Playboy Sang Raja Gombal

Playboy Sang Raja Gombal
Episode 7


__ADS_3

Mawar hitam kini telah menemukan warna indahnya dengan bergabung dengan warna lainnya hingga menjadi padu. Hati yang menghitam menjadi terang kembali dengan hadirnya dirimu.


"niel" sapa calvin di telpon video yang baru saja aku angkat. Aku ber video call di atas meja belajar.


"Kenapa vin? Udah tau pelakunya?" Tanya ku pada calvin.


"Hai daniel" muncul gabriel pada telpon video itu.


"Zayeen bilang lo udah dapet peringatan dari kampus niel?" Tanya nya.


Aku menarik napas.


"Sebenarnya dari pihak kampus belum, tapi bu rina yang bilang ke gua, kalo gua udah terbukti salah, kampus gak akan mikir dua kali buat D.O gua, sekalipun gua mahasiswa berprestasi" jelas ku, aku memang mahasiswa berprestasi bersama zayeen, kurang lebih sebulan lagi aku dan zayeen juga akan mengikuti lomba dasar ilmu kedokteran.


"Emang bu rina bilang apa niel?" Tanya calvin.


"dia bilang ke gua saat praktek tadi di lab 'jika kamu benar tidak melakukan itu, sebaiknya kamu ikut mencari bukti ataupun mencari siapa pelakunya, biar nama kamu juga bersih' udah gitu doang, terus gua jawab aja, 'saya gak akan melakukan hal bodoh itu bu, tapi saya akan coba mencari pelakunya'"


"Ohh kalo gitu gua juga akan coba cari pelakunya niel" ucap gabriel.


"Makasih banget gua sama kalian"


"Sama-sama daniel". balas gabriel.


"Udah dong muka lo jangan murung gitu" ucap calvin.


"Ahaha, btw kalian bisa gak temenin gua besok ke mall?" aku tersenyum


"Mau ngapain?" Tanya gabriel.


"Mau nyari kado buat sherly" jawab ku.


"Yaampun niel, masalah lo belum selesai, bisa-bisanya ya niel, lo nyari masalah baru". Ucap gabriel.


"udah apa lo gak usah deket dulu sama cewek neil" calvin mendekung gabriel.


"Nyari masalah baru gimana? Orang gua cuma mau deketin sherly doang" aku sambil menyeringah, lebih baik cari kegiatan lain dari pada merenungi kesalahan yang bukan salah ku.


"Gak ngerti lagi gua sama pikiran lo niel, tapi maaf untuk besok pulang kuliah gua ada urusan" jawab calvin.


"Sama gua juga, coba tanya zayeen" gabriel ikut menyahut.

__ADS_1


"Yaudah nanti gua coba ajak zayeen, btw kalian lagi dimana?"


"di rumah jeremi, teman gua" jawab calvin.


"ohh, tumben gak di markas geng motor lo gabriel"


"enggak dulu, lagi males gua" gabriel yang menjawab.


"halah... bilang aja lagi ada gua, takut ada yang ganggu kan lo" sambung calvin.


"Ke PD an lo" balas gabriel melihat calvin, aku melihatnya dari video di ku, mereka memang sering berantem tapi terlihat sangat akrab.


"ahaha, yaudah, udah dulu ya, terusin aja berantemnya abis ini, btw makasih juga"


"Iya sama-sama daniel" sahut mereka bersamaan, aku melambaikan tangan dan mematikan telpon, meletakkan hp di atas meja belajar.


Aku kembali membaca buku. Tapi tak lama hp ku kembali berbunyi dan itu dari hannah, aku mengangkatnya .


"Daniel, kamu bilang kamu lagi ingin sendiri"


"Iya aku masih jomblo sampe sekarang" jawab ku.


"Kamu tau dari mana?"


"Aku tau dari anak kelasan, berita udah menyebar disini, aku kan sama sherly sekelas"


"Terus?" Jawab ku berusaha tidak peduli


"Kamu bukan daniel yang aku kenal sekarang".


"Iya, maaf ya, kita juga udah gak ada hubungan apa-apa lagi, masa lalu biar masa lalu, untuk masa selanjutnya, kita tulis masing-masing" jawab ku agar hannah tidak mengganggu lagi.


