
Asila Farma, sekarang menggunakan armor besi miliknya. Yah, armor ini sering dia gunakan saat mengajakku berburu monster di hutan dekat Kerajaan VIP. Waktu itu adalah ujian untukku, yang di lakukan oleh Kakak. Dia ingin menunjukkan berburu monster di alam liar dengan kemampuan pedang yang telah kulatih bersama nya. Yah, aku selamat meski pun selalu saja di tolong oleh nya. Tapi, sekarang aku mengenakan Bass sebagai Karakter bukan Erlan yang di ketahui nya. Jadi, kita lihat reaksi bagaimana mengetahui betapa kuatnya karakter ku ...
Dia menyilang tangannya. "Siapa pria ini?" Ujarnya bertanya pada Cecilion.
Cecilion mendatar mendengar ucapannya. "Eh, anda tak tahu dengan Adik anda sendiri?"
"Hmmmp, apa kau bilang dia ini Erlan?" Ujarnya menunjuk ku.
Aku mengusap kepala dan tertawa gak enak. "Iya, ini aku kakak ... Wajar si kalo kakak ga kenal ..."
Dia menatap ku dengan mata menyipit. "Kenapa kau terlihat seusia ku? Apa ini semacam sihir Transformasi yang di gunakan oleh Cecilion?"
Aku memegang pinggang dan tersenyum bangga. "Bukan, ini adalah tehnik sihir pindah jiwa ..."
"Jiwa???" Ujar kakak bingung.
Cecilion mendatar. "Sudahlah, dia takkan paham Tuan ku ... Harusnya, seperti ini saja sudah cukup ..."
*Tletek!
Jelentikan jari tangan Cecilion ke wajah Kakak Asila.
Kakak ku terkejut sejenak lalu.
*Duk!
Dia terjatuh lemas. "Akh!" Ujarnya tampak kesakitan.
Aku menatap Cecilion dengan wajah tegang. "Kau apa kan Kakakku?"
Cecilion menjawab dengan wajah heran akan reaksi ku. "Kenapa anda marah? Aku hanya membangkitkan siklus sihir nya yang tersegel ..."
"Ha?" Ujarku merasa agak sedikit bingung.
Dia mengela nafas keluh dengan wajah meremehkan.
"Jangan-jangan Tuan gak sadar bahwa Kakak Tuan sebenarnya punya siklus sihir Naga?"
"Naga? Aku Naga?" Tanya Asila dengan raut pucat.
Cecilion menganggukkan kepalanya. "Yah, kau adalah keturunan Naga ... Darah Iblis tercampur dengan Nada di tubuh mu ..."
Aku mendengar itu jadi mengencangkan mataku. "Ouh, jadi begitu ya ..." Ujarku menyadari sesuatu tapi tak bisa ku katakan sekarang pada Kakak.
"Aku Naga? Anak Iblis dan Naga?" Ujarnya mengatakan itu dengan raut pucat.
__ADS_1
Cecilion menjadi tersenyum dan mau menjelaskan.
Tapi ...
Aku menatap tajam dan menaruh jari telunjuk ku ke bibir.
"Diam kau sialan!" Ujarku mengatakan nya melalui pikiran.
Seketika Cecilion menjadi tegang dan berkeringat. "Maaf, aku tak berpikir jadi anda memang sengaja menyembunyikan nya ..."
Dia lalu menjawab Asila dengan wajah tertawa gak enak. "Hahaha, tidak sampai segitunya kok ... Meski bukan naga, kamu bisa menggunakan kekuatan nya ..."
"Hu-uh~`" Ujarku merasa lega mendengar si Cecilion pandai memainkan kata -kata.
Dia mengulurkan tangan nya pada si Asila. Asila meraih nya dan bangkit.
"Aku gak paham kenapa aku punya darah Naga, apa karna Ayah ku seorang Naga atau karna Ibu pernah jadi Ksatria Naga dan mulai berevolusi jadi Naga ..."
Cecilion menepuk belakang nya dengan wajah tegang saat tertawa. "Hahahaha, kau tak perlu memikirkan itu ..."
Aku mengangguk menyetujui ucapan Cecilion. "Iya, Kakak tak perlu memikirkan itu ... Ayo kita bertarung di hutan ini dengan para monster kuat, mari menghabiskan waktu bersama ..."
Dua mendengar itu tersenyum. "Yah, kau benar ..."
*Tsek!
"Aku meminjam pedang mu di bengkel, kata Cecilion pedang yang sering kupakai takkan mampu membunuh Mahluk di Hutan Kematian ..." Ujarnya melirik kearah ku.
