Player Nge-cheat Terbuang Ke Isekai.

Player Nge-cheat Terbuang Ke Isekai.
Menuju Desa Alver.


__ADS_3

+ Gadis Pertama Yang dikontrak, Ketika Masih Bayi +


Dia benar-benar menyeramkan, dia berniat membunuhku. Gadis yang muncul di sudut langit-langit kamar. Tampak sedang mengarahkan tangan nya dari kejauhan, dimana didepan tangannya terlihat lambang sihir dan pedang yang muncul dengan kapasitas gelap.


Gadis itu tersenyum kearahku sambil berkata dengan suara keras.


"Aku akan membunuhmu, Dewi sama terima kasih memberi ku kesempatan lagi!"


Seketika terbanglah pedang pedang itu mengarah kearah Aku dan Si Pelayan. Membuat aku memucat dan berkeringat seketika.


"Lari!" Ujarku berkata kepada si Pelayan didepan ku sebisa mungkin meski suara ku terdengar tidak jelas dan hanya celotehan tanpa arti.


Gadis Pelayan itu menatapku dengan wajah tanpa ekspresi. Dia mulai menunjukkan keanehan, seolah bukan dirinya.


"Tuan, anda jangan risau ..."


Dugh, Seolah ada dinding yang menangkis Pedang-pedang yang mengarah padaku dan si Pelayan.


"Hm?!" Tatap ku dengan mata melebar menyaksikan sesuatu yang aneh di depan ku.


"Kenapa pedang nya bisa terhenti sebelum sampai pada Kita?" Tanyaku pada si gadis pelayan dengan wajah bingung.


Dia menjawab ku dengan wajah tanpa ekspresi lagi.


"Itu karna Barier ku aktifkan, Cheat kode Barier ..."


Mendengar itu aku terdiam dengan mulut terbuka dan wajah terpelongo bingung. Lalu, sesaat aku menyadari. Mata si gadis tampak memiliki semacam keanehan, yang mana jadi berwarna biru.


"Eh, bukannya gadis ini tadi memiliki pupil mata coklat lalu sekarang jadi biru ?"


Aku memperhatikan nya dengan mata menyipit. "Aneh sekali ..."


Sesaat kemudian , serangan datang lagi dari gadis yang mirip dengan hantu itu. Gadis itu turun dari platform atas ke lantai dibawah. Tepatnya dia berdiri kearah kami. Menonggakan wajah nya dengan senyuman manis.


"Wah, kau punya sesuatu yang menarik Venom sama!"


Aku melihat dia sedang mengarahkan tangan lagi kedepan. Tampaknya lambang sihir besar muncul di belakang nya seperti layak nya Dewi di serial TV.


"Kau menjadi apa didunia ini Venom sama?" Ujarnya bertanya padaku sebelum menyerang.


Aku mendengar itu menjadi bingung. "Maksudnya aku menjadi apa itu gimana sih?" Ujarku bingung dan bertanya ke si gadis pelayan.


Gadis pelayan tampak seperti mengarahkan tangan kedepan juga. Dia seperti nya sudah menyiapkan pemanggilan besar dengan lambang sihir.


"Sebut saja, Tuanku akan menjadi Penguasa Dunia!"


Gadis itu tersenyum padanya si Pelayan. Dia sangat terkejut melihat sesuatu muncul dari lambang sihir milik Pelayan ku.


Lambang sihir yang sama juga ada pada gadis itu. Di dua lambang yang saling berhadapan itu. Tampak 2 jenis mahluk yang berbeda genre.


Robot Harvy raksasa yang perlahan keluar dari lambang sihir milik Pelayan. Lalu, monster King Selekton raksasa yang keluar dari lambang sihir milik Gadis itu.


Mereka berdua tampak sudah saling tatap dan akan bertarung.


Drushhhhhhhh, sesaat berterbangan segala sisi di kiri. Pecah tembok itu membuat jebol kamar dari atap sampai sisi belakang. Itu adalah tepukan salah satu tangan Selekton King.


Pelayan itu berhasil melompat dengan menggendong ku. Robot Harvy raksasa miliknya melindungi kami dengan sayap besinya. Tampak Robot Harvy raksasa, menyerupai Wanita bersayap dengan kaki nya yang menyerupai burung dan tangan yang menyatu di sayap.


Desshhhh, mendarat kearah bawah. Tepatnya saat ini kami berdiri di halaman.


