Player Nge-cheat Terbuang Ke Isekai.

Player Nge-cheat Terbuang Ke Isekai.
Perjumpaan dengan Dewi.


__ADS_3

Sang Ratu pergi dari Rabbit Woman, diganti oleh perdana menteri nya si Wanita kelinci. Dia masih malu sejak itu, tapi mau tidak mau membuat fakta dengan ku.


Sebelum kami pergi dari desa, fakta pun terbuat.


"Perjanjian baru, antara Bass sama dan Aku Sang Ratu Rabbit Woman yang menggantikan Arum ..." Ujarnya mengarahkan tangan untuk ku jabat.


Aku menjabatnya. "Baik, aku menerima nya dengan ini kami dapat izin melewati area mu tanpa di serang oleh Rabbit Woman kan?"


Dia memasang wajah memerah merona. "Tentu saja, itu hanya berlaku untuk kalian berempat ..."


Aku menganggukkan kepala. "Itu lebih dari cukup kok! Unity termasuk kan?"


Dia menyentuh bibirnya. "Iya, maksudku berempat itu juga si sistem aneh itu yang muncul dan mengambil kesadaran orang-orang ..."


"Senang mendengar nya ..." Ujarku tersenyum dengan lebar.


Dia memasang wajah memerah merona. "Hmmmppp ..." Ucapnya menonggakan kepalanya.


Asila mengeluh kebawah. "Baguslah, akhirnya kita keluar dari desa yang dipenuhi gadis dan wanita ini ... Aku takkan membiarkan adikku melepasnya, kecuali dengan ku ..."


"Eh? Kakak? Apa itu serius?" Ujarku berkeringat dingin mendengar pernyataan nya.


Dia menoleh kelain. "Terserahlah ..." Ujarnya wajah nya jadi memerah.


Arum memeluk leher ku dan tampak sangat senang. "Berhasil, akhirnya aku bisa disisi Tuanku selama nya ... Aku akan jadi lebih kuat disisi mu!" Ujarnya lalu melepas pelukan dan mengepalkan tangan.


"Jadi itu alasan mu ya?" Ujar Cecilion dengan wajah datar.


Aku melambai saat meninggalkan desa di depan pintunya dan tiba-tiba setelah kami berjalan agak jauh desa sudah tak terlihat lagi seolah di telah sesuatu.


"Hm, desa yang aneh ..." Ujarku dihati saat menoleh kebelakang.


 


Perjalanan kami untuk mengasah kemampuan pedang, antara aku dan kakak ku menjadi lebih ramai dengan hadirnya Arum disini. Tapi, aku melarangnya ikut campur saat bertarung dengan monster. Dia dan Cecilion harus melihat saja. Karna Aku dan Kakakku lah yang ingin bertarung.


Dimana setelah berjalan 1 jam menjauh dari desa, Kami menemukan monster Lamda raksasa.


Wujudnya menyerupai Gadis bertubuh setengah manusia dan ekor ular.


*Dentum!


Hentakan dari ekor besar nya membuat pepohonan di sekitar rebah.


"Wah!" Ujar Cecilion melompat ke belakang saat pohon besar itu tumbang.


*Tap!


Dia menatap dari atas dahan, kearah Aku dan Kakakku yang sedang berhadapan langsung dengan Monster Lamda.


*Hesh!


Muncul Arum di sebelah Cecilion yang mengusap keringatnya.


"Kah, mengerikan sekali Lamda itu ya?" Ujarnya berkata begitu dengan berdiri santay di dahan pohon yang licin dan berlumut.


Cecilion mengerutkan keningnya. "Yang mengerikan itu bukannya Kau?!" Ujarnya berteriak kearah si Arum.


"Eh, masa aku si?" Ujarnya Arum memasang wajah bingung.


Sementara itu, Aku dan Kakakku tengah menatap tajam dengan kuda kuda kuat memegang pedang.


"Kau ingat dik, apa monster Lamda itu? Bukannya dulu sering ku ceritakan melalui Buku Dongeng Monster Legenda ..." Ujarnya berkata dengan gemetar memegang pedang, tapi dia tersenyum percaya diri.


Inilah sosok Kakak ku Asila Farma, berambut merah dan penuh gairah dalam memegang pedang bahkan untuk saat ini terlihat senyuman nya yang lebar. Situasi akan kematian yang bisa saja terjadi karena satu kesalahan malah membuat berdebar.


"Ingat tidak, apa kelemahan nya ..." Ujarnya Kakak mengangkat pedang ke kanan dimana bilah tajam ditarik kebelakang dan siap di tusuk saat dia berlari.


