
Suara kepakan sayap nya ketika turun ke halaman Masion Viscount ini, dia membawa gadis cantik berambut emas. Gadis itu tampak bagai mutiara, jelas aku tahu wajahnya. Dia adalah Alexisis Dumble George, Gadis berusia 16 tahun seorang penerus wilayah ini. 2 tahun lagi, dia akan di angkat sebagai Keluarga kerajaan dan menjadi tangan kanan Ibuku. Seorang tokoh yang membantu pemeran antagonis Ibuku melawan Kekaisaran Marseille.
Aku benar-benar tak menyangka bahwa tokoh-tokoh seperti mereka akan ku temukan di perjalanan ku. Harusnya, aku sudah menghindari akan terjadi pertemuan seperti ini. Bahkan, aku tak sampai melupakan adanya dia di dalam game. Padahal aku jelas tahu, wajah nya tak asing. Sebelum memainkan game, beberapa tokoh akan terlihat di sampul. Siapa yang akan jadi penjahat dan siapa yang akan menjadi baik telah di kelompokkan di pembukaan cerita dengan menampilkan Wallpaper Poto seperti itu.
"Dia Alexisis, kalo tidak salah dia tangan kanan Ibuku ... Ada 5 orang yang akan menjadi rekan Ibuku, 2 tahun dari sekarang ... Alexisis adalah salah satunya ... Kenapa aku bisa lupa dia anak Viscount George?!"
Aku mengencangkan mata saat mengingat.
" Dalam percakapan game, aku menemukan Nama George di panggil Ayah tapi saat itu aku tak membaca nya hanya melihat sekilas dan langsung skipp ke game ..."
Aku menatap kearah Alexis. "Menyesal pun sia-sia karena aku sendiri tak bisa memilih di mana aku harus terlahir ..."
"Tuan!" Teriaknya melambai dengan wajah polos, dia adalah Valen.
Aku menatap ke Valen dengan wajah datar. "Gadis ini tersenyum dengan polos nya, padahal dia datang dengan bawa bom waktu ..." Ujarku dihati.
Kathrina menoleh kebelakang, dia melihat 2 orang sedang berjalan.
"Siapa Oni-chan one chan ini?" Tanya padaku.
Aku mengela nafas keluh. "Ha-ah, mau benci tapi bagaimana lagi ya ... Aku merasa punya banyak bawahan itu sulit ..."
Aku menatap ke arah depan, yang mana 2 gadis itu mendekat kearah kami.
"Itu Valen, kau melihatnya sewaktu di pesawat kan?"
Kathrina mengangguk. "Iya, aku lihat!"
Dia menatap Valen yang sayap nya bergoyang buka tutup secara terus menerus.
"Kakak Harvy yang menyapa kita sewaktu terbang tadi ..."
Aku mengelus kepala Kathrina. "Baguslah, kau sudah tau dengan Valen ..."
Sementara Valen melihat itu terkejut. "Kah, Tuan mengelus kepala seseorang selain aku?!"
Dia berteriak ke Katharina si Valen. "Kau siapa Gadis Robot?!" Ujarnya tampak kesal.
"Ah, iya! Kakak, gimana nih aku pakai Armor yang gak bisa di lepas ..."
Aku tertawa mengangkat tangan. "Apa kau tak sadar Adekku tersayang, bukannya tadi kau sempat terkejut karena hilang kesadaran sejenak dan mendapatkan dirimu dengan Armor ..."
Dia menjadi terdiam dengan mata melebar dan memikirkan sesuatu, lalu ia berkata padaku saat sadar.
"Apa aku tadi menjadi seperti Sarah?!"
Aku menutup sebelah mataku saat tersenyum. "Bahkan, semua orang di dunia ini bisa mengalami kejadian seperti Sarah karna Kakakmu ini ..."
Dia menganga tak percaya. "God!"
Sedangkan Valen, dia terkejut bukan main.
"Adek sayang! Aku saja tak pernah di panggil begitu ... Apa aku telah disaingi?!" Ujarnya menggertakan giginya.
Alexsis memandang kearahku dengan raut wajah tersenyum dalam lamunan.
"Siapa mereka berdua?"
Aku menatap si Valen dengan kepala mereng sedikit ke kanan. "Katakan alasan kau kemari Valen?"
__ADS_1
Dia memundurkan langkahnya. "Kenapa Tuan marah?!" Ujarnya kaget melihat tatapan ku yang tajam.
Alexsis berkata menyautku. "Siapa Anda wahai Ksatria?"
Aku menoleh ke Alexsis. "Kau putri nya Viscount ya?"
"Anda tau itu, sungguh luar biasa ..." Ujarnya menunduk memberikan hormat bangsawan.
Aku menatap nya dengan serius. "Aku tak membutuhkan bantuan kalian berdua, kau coba lihat jika aku bisa selesaikan sendiri ..."
Valen meneguk liurnya. "Kenapa dia marah?! Aku tak pernah dimarahi oleh Tuan bahkan saat aku egois!"
"Kenapa bisa begini?!" Ujarnya kesal menatap Katharina.
Aku menegurnya saat kulihat si Valen kesal pada Katharina.
"Seujung kuku kau sentuh Adik kandungku, ku lepas hak kepemilikan ku padamu dari Violet!" Tegasku.
Dia jadi terjatuh dilantai. "Apa salah ku? Tuan jangan lakukan itu!"
"Aku bercanda, tapi ia sih memang benar aku akan membunuh mu malah ..." Ujarku menatap tajam dengan senyuman menyeramkan.
Dia menjadi semakin tertunduk. "Ma-Master, aku minta maaf ..."