"Serangan nya sangat kuat dan Barier cheat pun bahkan bisa ditembus ..."


Dia menatap ku, gadis pelayan itu.


"Maafkan aku atas keteledoran hamba ini, saya akan memeriksa ulang aturan dunia ini dan menyatukan sistem kita dan mereka agar serangan kita bisa di sesuaikan dengan serangan aslinya ..."


Aku mendengar itu jadi memasang kerut di kening.


"Aku agak bingung dengan sikap mu sedari tadi tapi sekarang kayak nya aku tahu sesuatu ... Apa kau ini Unity?"


Dia menatap serius sekali kearah ku, meski tanpa ekspresi apapun tapi aku jelas tahu dia serius menatapku.


"Apa yang anda katakan?"


Aku mendengar itu jadi memalingkan wajah dengan raut malu. "Eh, berati aku salah ..."


"Tidak, bukan salah atau apa ... Memang aku adalah Unity! Aku pikir anda sudah sadar sedari awal Tuan?"


Aku menganga tak percaya , wajah ku terlihat kaget bukan main.


"Eh, apa itu benar? Apa kau beneran Unity?"


Dia mengangguk. "Iya, Tuan!"


Dresshhhh, serangan telapak tangan Tengkorak besar menghempas dari kiri kearah kami.


"Aaaagh!" Teriakku melihat telapak tangan yang mengarah ke arah kami.


Desshhhh, sayap nya menepis tangan Tengkorak itu.


"Jangan khawatir Tuan! Robot ku 100 kali lebih kuat dari seonggak Tulang besar ini ..."


Aku meneguk liur dengan wajah berkeringat.


"Ouh, begitu ya?"


Tampak wajah si gadis yang ada di seberang kami sangat kesal. Dia mengeramkan tangan nya kebawah dan menggigit bibir bawahnya dengan kuat.


"Venom, lagi-lagi kau membuat ku geram!"


Aku melihat kearah nya, lalu bertanya pada si Gadis Pelayan.


"Bisa kau tanya kan pada dia?"


Gadis pelayan itu menatap ku dengan Pupil mata biru membesar. Aku melihat di pupil matanya yang berwarna biru itu ternyata adalah sebuah lambang sihir.


"Ouh, jadi itu lambang sihir ya ..." Ujarku dihati.


Gadis pelayan bertanya. "Apa yang mau anda tanyakan padanya?"


Aku menjawab nya. "..."


Kami terlihat sedang berbisik bisik di depan gadis itu. Itu membuat gadis itu makin kesal, dan langsung menyerang.


Dubrakkkk, kali menghempas ke dua telapak tangan nya tengkorak raksasa kearah kami.


Tapi, lagi lagi di halangi oleh Sayap besar Robot Harvy raksasa.


Gadis pelayan menatap keatas nya, yang mana sayap Harvy Raksasa melindungi 2 tulang telapak tangan besar yang mau menghentak kami.


Dia lalu bertanya pada si Gadis itu.


"Kau siapa? Kenapa kau bicara seolah mengenal Tuanku?"


Gadis itu mendekat dengan menghentakan telapak tangan terus menekan sayap Harvy raksasa.


Dugh! Dugh! Dugh!


Dia menatap dengan wajah yang teramat sangat kesal sambil terus mendekat kearah kami berdua.


Sesudah ia sampai didepan kami.


Dia menatap ku yang ada di gendongan si Gadis Pelayan.


"Aku gadis yang dibunuhnya di Game Saling Membunuh, kau kenal aku kan?"


Seketika aku memucat. "Kau-kau-kau gadis yang ku tebas kepalanya waktu itu?!"


Gadis Pelayan ku mengarahkan tangannya. "Ancaman, membuat Tuan ku takut!"


Lingkaran sihir muncul di telapak tangan si gadis pelayan. Itu mengarah tepat di dada Gadis di depannya.


Dushhhhhh, membuat serangan angin yang besar. Gadis itu menjadi terpental kearah belakang. Sampai sampai Tengkorak raksasa nya kesulitan menahan hempasan itu.


Si gadis terkapar di atas telapak tangan Tengkorak itu.


" Kuh, kau masih saja kuat seperti diawal Venom!" Ujarnya mengatakan itu dengan wajah babak belur.


"Cheat Kode , ..." Ujar nya si Gadis Pelayan berucap.


Tampaknya Gadis pelayan ini seperti berniat menyerang lagi. Dia tak menurunkan sedikit pun posisi tangannya juga lambang sihir yang muncul pun belum hilang.


