Player Nge-cheat Terbuang Ke Isekai.

Player Nge-cheat Terbuang Ke Isekai.
Tantangan dan sebuah berita.


__ADS_3

Pagi yang cerah setelah sarapan, kupikir hari ini akan baik-baik saja. Tak akan ada yang menggunakan sihir dengan bodoh untuk menyerang Asrama mewah yang ku tinggali.


Yah, tentunya tidak ...


*Buysshhhh!


Air menyembur kearah ku dan membuat pakaian ku basah.


"Apa yang terjadi?" Ujarku datar menatap kedepan dengan tatapan dingin.


Terlihat seseorang menatapku dengan wajah kesal sambil memegang tongkat kecil seukuran pena.


"Kau yang bernama Chrome ya? Apa benar kau merupakan Anak sang ketua OSIS?"


Aku mendengar itu menoleh kesamping dengan wajah datar. "Terserahlah, aku tak tahu apa masalahmu sampai melakukan ini ..."


Tampak dua orang di belakang Pria itu. Salah seorang tampak menunduk dengan wajah sedih, pria itu aku kenal. Dia Rein, kurasa 2 orang ini adalah 2 tokoh Hero di game yang sama kayak Rein.


"Hmmmmmmp ..." Tatap ku kearah Rein dengan wajah datar.


Dia memalingkan pandangan nya dan menunjuk kan wajah kesal di tundukkan kepala.


"Apa yang dia takutkan? Apa karna menyerang ku diam-diam?"


Aku memikirkannya dihati, ekspresi yang di tunjukan Rein. Tampak sangat gelisah, apa mungkin dia menyerang ku sambil membawa rasa cemas akan kemarahan Ibuku andai dia tau aku diserang.


Lalu, tanpa sadar sesuatu muncul di bawah pandangan ku.


*Krekk!


Es runcing yang perlahan membesar kearah wajah dari bawah ku.


"Hop!" Aku melompat kebelakang.


Tampak Pria dikanan itu memegang pedangnya yang mau dia tarik dari sarung. Bahkan sebelum dia menarik, sihir telah menyerangku. Jika bukan karna skill Gravity Control Fall , tubuhku takkan bisa bergerak menghindari nya dengan cepat.


"Ah, aku beruntung bisa menahan nya perlahan serangan berat dari Es runcing itu dengan Gravity Control Fall ..."


*Tes!


Terdengar suara genangan air di bawah sepatu ku.


"Sialan!" Ujarku merasa akan meluap air genangan yang bergetar karna gelombang.


Dia memutar tongkat kecilnya dengan gerakan tangan pelan seperti memegang pena dan berkata sambil tersenyum kearah ku.


" Bom!"


*Damn!


Ledakan air memutar bak tornado yang menelan ku ditengah nya.


"Kau akan mati dasar bodoh!" Ujarnya mengatakan itu sambil tertawa.


" Hahaha, Kau lihat itu Rein dan Vumble!" Ujarnya menunjukku yang telah di telah oleh pusaran tornado Air.


Rein tersenyum memaksakan wajahnya. "Iya, Bornout sama ..."


Aku yang berada di dalam gusar tornado hanya bisa menguap melihat sekeliling ku air.


"Inikah yang kau sebut sebut bisa membunuhku?" Ujarku berucap.


Aku menepis air yang secara percikan melayang sesekali kearahku.


*Terpes!


Aku menepis air yang mengarah ke bahuku.


"Cih, aku tak mau basah lagi ..."


Merentangkan tangan dan seketika semua air yang membasahi tubuh ku keluar kearah pusaran.


"Ah, sudah kering ..."


Aku melangkah dengan Skill Gravity fall control yang masih ku aktifkan.


Keluar dari Tornado air itu tanpa sedikitpun basah, seolah aku dilapisi kain anti basah.


"Benar-benar Skill luar biasa ..." Ujarku berjalan menembus penghalang air yang mengelilingiku.


*Byushhh!


Suara saat aku melewati penghalang air itu.


Seketika Pria itu memucat melihat ku tanpa sedikitpun luka atau ada goresan.


"Seperti yang dikatakan oleh Eliza ..." Ujarnya meneguk liur.


*Gluck!


Dia lalu mengecap bibir bawahnya dan tampak sangat tegang menatapku.


"Sialan, kau bisa selamat dengan mudah! Bagaimana kau melakukan nya?!" Ujarnya menunjukku dengan tongkat sihir kecilnya.


Aku merentangkan tangan dan tersenyum merendahkan mereka saat ku berucap.


"Aku mana bisa dibunuh kalo kalian gunain sihir yang lemah seperti ini ... Harusnya kalian berikan tekanan kuat kalo mau aku putus asa ..."


