
+ Ketika masih menjadi Bayi +
Bayi mungil tertidur setelah sarapan dengan susu botol. Itu hal biasa bagi bayi, sudah puas di ciumi Ibuku lalu setelah itu sarapan maka akan langsung tidur bagai hewan peliharaan imut. Menjadi bayi itu sangat tidak mengenakan, apalagi dengan bedongan kain yang mengikatku kaya pocong. Aku sama sekali gak bisa gerak sekarang. Waktu aku bangun tadi, mungkin Kain nya sudah terbuka tapi ternyata sekarang di pasangkan lagi oleh Ibu. Mau tidak mau, aku memilih untuk tidur saja.
Tanpa ku ketahui, aku yang tidur ini diganggu oleh mimpi buruk. Sehingga peluh keringat bercucuran membasahi pipi. Tak ada yang tahu, kecuali aku sendiri yang menangis tanpa kehadiran sosok Ibu di kamar.
"Aku mungkin sedang mengigau ..."
Saat menangis sejadi jadinya, seorang pelayan membangunkan ku dengan tepukan lembut di pantatku dan menenangkan ku digendongan nya.
"Huys, tenang lah Yang Mulia!" Ujarnya mengatakan itu sambil meniupi wajahku yang berkeringat peluh.
Aku bangun dengan mata sayup, melihat kearah nya yang masih berbentuk sosok hitam yang buram. Lama kelamaan wajah nya terlihat, dia gadis berambut coklat.
"Yang Mulia, sudah berhenti menangis ... Syukurlah ..." Ujarnya memegang dada dan menghembuskan nafas lega.
Aku menyentuh pipinya karna penasaran. "Apa gadis di dunia ini beneran bisa kerasa kalo di sentuh ya?" Ujarku dihati.
Aku jadi penasaran gini karna Mama ku tadi menciumi ku dan rasa hangat pipi seorang gadis terasa dan bibir lembutnya pun juga terasa. Itu memang sedikit membuatku memerah malu namun aku tak menganggap nya hal buruk karna masih aku legal dan masih bayi.
Setelah menyentuh pipinya, aku merasa yakin bahwa dia pun nyata. Aku melihat kejari ku dan lalu menghisap nya.
"Hmmmp, rasa nya asin ..." Ujarku dihati.
Tampaknya gadis itu terlihat sangat gemas dengan ku. Pupil matanya yang Coklat membesar, dan seketika senyuman nya terlihat sangat sangat membuatku takut.
"Woaahhh, Yang Mulia mencicipi pipiku~`" Ujarnya tampak menyentuh pipinya dengan wajah senang dan senyuman bahagia.
Aku merasa bakalan jadi buruk jika ku teruskan sifat penasaran ini. Karna itu, aku memilih berpura pura menangis agar dia tahu bahwa aku masih lah anak bayi.
"Huweekkk!" Tangisan ku keluarkan, ini seperti nya sangat natural.
Astaga, bahkan menangis saja bisa semudah ini saat kita jadi bayi. Itu membuat ku kagum dengan para artis yang bisa menampilkan ekspresi tangisan sempurna. Karna, hanya bayi yang apabila mau nangis maka akan nangis secara natural.
"Aku jadi beneran sedih sekarang ..." Ujarku dihati, rasanya sangat nikmat sekali meski hanya sebuah tangisan saja.
Entahlah, mungkin semacam reaksi kimia.
Gadis cantik berambut cokelat itu, mencoba menenangkan ku lagi. Dia terlihat sangat tenang sekarang. Aku tak tahu kenapa dia jadi berubah tenang padahal awalnya dia sangat cemas ketika mendengar tangisan ku.
"Yosh, yosh, Yang Mulia diam lah ... Yang Mulia, yang manis diam lah ..." Ujarnya tampak menggendong ku dengan berdiri dan menggoyangkan gendongan tangannya sedikit.