Tanpa sedikitpun merasa khawatir, dengan wajah tanpa ekspresi nya itu. Dia berkata kearah si Gadis.


"Akan ku akhiri sekarang!"


Seolah ia menegaskan nya padaku. Ini sudah akan ku akhiri Tuan.


Namun, seketika aku menahannya. "Tunggu dulu!"


Dia jadi terkejut melihat kearah ku langsung.


Gadis pelayan menurunkan tangannya dan bertanya padaku.


"Ada apa Tuan?"

__ADS_1


Aku menatapnya dengan gelengan kepala kemudian menunjukan wajah sedih. "Kumohon, jangan bunuh dia!" Ujarku mengangguk dengan mata berkaca-kaca.


Gadis pelayan itu jadi menarik bibirnya, tatapan mata tanpa ekspresi nya menampilkan wajah agak sedikit berbeda. Dia seolah tak bisa menolak rayuan wajah yang ku tunjukkan.


"Tapi, bukannya dia musuh Tuan ..."


Aku melihat itu hanya bisa menatap dengan lesu ke arah si Gadis yang terkapar dengan senyuman. Dia babak belur namun masih bisa menatapku seperti itu.


"Aku punya dosa yang harus ku jelaskan padanya ..."


Gadis pelayan mendengar itu mengencangkan matanya dan mengela nafas. "Ha-ah, baiklah Tuanku!" Ujarnya melenyapkan lambang sihir dihadapan kami.


Dia lalu mendekat membawaku kehadapan gadis itu di gendongan nya. Tatapan tajam kearah si gadis dari Pelayan ku ini.


"Jika kau berniat melakukan sesuatu yang aneh, aku langsung membunuh mu!" Ujarnya menegaskan pada si gadis.


Gadis itu tertawa dengan wajah lesu penuh dengan letih.


"Kau harus membunuhku sekarang atau Aku akan kembali lagi nanti dan membunuh mu cepat atau lambat ..."


Aku melihat kearah si gadis dengan wajah serius, lalu berkata padanya.


"Kenapa kau bisa sangat membenciku? Bukannya, aku membunuhmu karna aku saat itu juga mau bertahan hidup ..."


Dia menggertakan giginya. "Kau pasti akan bilang begitu tapi jelas aku melihat mu seperti Psycopath yang tertawa sebelum menebas leher ku!"


Aku mendengar ucapannya jadi mengela nafas panjang.


"Kau pikir apa? Mudah ya bagi manusia melenyapkan orang lain? Jika saja, kau tau apa yang kurasakan saat itu ... Aku benar-benar merasa bahwa aku sudah gila ... Membunuh orang orang dengan telapak tangan ku sendiri ... Aku berpura pura menutup mata dan menganggap mereka semua sama seperti di game padahal Game itu adalah Area saling membunuh ..."


Aku menawarkan tangan padanya. "Kau harus nya tak menyalahkan aku atas kematian yang ada di sana tapi menyalahkan Dewi itu!"


Pelayan itu menatap si gadis. "Kau terimalah tawaran tangan Tuanku yang baik hati ini karna untuk melawan Dewi itu kita butuh rekan kuat ..."


Mendengar ucapan Pelayan ku itu. Aku jadi merasa agak sedikit tegang.


"Apa benar ini Unity? Bukannya perkembangan nya terlalu berlebihan ..."


Seingat ku, di game Unity tak bisa berbicara dengan natural melainkan sesuai dengan abjad kata yang disusun nya dan itu tampak kaku. Dia belajar sendiri dari setiap pertandingan dan melakukan riset ulang-ulang untuk menyempurnakan dirinya sendiri sebagai sistem. Semua itu tetap lah hanya menampilkan sistem kaku dengan probilitas yang agak kurang. Jadi, terkadang aku mengontrol nya dengan manual. Memberi perintah dan dia akan menuruti.


Tapi disini ...


Unity tampak nya menjadi Pribadi mandiri ...


-


-


-


-


Di bengkel, Aku dan Katrina sedang bersiap pergi menuju ke lokasi Desa Alver, ke wilayah perbatasan Viscount George. Sebelum berangkat, aku memilih secara urut pesawat yang mau ku kenakan untuk sekarang.


Papan besar menampilkan gambar gambar pesawat angkasa ukuran kecil dan sedang. Umumnya terdiri dari sebesar pesawat komersial dan yang terkecil sebesar Mobil biasa.


