
*Bedentam!
Terdengar dinding Masion pecah karena sebuah ledakan, terlihat seorang perempuan dengan tubuh Robotic menangkis serangan seorang berjubah.
Itu adalah Kathrina yang sedang bertarung dengan pedang lesernya melawan seorang Pria berjubah hitam yang merupakan Penjaga Sang Kaisar Marseille.
*Duk!
Aku menendang pintu dengan pelan. Pintu terbuka dan aku menyapa mereka dengan wajah tertutup Helm Armor Robotic berserta seluruh tubuh Robotic ku.
"Aku adalah seorang yang dikirim menyelamatkan Elizabeth, aku datang karna di bayar oleh Sang Putri Mahkota Kerajaan VIP namanya kalo gak salah Erlina atau apalah ..."
Mereka bertiga menatap dengan wajah pucat.
"Siapa dia?!" Ujar George yang sedang menuangkan teh hijau ke gelas Kaisar Marseille.
Dia benar-benar terkejut akan kemunculan ku. Jika aku menatap si Marseille dia masih menatap dengan datar. Aku tak tahu apa yang dipikirkan gadis yang punya jabatan Kaisar ini.
"Kau siapa?!" Teriak Ibuku berdiri mengancungkan pedang.
Dia menahan tangan nya di belakang, dengan wajah panik.
"George bawa kaisar pergi dari sini!" Ujarnya berteriak dengan wajah cemas.
"Oh, jadi Kau Elizabeth ya? Aku di bayar untuk membawa mu kembali ke Kerajaan mu ..."
Marseille mendengar itu bertanya dengan wajah datarnya.
"Siapa yang membayar mu? Aku tak percaya Berlian Kekaisaran yang menyewa mu, dari mana dia kenal orang sekuat kau?"
Aku menggaruk kepala dengan wajah bingung.
"Akh, aku juga tak mengerti tapi aku bertemu dengan nya saat lewat terbang di langit dan melihat seorang Gadis cantik yang murung di sebuah taman kastil lalu aku mendengar ceritanya dan mau memberikan bantuan asal dia membayar ku ..."
*Derengg!
Aku mengeluarkan sekantong koin emas.
" Ini bayaran nya lumayan juga kan?" Ujarku bertanya pada si Kaisar.
Kaisar mengela nafas nya dengan keluh. "Jadi begitu, aku tak bisa membuat wajah terkejut dengan hal seperti ini karna aku juga mengalami nya ..."
George memegang kan Kaisar berdiri. "Ayo pergi dari sini Kaisar!"
Elizabeth berteriak ke George. "Cepat bawa Kaisar pergi!"
Dia menatapku dengan tajam, lalu menyerang dengan pedangnya.
Aku melihat mata nya bercahaya dan begitupun rambutnya. Yah, ini lah kekuatan Pahlawan Eliza.
*Teng!
Aku menangkis nya dengan pedangku Alfounds.
"Betapa kuatnya hentakan mu." Ujarku mengatakan dengan santay.
Dia menggertakan giginya. "Aku akan membunuhmu!" Ujarnya menguatkan tekanan pedangnya yang ku tahan.
*Derekkkkkk!
Gesekan dan hentakan pedang yang makin berat.
"Kah, aku benci mengakui ini tapi sungguh lemah!"
*Duk!
Aku mengela kesamping sehingga dia jatuh kearah pedangnya yang ditekan nya.
*Tek!
Aku memukul lehernya dengan tangan kanan ku yang dilapisi armor robot yang berat.
"Akh!" Ujarnya Ibu terkejut lehernya di tekan dengan pukulan pelan dari pergelangan tanganku.
__ADS_1
Dia pingsan dan aku menangkapnya.
"Ups, ini bahaya kalo lecet ... Setidaknya, aku menolong seseorang malam ini dan lain kali aku akan berusaha untuk membantu lebih banyak orang di masa depan ..."
Marseille mendengar itu bertanya, dia bahkan mendorong George yang mau membawa nya keluar lewat jendela. George malah jatuh dari atas ketinggian dari jendela.
*Duk!