Aku mengarahkan pedang dengan cara memasang pose melindungi, dimana aku memegang pedang tegak lurus ke kiri dengan tangan kanan.


"Aku siap menyerang kapan saja! Seperti yang kakak bilang, jika kita berdua menyerang nya secara langsung maka harus lah aku yang sangat ahli dalam menangkis yang akan menjadi penyerang awal!"


*Dush!


Seketika aku berlari sangat cepat.


Kakak terkejut. "Eh?" Ujarnya mengencangkan matanya.


Rambutnya sampai terangkat ke atas, sangat terkejut melihat aku yang berlari bak kilat.


*Dentam!


Ekornya mengibas kearah ku, namun aku bisa melompat dengan tinggi.


"Hiyak!" Ujarku mendarat ke arah ekornya yang berhenti dibawah.


Aku berlari dengan kencangnya. "Kakak, berlari lah kearah ini dan tabrak!" Teriakku saat melempar sesuatu papan item.


Dia melihat papan melayang di atas sana, dengan wajah tegang dia mulai berlari.


*Dek!


"Akh!" Hampir terpeleset saat berlari diujung ekor yang bergerak.


*Duk!


Melompat dengan kuat.


"Aku akan mengambilnya!" Ujarnya mengatakan itu saat mau menggapai papan item yang ada diatas nya.


"Terlalu tinggi-" Ujarnya tak mampu meraih.


*Dest!


Dia menusuk nya dengan pedang.


"Kah, apa ini?!" Ujarnya melihat pecahan dari papan itu.


Seketika tubuhnya menyala, dan dia dapatkan Buff.


"Kecepatan ku, rasa nya bertambah ... Kelincahan ku, juga ... Kekuatan ku ... Apa ini?! Aku merasa sangat bersemangat?!" Ujarnya mengatakan itu saat terjatuh dengan posisi keren.


*Dek!


Dia berjongkok di atas ekor yang besar milik Lamda.

__ADS_1


*Dedeng!


Aku menahan cakar besar Lamda yang mengarah pada ku.


"Kahk, ini kuat sekali!" Ujarku menahan serangan dengan kuat.


*Dentam!


Seketika ekor Lamda itu menepis ku.


"Sial!" Ujarku memasang tangan melindungi tubuhku.


*Hap!


Kakak melompat lalu dia tersenyum di depan wajah Lamda.


"Mahluk sialan!" Ujarnya mengatakan itu dengan pedang di tangannya.


*Tap!


Dia menginjak hidung Lamda dan melompat.


*Dush!


Berdiri diatas kepala si Lamda.


*Deskkk!


Lamda menepuk dan mencakar wajah nya sendiri.


"Kah!" Teriak Lamda kesakitan.


Kakakku menusuk kepala Lamda dan berkata dengan wajah kesal.


"Brisik!"


*Tesk!


Tertancap di kepala lalu ...


Kakakku melompat ke bawah dan menatap kearah Lamda yang tertunduk dan tak dapat mengangkat kepalanya.


"Kah, sialan!" Ujarnya mengatakan itu setelah melihat kearahku yang berjalan dengan raut runyam dan luka.


"Kau tak apa-apa dek?!" Ujarnya jadi cemas dan memperhatikan ku atas bawah semuanya di cek nya.


Aku mengeluh kebawah. "Aku baik-baik saja kok ..." Ucapku dengan nada datar.


Dia memelukku. "Syukurlah, kupikir Kau akan mati ..." Ujarnya menangis.


Aku terkejut mendengar ucapannya. "Jangan mengatakan hal seperti doa saja ..." Ujarku merasa agak kesal tapi langsung khawatir melihatnya nangis.


"Eh, kau malah nangis ..." Ujarku mengelus kepalanya.


Sementara si Lamda mengamuk dengan kencang. Dia merobohkan pohon-pohon yang ada di sekitarnya dan membuat area sedikit bergetar.


"Kah! Kah! Kah!" Teriaknya mengamuk karna tak bisa mengangkat kepalanya.


Aku melihat itu jadi memasang wajah ruwet. "Kalo dibiarin nanti bakal banyak monster yang datang ..."


"Api Gluttony, Aktif!" Ucapku pelan.


Seketika di ujung pedang ku muncul sesuatu perlahan lahan menjadi gumpalan hitam. Itu adalah Api gluttony.


"Matilah!" Ujarku melepaskan mana ku keujung pedang.


Itu membuat Gumpalan hitam itu melasat kearah Lamda.


*Dush!


Terlihat langsung mengembang dengan besar, gumpalan itu menganga seolah akan menyantap nya dan ...


*Derekkkkkk!


