
Lambang sihir menyala dibawah mayat yang tergeletak di tanah, lalu dengan meneteskan darah nya seketika itu juga kepala yang telah putus itu menyatu dengan tubuh dan Bam dalam hitungan detik dia terbangun.
"Akh, aku mati ya tadi ..." Ujarnya mengatakan itu dengan tawa, si Gadis kelinci.
Aku menatapnya dengan wajah datar. "Kau sama sekali tak takut ya?"
Cecilion mengelap jari tangan nya yang luka. "Aku benci menggores jari ku, karna itu aku malas menggunakan tehnik ini ..." Ujarnya menatapku dengan senyuman lembut, "tapi karna itu yang Tuan butuhkan maka tak masalah ..."
Aku mengangguk padanya dan tersenyum dengan wajah merona. "Makasih banget Cecilion!"
Si gadis kelinci berdiri dan memegang tangan seketika. "Namaku Arum, aku adalah Ratu Rabbit Woman ... Kau telah mengalahkan ku, berati Kau telah menerima ku sebagai bawahan ..."
Aku mengeluh kebawah. "Iya, aku sudah dengar penjelasan itu dari Kakakku Asila tapi bagaimana pun aku masih gak bisa menerima nya ..." Ujarku memasang wajah gak di pandang.
Unity berkata, kali ini dia berbicara melalui Cecilion. "Anda harus nya mau menerima nya, dengan begitu fakta pun di bangun ..."
Aku mendengar itu menatap kearah bawah dengan wajah mengeluh terus menerus. "Ah, aku memang berencana membuat fakta tapi tidak dengan mengambil tanggung jawab mengurus Kelinci nakal ini ..."
Dia kaget dan langsung terjatuh. "Kah, aku kelinci nakal!" Ujarnya mengecap dadanya, mungkin kata-kata ku menusuk relung hati terdalam.
"Mau tidak kau tunjukan dimana Lokasi mu, maksud ku Desa Rabbit Woman ..."
Dia mengangguk dan mengenggam tanganku. "Tentu saja!" Ujarnya menatap ku dengan wajah bersemangat.
Akh, aku merasa bakalan ada hal buruk.
Kami pun mengikuti gadis kelinci itu, berjalan melewati hutan dan akhirnya sampai Pada sebuah Desa yang semua rumah nya menyatu dengan tanah. Ini sangat mirip dengan rumah para Hobbit. Tapi, dia ini kelinci jadi sedikit aneh ...
"Ini desa Kelinci!" Ujarnya merentangkan tangan dengan wajah berseri-seri.
Cecilion menepuk belakangku. "Wah, disini hanya ada perempuan Lo ... Betapa beruntungnya sampai ke Desa Harem gini ih Tuan ..."
Aku mengecap wajahnya. "Kau selalu mengatakan hal tak masuk akal ..." Ujarku mengaktifkan skill milikku.
Tangan ku mengeluarkan api hitam, skill gluttony.
"Kah, api Neraka gluttony!" Teriak nya melihat api di wajahnya.
Aku melepas kecapan di wajahnya dan memasang wajah cemberut. "Lain kali jaga kata kata mu, Cecil ..."
Dia mengusap wajah nya dengan telapak tangan. "Kah, bahkan kau sangat kuat meski bukan dirimu yang biasa nya ..."
"Tidak juga ..." Ujarku melangkah mengikuti gadis kelinci itu memasuki desa.
Kakak Asila Farma sekarang melihat ke kanan kiri nya dengan wajah tersenyum. "Aku tak pernah berkunjung ke Desa selain manusia ... Ini jadi pertama kali nya bagiku, tapi jangan macam-macam ya Erlan ..." Ujarnya menyentuh pipiku dan memancung kan bibirnya.
Aku menggeleng kan kepala dengan raut memerah. "Tentu saja tidak kok!"
Dia mengangguk. "Baguslah !" Ujarnya tersenyum kemudian.
Cecilion mendatar melihat itu. "Apa ku kasih tau aja ya? Mereka gak sedarah, hubungan intim adek kakak pun terjalin dan dosa nya akan menjadi energi ku ..." Ujarnya di hati.
Aku menjelentik keningnya Cecil. "Kau jangan mikir aneh-aneh ..."
"Eh, anda tau?!" Ujarnya mengatakan dengan raut tak menyangka.
Aku mendatar menjawabnya. "Unity bilang kau memiliki energi gelap yang harus diisi dengan Dosa, yah itu kan ciri khas Iblis ..."
Dia menutup mulutnya dan mengencangkan mata. "Astaga, anda bahkan tau sampai sedetial itu ..."
Aku mengabaikan nya setelah itu.
Lalu, Si gadis kelinci berhenti didepan sebuah rumah yang besar. Lalu, dia berkata padaku ...
