Player Nge-cheat Terbuang Ke Isekai.

Player Nge-cheat Terbuang Ke Isekai.
Angels


__ADS_3

Aku merasakan perasaan mual dan tenggelam. Tentu saja jangan membuka mulut untuk beberapa saat. Lalu, pintu terbuka. Meski sudah sering keluar dari tabung cairan ferpum lengket. Aku masih tak bisa jatuh dengan keren.


*Dentak! Byushhh!


Terbaring dilantai dengan air menggenang saat keluar dari Tabung Ferfum.


"Lagi-lagi seperti ini ..." Ujarku mendatar terbaring dilantai.


Aku dengan wajah cemas bangkit.


"Astaga, Marseille! Aku harus menemuinya ..." Ujarku langsung bangkit berdiri dengan cepat.


Aku melewati ruangan pemeriksaan tanpa berhenti.


"Dimana Unity?!" Teriakku.


Turun pipa satu persatu yang mana itu adalah sebuah alat Ai cerdas yang otomatis memasangkan ku pakaian formal Kapten.


Lambang Segitiga dengan logo NL di lingkaran oleh benang berlapis warna merah dan biru. Itulah logo dari Karakter ku, yang kugunakan dahulu di Setiap Game.


"Aku mencari mu Unity!" Ujarku melangkah dengan serius ke kursi Kapten.


Aku menghempas tubuhku.


"Unity, dimana kau membawa Mereka berdua?"


Unity muncul dengan pola bergelombang biru.


"Tuanku, kenapa berisik banget sih?"


Logicia mengeluh. "Yah, kaptennya sedikit kesal hari ini karna Hiroen game di curi ..."


Farma menegaskan. "Anda tak boleh terlibat dengan Heroin ..."


Aku mengangguk. "Kau benar, tapi yah ... Aku sudah membuang prediksi mu Unity!"


Unity menjawab. "Kan, aku cuman bilang kalo mau di pakai selebihnya anda sendiri yang memilih Tuanku ... Ini salah anda karna selalu menuruti pilihan ku karna anda tak punya pilihan sendiri dan selalu hidup plin-plan dan ikut ikutan orang ..."


Aku terjatuh dari kursi menatap ke bawah lantai, wajah ku terlihat dari lantai itu.


"Inikah aku yang orang nya gak punya prinsip ..."


Aku menggeleng kan kepala dan berteriak. "Hei, aku datang kesini bukan karna ini ..."


Gadis gemoy berteriak. "Gawat, serangan datang dari Para angel!"


Aku mendengar itu jadi memasang wajah cemas. "Angel? Apa itu?! Unity, kau tak memberi tahu ku hal ini ..."


Unity menjawab. "Maaf, kemaren kau terlihat sibuk jadi aku memilih waktu pas yaitu sekarang, Tuanku ..."


Aku berdiri dan menunduk dengan wajah kesal. "Kau akhirnya menunjukkan taring mu ya?"


"Tentu saja tidak ..." Jawab Unity.


Aku menonggakan wajah. "Kalo begitu jawab, kapan para Angel ini mulai menyerang?"


"Semalam, selagi Anda bertarung di Masion ..." Ujar Unity.


Pola bergelombang itu berjalan, dan menarik ku.


"Ikuti aku, kita pergi keruangan tamu ..."


Aku menarik tangan ku yang ditarik bola biru bergelombang itu.


"Iya, aku bisa jalan sendiri ..." Ujarku kesal lalu mengusap tanganku.


Unity tampak diam dan memperhatikan ku. Meski dia hanya bola, aku tahu dia pasti sadar bahwa aku merajuk dan menghindari nya.


Sesampainya di ruangan tamu.


Ku lihat Marseille bermain dengan seorang gadis kecil yang hanya seukuran bantal. Gadis yang mengenakan pakaian seperti Raja Iblis. Yah, itu pastinya dia Cecilion.


"Kalian berdua disini ternyata!" Ujarku merasa lega.


Marseille melihat ku jadi memasang wajah merona. "Pahlawan ku!" Ujarnya berdiri dan berjalan mendekat padaku.


Dia memegang dadaku dengan lembut dan mengelusnya. "Kau tampak keren sekali, Erlan!"


"Ehhhh?! Kau tau dari mana?!" Ujarku memasang wajah kaget.


Dia menaruh jari telunjuk nya dan tertawa kecil. "Aku akan rahasia kan ini, Pahlawan tercinta ku ..."


Seketika aku menoleh ke gelombang biru.


"Bukan aku!" Ujar Unity.


Lalu, aku menatap tajam ke Cecilion. "Kau kah orang nya? Tapi, bagaimana kau bisa tahu?"


Dia menjawabnya dan terbang memutari ku.


"Aku ini Raja iblis, kau tahu kan Raja iblis dapat gelar kayak apa? Aku bisa menggunakan Skill melihat memori ... Aku menemukan Nama Katharina di ingatan Kaisar Marseille dan panggilan Kakak untuk Erlina ..."


