
"daniel" panggil papa, saat aku sedang mengendarai mobil untuk mengantarnya ke stasiun kereta.
"Ya pa" jawab ku singkat, melihatnya dari kaca depan mobil.
"Maafkan papa jika papa berlebihan ya, tapi papa peduli sama kamu, agar kamu mengetahui konsekuensi jika kamu melakukan kesalahan" jelas papa.
"Iya pa, daniel ngerti" jawab ku singkat.
"Papa kapan kesini lagi?" Tanya elina.
"InsyaAllah bulan depan sayang atau bisa lebih cepat" jawab papa ku.
"Aku masih kangen sama papa" ucap elina.
"Papa usahakan lebih cepat ya" jawab papa.
"Oke pa, papa jangan lama-lama ya" ucap elina.
Bunda ku hanya tersenyum dan mengelus palanya.
Kami tiba di stasiun, aku membantu papa mengeluarkan kopernya dari bagasi, kami juga mengantar papa sampai ia masuk ke dalam stasiun.
Setelah itu kami pulang.
"Kayanya setiap papa kesini, kakak diomelin mulu sama papa, kakak emang hobi ya" ucap elina dengan enaknya.
"Suka-suka kakak lah" jawab ku.
"Iya deh" kata adik ku.
"Bun" panggil ku, setelah beberapa saat hening.
"Iya sayang?" Tanya bunda.
"Hari ini daniel nginap di rumah zayeen ya, jadi besok berangkat kuliah bareng sama dia" balas ku lagi.
"Iya boleh, jangan ngerepotin dia ya" jawabnya.
"iya, Makasih bun" ucap ku, setelah itu hanya hening.
Sampai di rumah, aku mengambil pakaianku untuk besok kemudian langsung bergegas ke rumah zayeen.
"Muka lo murung banget niel, lagi kenapa lo?" Tanya zayeen, saat aku hanya diam di kamarnya. Dia sedang menonton film di hpnya.
"Gapapa" jawabku lalu mengeluarkan hp, kemudian menelpon sherly, aku teringat tentang hal yang ingin dia tanyakan tapi sempat tertunda.
*Percakapan di telpon* aku menggunakan pengeras suara.
"Hai daniel, kabar?"
"Baik, kamu sendiri gimana?"
"Daniel nya lagi murung aja dari tadi" tiba-tiba teriak zayeen, aku melihat ke arah zayeen, dia dia melihat ke arah hp nya.
"Kamu murung kenapa?"
__ADS_1
"Zayeen lagi bercanda aja itu" jawab ku.
"Oiya kemarin kamu mau nanya, nanya apa?" Aku mengingatkan.
"Nanya?" Tanyanya.
"Iya, yang kamu ingin tanya setelah makan itu" aku mengingatkan lagi.
"Ohhh itu, tapi kamu jangan marah ya"
"Iya"
"Aku mau nanya, kamu dulu punya pacar yang namanya ica?"
"Iya"
"Kamu tau kasus dia?"
"Tau"
"Terus.. pelakunya siapa?"
"Aku juga belum tau, kasus itu sudah tidak ada kelanjutannya sampai sekarang, juga tidak tau siapa pelakunya" jelas ku.
"Kenapa emangnya?" Tanya ku.
"Gapapa"
"Kamu juga berpikir aku pelakunya?"
"Aku gak ngomong begitu daniel, kamu lagi kenapa? Jangan salahin diri kamu sendiri kalo kamu gak ngelakuin itu" ucap sherly.
"Iya" jawabnya singkat.
"Papa kamu sudah pulang?" Tanya ku mengganti topik.
"Iya tadi pagi" jawabnya.
"Maaf ya aku belum bisa hadir seperti yang kamu minta"
"Iya gapapa".
"Oh iya daniel, udah dulu ya aku mau ke rumah zyana, selesaiin tugas untuk besok"
"Oke hati-hati sayang"
"See u daniel"
"See you" aku mematikan telpon.
"Zay gabriel sama calvin mau kesini jam berapa?" Tanya ku pada zayeen.
"Gak tau, tanya aja" jawab zayeen, masih fokus dengan tontonannya.
Aku chating dengan calvin dan gabriel menanyakan mereka, hingga akhirnya aku bermain game sampai akhirnya mereka datang sambil menyemili cemilan yang ada di kamar zayeen.
__ADS_1
"Hai guys" sapa calvin ketika masuk kamar zayeen, kemudian menutup pintu. Ia datang pukul 6.20 malam. Aku dan zayeen sedang menonton tv.
"Kemana aja lo Baru sampe sekarang" tanya ku.
"Dari rumah langsung kesini gua, gabriel mana?" Tanyanya balik, kemudian duduk di lantai beralas karpet depan kasur, ia duduk bersandar.
"Biasanya bareng mulu lo sama gabriel" ucap zayeen.
"Lagi gak, gua kira dia kesini lebih dulu dari gua" jawab calvin.
"Belum, mending cari makan yu buat makan malam" jawab ku.
"Pesan online ajalah" sahut zayeen, jiwa magernya keluar.
"Iya bener tuh, gua juga baru sampe, males keluar lagi ahaha" sahut calvin.
"Yaudah, gua ikut kalian" aku pasrah. Zayeen yang memesan makanan itu.
Sampai selesai makan pun gabriel belum juga sampai. Aku chatting dengannya katanya dia baru berangkat dari rumahnya sehabis maghrib, ia pulang ke rumahnya setelah kembali dari pengadilan dan makan bersama kemarin. Ia sama seperti calvin yang jarang pulang ke rumahnya.