Melihat itu aku memucat. "Sial, Ayah Alexsis!" Ujarku dihati.
Marseille mendekat sangat dekat. "Apa kau mau menolong manusia?! Maukah kau menolong manusia?! Aku mohon padamu!"
Tak pernah aku menduga, sekarang aku melihat ekspresi seorang gadis remaja yang polos di wajah yang menangis. Dia terlihat sangat kebingungan akan posisinya yang dibayangi masa depan buruk. Dia terlihat seperti gadis yang penuh dengan beban di punggung nya. Seorang gadis remaja yang memikul beban 1 benua di pundaknya.
"Apa bisa kau menolong manusia saat mereka di Landa marabahaya? Kalo benar, ku mohon lindungi lah mereka ..."
Mendengar ucapan itu, aku jadi memasang wajah sedih. Dia bukan Heroin yang menyebabkan kematian Ibuku tanpa alasan. Dia benar benar mau manusia bertahan di dunia ini dari masa depan buruk yang menanti. Aku tidak bisa bilang tak tahu apa-apa karna aku tahu. Satu satunya yang paling lemah dari semua mahluk adalah manusia. Mereka menyandang gelar untuk penghargaan diri karna jika Kerajaan atau Kekaisaran dari Ras lain menyerang maka jelas Benua yang sepenuhnya di kuasai manusia saat ini akan hancur. Belum lagi, adanya ancaman dari beberapa Raja malapetaka.
"Aku akan membantu mu, tenang saja bahkan sebelum kau meminta nya ..." Ujarku memegang pipi nya Marseille.
Aku sangat tersentuh akan keinginan yang hanya memperdulikan Manusia. Aku membelai pipinya yang lembut dan basah. Lalu, aku berkata dengan suara tulus.
"Aku meminta kau tak perlu memikirkan apapun soal hal berat seperti masa depan manusia ... Biarkan aku, meringankan beban mu ..." Ujarku mengangguk pelan padanya.
Dia menjadi tersenyum lepas dan wajah basah nya pun memercikkan air matanya. Dia terlihat sangat lega sekarang, aku tahu dari raut wajah nya itu saat ia berucap.
"Terima kasih ..."
Aku mengangkat Elizabeth di pangkuan ku, layaknya menggendong seorang putri.
"Aku akan membawa nya pulang ke Kerajaan VIP, ada keluarga nya yang menunggu ..."
Dia menahan ku dengan tangan di punggung.
"Bisa aku tahu namamu?" Ujarnya mengatakan itu dengan ekspresi manis.
Aku menatap langit-langit kamar ini, dan berpikir sejenak.
"Seriusan, apa ini wajah Kaisar Marseille ketika bahagia ... Aku tak pernah melihatnya tersenyum dan memasang raut ekstropet ... Ini seolah dia sudah berubah menjadi gadis periang ..."
"Apa aku merusak karakter seorang Hiroin ..."
Aku menjawab Marseille. "Kau boleh panggil aku Venom, aku bisa muncul dengan beragam Armor Robot ku ... Kau bisa mengenaliku karna hanya aku satu satunya yang mengenakan pakaian seperti ini dengan bebas ..."
Yah, aku tak bilang begitu jika tidak karna kenyataan. Yang mana baju Robotic ini tak ku izinkan siapapun menggunakan nya dari bawahan ku sekalipun kecuali atas perintah dan izinku. Untuk Valen, dia saja selalu dalam Dangeon Abbys dan untuk Katharina aku hanya meminjam kan nya kali ini saja.
"Aku Marseille, kapan kita bisa bertemu lagi?" Ujarnya mengatakan itu dengan raut sedih.
Aku menyentuh tangan nya yang memegang punggungku.
"Kau bisa melihat kelangit ada pesawat besar kan? Kau bisa berteriak dan memanggil namaku, aku akan datang ..."
Dia mengangguk lalu aku melangkah meninggalkan nya.
*Tes!
Menghilang dan muncul di kamar Ibuku.
"Tidurlah Bu ..." Ujarku menaruhnya di kasur.
Aku lalu kembali ke Masion George. Di taman ku lihat Kathrina melambai, sepertinya dia sudah menang bertarung dengan penjaga Marseille.
