang?" tanya zayeen lagi.
"dijalan, untuk nanti oke kita kesana, nanti gua yang jemput lo" jawab ku.
"oke, yaudah udah dulu, gua masih ada urusan" ucap zayeen.
"udah? lo nelpon gua cuma buat ini doang?" aku ngedumel.
"hahaha iya, kenapa? lo lagi jalan sama sherly kan? gua cuma mau ngingetin aja, takut bablas lo nya terus lupa ahaha" jawab zayeen.
"tau dari mana lo?" tanya ku.
"ana, yaudah udah dulu bye" zayeen langsung mematikan telponnya.
aku tau kenapa zayeen langsung mematikan telponnya setelah dia mengatanakan zyana. dia malas jika ditanya-tanya tentang zyana, apapun jika tenang perempuan, dia terlalu private jika tentang itu. aku sudah sangat mengenalnya.
__ADS_1
"zayeen kenapa?" tanya sherly.
"gapapa cuma ngajak ketemu ntar malam" jawab ku.
aku memarkirkan mobil, kemudian masuk ke mal.
"kita nonton yu" ajak ku.
"lama gak? katanya nanti malam kamu mau ketemu lagi sama zayeen?" tanya nya.
"bisa udah, apasih yang enggk buat kamu" jawab ku, lagi pula ini masih jam 5, jika nonton jam 6 paling tidak pulang jam 8 an. atau paling lambat jam 9.
aku ke mall memesan tiket untuk jam 6
"sekarang kita nyari makan dulu ya" ajak ku. kami berjalan ke arah food court.
"boleh, makan apa kita?" sherly bertanya.
"maunya apa? aku ngikut kamu aja" jawab ku.
"apa aja yang ada disini" jawab sherly, dia terkadang lucu.
"aku, kamu mau makan aku?" jawab ku untuk bercanda.
"emang kamu makanan?" jawabnya lucu sekali.
"terus aku apa dong?" aku nanya iseng-iseng.
"kamu pacar nya aku" jawabnya lalu tersenyum.
"kamu lucu juga ya" balas ku.
"kita makan steak itu aja ya" aku menunjuk sebuah toko makanan dengan menu steak sesampainya di food court.
"iya", kami menuju kesana, memesan lalu mencari tempat.
"disini aja" ajak sherly, ia memilih meja untuk 2 orang, aku mengikutinya.
"daniel, papa aku mau balik lagi ke singapura minggu ini" sherly kedengarannya ingin bercerita, aku berusaha untuk mendengarkan.
"mau gak kamu temenin aku ke bandara nganterin papa? sama adik aku juga, sama mama aku" tambahnya.
"bukannya aku mau jadiin kamu supir ya" ucapnya lagi padahal aku tidak ada kepikiran sampai kesana.
"aku hanya mau membuat papa percaya tentang hubungan kita, juga aku ingin memberi tahu ke papa sebelum pergi bahwa kita udah jadian" tambahnya lagi, aku berpikir, hari minggu adalah hari yang sama dimana ayah dan kakakku akan berangkat ke surabaya, sesudahnya pulang dari malang sebelumya.
"kalo kamu gak bisa aku gapapa kok daniel, maaf kalo ngerepotin kamu" tambahnya lagi.
aku menarik napas, aku berpikir untuk jujur saja.
"cantik, aku bukannya keberatan atau merasa direpotkan, hanya saja hari minggu hari yang sama dimana ayah dan kakakku juga akan pergi ke surabaya, jadi aku juga harus nganterin mereka sampai stasiun bersama bunda dan elina" jelas ku.
"ohh gitu, yaudah kalo begitu aku mengerti" jawabnya.
"makasih ya" ucap ku.
"makasih untuk?" tanyanya lagi.
"terima kasih karena sudah mengerti" jawab ku.
__ADS_1
dia hanya tersenyum, kemudian sampai makanan kita di meja, aku dan dia makan, setelah itu menonton, selesai nonton aku dan sherly membeli es krim dahulu, baru kemudian ke parkiran, mengantarnya pulang, selepas itu ke rumah zayeen.
ingin sekali aku menemanimu saat itu, aku juga tau bagaimana rasanya jauh sari orang yang disayangi, apalagi jika kita tidak hadir disaat kepergiannya. aku berharap bisa menemanimu saat itu, tapi keluargaku juga membutuhkan kehadiranku, apalagi setelah kejadian ini.