
Hari pengadilan tiba, kedua orang tuaku hadir, keluarga ku, zayeen, gabriel, kecuali calvin, katanya dia sedang di rumahnya, aku tau dia jarang pulang, dia biasanya hanya pulang di hari sabtu dan minggu, walau begitu, besok mlm dia berjanji akan menginap di rumah zayeen, bersama ku dan gabriel.
Sherly juga datang, mila dan zyana, termasuk pacarnya mila, andika. Tapi aku dengar mila telah putus dengan andika karena masalah ini, mila tidak enak dengan ku, karena aku teman baiknya sherly dan ana, walau ku lihat dari tatapan mereka bahwa keduanya masih saling menyukai.
Satu hal lagi, mereka pelakunya membawa 2 pengacara, aku juga membawa pengacara 1, tapi sblm itu bunda ku bilang ringankan saja hukuman mereka, katanya biar mereka jera saja. Karena bunda tau, mereka masih usia mudah, ada yang kuliah bahkan SMA, bunda juga bilang, jangan ada dendam di hati, cukup jadikan ini sebagai pelajaran dalam hidup, dan anggap sebagai cobaan. Kuakui bunda memang teladan ku, dia sangat baik, aku mudah mengerti jika sudah mendengar penjelasannya.
Sampai akhirnya sidang dimulai dengan 2 ketukan palu dan dilanjutkan pembukaan, pembacaan permasalahan, diberikan hak bicara kepada masing-masing pihak dan bukti yang ada, serta membela diri.
Mereka terus membela diri bahwa mereka bukan pelakunya dan terus melawan bukti yang ada.
Memang tak ada bukti kuat, rekaman CCTV pun tak ada ditempat ku diserang, tak ada sidik jari, situasinya cukup sulit, tapi pengacara ku sangat cerdas, ini pengacara pilihan papa, walau sebenarnya aku tidak mengerti apa yang dibahas ahaha apalagi jika mengenai pasal-pasal, undang-undang dan lainnya.
Hingga akhirnya, mereka ber 5 dijatuhi hukuman penjara setahun, pengacara ku juga setuju karena berbagai pertimbangan dan permintaan bunda secara pribadi.
Selesai ini, aku izin pada bunda dan papa untuk bermain di luar dahulu dengan gabriel dan zayeen. Mereka mengizinkan.
Walau sebenarnya aku juga mengajak sherly, mila dan ana. Ya, kita ber 6, aku dan gabriel menggunakan mobil zayeen. sherly dan mila menggunakan mobil ana.
"Guys.. makasih ya udah bisa hadir" ucap ku saat di restoran dalam sebuah mall.
"Sama-sama daniel" jawab zyana.
"Niel, gua minta maaf, gua jadi gak enak sama lo, gua gak tau andika anggota satria kenanga, dan juga ke lo zay atas kejadian waktu itu" ucap mila.
"Gapapa" jawab zayeen.
"Tapi katanya lo putus sama andika?" Tanya ku.
"Iya, gua gak enak sama lo" jawab mila
"Tapi bukan berarti lo boongin perasaan lo sendiri kan?" Tanya ku lagi.
"Sejak kapan lo jadi baik begini sama gua, lagian gua juga gak mau punya pacar kasar kaya dia" jelas mila.
"Yaudah itu keputusan lo" balas ku.
"btw calvin tadi kemana? kok gak ada?" tanya sherly.
"lagi pulang ke rumahnya, dia kan pulang sabtu minggu" gabriel yang menjawab itu.
"terus kalo hari-hari lain dia tinggal dimana?" tanya ana.
"nomaden, kadang di rumah zayeen, daniel, kostan temannya siapa aja atau gabung di markas geng motor gua, udah kaya manusia purba emang pindah-pindah" jelas gabriel.
"owalah" sahut sherly.
"Zayeen, kamu diem aja" seru zyana kepada zayeen.
__ADS_1
"terus gua harus ngapain? kayang? joget-joget?" jawab zayeen berwajah datar.
"ihh kebiasan dinginnya kamu balik dah" ujar zyana lalu sedikit cemberut.
"Udah jadian kalian?" Tanya ku pada keduanya.
"Udah" zyana tersenyum, zayeen memasang muka datar, aku tau dia tidak biasa bicara dengan perempuan jika ada orang lain, hanya sekadarnya saja.
"Zay, pacar lo acak ngomong" sahut ku.
"Nanti aja" jawabnya zayeen yang dingin.
"Bagus zay, gua suka sama sikap lo ahaha" sahut mila.