Melihat nya begitu, aku jadi sedikit tenang karna kupikir dia layak mendapatkan apa yang dia harapkan atas kerja keras dan kepedulian nya terhadapku.
"Hmmmp, oke aku berhenti nangis buat kamu ..." Ujarku berucap dengan wajah tersenyum.
30 menit dia menggendongku dan menyanyikan lagu secara random. Membuat aku jadi menguap dan mengantuk.
"Aku ngantuk banget, huaap!" Ujarku meregangkan tangan keatas lalu tanpa sadar aku melihat sesuatu.
Seseorang menatap ku dengan wajah menakutkan, dia tidak sedang main main dengan tatapan nya. Serius sekali, sampai aku jadi merasa tidak mengantuk lagi sangking tegangnya.
"Siapa itu?!" Ujarku dihati, wajah ku berkeringat lagi.
Aku ketakutan menarik bibir ku kedalam, seorang yang kulihat di atas sana. Kepala seorang gadis yang tiba-tiba muncul, menampilkan wajah tersenyum menyeringai.
"Kau ingat Aku Venom?"
Mendengar kata-kata nya aku jadi gemetar. "Si-siapa kau?!" Ujarku berkata dengan raut takut dan tegang.
Dia mengarahkan tangannya, lalu mengucapkan sebuah kata-kata yang tak ku pahami.
"Bhshshshshs-" Dalam sekejap ,muncul beberapa pedang dengan bayangan hitam berkabut menyelimuti tiap bagian tajam pedang.
"Eh, dia mau membunuhku!" Ujarku melihat itu mengerutkan kening.
Aku memegang dadaku dengan wajah cemas. "Aku akan mati, sialan aku baru saja lepas dari ..."
'
'
'
Kerajaan VIP , di sini lah aku bersantay dengan Teh hijau yang membawa kenyamanan saat meminumnya. Relaksasi teh, yah itu minuman herbal. Rencana nya aku ingin mendengarkan laporan Unity dengan santay disini tapi ...
"Kau bilang ada monster di tambang Abbys!" Teriakku kaget, tangan ku gemetar memegang cangkir teh yang mau ku hirup.
Sarah menganggukan kepala nya. "Benar, tapi tenang saja itu tak masalah kok Tuan ..."
Aku mengerutkan keningku. "Gimana bisa kau mikir gitu? Kau tau kan bahwa itu tambang kita untuk mengeruk Planet ini tapi kok malah ada monster ..."
"Aku sudah memberikan segala sesuatu yang di butuhkan jadi karna itu aku menganggap Monster itu tak menganggu perkejaan di tambang, Tuanku ..." Ujar Sarah menunduk memberi hormat.
Aku memegang bibir dengan raut cemas.
"Pertama orang orang delusi itu pergi untuk meneliti Pesawat angkasa ku dengan Netra mereka ... Lalu, sekarang malah ada monster di Abbys ..."
__ADS_1
Sarah menunjukkan wajah heran. "Tuan, bukannya hal itu malah bagus ... Seperti rencana Tuanku sejak awal kan?"
"Soal petualangan yang akan mengunjungi Abbys ya yang kau maksud?" Ujarku bertanya padanya.
Dia mengangguk. "Iya, bukannya sekarang saat nya menggunakan Tambang itu ..."
Aku mendengar itu memasang wajah tak rela. "Itu kan punya kita, kenapa harus memberikan pada para petualang?"
Aku mengeluh kebawah. "Ha-ah, apa kau lupa dengan Lioness nanti ada yang hebat juga Lo kayak Lioness dan malah babat habis Robot perkerja di sana ... Aku pasti akan diamuk sama Violet si Humanoid itu ..."
Sarah menyilang tangan dan berpikir. "Kenapa anda takut dengan Violet bukannya dia diriku juga?"
"Unity, kau asal tau saja ... Violet tetap lah Violet ... Meski kesadaran nya dari mu tapi tubuhnya sepenuhnya miliknya ..." Ujarku menganggukan kepala ku.