Terdengar remukan lalu terlihat genangan lumpur hitam yang mendidih dengan pedang ditengah lumpur itu tertancap.


Kakak Asila yang menangis lalu menatap ku dengan wajah kosong dan berkata.


[ Hey, lama tak bertemu! ]


Aku mendorongnya dan memasang wajah tegang. "Siapa Kau? Unity, apa kau disana?!"


Cecilion melompat dan mendekat kearahku.


"Aku disini, Tuanku!" Ujarnya berkata begitu sambil menatap kearah si Asila.


Aku menoleh kearah nya Cecilion. "Unity, apa kau disana?" Tanya ku dengan raut tegang.


Dia menjawab. "Iya, aku disini! Tampaknya ada seseorang yang memasuki tubuh Kakakmu dan kelihatan di memblokir ku untuk mengakses nya ..."


"Apa maksudnya?! Siapa?!" Ujarku bertanya dengan raut cemas.


Dia menggelengkan kepalanya. "Aku juga tak tahu, tapi kayaknya dia menghancurkan tiap Nano bot yang ada di tubuh Asila sehingga aku tak bisa mengambil alih otaknya ... Dia sosok yang sangat misterius, seperti dia orang yang sama memberi tahuku saat pertama kali tiba di dunia ini .. "


Aku mengencangkan mata. "Jangan bilang, Kau menemui ku sewaktu bayi karna orang ini yang mengatakan nya ..."


Unity menjawab nya dengan wajah serius nya Cecilion. "Tuan benar, dia mengatakan padaku bahwa Masterku sudah kembali ... Sejak saat aku dan Master terpisah, aku sudah ribuan tahun mencari keberadaan mu ... Satu satunya orang yang bisa menggunakan semua akses kepimilikan yang ada padaku ..."


Dia mengangguk. "Ucapannya benar, anda satu-satunya yang mampu menggunakan ku dan seluruh tubuhku ..."


Aku mendengar itu jadi memasang wajah memerah rasanya perasaan tegang tadi jadi hilang. "Kau menyebutnya seperti itu membuatku salah paham ..."


"Maksud anda?"


Aku menggeleng kan kepala. "Tidak ada apa-apa ..." Ujarku menahan malu dengan raut merona.


*Dush!


Dia melompat dan langsung menyerang Asila.


Arum terlihat hampir mengenai Cila saat menendang nya.


*Dentam!


Bahkan kawah terbentuk.

__ADS_1


"Kah, dia bisa mengelak dari tendangan mautku?!" Ujarnya menggertakan gigi dengan wajah kesal.


Aku berteriak kearahnya. "Oi, jangan menyerang dia Arum! Kau mau melukai tubuh kakakku ha?!" Ujarku berteriak dengan nada kesal.


Arum menoleh kearahku dengan wajah datar. "Eh, bukan bisa kau hidupin lagi kalo Kakak mu mati karna ku?"


Aku mengerutkan keningku. "Beraninya kau berkata begitu ya?! Aku bunuh kau jika berani menyerang lagi!"


Dia melompat dengan wajah mengeluh kebawah. "Ha-ah, Tuanku benar benar berlebihan ..."


*Desh!


Berdiri di sampingku.


Aku menatap nya dengan wajah menahan kesal. "Aku gak mau dengar dari mulut gadis nakal seperti mu ..."


Dia terkejut akan ucapan ku dan memeluk ke arah Cecilion dengan wajah shock.


"Tuan memang menganggap ku Nakal ya?!" Ujarnya tampak mau nangis di hadapan Cecilion.


Cecilion mengabaikan nya setelah melirik sekali.


"Ada yang aneh? Cecilion kau?!" Ujarnya sadar.


Dia mendorong Cecilion dan berlari memeluk lengan ku. "Tuan, Cecilion kenapa?! Dia sama kayak Asila, sedang di kendalikan!"


Aku menjelentik keningnya.


*Tok!


"Kau bisa diam tidak?!" Ujarku kesal, aku lalu menunjuk Cecilion, "dia rekan dan itu musuh!"


Seketika ia menatap ku dengan wajah polosnya memegang dahi. "Ouh, begitu ya ... Aku ga paham tapi oke!" Ujarnya tersenyum mengepalkan tangan.


Aku mengusap kening ku dan menggelengkan kepala karna merasa pusing.


"Kenapa aku punya orang-orang aneh disekitar ku?" Ucapku mengeluh kebawah.


Aku lalu menatap serius ke Asila yang berdiri diseberang kawah bekas ledakan tendangan Arum.


"Kau siapa?!" Ujarku bertanya dengan serius.


