
Aku memakai armor robot sebelum keluar dari Kapal angkasa, sementara si Cecilion terlihat tak bergeming meski dia melihat sesuatu yang baru. Sesaat setelah aku keluar dari Kapal angkasa dan berdiri di pelataran terbuka.
Aku menatap keatas yang mana si Gadis Angel yang tersisa satu satunya.
Dia terlihat menangis dan mengamuk di depan penghalang.
"Apa yang terjadi?" Tanyaku merasa prihatin padanya tapi aku tak tahu apa masalahnya.
Cecilion menatapku dengan serius. "Angel tak memiliki perasaan tapi ada satu waktu dimana itu lepas darinya ... Saat itu, mungkin adalah Karna pencipta nya telah melepasnya atau dia lepas karna pencipta nya telah tiada ..."
Aku menjadi bingung. "Aku gak paham, kenapa dia menjadi seperti itu? Apa karna dia dilepas?"
Seseorang datang dari balik pintu, mereka 2 orang gadis memakai baju Robotic.
Dia Farma dengan Armor Robotic nya berwarna Perak dan si Logicia dengan Armor biru pekat.
"Kapten, kenapa anda selalu keluar tanpa bertanya dulu?!" Ujar Logicia memasang wajah cemas dan lalu memelukku.
Aku mendatar keatas. "Kalian kenapa disini?"
Farma mengatakan nya dengan wajah cemas. "Kau mengatakan kenapa? Apa kau tak takut kalo kau hancur berkeping keping dengan kekuatan sihir cahaya Flash nya?"
"Kapten, anda jangan membuat aku jadi risau ... Ini hal tak masuk akal, jangan lagi seperti ini ..." Ujarnya memegang pipiku dan menatap dengan mata yang mengalir air.
Farma menangis juga. "Kapten, kami mohon jangan buat kami cemas ..."
Aku melihat Ke 2 nya tampak garis hitam di mata ke2 gadis ku.
"Kalian menjadi seperti ini karna pusing mikirin aku ya?" Ujarku merasa bersalah sekarang.
Cecilion menatap ku datar. "Sungguh kejam anda Tuan ..."
Aku mengecap wajahnya. "Diam dulu kau, aku tak mau dengar dari mulut Iblis ..."
"Oke aku salah!" Ujarnya tegang saat melihat api mau keluar dari tangan robotku.
Aku melepas nya Cecilion.
Aku memeluk dua gadis itu, Farma dan Logicia.
"Maaf, tapi aku harus berbicara dengan nya dulu karna kalian berdua tak punya kemampuan untuk membangun Fakta kan?"
Logicia menarik leherku.
"Iya, tapi jangan bertindak sembrono juga ..."
Farma mengangguk dengan wajah masih basah. "Dia benar, kau jangan membuat kami cemas Mulu ..."
Aku tertawa dengan wajah tak enak. "Sekali lagi maaf ..."
Aku menarik tangannya dengan pelan untuk melepas dari pegangan nya di leherku.
"Tunggu dulu ya, aku punya sedikit yang mau ku coba ... Aku akan mundur jika bahaya, suer deh ..." Ujarku menampakan 2 jari pis.
Mereka berdua menyilang tangan. "Baiklah ..."
Tampak mereka serentak pula berucap.
"Buka penghalang, Unity!" Ujarku mengangkat tangan.
Seketika penghalang terbuka.
"Kau yang disana?" Ujarku berbicara.
Terdengar suara jadi besar, itu membuat dia langsung menatapku.
Aku menoleh ke Cecilion. "Apa kau yang membuat suara ku jadi besar?" Tanyaku.
Dia tersenyum bangga. "Itu hanya sihir kecil ..."
__ADS_1
Aku memegang daguku. "Jadi, Unity tak memberikan support sekarang ... Apa dia juga bisa lelah?" Ujarku merasa aneh padahal kan dia sistem.