Pria disampingnya menjadi kesal.


*Dreng!


Dia menarik pedangnya, seketika rambut birunya berubah menjadi perak dan mata biru nya pun berubah perak.

__ADS_1


Bentuk partikel Es muncul di sekeliling nya. Tiba-tiba udara terasa mencekam sangat dingin di sekitar ku.


"Jadi itu kah Pedang Ratu Es Kejam?" Ujarku bertanya dengan wajah mengejeknya dengan gerakan menunjuk sambil tersenyum meremehkan.


Dia menatap serius kearahku, lalu mengangkat pedang nya setinggi leher kearah samping kanan nya.


Kuda kuda yang diperlihatkan olehnya adalah kuda kuda menyerang dengan pedang.


Lalu ...


*Dest!


Serangan Es besar bergunung gunung menerjang kearah ku saat ia menusuk dengan gerakan satu kali menggunakan pedangnya.


"Wow, langsung pakai pedang nya?" Ujarku mengencangkan mata tanpa menghindari nya.


*Krekk!


Es itu pecah saat menyentuh kearahku.


Terlihat seperti kukeruk saat aku berjalan perlahan mendekati mereka.


" Kau berpikir aku akan mundur karena serangan Es berbentuk pegunungan itu?"


Aku menghentakkan kakiku.


*Damn!


Seketika hancur es yang serupa gunung gunung itu menjadi potongan besar yang terpecah.


"Apa yang-" Ucapan nya terhenti.


Aku telah mengarahkan jari ku kearah mereka bertiga.


"Pecah lah, Gravity Control Fall!" Ujarku mengatakan nya dengan tersenyum.


*Dush!


Seketika mereka bertiga merasakan sesuatu mendekat, lalu saat mereka melindungi wajah.


"Sialan, apa ini?! Rasanya aku akan mati ..." Ucapnya mengangkat tangan pose melindungi diri, Bornout.


"Gawat!" Ujar Humble.


Rein mengerutkan keningnya. "Lagi, kau lagi lagi melakukan sesuatu yang tak bisa ku pikir kan dengan logika ?!"


*Drushhhhhhhh!


Dari arah tangan ku semua batu terangkat menjalar kearah mereka.


"Kah!"


Tampak seperti hantaman kuat dari arah depan kepada ke3 orang pria itu.


*Damn!


Aku meniup jari tangan ku yang bak pistol ini.


"Hush, sempurna ..." Ucapku tersenyum.


Aku lalu berbalik dan melambai pada mereka yang terkapar.


"Dah dulu ya main nya ..." Ujarku pergi meninggalkan mereka.


Tampak tempat itu jadi hancur berantakan, jangan tanya tanah nya bagaimana ... Itu jelas pecah dan retak semuanya seperti habis terjadi gempa bumi.


Tapi, dibalik pertarungan itu seseorang berdiri memperhatikan dari atas menara Jam Akademik.


"Kau kemari ya Tuan Venom?" Ujarnya menyentuh bibir dengan tersenyum.


----


Aku memasuki kelas dengan raut datar. Dimana banyak gadis memperhatikan ku tapi tak ada yang berani bicara padaku. Lalu, terlihat seseorang mengintip di pintu. Dia melihat ku sedari tadi.


"Hey?!" Ujarku menegurnya.


Tanpa ku sadari ternyata dia adalah Kakak Asila.


"Yo-ho, Adikku!" Ujarnya tertawa dengan wajah berkeringat.


Aku menatapnya dengan wajah tak habis pikir.


"Kau dari tadi mengikuti ku ya?" Ujarku mengela nafas keluh kemudian, "ha-ah, Kakak ini Akademik Lo ..."


Dia memegang bibirnya dan berucap malu-malu. "Tapi, Kakak khawatir kau di apa-apa in lagi sama mereka ..."


Aku menopang daguku dengan wajah kerut. "Jadi, kau sudah dari tadi mengikuti ku ..."


"Kah!" Ujarnya kaget karna sadar apa yang dia katakan.


"Ketahuan deh ..." Ujarnya menjadi tertunduk lesu.


Pria pria melihat kearah kakak, mereka semua memenuhi ruangan kelas baik di luar atau pun di dalam.


"Sialan, tadi dia manggil Kakak?" Ujar seseorang mengintip di pintu kelas.


"Irinya ..." Ujar pria lainnya mengepalkan tangan dengan wajah menangis.


"Aku mau punya Kakak yang kayak gitu ..." Ujar pria di jendela berkata pada Gadis disampingnya.


*Tok!


Kepala nya diketuk gadis itu.

__ADS_1


"Mengesalkan ucapanmu! Aku juga mau punya adik kayak dia!" Ujarnya membandingkan adiknya dengan ku.


