
pisau yang tumpul tapi menyakitkan,
rantai yang putus tapi mampu mengait
tetap saja mereka bisa lebih mematikan.
"assalammualaikum" salam ku sesampainya di rumah. Ku lihat di jam dinding sekarang jam 8 lewat 45 menit. Aku bersalaman dengan ibu ku, dia menggunakan kerudung yang besar sekali alias kerudung syar'i. Pipinya juga mudah merah jika setelah tertawa ataupun malu, makanya aku suka menggodanya agar pipi merah alaminya keluar.
"Waalaikumsalam, dari mana aja kamu keluar seharian?" Tanya ibunda ku. Aku duduk di samping nya, di kursi sofa depan tv.
"Dari..." Aku berpikir dulu agar tidak membuatnya marah "keliling jakarta".
"Sama siapa?" Tanyanya lagi.
"Putri kayangan" jawabku menatapnya lalu tertawa kecil, ibunda ku menggeleng dan tertawa kecil.
"Jadi, kamu sudah punya pacar?" Tanya ibunda ku. Ibunda ku tidak tau bahwa aku playboy.
"Saat ini belum, tapi akan, doain aja" jawab ku.
"Hati wanita lemah daniel, kamu jangan kecewa kan dia ya" dia menatapku lembut.
"Siap bidadari surga ku" jawab ku.
"Sayangnya daniel, daniel ke kamar dulu ya"
"Iya sayang" jawabnya melihat ku, aku melangkah, tatapan ibunda kembali ke tv.
Aku bervideo call dengan gabriel, calvin, dan zayeen tentang hari ini, mereka semua mendukungku. Aku video call hingga pukul 23.40, aku merasa lapar lagi, jadi aku pergi ke dapur.
Saat menuruni tangga aku melihat ibunda dan elena masih depan tv.
"Kakak-kakak aku lapar" adikku menyadari kedatanganku. Elena, dia masih 2 smp, dia cerdas sama seperti ku, berbadan kecil berambut lurus panjang, cantik tapi bawel sekali.
"Bunda sama elena kok masih disini, enggak tidur?" Tanya ku yang sudah berada di bawah tangga.
"Katanya papa sama kakak charlie mau pulang hari ini, jadi elena mau temenin bunda tunggu mereka pulang" jawab elena, lalu aku duduk berkumpul dengan mereka.
"Kok bunda gak cerita ke daniel?" Tanya ku.
__ADS_1
"Besok kamu kuliah sayang, lebih baik kamu tidur" jawab ibunda ku.
"Bundanya daniel yang cantik jelita, Kan daniel juga kangen sama ayah dan kakak" sahut ku.
"Anaknya bunda daniel, iya terserah kamu saja, tapi besok jangan lupa ya kuliah"
"Siap bundanya daniel yang pipinya merah merona apalagi kalo ada papa ahaha" jawab ku kemudian tertawa kecil, bunda dan elena ikut tertawa. Pipi merahnya muncul lagi.
"Kakak aku laper, kita beli nasi goreng yu" ajak adikku
"Daniel kamu tolong belikan ya, elina kamu tunggu di rumah aja" dia menatapku lagi.
"Tapi bunda" elena tidak terima.
"Sudah malam sayang" katanya.
"Iya bun, bunda juga?" Tanya ku.
"Kamu saja sama elina, bunda gak lapar" jawabnya. Aku mengangguk, berjalan ke arah dapur dan mengambil minum.
Aku pergi ke meja, membuka laci dan mengambil kunci motor.
"Oke sayangnya daniel"
"Kamu naik apa?" Ibunda.
"Naik motor aja bun, deket ini, biar parkirnya gampang juga" jawab ku melangkah keluar.
"Pangerannya elena, makasih ya" elena bicara saat aku baru saja mengarah ke ruang tamu.
"Sama-sama putri kecil" aku menengok lalu meneruskan langkah.
Aku menelusuri jalan perumahan ini sudah sangat sepi. Tukang nasi goreng yang di maksud adalah di depan jalan ini, dipinggir jalan raya.
Aku melihat warkop 24 jam yang masih ramai. Banyak motor-motor sport disana, kupikir mungkin sedang ada perkumpulan.
"Bang nasi gorengnya 2 bungkus, yang satu pedes yang 1 nya lagi sedang aja" pesan ku sesampainya ditempat nasi goreng.
Aku duduk menunggu pesanan ku siap, sambil masih chatting dengan zayeen yang belum juga tidur.
__ADS_1
"Bang nasi gorengnya 1, gak pedes, bungkus" ada orang lain lagi disini, yang sebelumnya hanya aku.
Mereka datang berdua, tapi hanya memesan 1, entahlah mungkin yang 1 nya hanya mengantar, kulihat motornya adalah motor sport seperti dari perkumpulan tadi.