"Selamat datang, ini Kastilku!" Ujarnya memegang pinggang nya dengan senyuman bangga.
Terlihat seperti rumah biasa bagi kami, yah yang berbeda hanya lah dia menggali bukit dan memberi papan di bukit itu.
"Kastil yang menempel pada gundukan bukit, ini sangat mirip dengan rumah rumah fantasi , sungguh hebat dunia ini ..." Ujarku mengangguk senang melihat kearah kastil.
Dia menarikku dan berkata dengan wajah tersenyum senang. "Ayo masuk!" Ucapnya.
Aku dibawa tarikan si Gadis Kelinci ini kedalam kastilnya. Sementara Cecilion dan Asila Farma mengikuti kami di belakang. Pintu terbuka dan berdiri Gadis kelinci dengan pakaian Maid berbaris.
"Selamat datang, Arum sama!" Ujar mereka serentak para maid gadis kelinci.
"Aku pulang!" Ujarnya menyapa seluruh Maid Gadis kelinci.
Lalu, para maid gadis kelinci menatapku dengan wajah memerah. Aku tak tahu apa yang sebenarnya akan terjadi tapi terlihat semuanya memberikan tatapan intens nya.
Asila menyadari itu dan menggeram kesal. "Greer!" Ujarnya kearahku.
Aku menggigit bibirku bagian bawah saat sadar tekanan di belakang ku.
"Kakak, apa dia marah?! Ah, ini gara-gara tatapan para gadis Kelinci Maid ..." Ujarku menggigil saat berjalan.
__ADS_1
Sampai pada ruang singgasana si Gadis kelinci. Kami disuruh menunggu nya dan berhenti di tengah.
"Kalian tunggu disini, aku akan pergi ..." Ujarnya mengatakan itu saat melepas pegangan tangannya dari ku.
Aku mengangguk. "Baiklah ..." Ujarku melihat kekanan kiri.
Di kanan dan kiri ku ada banyak gadis kelinci memakai pakaian Armor besi perang. Tampaknya, mereka adalah pasukan yang menjaga Sang Ratu Rabbit Woman.
"Siapa manusia ini?" Ujarnya menatap kearahku, wanita kelinci yang berdiri disisi Sang Ratu.
Aku melihat kearah si Wanita. " Dia siapa?"
Arum tampak nya berbicara dengan si Wanita kelinci di sampingnya. "Aku mau mengatakan sesuatu yang penting ..."
Si wanita kelinci tampak mendekatkan telinganya dan si Arum berbisik.
Seketika dia mengencangkan matanya dan berteriak. "Ha, apa anda tak salah mengatakan itu?!"
Semua pasukan gadis kelinci terkejut dan mengarahkan tombak kearah kami.
"Tahan!" Teriak sang Arum.
Semua pasukan menaikan senjata dan kembali di posisi siap.
"Ah, aku tak bisa memerintah lagi ... Aku sudah dikalahkan oleh Pria itu ..."
Semua pasukan terkejut.
Bahkan wanita disampingnya memegang dahinya. "Kenapa bisa begini sih?!"
Wanita itu menatap ku. "Apa kau yang telah mengalahkan Ratu Arum?"
Cecilion mendorongku. "Maju dia bicara padamu!"
*Duk!
Aku terdorong dan menoleh kearah belakang menatap kesal ke Cecilion.
"Kau sialan ya?!" Ujarku mengerutkan kening.
Dia menoleh kelain dan bersiul.
"Ha-ah, aku mengalahkan nya ..." Ujarku mengela nafas keluh dan pasrah.
Wanita itu mengepalkan tangannya dan berkata padaku dengan teriakan marah.
"Kau membahas apa sih?" Ujarku menjawab nya dengan datar.
Wanita kelinci itu menyeluk tasnya.
"Aku sudah berlatih keras agar bisa mengalahkan Sang Ratu Rabbit Woman bahkan dengan cara membuatnya lemah dulu ... Dan kau bilang, kau mengalahkan nya manusia?! Kau mau bilang begitu? Aku rasa Arum berbohong karna kau menjebaknya dengan tehnik Pria manusia yang mengait gadis dengan mudah! Ini namanya Fuckboy atau playboy ... Entahlah, aku akan mengetesnya sendiri jika benar kau hebat bertarung ..."
*Tereng!
Bonekel terlihat di ke2 tinju tangan nya.
*Dush!
Dia melompat kearahku.
"Mati kau!" Ujarnya mengarahkan tinju saat berada di depan ku.
*Teng!
Kakak ku menangkis nya dengan pedang.
"Kau mau menyakiti Adikku? Langkahi dulu kakaknya!" Ujarnya mengatakan itu dengan mata melebar dan wajah penuh amarah.