"Gunain pesawat apa ya? Kalo lakukan teleport si cepat tapi ga asik lah ..." Ujarku memegang dagu saat memilih.


Aku menanyai papan besar itu.


"Neh, Charlotte apa kau punya saran?"


Papan berbicara. "Saran ya? Hmmmp, aku rasa model UFO yang sering muncul di bumi aja yang bentuk nya kayak piring terbang itu ..."


"Maksud mu yang ini?" Ujarku menunjuk sebuah gambar Piring terbang seukuran mobil.


"Yah, itu juga bagus! Ukuran nya gak besar dan muat untuk 2 - 4 orang ..." Ujarnya.


Aku mengangguk. "Baiklah, ku ikuti saran mu ..."


"Kau takkan merasa buruk karna aku ini orang nya selalu beruntung dalam memilihkan sesuatu ..."


"Aya , terserah saja lah ..." Ujarku datar.


Sementara itu, si Kathrina terlihat bersemangat dan memandang kagum semua senjata di ruangan bengkel ku.


"Keren banget! Kakak, kenapa kau bisa punya semua ini?"


Aku tersenyum malu melihat nya senang. "Rahasiakan ini Lo, jangan katakan sama siapapun ya ..."


"Kakak, andai kau bagi senjata ini pada Ibu mungkin dia akan menang perang ..." Tatap nya kearah ku dengan cemberut.


Aku langsung menoleh kebawah dan mengeluh nafas panjang. "Ha-ah, astaga adik ku ini ... Apa kau mau kakak mu tersayang ini di jadikan alat oleh Kekaisaran? Kau tak sayang kakak mu ya?"


Seketika Katharina mengangguk sedih. "Aku paham, maaf menanyai hal seperti itu ..."


Dia mengencangkan matanya. "Apa boleh aku menyimpan nya?" Ujarnya menatap dengan mata berbinar-binar pedang di pegang nya saat ini.


Aku mendekat kearahnya dan melihat pedang yang di pegang nya.


"Ini kan pedang dari dunia ini?" Tanya ku pada Papan besar yang sedang menampilkan senjata yang mau di pilih oleh Adikku Katharine.


"Itu benar, Tuanku sangat tahu ya perbedaan antara pedang dunia ini dan pedang buatan Modern kita ..." Ujar nya berkata.


Katharine terkejut. "Eh, papan nya bicara?!"


"Tenanglah, dia adalah mediatore yang bertugas mengelola senjata di Pabrik ku ..." Ujarku.


Dia menjadi bingung. "Pabrik itu apa?"


Aku menjawabnya. "Itu tempat membuat barang secara banyak ..."


"Wo-ho! Aku mau liat pabrik kakak!"


Aku menahan wajahnya yang mendekat. "Tidak sekarang, kita mau menyelamatkan Ibu dulu ..."


"Oh iya!" Ujarnya sadar akan hal itu.


Dia mengecap pedang dan menatap nya terus.


"Kakak, gimana cara gunainnya?" Ujarnya menatap kearahku dengan wajah bingung kemudian.


Aku menepuk kening melihat reaksi nya, kukira dia mau coba menebas.


"Kau ga pernah berlatih pedang kan? Astaga, kok milih pedang sih?"


Aku menarik beberapa gambar dan memperlihatkan padanya.


"Pilih yang ku saran kan ini ..."


Dia melihat nya. "Kakak ini gunainnya gimana?" Tanya padaku saat melihat senjata.


Gambar yang di tunjuk oleh ku pertama adalah senjata pedang yang ringan dan memiliki leser pembelah. Jadi itu tidak berat, dan bisa di gunain sesuka hati.


"Senjata ini bagus untukmu, ini pedang leser tampak gak bahaya tapi sebenarnya kalo di coba bahkan bisa membelah apapun ..."


Dia mengencangkan matanya. "Wow, aku mau yang ini!" Ujarnya mengangguk.


*Tet!


Aku memencet tombol gunakan di papan gambar Pedang leser.


Lalu muncul pedang leser di tangan ku.


"Ini dia, warna nya pink cocok untuk cewek ..."


Aku memencet tombol dan keluar cahaya pink.


*Byushhh!


Katrina menjadi kagum. "Wow, keren!" Ujarnya mengangguk mau coba pegang.


Aku menahan nya. "Sabar dulu ..." Ujarku memencet tombol mati.


*Byuss!