Aku yang mendengar itu jadi mengerutkan kening kesal.


"Kakak, kau menarik perhatian pergilah ..."


Dia menjadi terkejut dan agak shock dengan ucapanku. "Kau mengusirku?!"


Aku mengela nafas keluh lagi. "Ha-ah, bukan begitu Kak ... Tapi, cobalah liat sekeliling kita ..."


Dia melirik kekanan dan kirinya, semua orang pura-pura tak menatap.


"Tak ada masalah kok?"


Aku menjadi kesal sampai senyum ku agak sedikit tegang.


"Hebat banget jurus pura -pura gak melihat mereka .. " Ujarku berucap dengan wajah kesal ku.


Saat kakak mau mengatakan sesuatu lagi, bahu nya di tepuk oleh seseorang.


"Hay! Jelasin sudah selesai kan?"


Kakak menoleh. "Siapa?" Ujarnya menatap tajam dengan raut dingin.


Aku seketika paham alasan orang-orang takut ketahuan memperhatikan Kakak.


Wanita berjubah penyihir dengan buku yang di peluknya. Dia mengangkat kacamata nya dan berkata pada Kakak ku.


"Sebetulnya aku guru disini, dan kelas ini sudah dimulai Lo ..."


Kakak Asila langsung terkejut dan mundur dengan cepat.


"Guru!"


Wanita itu mengangkat kacamatanya lagi dan berucap dengan senyuman.


"Yah, Aku guru kelas ini dan juga kelas mu sudah di mulai ..."


Dia kaget dan berbalik arah. "Eh, begitu ya!" Ujarnya berniat kabur.


Dia melirikku sambil melambai. "Kakak, pergi dulu ya!" Ujarnya berlari kemudian.


*Dentak!


Pintu kelas tertutup dengan kuat.


Guru itu tertawa tak enak. "Semangat sekali yah anak jaman sekarang ..." Ujarnya berucap begitu.


Dia lalu menoleh padaku. "Kau murid baru itu ya?"


Aku menjawabnya dengan mengangguk angguk kan kepala.


"Benar ..."


Dia tersenyum kearahku. "Baiklah, mari perkenalkan dirimu didepan kelas ..." Ujarnya mengatakan itu lalu berjalan ke Meja gurunya.


Aku berdiri dan menuju di depan kelas.


"Salam kenal, Aku Chrome! Level ku 1, tapi aku punya mana tak terbatas jadi aku cukup kuat melawan siapa pun yang mau mencoba merundungku ... Kalo begitu, mohon kerja sama nya ..."


Semua orang tampak tak bergeming.


Lalu terdengar suara para gadis.


"Kyah, keren banget!" Ujar seorang dari arah bangku depan tampak terpesona dengan ku.


"Apa tadi tantangan?" Ujar nya bertanya dengan senyuman, Gadis di depan bangku tengah.


"Dari mana kau berasal? Rambut hitam mu keren!" Ujarnya gadis paling sudut kiri mengangkat tangannya.


Guru tampak seperti kebingungan melihat murid murid jadi berisik.


"Satu satu Lo ..." Ujarnya menahan mereka dengan telapak tangan sambil berucap begitu.


Aku melihat orang-orang di depan ku yang sangat bersemangat ingin tahu siapa aku jadi menutup wajah menahan wajah memerah ku.


"Sialan, aku tak bisa menahan perasaan ini lebih lama ..." Ujarku mengatakan itu dihati.


"Kah, mereka semua melihat ku seperti itu ... Aku tak pernah populer sama sekali di kehidupan sebelumnya ... Ini membuat sangat gugup ..." Ujarku lagi dihati menahan senyuman senang yang mau tampak di wajah.


Unity memasuki tubuh Guru itu dan berucap padaku.


"Neh, apa kau sangat gugup sampai sebegitu nya?"


Aku menoleh mendengar suara kaku kayak google asisten itu. "Unity?"


Dia menjawab ku. "Iya, Tuanku ... Apa kau gugup?"


"Tentu saja, gimana bisa gak gugup lol ..." Ujarku berkata dengan wajah memerah merona.


Aku menoleh kearah pintu kelas yang terbuka, di luar terlihat Cecilion melambaikan tangan.


"Yo-ho , Tuanku sayang!"


Aku menatap kedepan kelas tampak seperti nya waktu telah berhenti.


"Apa ada sesuatu sampai kau menghubungi ku?" Tanyaku padanya.


Dia si Guru kelas menatap serius. "Violet mengamuk dan menyerang Kapal angkasa Kita!"


"Ha?!" Ujarku berteriak kaget.


----

__ADS_1


-+++----


__ADS_2