"Hohoho, kau mau melawan ku?" Ujarnya mengarahkan tangan kiri dengan cepat.
*Bedebuk!
Dia berhasil meninju perut Kakakku.
"Kah!" Teriak kakakku saat tinju itu membuatnya terangkat.
*Dentam!
Terbang mengenai atas langit-langit ruangan ini.
*Desh!
Terjatuh dari atas kelantai bawah.
Seketika Kakak ku pingsan.
__ADS_1
"Lemah, lemah!" Ujarnya mengatakan nya dengan wajah bersemangat mengepalkan tinjunya.
Aku melihat itu merengutkan wajah. "Beraninya kau ..." Ujarku memunculkan sesuatu di tangan.
*Tes!
Sebuah papan bergambar.
"Item pemulihan, aktif!" Ujarku melempar ke Kakak ku yang sedang terkapar di lantai.
Lalu, cahaya tampak bersinar di tubuhnya.
Semua luka nya hilang bahkan kotor pada pakaian nya.
"Kau punya sesuatu yang menarik ya?" Ujarnya menatapku dengan senyuman meremehkan.
Cecilion meregangkan lehernya dan berkata dengan wajah serius. "Menantang Tuanku berati sama saja menantang ku ... Tuanku, kau tak layak melawan musuh lemah ..." Ujarnya mengeluarkan sayap kalilawar nya.
Tanduk nya panjang dengan rambut hitam dan pupil mata merah.
"Akan ku perlihatkan apa itu keputusasaan ..."
Mendengar itu aku menjawab nya. "Kau jangan sok keren dong ..."
Dia yang tersenyum jadi agak sulit menahan bibirnya yang mengerut sehingga dia berteriak kearahku. "Kenapa kau malah mengejek ku si?!" Ujarnya kesal namun wajah nya memerah malu.
Dia mengarahkan tangannya ke depan. "Dimensional Neraka!" Ujarnya mengatakan itu sambil menahan malu.
*Derekkkkkk!
Sebuah dimensi tercipta, yang mana hanya si Wanita kelinci itu dan Cecilion menjadi Raksasa.
"Aku adalah Raja Iblis yang di berkahi Dewa Iblis dan punya banyak subtansi dari pendahuluku jadi jangan Kau kira bisa lepas dari maut hanya karna Kau Rabbit Woman ..."
Dia berjinjit jinjit dengan tangan siap meninju.
"Aku tak peduli, meski Kau Raja Iblis!"
"Oh- Kau mau coba ya?" Ujar Cecilion mengarahkan telapak tangannya.
*Dentam!
Terdengar hentakan yang membuat si Wanita kelinci jadi hancur penyek.
Lalu ...
"Kah!" Ujarnya sadar kembali.
Dia mengecap dadanya dan merasa bahwa dia melihat dirinya sudah mati.
"Apa yang kau lakukan?!" Teriaknya kearah si Cecilion yang tersenyum menyeramkan.
Wanita kelinci itu gemetar dan menggigil.
Cecilion menepuk lagi dengan senyuman menyeramkan itu dan itu berulangkali dilakukannya.
"Cukup! Cukup!" Ujarnya mengatakan itu dengan tangisan merengek.
Cecilion menahan tepukan tangan nya ke arah si Wanita kelinci lalu berkata.
"Aku takkan menyudahinya sampai Kau berjanji akan membangun Fakta dengan Tuanku!"
Dia menjadi bingung, lalu mengusap wajah basahnya dengan pakaian nya yang seperti jubah penyihir itu.
"Baik, aku akan menurutimu lagipula aku akan menggantikan Sang Ratu yang akan melayani Tuanmu ..."
*Tletek!
Dia Cecilion menjelentik jarinya dan seketika semua kembali ke ruangan singgasana sang Ratu Rabbit Woman.
Arum menatap tajam ke Cecilion. "Jadi itu ya Dimensi mu sebagai Iblis?"
Cecilion menggigil. "Tentu saja, aku kan Raja iblis juga punya dimensi yang kuat ..." Ujarnya mengatakan itu dengan senyuman gemetar.
Dia berusaha menunjukan rasa bangga namun tatapan Arum kayaknya membuat dia agak khawatir.
"Aku pengen coba melawan mu deh rasanya ..." Ujar nya si Arum tersenyum dengan wajah menakutkan.
*Hiks!
Seketika Cecilion berlari kebelakang punggung ku.
"Tolong aku Tuan!"
Aku menjadi tertawa tak enak. "Bisa-bisa nya Kau ketakutan setelah membuat si wanita kelinci itu pingsan dan kencing di celana ..." Aku menunjuk si Wanita kelinci yang pingsan dengan terduduk di lantai dan sekitar nya lantai basah digenangi air.
__ADS_1
----