"Tapi aku kira kita bakal balikan, aku masih sayang sama kamu daniel, aku kira kamu hanya butuh waktu setelah putus dengan yang lainnya"


Aku tidak tau mau bicara apa lagi, karena aku benar-benar tidak ada rasa apapun padanya, dan pikiran ku juga sedang kacau. Bagaimana jika aku benaran di d.o? Apa kata kedua orang tua ku? Jika aku beneran keluar apa aku juga harus ulang semester lagi dari awal? Juga berkenalan dengan teman-teman baru lagi, saat aku sudah terlalu nyaman dengan zayeen, calvin dan gabriel.


"Daniel, kok kamu diem aja?" Sahut hannah lagi.


"Iya, soal sherly biar jadi urusan gua, lo gak usah ikut campur lagi ya, gua mohon".


"Daniel" panggil hannah dengan suara terisak, seperti menangis.

__ADS_1


"Aku masih sayang sama kamu, kamu tega ya" suaranya semakin terisak.


"Mohon lupakan gua ya hannah, untuk sekarang gua juga gak bisa boongin diri gua sendiri"


"Niel, apa karena aku tidak lebih cantik dari sherly? Apa karena sherly lebih pinter? Makanya kamu lebih pilih dia dari aku?" Ucap nya masih sambil menangis.


"Bukan begitu, gua juga gak tau kenapa" aku juga tidak tau kenapa hati ku terasa ingin kenal dan dekat dengannya.


"Niel, kita udah pacaran lebih dari 3 bulan, dan kata mu itu pacaran terlama kamu kan? Apa enggak ada kenangan yang kamu suka saat sama aku?"


"Hmm... Aku ingat semuanya, hanya saja terasa hampa sekarang"


"Apa kamu buta karena sherly?"


"Gua juga gak tau, tapi gua benar-benar lagi kacau"


"Kamu bisa cerita ke aku daniel kalo ada apa-apa, tapi gak harus begini"


"Aku bisa selesaiin masalah aku sendiri, lebih baik kamu tidur udah malam"


"Tapi aku mohon sama kamu, kita balikan ya, dan kamu jangan deketin sherly lagi, kamu sama aku aja"


"Maaf, aku gak bisa"


"Apa kamu putusin semua cewek kamu karena sherly?"


"Saat itu, aku hanya benar-benar ingin sendiri, tapi entah kenapa, aku ingin kenal dan lebih dekat dengan sherly, udah ya na, gua ngantuk, dan jangan harapkan gua lagi, coba buka hati lo lagi untuk yang lain, dan makasih buat perhatian yang lo pernah kasih ke gua"


"Daniel" suara hannah semakin terisak, jujur aku juga tidak tega, tapi harus bagaimana, aku juga harus bisa jujur pada diriku sendiri.


"Malam hannah, semoga mimpi indah" ucap ku, lalu mematikan telpon tanpa menunggu jawaban dari hannah.


Lagi-lagi aku menarik napas panjang, menyenderkan badan ku pada kursi yang saat ini ku duduki depan meja belajar, mengusap kepalaku sendiri dengan tanganku, lalu membuang napas perlahan. Selepas itu, aku hanya memandangi kamar ku sendiri, mengatur napas dan pikiran.


Lalu aku teringat jika ingin ke mall besok dan belum menghubungi zayeen, aku menghubunginya dan zayeen mau menemaniku untuk itu.


setelah itu, aku tanya zyana, tentang apa-apa saja yang disukai sherly, dia menjelaskan semuanya kepada ku, warna favoritnya, barang-barang yang ia sukai, dan aku sudah memutuskan barang yang akan ku beli besok untuknya.


Aku beralih ke tempat tidur ku, semoga masalah ini cepat selesai, dan sherly bisa cepat membukakan hatinya untukku.


untuk kamu yang disana, jangan lupa tidur dan mimpikan aku, aku melihat jam dinding saat ini masih berdetak, semoga tidak akan pernah berhenti sampai kita bersama selamanya, bahkan waktu pun tidak akan mampu, angin sampaikan salam kenal ku untuknya.

__ADS_1


__ADS_2