"Unity, kau memberikan ide gila ini agar Cecilion membantuku dan mengurangi perkejaan mu kan? Kenapa kau lakukan itu?"
Dia menjawab. "Aku selalu disalahkan dan membuat anda membenci ku ... Itu menyakiti ku perlahan, yah aku pakai cara ini agar gak disalahin ..."
*Duk!
Aku jatuh lemas. "Jadi begitu, kau juga sudah muak dengan ku ..."
Unity mendatar dari nadanya. "Lagikan? Aku yang salah, hah ..."
Aku menjadi menangis. "Bukan gitu, aku minta maaf ..."
Tak ada balasan.
Angel itu mendekat kearah Aku dan Cecilion.
"Beraninya kau manusia membunuh Dewi ku!" Ujarnya mengamuk saat terbang dan menyerang dengan ledakan cahaya.
Logicia dan Farma membelah serangan itu dengan pedang.
*Dush! Dush!
Logicia menoleh kearahku. "Ini bahaya, ayo kembali ..."
Farma juga mengangguk. "Kapten, ayo kembali kedalam!"
Aku tersenyum dengan wajah tegang. "Ini yang ku mau , musuh yang tak gentar dan gak mau sadar diri bahwa dia lemah!"
*Dush!
Cecilion mengarahkan tangannya keatas dan membuat lingkaran sihir menumpuk berlapis lapis.
"Kau mau lihat sihirku kan?" Ujarnya menatapku dengan senyuman percaya diri.
*Treng!
*Bedebuk!
Terdengar suara tabrakan saat jatuh.
Aku melihat itu menjadi kagum pada nya. "Cecilion, kalo kau sekuat ini lalu kenapa kalah waktu itu?" Tanyaku dengan heran.
Dia menatap ku dengan datar. "Itu bukannya karna anda tahu kelemahan saya?"
"Apanya?" Ujarku bingung.
Dia mengencangkan mata,lalu tersadar. "Kau melawan ku tanpa tau apa kelemahan ku?! Kau hebat banget lah ..."
"Eh, begitu kah?" Ujarku makin bingung menggaruk kepala.
Dia mengangkat jari nya. "Kau menggunakan ledakan dari Pedang itukan? Ledakan itu adalah kelemahan ku, mengandung unsur sesuatu yang meniadakan sihir ku ..."
"Aku tak tahu hal itu, eh tunggu?" Ujarku ingat sesuatu.
Aku memegang daguku lalu terkejut. "Iya, di game dulu aku melawan Shower dengan mudahnya tanpa terkena sihir dengan damage kuat ..."
"Shower? Apa mahluk itu?"
Aku mengangkat jari. "Aku pernah main Game MMORPG dan disana ada banyak monster yang kulawan salah satu bernama Shower ... Mahluk itu bisa sihir dengan wujud humanoid melayang di udara ... Saat itu aku menggunakan Alfounds setiap kali melawan mahluk itu karna sangat cepat membunuh mereka dengan pedang itu ..."
Dia mengangguk paham. "Jadi begitu ya , aku tak tahu ada mahluk seperti itu ..."
"Tapi, aku lebih tak mengira kau juga bisa dikalahkan dengan mudah seperti Shower padahal Shower di Game itu mahluk setara goblin ..."
Dia mendatar mendengar itu. "Kau bercanda kan?"
Aku menjawabnya dengan mengangguk. "Engga ..."
__ADS_1
"Tuh tempat pasti jadi latihan para dewa atau pahlawan kan?" Ujarnya mendatar mengatakan itu.
Kami berempat mendekati si gadis Malaikat yang jatuh tadi. Dia tersadar dan tiba-tiba memohon padaku.
"Maafkan aku atas kelakuan tadi yang mulia!" Ujarnya mengatakan itu dengan wajah menyesal.
Aku jadi mendadak bingung. "Eh, apa yang terjadi?!" Ujarku menatap langsung ke Cecilion.
Dia mengangkat tangannya dengan senyuman merendahkan.