"Yang jomblo diem aja ahaha" ucap ku.
"Ngajak ribut lo niel" serunya.
Dua orang pelayan datang mengantar makanan yang telah kami pesan ketika datang tadi. kami makan bersama.
"eh iya daniel, aku mau tanya, maaf ya katanya kamu..." aku menunggu sherly yang ingin bicara. ia sudah selesai makan.
"kenapa?" tanya ku ingin tau.
"gak jadi deh nanti aja" jawab sherly.
"Pulang" jawab mila, lalu melahap suapan terakhirnya.
"Jalan yuk" ajak zyana.
"Gak ada, gua jadi nyamuk ini" seru mila.
"Iya pulang aja" jawab sherly
"Kok buru-buru kamu?" Tanya ku pada sherly.
"Gapapa, aku mau ngerjain tugas" jawabnya.
"Ehehe oke deh" zyana ikut setuju.
Setelah makan kami pulang ke rumah masing-masing.
"bunda, papa" sapa ku sesampainya di rumah, pada papa, bunda. kakak ku charlie sudah pergi ke surabaya duluan kemarin. aku bersalaman dengan semuanya kemudian bergabung dengan mereka yang ada di ruang keluarga depan tv.
"elina mana pa ma?" tanya ku.
"main ke rumah temannya" jawab bunda.
__ADS_1
"ohh" jawab ku singkat.
"tumben kamu gak lama keluarnya" ucap papa.
"bagus dong pa" ucap bunda ku.
papa mengeluarkan secarik kertas dari saku celananya dan melemparnya di meja.
"tadi papa gak sengaja menemukan ini di laci meja belajar kamu, kamu melakukan apa?" tanya papa tegas, papa memang orang yang tegas jika anak-anaknya melakukan kesalahan.
aku membuka lipatan kertas itu, ingin tau apa yang ditemukan papa. tidak.. ini surat peringatan dari kampus saat masalah dengan ica.
bunda mengambil kertas itu dari tangan ku.
"daniel, apa yang kamu lakukan sampai mendapat surat itu?" papa mengulangi pertanyaannya, bunda juga menatapku penasaran.
"bukannya kamu baru saja memenangkan olimpiade daniel?" tanya bunda ku.
"iya bun alhamdulillah" jawab ku singkat, aku tidak berani bermain-main dengan papaku, apalagi saat ia berbicara seperti ini.
"jawab pertanyaan papa" ucap papa lebih tegas lagi.
"gapapa pa, cuma masalah kecil" jawab ku pelan hanya melihat papa sedikit.
"masalah kecil? apa hanya dengan masalah kecil kamu bisa mendapatkan peringatan?" papa sangat tegas.
"tenang pa" bunda mengusap lengan atas papa.
aku menelan ludah.
"hanya salah paham pa, itu cuma tuduhan ke daniel, daniel gak salah, daniel berani bersumpah" jelas ku sambil menunduk, aku memang susah diatur, keras kepala, tapi berbohong bukan salah satunya.
"kamu gak cerita ke bunda?" tanya papa mulai mereda.
"enggak pa" aku melirik bunda dan kembali menunduk.
"gimana jika kamu sampai di D.O?" tanya papa. tentang pertanyaan ini aku tak tau harus menjawab apa, ini pertanyaan yang sulit bagi ku.
"aku usahakan akan tidak pa, daniel hanya ada masalah kecil di kampus, gapapa" jawab ku, aku tidak bercerita, aku memang periang, tapi aku sedikit tertutup ke keluarga, terutama papa.
"sudah pa" ucap bunda.
"daniel ke kamar dulu pa, bun" izin ku, bunda mengangguk, tanpa menunggu jawaban papa, ke melangkah pergi ke arah kamar ku di lantai 2.
aku berbaring di kamar, kenapa surat itu bisa ada di laciku? pikir ku, sepertinya terakhir aku taruh di antara lembaran buku? mungkin terjatuh atau keluar dari sana. saat ini pikiran ku benar-benar kacau. papa, tolong lembut dikit lah pada ku jika aku ada masalah, jangan menambah isi pikiranku dengan kemarahan mu, tolong mengerti aku, aku juga tidak ingin ini terjadi tapi mau bagaimana lagi? aku juga tidak tau harus bagaimana. bahkan aku mungkin tau kamu tidak marah, itu adalah caramu peduli kepada ku, aku mencoba mengerti.
aku hanya menyalakan musik untuk menenangkan isi pikiranku, membaca buku hingga malam, aku sedang tidak ingin melakukan apapun lagi hari ini.
__ADS_1