Entah aku salah lihat atau tidak, tapi sempat tadi aku melihat matanya, dia sedang melihat ku, tapi pandangannya berubah seketika ke arah lain.
Aku bercerita kepada zayeen melalui chat saat ini, entah mengapa aku merasakan hal yang ganjil. Zayeen berkata ingin menjemput ku menggunakan mobil, tapi ini sudah malam, aku tidak enak jika mengganggunya, walau rumah ku dan dia hanya berbeda jalan yang bersebelahan. Hanya sekitar 5 menit jika naik motor dan 10 menit jika mobil karena akan memutari jalan. Aku bilang ke dia mungkin ini hanya kebetulan. Walau sebenarnya perasaan ku agak tidak enak.
Sempat aku berpikir untuk merubah rute jalan, tapi lebih jauh dan lebih ramai dengan anak-anak tongkrongan di beberapa titik. entah aku harus memilih yang mana.
Aku melihat ke tukang nasi goreng yang sedang memasukkan pesanan ku ke dalam plastik, aku berdiri dan membayarnya.
Aku menaiki motor ku dan memilih jalan melalui rute yang jauh untuk menghindari perkumpulan yang di warkop itu.
Saat diperjalanan aku mendengar beberapa suara motor, melihat ke spion dan disana ada 5 motor sport di belakangnya dengan kecepatan penuh, aku menambah kecepatan, tak disangka muncul 3 motor juga dari arah depanku menutupi jalan, aku berhenti mendadak. Yang dibelakang ku juga sudah tepat berada di belakangku, mereka semua membuka helm dan turun dari motornya. kini ditempat sepi aku berada dan cukup jauh dari tongkrongan.
Mereka menggunakan jaket serba hitam juga slayer yang menutupi wajah mereka, hanya wajah yang terlihat.
Entahlah saat ini aku tak tau harus berbuat apa, aku bisa bela diri, tapi jumlah mereka jauh lebih banyak.
"Turun lo" kata salah seorang dari mereka.
Aku turun saja, pikirku mereka hanya mengincar motor sport ku, biarlah, nyawa ku lebih penting.
Tanpa alasan dan bicara apapun lagi seseorang diantara mereka maju dan langsung menyerang ku, aku refleks menyerang balik, hingga dia kalah dan terjatuh ke aspal.
Sepertinya aku terburu-buru dan membuat keputusan yang salah, yang lainnya juga melihat ku, mereka menyerang bersamaan, aku melawan, untuk mencari tempat aku agak menjauh dari motor dan bertarung, ke 1, dan 2 jatuh, hingga akhirnya ada yang memukul ku dari belakang yang menggoyahkan sedikit keseimbangan ku, dengan cepat 2 diantara mereka memegang tangan kiri dan kanan. Aku mencoba melepaskan diri tapi pegangannya sangat kuat. Dari arah depan ku ada seseorang yang mendekat ingin memukul , aku menyerangnya dengan mengayunkan kedua kaki, menjadikan kedua tangan ku sebagai tameng pegangan. memang dadanya terkena tendangan ku, tapi setelah itu lutut ku di dorong dari belakang menjadikan kaki ku bertekuk.
Aku benar-benar terkunci, entah lah aku hanya berharap jika benar akan mati disini setidaknya dosa ku hilang karena rasa sakit ini.
Seorang tadi maju lagi mendekat ke depan ku, menarik rambut ku untuk membuat wajah ku melihat ke arahnya.
Tak lama, dia melepaskan rambutku dan langsung memukul ku dengan beberapa kali pukulan ke wajah dan perut. Sakit, rasanya sakit banget woi.
Sempat terhenti memandangku sebentar, tapi setelah itu memukul ku lagi lebih banyak daripada sebelumnya, apalagi bagian perut, dan pukulan terakhir mengenai dadaku, yang membuat napas ku sesak seketika, mata ku juga berkunang-kunang.
Dua orang ini melepaskan pegangannya, tapi apalah daya, aku langsung terjatuh ke aspal kehilangan keseimbangan, dengan mata kunang-kunang, napas sesak, rasa sakit pada wajah dan perut. Aku merasakan seperti ada yang keluar dari hidung dan mulut, aku memegangnya dan itu darah. sekujur badan ku juga rasanya berat untuk digerakkan.
"Udah, cukup" kata salah seorang diantara mereka, disaat seorang lainnya tadi memukul bagian wajahku sekali lagi, yang membuat sebelah nya lagi terbentur ke aspal, ini membuat telinga ku berdengung.
__ADS_1
Dengan pukulan sekali itu disaat aku benar-benar lemah. Kesadaran ku mulai melemah, penglihatan semakin buram, dan telinga berdenging, sampai aku tak sadarkan diri lagi.