Sarah mendatar. "Yah, tak masalah bagiku Tuan ..."
Aku menatap bunga di taman, salah satunya mawar. Melihat duri dari bunga yang teramat cantik, membuat aku sadar seketika.
"Aku tak bisa berharap apa apa pada Klon mu, si Violet ..."
Sarah menjelaskan. "Tuan gak perlu mikir yang susah-susah, aku bakal ngerjainnya ... Tuan ingat tidak, aku setuju Tuan membantu ku dan mengamati perkerjaan yang kulayani karna Permintaan Tuan tapi bukannya kita sudah berjanji bahwa Tuan tak boleh mempertanyakan apa yang kulakukan saat Tuan sendiri tak punya saran ..."
Aku menatap tajam dengan telapak tangan menopang dagu.
"Jadi kau mau nyampain apa sebenarnya?" Tanyaku dengan tatapan dingin.
Dia menoleh kelain dengan raut pucat. "Aku minta maaf atas kata-kata ku, mungkin Tuan tersinggung ..."
Dia lalu menunduk memberi hormat. "Saya melakukan itu demi Anda, satu rencana membiarkan monster karna akan memberikan sifat umum pada Dangeon kebanyakan. Yang mana itu merupakan area yang bisa di jadikan sumber tambahan bagi tambang dari makanan tanah planet ini. Batu sihir dari Monster yang mati secara alami akan menambah jumlah energi sihir yang dapat memperbanyak isi tambang ..."
Kemudian, dia mengangkat jari telunjuknya. "Fakta ke2 dimana semua petualang yang berkunjung akan jadi pembersih rumput panjang ..."
"Memanfaatkan mereka sebagai pembersih monster sesuai kadar ?" Tanyaku saat dengar penjelasan.
Dia mengangguk. "Tuan sangat paham, kita akan memangkas rumput jika sudah panjangkan? Yah, kita akan pangkas monster jika sudah terlalu banyak melebihi yang di butuhkan ..."
"Robotnya apa gak masalah? Violet?" Tanyaku.
"Gak masalah, robot perkerja tambang kita punya cukup banyak dan untuk Violet dia itu sudah lebih dari petaka di dunia ini ... Dia pasti akan dianggap sebagai Bos Dangeon Abyys ..." Sarah menerangkan.
"Begitu ya ..." Ujarku mulai paham.
Aku lalu mengangguk. "Oke, itu sudah cukup lalu bagaimana dengan laporan ke 3 mu?"
"Ah, masalah soal itu tampaknya masih dari kaum laut ..." Ujar Sarah.
"Mereka melakukan apa lagi sekarang?" Tanyaku sambil mengambil cemilan kemudian minum teh lagi.
Aku memegang dagu dan berkata padanya. "Jika sudah , kau boleh kembali ..."
"Iya, aku permisi dulu Tuan ..."
Sarah termenung sejenak ,ia lalu berkata padaku.
"Aku seperti melihat mimpi dalam hitungan detik ..."
Mendengar ucapannya aku tertawa. "Kau sangat suka hal seperti itu ya?"
"Tidak juga, Tuankku!" Tegas Sarah.
"Terus apa?" Ujarku bingung.
"Aku hanya belum terbiasa, makanya begini tiap kali di masukin Unity ..."
"Ah, iya-iya paham ..." Ucapku dengan raut masam dan tak bersemangat.
Aku jadi gak mood lagi minum teh sekarang ini. Pikiran ku terlalu banyak untuk sekarang. Aku meminta si Sarah bersama aku pergi dari taman kembali ke kamar.
"Aku mau ke kamar, minum teh nya udah in dulu aja ..."
Sarah mengangguk. "Baiklah, Tuan mau kekamarkan ..."
Dia Sarah mengulurkan tangannya dan aku menyambutnya. Itu membuat aku berdiri, lalu ...