Seketika mati laser nya.


Aku meminta pedang yang di pegang Katharine.


"Sini pedang yang kau pegang , kita kembalikan ke pabrik ..."


"Eh?" Ujarnya memasang wajah terkejut dan raut sedih.


Aku mendatar melihatnya. "Kau mau ke2 nya?"


Dia menyerahkan nya padaku. "Engga juga, soalnya aku buat apa ..."


Aku mengambil pedang di tangannya. "Baguslah, kalo begitu kembali lah pedang!"


Aku melambung dan pedang lenyap jadi data.


Dia memegang pedang laser yang ku berikan.


"Wow, ini keren!"

__ADS_1


Matanya membesar, rautnya tampak senang. Ah, kakak mana yang tak menyukai pemandangan ini. Adik imutku sedang suka sukanya dengan hal beginian.


Aku lalu mendekat dan menyentuh tangan nya. "Ada sesuatu yang harus di setel ..." Ujarku menekan tombol di pedang.


Dia terkejut dengan tangan ku yang tersentuh ketangannya. "Kah, kakak memanfaatkan situasi ..."


Aku mendatar. "Kau salah paham ..." Ujarku menjawabnya.


*Dest!


Sebuah papan kotak muncul, dengan Keyboard huruf. Disitu huruf nya adalah huruf dari dunia ini. Itu membuat Katharine paham dengan apa yang ada di papan.


"Disini minta tulis Nama Kakak?"


Aku mengangguk. "Iyah, ini fungsinya agar gak ada yang bisa makai dan gak bisa ngelukai kamu ..." Ucapku lalu mengusap kepalanya dan tersenyum lembut.


Dia melihat kearahku yang tersenyum saat mengusap rambut di kepalanya. Tatapan imut malu nya membuat ku sangat tau, dia senang.


"Iya, kakak ..." Ujarnya pelan.


Aku mengambil pedang laser ditangannya dan memencetnya.


"Kalo Aku tentu bisa gunain nya, itu pengecualian ..." Ujarku berkata padanya.


Aku lalu membawa Katharine keluar dari gudang dan pergi ke halaman gudang. Dimana disitu ada sebuah batu besar.


"Batu ini bisa di gunain ..." Ujarku memasang kuda-kuda lalu ...


*Desek!


Terbelah batu dengan halus.


"Wow, lebih tajam dari yang kukira ..."


Dia melihat itu mengangguk dan menepuk tangan nya.


"Keren banget, dust gitu!" Ujarnya berucap dengan mata berbinar-binar.


Aku menjadi tersenyum dengan bangga. "Ah, aku suka pujian dari adik ku yang manis!" Ujarku dihati.


"Lalu ..."


Aku berjalan mendekati nya dan berkata dengan raut wajah tersenyum.


"Kau sudah melihat nya kan? Aku takkan mau rahasiaku terbongkar jadi , ..."


*Desk!


Aku mengarahkan tebasan ke Katrina.


"Hiks!" Ujarnya kaget dan menutup mata dengan gemetar ketakutan.


Aku tertawa mengangkat gagang pedang leser yang area cahaya leser nya mati.


"Lihat laser nya mati, itu fungsinya takkan menyakiti mu karna ada Fiture otomatis mematikan pedang untuk pemilik nya ..."


Dia jadi cemberut. "Kakak bodoh, aku ketakutan tau!" Ujarnya yang mana terlihat sudah menangis sedikit tadi.


"Maafkan aku!" Ujarku merasa tak enak padanya.


-+--+---+---


*Dentak!


Pintu pesawat piring terbang ku telah ku tutup. Aku menatap kesamping dimana si Kathrina kesusahan pakai sabuk pengaman.


"Kakak, gimana cara masang nya?"


Aku menarik sabuk pengaman dan menekan pada pengepitnya saat tali sabuk sudah menahan tubuh Katharine.


*Tek!


"Sudah terpasang sabuknya!" Ujarku berkata dengan raut sedikit kesal.


Aku memasang sabuk juga dan berkata dengan wajah kesal. "Kau disana Unity?" Tanyaku padanya.


"Kau terlihat kesal, Tuan?" Ujarnya mengatakan hal yang memancingku naik darah.


Aku mengerutkan kening dan menatap kesal kedepan. "Kau diam lah, jangan memancingku marah ..."


"Ugh, maaf!" Ujar nya Unity ketakutan.


Katharine terkejut. "Netra ini bisa ngomong?!" Ujarnya kaget bet.