Begitupun juga Valen dan Alexsis yang terlihat menyelamatkan George.
"Kenapa aku harus membantu nya pulih?" Ujarnya mengatakan dengan wajah kesal, si Valen.
Alexsis memohon. "Tolonglah, dia Ayahku ..."
Aku lalu melihat lambaian dari jendela Masion, itu adalah Marseille yang melambai dengan senyuman.
"Pahlawan ku, Aku disini!" Ujarnya berteriak dengan senyuman lepas.
Lalu, yah aku melihat sesuatu di belakangnya.
__ADS_1
*Tap!
Sebuah robot manusia menutup mulutnya si Marseille.
"Hmmmmmmp!" Ujarnya memucat menatapku.
Aku memegang lampu baju Robotic di dadaku.
"Unity, kau merencanakan apa?"
Dia Unity menjawab. "Sebuah metode, yang akan menghalau anda dari rute kegelapan ..."
"Kau mau apa?!" Ujarku merasa agak kesal.
Unity menjawab. "Pergilah ke Kapal angkasa dan anda akan tahu ..."
Aku menatap ke Katharina dan berkata padanya.
"Adek, kau pulang lah dulu dengan Kapal UFO ... Ibu sudah dirumah menunggu ..." Ujarku mengatakannya.
"Iya, oke kakak!"
Sementara Alexsis, dia tampak menatapku yang sedang tergesa gesa melakukan sesuatu di hadapan ku dengan sebuah papan bening.
"Apa yang anda cemaskan?" Tanya Alexsis.
Aku menjawabnya. "Tidak ada, kau tak perlu tahu ... Oh, aku akan menemui setelah keadaan agak mereda ..."
Dia menganggukan kepala. "Oke, apa kau akan kesini bareng Katharina sama?"
"Iya, tentu saja ..." Ujarku tak terkejut lagi mendengar dia sudah tahu akan identitas kami berdua.
Yah, Kathrina telah memperlihatkan wajahnya dan juga aku. Bangsawan seperti Alexsis tentu saja tahu bagaimana wajah Putri kerajaan dan calon putri mahkota. Aku tahu dia terkejut karena aku pria bukan gadis. Meski begitu dia tetap diam dan menahan diri bertanya.
"Anda akan kemari lagi, untuk apa?" Tanya padaku.
Aku menjawabnya dengan senyuman. "Untuk sebuah kegiatan kakak dan adiknya melakukan hal yang bernama hobby ..."
"Hobby?" Alexsis bingung.
Aku menjawab nya. "Kau tak perlu tahu, lihat saja nanti ..."
"Kau akan jadi promosi pertama kami ..." Ucapku berpaling darinya dan menekan Teleport.
*Dest!
Aku pecah menjadi butiran data dan menghilang.
"Tuanku!" Ujarnya ternganga melihat ku, Valen.
"Sial, padahal aku belum dapat elusan kepala ..." Ujarnya mengatakan itu dengan cemberut ke Alexsis.
Alexsis tampak tegang. "Ini bukan salahku Lo nona Valen ..."
Kathrina melihat aku yang menghilang berjalan mendekati pesawat UFO nya.
"Aku akan pulang, Ibuku sudah selamat ..."
Alexsis menunduk mengucapkan terimakasih.
"Putri, terima kasih karna menolong Ayahku ..." Ujarnya tersenyum kearah Kathrina.
"Tak masalah kok ..." Ujar Kathrina menutup pintu pesawat UFO.
Sementara, Valen menendang George yang masih pingsan.
"Bangun! Oi, bangun!" Ujarnya menggertakan nya dengan kaki.
Alexsis melihat itu jadi panik. "Tolong jangan kasar pada Ayahku!"
Valen menatap datar. "Dia sudah ku pulihkan tapi masih molor, aku harus membangunkan nya dengan kaki ..."
"Jangan lakukan itu, Valen sama!" Ujar Alexsis memeluk kaki Valen dengan menangis.
__ADS_1
"Iya-iya, dasar gadis cerewet!" Ujar Valen, merasa bingung dengan manusia.
------