*Duk!
Aku kaget suara hentakan tangan ke Meja.
Terlihat Kathrina dengan wajah cemas dan resah berkata padaku.
"Kakak, aku punya berita buruk!" Teriaknya di depan ku yang menoleh saat mendengar hentakan tangan.
"Apa ?" Ujarku mengatakannya dengan wajah datar.
"Kakak tau, Ibu sekarang sedang bertarung menghadapi para pemberontak di Kota Shadow!"
Aku mendengar itu memasang wajah datar lagi. "Masalah nya apa?"
Dia menggertakan giginya melihat reaksi ku. "Kaisar Marseille menaikan pajak dan sekarang pasukan Ibu terpojok tau! Ibu dalam bahaya, apa kakak tak khawatir ?!"
__ADS_1
Aku mendengar itu mengencangkan mata. "Kekaisaran sialan itu masih saja melakukan ini?!" Ujarku merasa geram sekali.
Yah, ini pastinya ulah Marseille. Dia mengirim kan pasukan pemberontak dari kerajaan tetangga. Pasti alur cerita telah berubah, harus nya sekarang Ibuku yang berperan menjadi pembuat ulah itu. Dengan menyarankan pemberontakan untuk membuat Kekaisaran tetap memimpin. Harus nya Ibuku yang menjadi tokoh jahat yang memanipulasi Kaisar tapi sekarang ada yang mengambil peran itu. Pemberontakan itu pasti dari seseorang.
"Sialan, siapa lagi yang melakukan hal merepotkan seperti ini?!" Ujarku memasang wajah geram.
Kathrina melihat itu gemetar. "Kakak, kau terlihat menakutkan!"
Aku menjadi mendatar lagi. "Ha-ah, maaf kan aku ... Neh, Katrina ku sayang kesini pasti mau tau sesuatu kan? Aku sudah tahu hanya dengan melihat wajah mu ... Jadi, apa mau mu?"
"Ibu, lebih penting !" Ujarnya mengatakan itu dengan raut cemas.
*Teletek!
Aku menjentikkan jari dan berkata pada Sarah.
"Unity, Kau disana?"
Sarah mengangguk. "Hadir, Tuanku!" Memberi hormat.
Aku menoleh kearahnya. "Katakan pada Violet, dia ku tugas kan menghancurkan Kerajaan tetangga yang membuat Konspirasi itu ..."
Kathrina mendengar dan melihat tingkah laku Sarah jadi gemetar.
"Apa yang terjadi pada Sarah? Siapa itu Unity? Aku jadi curiga selama ini, apa yang Oni-chan perbuat sebenarnya?!" Ujarnya berucap dengan suara gemetar.
Aku mengangkat jariku. "Pelajaran ke2 untuk adek ku tersayang dari kakak nya yang tercinta ... Apa adek ku sudah punya hobby?"
"Apa hobby itu?" Ujarnya mengatakan itu dengan wajah takut.
Aku tersenyum sambil menjelaskan. "Hobby adalah semacam hal yang biasa dilakukan di waktu senggang ... Hobby meliputi banyak hal yang sering dilakukan tanpa sadar, wujud nya adalah Kegiatan ... Contoh kakak Asila, dia suka berlatih pedang ..."
"Kalo itu aku punya, itu adalah mendandani banyak gadis pelayan ... "
"Oh, iya ya ... Aku mau mencoba sesuatu ..." Ujarku memasang ekspresi tersenyum.
Dia menjadi mundur langkah nya. "Kakak mulai lagi, kemarin dia juga melakukan pemaksaan ini ... Mengajarkan aku suatu pengetahuan asing, entah dari mana asalnya Alat make up serta banyak lagi bedak dan juga model pakaian ,gaun dan beberapa hal semacam itu ... Aku di paksa mempelajarinya, aku memang menyukai hal itu tapi aku sangat benci mendengar nya mengoceh ..." Ujar Katharine di hatinya.