Setelah itu, aku zayeen dan calvin hanya bermain ludo, di kamar zayeen.
Sampai tiba-tiba pintu terbuka dengan keras, aku melihat wajah gabriel dengan wajah yang penuh amarah, ia masuk begitu saja tanpa sepatah kata pun, kemudian mendekati kami. Aku melihat tatapannya fokus pada calvin kemudian langsung memukulnya berkali-kali. Aku dan zayeen mencoba menahan gabriel, namun ia melepaskan pegangan kami beberapa kali dan terus menyerang calvin, bahkan calvin tidak melawan sama sekali, ia hanya mencoba menghindar walau sering terkena pukulannya sampai ia terpojok di samping kasur zayeen, hingga darah keluar dari kedua hidungnya dan salah satu sisi di bibirnya.
"Gabriel, berhenti, ada apa?" Aku berteriak melihat gabriel yang tiada henti, aku dan zayeen memeganginya, sedang ia dan calvin masih saling bertatapan.
"Gab coba jelasin ke kita dulu ada apa?" Ucap zayeen tenang.
"Lepasin gua" ucap gabriel masih dengan nada amarahnya.
Aku dan zayeen melepaskannya, kemudian ia duduk di sofa sisi kamar zayeen, meninggalkan calvin.
"Kalian lihat ini" ucap gabriel yang baru saja mengeluarkan secarik kertas dari jaketnya dan melemparnya ke atas kasur. aku mengambilnya lalu melihatnya bersama zayeen.
Itu kertas itu seperti berbentuk struktural dengan gambar calvin di paling atas.
"Itu adalah struktur geng motor satria kenangan" jelas gabriel.
"Dan ketuanya, dia, calvin, dia dalang semua ini, geng dia yang nyerang lo niel!" gabriel menunjuk calvin. Aku juga merasakan sedikit kecewa ketika mendengar itu, tak ku sangka teman yang sangat dekat dengan ku bahkan melakukan itu? Jujur aku juga sedikit emosi, tapi aku mencoba untuk tetap tenang.
"Gua keluar dulu zay, nil, dari pada gua emosi disini" gabriel berdiri lantas keluar lagi, dan menutup pintu.
Calvin masih tenang di tempatnya berada, aku menatapnya.
"Bisa jelasin ini ke gua vin?" Tanya ku sedikit kesal, aku duduk di sofa, dan zayeen di atas kasurnya.
"Sebelumnya Maaf zay niel, gua emang ketua geng satria kenanga, geng yang disebut-sebut musuh bebuyutan dari silent night, geng motornya gabriel, tapi gua gak ada maksud untuk menyerang lo niel, zayeen maupun gabriel, kalian temen baik gua.
Saat gabriel bilang pelaku penyerangan ke daniel adalah anggota satria kenangan, gua juga kaget, gua minta sebutin semua nama-nama itu, tapi yang gua kenal hanya 2 dari 5 nama, memang 2 itu anggota geng gua, tapi gua gak pernah sama sekali berniat atau berencana untuk menyakiti kalian. Jujur gua masih menyelidiki siapa yang nyerang lo niel. Gua, andika, dan temen-temen deket gua yang ada di geng motor itu juga gak tau tentang rencana ini.
Setelah kejadian ini, 2 anggota gua keluar, gak ada kabar dari mereka sama sekali, sampai sekarang rio dan radit masih dipenjara masih agak sulit untuk bicara dengan mereka sekarang. gua masih selidiki ini, Karena 3 dari orang itu bukan anggota geng motor gua, kalo kalian gak percaya, bisa liat nama-nama anggota gua di kertas itu samakan nama pelakunya. Dan untuk lo zay, saat andika minta ketemu untuk membicarakan hal ini, iya itu rencana dari gua, maaf jika membuat lo tersinggung dengan cara itu, pasti lo bertanya kenapa diomonginnya ke lo, karena gua tau, lo bijak dalam mengambil keputusan, dan pikiran gua emang benar, gua hanya ingin silent night tidak balas dendam agar tidak terjadi pertumpahan darah, untuk cabutan tuntutan sebenarnya gua gak perduli, itu hanya sebatas ancaman, gua gak bantu mereka sama sekali tentang penyerangan ini karena ini diluar dari sepengetahuan gua, dan bukan tanggung jawab gua.
Andika pasti pernah bilang kan kalo jawaban paling lambat hari jumat, tapi dia tidak minta jawaban itu, karena emang bukan itu tujuan kita sebenarnya, dan gua udah tau apa keputusan kalian dan itu sesuai perkiraan gua. gabriel selalu menganggap satria kenangan musuhnya, padahal itu hanya kenyataan masa lalu, dia gak memperhatikan jika sudah enggak ada lagi gangguan atau serangan dari satria kenangan akhir-akhir ini, sekali lagi gua minta maaf, gak pernah cerita tentang ini ke kalian. pantas jika kalian marah sama gua" calvin menjelaskan semuanya dengan tenang, walau sesekali menyeka hidungnya yang darahnya masih mengalir pelan, aku dan hanya terdiam mendengarkannya.
Setelah bercerita, ia berdiri.
__ADS_1
"Gua izin keluar zay nil" dia mengambil tas dan jaketnya.
"Jika masih ada yang ingin dibicarakan atau ditanyakan, temuin gua langsung" katanya sebelum keluar kamar zayeen dan menutupnya kembali.