"Aku hanya sedikit menyetel otaknya dan merubah ingatan nya dengan ingatan palsu ..."
Aku menyipitkan mata kearah si Cecilion. "Apa artinya itu?"
Dia memalingkan wajah dan menyilang tangannya. "Anggap saja, Dewi yang dia sayangi itu telah ku ganti dengan Sosok anda ... Itu adalah kemampuan ku, memanipulasi nya ..." Ujarnya mengeluarkan api hitam kecil di jemari nya yang mungil.
Melihat si Cecilion sekarang seukuran boneka yang bisa dipeluk, dengan wujud gadis cantik Vampire yang mengenakan pakaian keren dan terlihat imut. Membuatku gemes, yah tampaknya hormon ku naik. Gara" Buah yang rutin ku makan.
"Imutnya!" Aku memeluknya, Cecilion.
Dia kaget. "Kyah! Apa yang terjadi?!" Ujarnya menatap 2 gadis ku.
Logicia. "Kapten, hormonnya naik ..."
Farma mengatakan nya dengan wajah datar. "Buah itu pasti nya ..."
Aku melihat ke arah depan. "Kenapa aku merasa sangatlah penting untuk menjaga agar bisa menemukan nya dengan senyuman ..." Gumamku.
Sesaat dia berada di pelukan ku, aku jadi paham kenapa Marseille tadi selalu memeluknya. Yah, Sekarang sifat suka boneka imut juga menghampiri ku.
"Kita lihat, apa gadis malaikat ini baik-baik saja?" Ujarku mendekat menyentuh pipinya.
"Namaku Ceron Tuanku!" Ujarnya berkata begitu lalu kepalanya berasap karna sangat malu.
Dia jadi salah tingkah karna aku menyentuhnya di pipi dengan senyuman lembut.
"Tuanku, apa yang mau kau lakukan?" Ujarnya salah tingkah melihat aku yang dekat sekali dengannya di depan wajah.
Aku menatap nya terutama bagian mata biru itu.
"Kau angel kan? Tadi kenapa kau mengamuk?"
Dia menggelengkan kepala nya. "Itu karna Dewi ku mati karena serangan anda tapi sekarang aku memilih jadi Budak anda!"
Mendengar itu aku jadi merasa agak buruk. "Hmmmp, terdengar buruk ... Aku akan menerima itu jika itu keinginan dihati ..."
Cecilion mengerutkan keningnya. "Kau bodoh kah? Keinginan hati apanya? Dia itu ku manipulasi agar jadi budak mu tau ..."
Aku menekan wajahnya dengan telapak tangan. "Diamlah, berisik boneka bodoh mau kurobek robek kau?!"
Dia jadi menggigil ketakutan. "Maafkan Aku Tuan!" Ujarnya Cecilion yang gemetar.
Aku melihat kearah si Angel Ceron. "Mau jadi budak atau jadi teman?"
Dia menggelengkan kepala nya. "Tentu saja, aku pengen jadi budak anda!" Tegasnya.
Itu membuat aku tersentuh hingga menutup mulutku dengan wajah tersenyum senang. "Kau membuat ku kagum, wajah mu begitu cantik dan lembut ..." Ujarku membelai nya pelan di pipi.
2 gadis ku memerah melihat itu, tapi mereka tau bahwa itu hanya lah akibat Buah hormon.
"Mau iri tapi itu karna ilusi ..." Ujar Farma mengatakan nya dengan wajah memerah saat menunduk.
Logicia menyilang tangannya. "Itu pasti Tuan mikir hubungannya gesek gesek sama-sama martabak doang ..."
"Apa yang kau bicarakan?!" Teriak Cecilion dengan wajah datar.
Logicia menjawab. "Tuanku sekarang memikirkan hubungan Lesbi padahal dia punya itu batang ..."
__ADS_1
Cecilion mengeluh kebawah. "Kenapa aku jadi berada di tempat aneh ini dengan orang-orang konyol ..."
----