*Gluck!
Sarah membungkuk. "Tuanku, sudah disampaikan pada Violet dan sekarang ia sudah menyerang Kerajaan itu ..."
"Kerajaan mana?" Tanyaku.
"Setelah ku analisis, kerajaan besar Yureupa ... Itu negri di benua Iblis, Kerajaan Iblis ..."
Aku menganggukkan kepala. "Jadi begitu, Tokoh utama pria sudah mulai bergerak ..."
Salah satu tokoh utama di game Otome ini kayak nya malah jadi seseorang yang di manfaatkan oleh Sang Kaisar. Raja dari kerajaan Iblis, Pria Vampire yang jatuh cinta pada Marseille. Dia di gunakan oleh Marseille sekarang sebagai Konspirasi nya untuk menundukkan kerajaan kerajaan di bawah kekuasaan Kaisar Marseille sekarang.
"Iblis?!" Wajah Katrina pucat mendengar itu.
Dia lalu berkata padaku dengan tampang ketakutan. "Kakak, bagaimana kau bisa tahu bahwa yang menyerang adalah Bangsa Iblis bukan kata para pasukan itu manusia Pemberontak!"
Aku menjadi tersenyum meremehkan nya. "Cicicici, adekku tersayang harus lah bisa berpikir hal ini ... Apa mantan Pahlawan dengan pasukan nya bisa dikalahkan pemberontak separatis dari Negerinya sendiri? Aneh, kok bisa ya? Pastinya bukan, itu karna kekuatan yang besar tak lain bangsa Iblis! Ini pasti alasan-alasan balas dendam atau apa , mereka menyamar menjadi manusia dan mulai menyerang daerah kerajaan kita ..."
Katharine terjatuh lemas. "Kakak, aku gak mau Ibu mati ..."
Aku melihat itu mendekat dan mengelus kepalanya. "Apa yang kau takutkan? Kau tak dengar, Unity sudah bilang bahwa Violet sudah menyerang Kerajaan Iblis ..."
"Unity, beritahu aku lokasi nya Ibu ku disandera ..." Ujarku bertanya pada Sarah.
"Lokasinya di Desa Alver, daerah kekuasan Viscoun George!" Ujarnya menonggakan wajah saat berkata begitu.
Aku mengulurkan tangan ke Katharine. "Ayo, kau ikut dengan kakak!" Ujarku berkata dengan senyuman padanya.
"Kemana?" Ujarnya mengatakan itu dengan raut sedih.
Aku mengelus kepalanya. "Menyelamatkan Ibu dong! Apa lagi selain itu?"
Dia mengangguk. "Baik, Kak!" Ujarnya berdiri.
Aku menatap tajam ke dirinya sambil tersenyum menyeramkan.
"Sekalian mempererat hubungan dengan penguasa wilayah Viscount, kita akan menemukan hobby yang cocok untuk kamu Katharine!"
Dia menggigil. "Hiks!"
Sedang Unity yang masih di dalam tubuh Sarah menjadi tersenyum lelah. "Apa harus ku jelaskan ya bahwa Tuan salah besar soal apa itu Hobby, Bakat dan Minat ... Yah, tujuan Tuan kan membuat Katharine bahagia jadi gak masalah kan? Iya ga ya? Entahlah, aku pusing ..." Ujarnya Unity.
Ia lalu pergi, dan Sarah sadar.
"Apa yang terjadi? Ah, ini pasti Unity masuk lagi ..."
Dia menoleh kedepan, lalu melihat tempat itu dan kosong.
"Eh, dimana Tuan dan Nyonya Katharine?!" Ujarnya mengencangkan mata dan jadi khawatir.
"Tuan, kenapa dia selalu pergi diam-diam si?!" Ujarnya cemas dan melangkah untuk mencari Tuannya.
__ADS_1