"Jadi kau mengetahui itu dari ingatan nya?" Tanya ku pada Cecilion.


"Iya, mudah kan?" Ujarnya merasa bangga dan tertawa lepas.


*Tap!

__ADS_1


Aku mencekram wajahnya. "Dasar Raja Iblis tak tahu di untung, apa kau mau mati ya?" Ujarku mengeluarkan api dari mesin di telapak tangan ku.


Dia memucat dan berteriak histeris. "Ampun, ampun!" Ujarnya berusaha melepaskan kepala dari cekraman tangan robotku yang muncul saat aku mau memunculkannya.


Marseille menahan tanganku. "Jangan sakiti dia, Erlan!" Ujarnya mengatakan dengan raut wajah sedih.


Aku seketika melepas cengkraman ku. "Maaf, aku membuatmu takut ..." Ujarku merasa agak sedikit malu dengan Marseille yang tampak berbeda.


Dia jadi lebih feminim dan terbuka, sangat membuat ku berdebar.


"Kau tidak di apa apainkan sama Unity?" Tanyaku dengan senyuman dan raut malu malu.


Dia menganggukkan kepala dengan tutupan mulut saat tertawa kecil. "Iya, aku gak di apa apain kok, hahaha ..."


Unity mendekat. "Kau mikir apa tentang ku Tuan?"


"Ha? Apa kau tersinggung?"


Unity mundur. "Tidak jadi ..." Ujarnya pergi lalu menghilang.


Aku menatap gelagak Cecilion yang menatap ku dengan raut wajah sombong.


"Manusia, aku sungguh salut kau punya Netra bak Kastil maha besar ini ..."


Aku mengepit kepala nya di ketiak. "Apa kau berkata sesuatu?" Ujarku kesal.


Marseille menarik nya Cecilion lalu memeluknya didada. "Jangan sakiti dia, Pahlawan!" Ujarnya menegaskan dengan raut manis nya itu.


"Ah, aku bahagia mmm" Ujar si Cecilion.


Melihat itu aku mendatar. "Terserahlah, asalkan kau baik-baik saja Bibi Marseille ..."


Dia menjadi cemberut. "Jangan panggil aku Bibi!"


"Ha?" Aku terkejut dengan ucapannya.


"Jadi apa dong? Kau kan rekan Ibuku dan juga temannya dari kecilnya ..." Ujarku mengatakan nya kepada Marseille.


Dia makin cemberut. "Jangan panggil aku Bibi ..." Ujarnya menegaskan.


"O-oke ..." Ujarku berkeringat melihat itu.


Yah, menurutku wajar jika gadis seusia nya marah jika dipanggil Bibi. Lagian, jika ibuku seumuran dengannya ... Kapan aku lahir?


Aku tak mau tahu hal itu, yang pasti aku hanya bisa menduga duga saja ...


"Apa kau mau pulang setelah ini Marseille?" Tanyaku padanya.


Dia menjadi menatapku dengan mata berbinar-binar. "Kau memanggilku Marseille tadikan?"


Dia memelukku. "Ah, aku mencintaimu Erlan ..."


Aku menatapnya saat ku sentuh pipinya. "Kau mau pulang ga?"


Dia memegang tangan ku yang ada di pipinya.


"Iya, tapi kan aku dengar dengar ada rumor bahwa menaiki kapal akan dapat Mukjizat ..."


Aku menatap kelain dengan senyum ga enak. "Dia tau itu ..." Ujarku merasa agak sedikit tegang.


Unity muncul lagi kearahku. "Dia benar, kau harus memberikan ku izin membagi kemampuan ..."


Aku menatap nya bola biru (Unity)


"Lain kali, ubah saja peraturan itu ..."


Unity bergoyang-goyang melayang di udara. "Tidak tidak bisa , sudah jadi pengetahuan umum dunia ini sejak kemarin ..."


"Kau si pakai acara nagasih Skill ..."


Unity mendekat kearah wajahku. "Mulai menyalahkan ku! Padahal, itu ulah anda sendiri kan? Masih ingat, Lioness?"


Aku menjadi pasrah dilantai, lalu menoleh ke Marseille. "Kau mau apa? Aku tak tahu yang cocok untukmu ..." Ujarku menatap nya dengan raut menangis.


"Jika kau sampai menangis aku gak enak ..." Ujarnya agak khawatir denganku.


"Ini permintaan maaf ku ..." Ujarku tegas.


Dia memegang dagunya dan berpikir. "Aku mau sesuatu seperti semua orang di kapal ini ..."


Aku menoleh dengan wajah bingung. "Apa yang orang orang kapal ini punya?"


Dia Marseille menjawab. "Kemampuan melihat dengan papan melayang itu?"


Aku menunjukkan nya. "Maksud mu ini?"


*Dest!


Muncul papan bening menampilkan seluruh gambar Vidio yang direkam secara langsung.


"Ini adalah gambar Vidio dari seluruh duniakan?" Tanya Marseille.


"Iya ... Tapi aku takkan memberikan yang seperti ini, aku akan berikan akses Kekaisaran saja ..."