Tersenyum kesamping dan mengibas rambut merahnya.


[ Aku Dewi Naga Bulan, Orang yang membawa mu ke dunia ini adalah Aku ]


Aku mengencangkan mata karna terkejut. "Jadi, kau ya orang yang mengirim ku kesini! Wah, ini seperti yang kau jelaskan Unity! Aku sudah paham sekarang, semua masuk akal ..."


Unity mengangguk. "Baguslah, Tuanku!" Ujarnya datar tanpa ekspresi.


[ Aku kemari karna sangat penasaran dengan perkembangan mu ... Apa kau menikmati hidup di dunia ini? ]


"Tentu saja!" Tegas ku dengan kepalan tangan.


[ Sebetulnya, aku mengirim mu kemari untuk menugaskan mu menghilangkan beban dunia ini karna malapetaka dan kesinambungan antar ras yang tinggi ... Bukannya, kau lihat manusia? Mereka jadi sangat terbebani dengan di kelilingi oleh kekuatan ras lain yang sangat lihai dan kuat dalam kemampuan ... ]


"Iya, aku tahu maksudmu tapi bukannya aku tak pernah diberi tugas apapun oleh mu ..." Ujarku mengangkat bahu dan tertawa dengan wajah di penuhi keringat.


[ Secara tidak langsung mungkin iya, tapi aku menjalankan takdir agar kau terbawa arus menyelesaikan misimu secara tak langsung tapi kelihatannya ...]


Dia menatap kearah lumpur hitam yang panas dengan pedang ditengah nya.


[ Kau gagal, aku sebenarnya sudah geram ... Tapi yah, ini salahku karna menganggapnya mampu ... Aku takkan membiarkan mu menambah kerusakan di dunia ini ... Jika kau menentang takdir dan tidak melenyapkan Malapetaka ... Kau tau kan Azab Dewi? ]


Unity dengan tubuh nya Cecilion berjalan maju dan mengarahkan tangannya.


"Apa kau mau menantang ku bertarung, Kyouka?" Ujarnya berkata dengan datar.


Seketika Dewi Naga bulan mundur selangkah dan menatap dengan raut tegangnya.


[ Aku hanya memperingati mu, awas saja kalo kau menambah perkerjaan ku! Hmmmmp, sialan kau Nanang Luffy! ]


Aku mengencangkan mata dan tiba-tiba tertawa melihatnya begitu.


"Hahaha, kau beneran Dewi? Serius?" Ujarku tertawa dengan wajah lepas, rasa tegang ku hilang saat Unity dengan berani nya menantang nya.


Unity menoleh kearah ku dengan senyuman lembut milik Cecilion. "Tuanku, kau beneran Tuanku ..." Ujarnya berucap pelan.


"Apa yang kau katakan?" Ujarku bertanya melihat dia tersenyum sambil berkata seperti itu.


Dia menggelengkan kepalanya. "Tidak ada kok!" Ujarnya lalu menatap ke Asila lagi.


"Aku memaafkan mu karna beneran bawa Tuanku kemari tapi lain kali jika kau muncul dengan sombong seperti ini akan ku buat kau sadar posisi mu!" Ujarnya Unity menegaskan.


*Dush!


Lambang Lingkaran sihir menyala di bawah kaki Asila.


Asila menggertakan giginya.


[ Kau mau menggunakan Kemampuan Dewa Iblis ya, Summonner Ability! ]


" Baguslah kalo kau tau, aku bisa membawa mu kemari dan membunuh mu dengan cepat ... Jangan karna kau bersembunyi di dimensi lain bukan berati aku tak bisa membunuhmu dengan mudah ..."


[ Brisik, dasar bodoh! Mesin bodoh, Unity bodoh! Aku akan pergi ,okeh bay! ]


Seketika Aku mendatar melihat kejadian itu.


"Sial, aku belum mengucapkan terima kasih!" Ujarku memasang raut bersalah kemudian.


Cecilion sadar dan terhempas kebawah.


*Dush!


"Kenapa aku merasa kehabisan mana?" Ujarnya mengatakan itu dengan wajah pucat dan lesu.


Dia tak bisa bergerak di tanah dan terkapar.


Kakak Asila berteriak setelah merasa ada yang berat di pantatnya dan mengganjal di rambut.


"Eh, kenapa aku punya tanduk dan ekor?!" Ujarnya berteriak kearah aku dengan wajah panik.


Rabbit woman, si Arum hanya bisa tersenyum. "Aku tau mereka semua sudah berada di level berbeda ... Apa aku layak disini ya?" Ujarnya tersenyum berkeringat dingin.


----

__ADS_1


__ADS_2