Alexsis melihat Valen dengan wajah khawatir tapi dia tak bisa berkata apa-apa karna saat ini dia mau menolong Ayahnya sebagai Prioritas.
"Mau kah kau membantuku menyelamatkan Ayahku?"
Aku mengulurkan tangan dari jauh. "Tentu, aku akan menolongnya karna Aku punya bahan ajaran untuk adikku ..."
"Kah!" Katrina gemetar.
"Tapi aku ga suka Kakak ngebacot ..."
*Derekkkkkk!
Jantungku rasanya di koyak.
"Aku orangnya bacot ya?"
*Bedebuk!
Aku menendang pintu Masion Viscount George.
"Ku bunuh kalian semua! Membuatku geram!" Ujarku kesal di depan pintu.
Semua orang yang tengah berada di ruang tamu, jadi menatapku. Ada yang sedang main poker jadi terdiam menatap ku, ada yang sedang ngobrol di kursi. Ada pula yang adu lempar panah kecil dengan tangan ke lingkaran target, ada yang saling menunjukan papan status dan ada yang saling menunjukkan kemampuan mereka melakukan Transformasi dalam menyamar sebagai manusia.
"Siapa kau?" Ujar seseorang menatap kesal Kediri ku.
Pria itu adalah Raja Iblis, Cecilion Vampire. Dia tampak pucat dan berwajah tampan dengan sayap kalilawar di belakang punggung dan antena kalilawar kecil di atas kepala 2 buah kiri dan kanan sejajar kuping. Dia merupakan Raja Iblis baru pengganti Raja Iblis lama yang di bunuh Ibuku. Mungkin, orang menganggap nya sebagai balas dendam pada manusia dari Ras Iblis padahal saya tahu bahwa ini ulah Kekaisaran Marseille memanfaatkan perasaan jatuh cinta milik nya Cecilion sebagai alat untuk Konspirasi.
"Brisik, kau pikir siapa kau?!" Ujarku melempar pedang.
*Dush!
Melewati wajah Cecilion dan menggores pipinya.
Dia menyentuh pipinya. "Darah?" Ujarnya melihat jarinya menyentuh jari dari pipi yang ke gores pedang.
__ADS_1
Sementara, semua orang di area itu tertunduk kelantai.
"Apa yang terjadi?" Ujarnya menatap ke sekeliling.
Aku melangkah dengan hentakan kaki, merasa sangat kesal.
"Kah, kalian membuatku semakin kesal saja! Apa-apa an kalian ini?! Aku sudah susah payah menahan diri tapi kalian mau aku muncul ... Aku sudah benci dengan semua ini, akan ku ajarkan padamu apa artinya rasa ingin mencapai puncak tapi selalu gagal dan harus mengulang lagi dan lagi ..."
Saat sampai dihadapannya mataku melebar dan berucap seperti itu. Dia sampai berkeringat dingin mendengar kata-kata ku dengan raut tersenyum yang menakutkan.
*Tak!
Pedang kembali ke tangan ku.
"Camkan ini baik baik, kau takkan bisa lari dari diriku jika kau sudah melakukan hal yang tidak-tidak pada Ibuku bahkan hanya dengan luka gores di tubuhnya ... Aku akan membunuh semua nya yang ada di dekatmu bahkan aku tak peduli siapa itu tapi tentunya ..." Ujarku tersenyum sinis dan lalu mendorong pedang kearah depan wajah nya.
*Damn!
Pedang mengeluarkan ledakan, itu membuat si Raja Iblis tak sadar dan terhempas.
*Tretek!
Seperti ada yang pecah berkeping-keping.
"Akh, penghalang ku telah hancur!" Ujarnya terhempas Kedinding kemudian.
*Dentum!
Dia menatapku dengan wajah lesu dan mulut keluar darah.
"Aku tak takut dengan ancaman mu, meski apapun yang mau kau lakukan padaku!" Tegasnya dengan wajah babak belur itu.
Aku tersengeh mendengar ucapannya. "He-eh, jadi kau mau bukti ya?" Ujarku melihat nya dengan senyuman merendahkan.
Dia mengelap bibirnya yang berdarah dan menjadi khawatir akan sesuatu.
"Sebenarnya apa maksudnya soal membuktikan? Apa yang dia mau lakukan sekarang?! Aku tak tahu ada pria sekuat dia, apa lagi armor itu tampak sangat kuat dan tahan banget ... Aku rasa gak yakin bisa menembusnya bahkan dengan sihir terkuat ku ..."
.Keringat bercucuran di dahinya si Raja Iblis Cecilion.
"Maaf saja, jika mau tau Ibu mu di mana pasti nya ada di Masion ini tapi yah, itu lain cerita karna aku akan membunuh mu sebelum menemukan nya ..." Ujarnya menjilat darah yang mengalir di bibirnya.
"Astaga, dengan tubuh babak belur menantang ku ..." Ujarku tertawa mengangkat pedang ke punggung.
"Jangan tidak menepati janji, kau harus memberi tahuku ..." Ujarku mengarah kan pedang ke wajahnya.
Dia menganggukkan kepala nya. "Baik!" Ujarnya mengatakan itu dengan raut tegang.
*Bedentam!
Aku menghempaskan pedang dan dia langsung terkapar pingsan.
"Ha? Kalah dengan satu kali serangan?"
Kathrina melihat itu juga ikut terpelongo. "Kakak, kita menang!" Ujarnya melompat.
Aku tertawa menggaruk pipi pelan. "Iya, kita menang yehhh ..."
Aku mengeluh kebawah. "Seriusan dunia ini levelnya mode easy kali ya ..." Ujarku menangis dengan senyuman yang mana aku merasa mulai bosan karna tak ada ketegangan tiap kali bertarung.
__ADS_1