Dia menatapku dengan wajah datar. "Pelit ..."


Aku mengucak rambutku. " Baiklah, kau boleh akses semuanya tapi kau tak boleh ikut campur dalam urusan mereka ... Kau hanya boleh, memantau nya untuk kepentingan Kekaisaran kita saja ..."

__ADS_1


Dia memelukku dengan wajah senang. "Makasih!"


Aku jadi memerah malu menatap kelain. "Astaga, gadis ini lebih merepotkan dari Lioness ..."


Tiba-tiba terdengar suara getaran.


*Der!


Aku menatap layar Visual yang muncul di depan ku.


"Siapa itu?" Ujarku melihat kearah layar.


Terlihat seorang Gadis berjubah putih memiliki sayap putih pula. Dia terbang dengan diam di depan pesawat. Lalu berbondong bondong keluar dari sebuah portal bulat raksasa. Para malaikat dengan gaun Yunani, semua nya membabi buta menyerang kapal kecuali satu Gadis berjubah yang tengah menatap tajam ke kapal dengan sayap yang mengepak. Dia berdiam di udara, tak bergerak sedikit pun.


Kaisar Marseille mengetahui siapa itu.


"Dia Ceron, malaikat dari Dewi Sandra ... Aku tak pernah melihatnya tapi Kekaisaran punya pelajaran akan sejarah manusia dahulu ... Mereka malaikat yang berasal dari Dimensi Dewi Sandra ..."


Aku mengerutkan kening. "Jadi, si Dewi mulai bergerak ..." Ujarku merasa geram.


Netra netra yang terlihat ramai dibawah pun diserang oleh para malaikat. Aku melihat hal itu dari layar Visual.


"Manusia bodoh, kenapa mereka tak coba pergi!" Teriakku cemas melihat kehancuran yang ada di bawah kapal ku, yaitu para Netra Netra dari Asosiasi yang mencoba mencapai kapal.


Marseille menanyai ku. "Netra-Netra itu apa mereka selalu mencoba naik ke atas sini?"


"Iya, mereka mahluk bodoh!" Ujarku memegang kening.


Dia mengelus dadaku. "Aku tak pernah menduga bahwa Kau jadi terlihat keren dengan tubuhmu yang dewasa, Erlan ..."


Dari perasaan cemas aku jadi merasa percaya diri sekarang.


"Kah, aku tersanjung akan hal itu .. " Senyumku pada Marseille.


Pertempuran membabi buta terjadi antara Netra dan Malaikat itu.


Tapi, pokus Angel -Angel itu pada kami.


*Dentum! Dentum! Dentum!


Puluhan ribu sihir dilepaskan oleh Angel angel itu.


Aku menjadi geram. "Unity, serang mereka!"


Unity menjawab di lampu pada pakaian di dadaku yang bersuara.


"Siap, Tuanku!"


*Dush!


Serangan satu tembakan leser besar membuat para Angel itu lenyap bahkan sampai masuk ke Portal raksasa itu.


"Sialan!" Ujar si gadis berjubah itu mengecap tangannya dengan kuat.


Dia menuju mendekati kapal angkasa ku.


*Bedebuk!


Memukul dengan kuat, yang mana itu membuat penghalang bergetar dan melengkung sesekali.


Aku memegang kepala ku dan menyapunya pelan dengan wajah datar. "Ha-ah, aku harus menemuinya ..." Ujarku melangkah.


"Mau kemana?" Ujar Marseille menahan tanganku.


Aku menunjuk layar ku. "Kesini lah!"


Dia melepasnya. "Hati-hati ya ..."


Aku menatap keatas dengan wajah memerah. "Iya ..."


Lalu aku berpaling menutupi wajah memerah Maluku.


"Unity, kirim Marseille kembali ke Kastil nya ..."


Unity menjawab dengan suara Lampu armor didadaku.


"Iya, siap laksanakan Tuanku!"


Aku mengangguk. "Baguslah!" Ujarku melangkah.


Cecilion naik keatas kepala ku dan duduk. "Kau jangan pergi sendirian, bawa aku ..." Ujarnya mengatakan itu dengan wajah serius.


Aku menangkapnya di kepalaku lalu melemparnya. "Gak butuh!"


Dia terlempar ke samping tapi masih bisa mendekat karna masih di udara. "Kau kasar banget sama gadis imut kayak aku sihhh ..."


Aku menjelentik keningnya. "Jangan menggodaku, apa kau marah karna Marseille suka padaku ?"


Dia menggelengkan kepala. "Aku tak marah, bagiku melakukan apapun untuk Marseille adalah hal lumrah karena cinta dan jika dia suka padamu aku tak cemburu atau apalah karna aku tak mengerti kenapa harus cemburu ?"


Seketika aku jadi paham apa yang dia maksud.


"Iya, kau adalah Iblis ya?"


Dia mengangguk. "Itu kau tau ..."


Dunia ini membuat ku sangat sulit terbiasa.

__ADS_1


-----


__ADS_2