Aku mengangguk. "Yah, aku memang sudah menyediakan nya 4 buah ..."
Dia menunjukkan nya padaku pedang yang di pilihnya. "Apa nama pedang ini?"
Aku melihat pedang yang di bawa nya, bentuk nya agak liar dengan fantasi. Tentu saja memang benar begitu, pedang - pedang yang akan ku pinjam kan ke Kakakku harus pedang yang berasal dari dunia ini. Pedang itu adalah Pedang yang di ambil oleh Unity di puncak gunung tertinggi di benua Naga. Di kastil Naga, pedang Raja Naga yang tak dapat di angkat kecuali oleh Naga Raja. Pengecualian akan terjadi, jika Unity yang menganalisis dan memperbaikinya aturan itu bahkan untuk hal berbau Magic sekalipun.
"Ini pedang sangat kuat, seolah aku di tarik terus menerus oleh nya ..." Ujar Kakak melihat pedang itu dengan wajah serius.
Aku mengangguk. "Dia pasti pakai Intuisinya, hmmmp hmmmp gadis Naga memang cocok makai pedang Naga ... Ini yang di namakan buah tak jatuh jauh dari pohonnya ..." Tersenyum setelah bergumam di hati.
Cecilion menyentuh kepala dan memperlihatkan nya padaku.
"Tuan, apa Kau yang membunuh Ratu Rabbit ini?" Ujarnya berkata dengan wajah terkejut.
Aku melihat kearah tangan nya yang memegang kepala Gadis kelinci yang terputus.
"Dia menyerang ku makanya ku bunuh ..."
__ADS_1
"Ratu Rabbit? Apa-apa an gelar nya itu?" Ujarku merasa agak sedikit kesal.
Asila menoleh dan langsung melihat Kepala itu. Dia memasang wajah tegang dan cemas seketika.
"Ratu Rabbit? Adikku membunuh mahluk terkuat di Hutan Kematian? Kau tidak mungkin kan?"
Aku menjawabnya dengan datar. "Yah, aku membunuh nya ..."
Cecilion menutup mulutnya dan tampak wajahnya shock begitupun Asila.
"Kalian kenapa menunjukkan wajah seperti itu?!" Tanya ku khawatir dengan posisi ku sekarang.
Asila Farma, Kakakku menjawab nya dengan raut kerut cemas. "Kau tahu, mahluk ini punya harga diri tinggi dan dia takkan memaafkan nya mereka yang berani mendekati sarang atau bahkan sampai melakukan serangan ... Mereka akan balas dendam dan menghancurkan Kota asal orang yang di target nya ..."
Cecilion menyela nya dengan suara datar. "Dan, sekarang anda membunuhnya seorang Ratu bahkan ..."
Aku menjadi sangat tegang, seketika cemas.
"Kah, gimana bisa gini?! Kalian berdua ga ngasih tau sih!" Ujarku membuka lebar telapak tangan saat berkata begitu dengan wajah shock.
Kakak menyilang tangan nya. "Yah, itu karna aku tak tahu kemana tujuan kita sih ..."
"Aku lupa ngasih tau, kan tuan pergi nya gak bilang-bilang ..." Cecilion mendatar.
"Akhhh, sialan! Aku nambah daftar hitam ..." Ujarku tertunduk putus asa.
Cecilion mengeluh kebawah dan berkata dengan senyuman. "Sudahlah, jangan nyesal gitu ... Aku bisa bantu kok, aku punya skill membangkitkan orang mati jadi tenanglah ..."
"Eh, apa iya?" Ujarku memasang wajah menangis.
Dia melihat itu jadi agak memundurkan langkahnya. "Seram bet, kok kau nangis?!" Ujarnya Cecilion.
"Iya, aku punya kemampuan seperti itu ... Jiwa nya masih tertahan di area ini, kau beruntung karena di sini aa semacam pelindung ... Tampaknya memang benar kau memasuki wilayah Para RabbitWoman."
Aku menunduk putus asa. "Akh, aku tak tahu ternyata disini ada peradaban ... Aku harus membangun Fakta dengan para Rabbit ini ..."
"Unity, kau dengar kan?" Ujarku berkata kearah Asila.
Seketika Asila mengangguk. "Tentu saja, Tuanku!"
Lalu, Asila sadar kembali. "Eh, apa yang terjadi? Aku merasa sempat hilang kesadaran ..."
Cecilion mendatar melihat itu. "Serius, aku memang gak bisa lari dari ni orang ..." Ujarnya dihati melihat kejadian itu.
Aku menatap Cecilion dan berkata dengan wajah serius. "Bantu aku, Cecilion!" Ujarku menganggukkan kepala.
__ADS_1
---