Handset turun pelan dari atas dan menuju telinga Katrina.


"Hay, aku Unity!"


Katrina menyentuh telinganya. "Hay juga!" Ujarnya berteriak karna kaget.


Aku menoleh ke Katrina. "Jangan teriak teriak dek ..." Tatap ku datar.


"Maaf kak!" Ujarnya mengatakan itu dengan wajah sedih.


"Yah udah gak papa ..." Ujarku bersandar.


"Unity, bawa kami ke Desa Alver!" Ujarku menunjuk ke depan dengan raut datar.


Seketika Unity mengaktifkan Pesawat piring terbang.


* Tet! Denet! Tittttt!


Semua menyala lampu dari tiap tombol di depanku. Itu adalah pengendali pesawat piring terbang, jika ingin terbang minual.


"Pesawat angkasa akan berangkat!" Ujar Unity.


Lalu terbang lah pesawat piring terbang itu.


Sedangkan, Kathrina melihat kearah ku dengan wajah sedikit tegang. Saat dia sudah agak tenang, karna aku tak curiga. Dia mulai berbicara dengan Unity.


"Unity, sebenarnya apa kau ini?" Tanya Katharine.


"Oh, aku adalah sistem yang membantu tuan ..." Unity menjawab.


"Oh begitu ya ..." Dia mengangguk paham.


Unity bertanya. "Kenapa Tuan tampak kesal?"


Kathrina menjawab dengan tawa gak enak. "Eh, itu karna tadi aku mau menyuruhnya pakai gaun ... Tapi, dia bilang gak usah dan aku maksa ... Tapi aku kalah dan dia jadi gak pakai gaun ... Tapi ..."


"Tapi?" Tanya Unity.


Dia ketawa dengan keringat bercucuran, merasa ini salah nya. "Itu, aku memakaikan nya riasan wajah dan make up ..."


"Kau terlalu lama mendandani nya, membuat kakak mu marah ya?"


Katharine mengangguk. "Iya, aku egois sehingga membuang banyak waktu ... Apa kakak marah ya? Ibuku, apa baik-baik saja? Aku takut dia kenapa kenapa karna aku tadi egois dan mungkin Ibu sudah dibunuh ..." Wajah Katrina menjadi sedih.


"Kau tak boleh berpikir begitu ..." Ucapnya Unity.


Kathrina menunduk. "Tapi, kata Oni-chan mungkin gara-gara aku ..." Ujarnya berkata dan terlihat pengen nangis.


Aku melirik kearahnya, melihat Katharina tampak mau nangis.


"Kau baik-baik saja, dek?" Tanyaku dengan wajah khawatir.


Dia diam.


"Akh, aku dibenci oleh nya! Apa aku berlebihan tadi marahnya?!" Ujarku dihati dan jadi panik attack.


Aku melihat kabel handset.


"Unity! Kau kenapa kan Katharina ku?! Kau membuatnya mau nangis?!" Ujarku berteriak geram.


Kabel langsung naik keatas belum sempat kegenggam.


"Cih, kau lari ya!" Teriakku kesal.


Kathrina menatapku dengan wajah terbengong, aku melihatnya juga.


Wajah basahnya yang menatapku bingung. "Apa lagi yang di pikirkan adikku? Apa dia marah dengan ku lagi? Akh, kenapa aku malah teriak lagi? Padahal aku dan dia sudah dekat banget tadi?!" Ujarku dihati, mengecap dada dan merasa tersayat di dalam hatiku.


Kathrina tersenyum menatapku, wajah nya berkata dia memaafkan ku.


"Kau baik-baik saja Dek?" Tanyaku dengan wajah khawatir.


Dia menganggukkan kepala nya. "Iya, aku gak papa kak! Kukira, Kakak membenci ku karna Ibu akan mati gara gara aku membuang waktu tadi ..."


"Itu tadi cuman kata omong kosong dari kakak mu yang marah dan berlebihan .. " Ujarku merasa gak enak sekarang, kah aku yang terburuk.


Aku mengelus kepalanya dengan pelan. "Maafin kakak ya ..."


Dia mengangguk dengan tersenyum. "Iya, aku juga minta maaf kakak ..." Ujarnya tersenyum lepas.


"Akh, bahagia banget liat senyum nya hangat bet .. " Ujarku melihat wajah tersenyum Katharina adikku membuatku sangat bahagia.

__ADS_1


 


__ADS_2