Possessive Ex-Boyfriend

Possessive Ex-Boyfriend
Ex chapter 19


__ADS_3

" Mi amor "


Cia terkejut saat darien sudah ada di hadapannya, seingat cia ia sudah mengunci pintu, tapi bagaimana bisa darien bisa masuk, " tentu saja karena villa ini milik orang tuanya " batin cia tersadar, mengabaikan kehadiran darien, cia menenggelamkan kepalanya lagi ke atas lutut


Merasa di abaikan, dengan enteng darien menggendong koala cia kemudian mendudukkannya ke atas pinggiran wastafel,


Cia diam saja saat ia gendong, tidak melawan seperti biasanya


" Kenapa "


Satu pertanyaan yang keluar dari mulut cia terasa kelu untuk darien jawab " Itu hanya masa lalu, sekarang hanya ada kau mi amor percayalah padaku, oke "


Darien mengusap lembut mata cia yang memerah karena terlalu lama menangis, Kemudian ia kecup lembut kedua kelopak matanya


" Aku ingin pulang " rasanya percuma saja meminta penjelasan kepada darien, dia tidak pernah benar-benar menganggap serius permasalahan ini, beda dengan cia


" Tunggu sebentar lagi, ada yang perlu aku bahas dengan ayahnya bianca "


Mendengar nama Bianca keluar dari mulut darien membuat cia merasa kecewa lagi,


berulang kali ia mencoba turun dari atas wastafel, tapi tangan darien selalu menahan pinggang nya, akhirnya cia memilih untuk diam


" Aku akan mengantarmu ke kamar "


Cia diam saja, bahkan saat darien menggendongnya koala membawanya entah kemana


***


Cia di dudukkan di sebuah kasur, kemudian darien berjongkok di depannya " Pelayan akan mengambilkan tasmu, tetap disini atau kau mau jalan-jalan di sekitar villa, lakukan sesukamu aku akan ke bawah sebentar "


Cup, darien mengecup singkat kening cia kemudian pergi, Cia tetap diam saja, ia benar-benar tidak ingin berbicara dengan darien


Cia duduk anteng menunggu seorang pelayan mengantarkan tasnya, ia berniat berjalan-jalan di sekitar villa yang berhadapan langsung dengan pantai, membuat cia tidak sabar untuk pergi


Tok tok tok


Merasa itu adalah pelayan yang membawakan tasnya, ia dengan cepat membukakan pintu


" Ini nona tasnya "


" Terimakasih bi "


" Sama-sama non "


Setelah menerima tasnya, cia masuk kembali kedalam kamar kemudian mengikat rambutnya menjadi satu menyerupai ekor kuda, setelah siap cia keluar kemudian turun ke bawah, ia memilih keluar lewat pintu belakang, ia tidak ingin bertemu dengan bianca


Setelah berjalan sekitar 5 menit, akhirnya cia sampai di pantai yang ia tuju, Pantai terlihat sepi, hanya beberapa pengunjung saja yang terlihat sedang berjemur

__ADS_1


Cia memilih untuk berjalan menelusuri bibir pantai, merasakan angin yang menyapu tubuhnya " Begitu menenangkan " batinnya


Lama kelamaan cia merasa seperti ada langkah kaki yang mengikuti nya dari belakang, ia mempercepat langkahnya, tidak berani menengok ke arah belakang


Bukannya menjauh, suara langkah kaki itu malah semakin terdengar jelas di telinganya,


ia semakin mempercepat langkahnya


" Aaaah " cia refleks berteriak saat ada tangan yang mencekal tangan kanannya


" Hei-hei tenanglah, aku hanya ingin bertanya dimana letak toilet umumnya "


Cia merasa tidak asing dengan wajah didepannya, seperti mirip Ken tapi terlihat lebih urakan, tidak seperti Ken yang suka kerapian, merasa rasa penasaran nya tidak bisa dibendung lagi akhirnya cia bertanya


" Ken?? "


" Kau mengenal saudara kembarku? "


" saudara kembar? " seingat cia Ken tidak punya saudara kembar, cia kira Ken anak tunggal satu-satunya di keluarga wijaya,


" Iya, aku bukan Ken, aku kakaknya Ken namaku Kenzo "


" O-oh aku baru tahu kalau Ken punya saudara kembar, aku cia sekretaris pribadi Ken "


" jadi sekarang Ken ada disini?? "


" Ooh senang bertemu denganmu cia " ucap Kenzo sambil mengulurkan tangan kanannya ke arah cia


" Senang bertemu denganmu juga kenzo " Jawab cia sambil menerima uluran tangan dari Kenzo


" Apa kau sendirian cia "


" Hhhm tidak, aku bersama temanku " bohong cia, ia juga tidak tahu dengan pasti apa sebenarnya hubungan antara dirinya dengan darien


" Yaah lebih baik begitu bahaya kalau kau sendirian "


" Kenapa?? " Tanya cia heran dengan perkataan kenzo


" Aku takut kau di culik orang tidak di kenal karena terpesona dengan kecantikanmu " jawab Kenzo dengan wajah seriusnya, membuat cia tidak bisa menahan tawanya, yang mana membuat kedua lesung pipinya terlihat jelas


" Kau benar-benar cantik cia " Jujur kenzo, Ia benar-benar dibuat terpesona dengan kecantikan seorang gadis yang baru saja dia kenal di depannya


" Yaa aku sering mendengar itu "


Kemudian kami tertawa bersama seperti seorang teman yang sudah lama saling kenal, sampai suara getaran ponsel menghentikan tawa cia


" Sebentar " cia mengambil ponselnya, setelah melihat siapa yang menelpon, cia memasukkan kembali ponselnya kedalam tas

__ADS_1


" Kenapa tidak di angkat? "


" Tidak penting "


Sedangkan diseberang sana darien sedang kalang kabut mencari keberadaan cia, sudah berulang kali ia coba menghubungi cia, tapi tidak cia angkat, dan yang lebih parahnya lagi tidak ada satupun pelayan yang melihat saat cia keluar dari villa, membuat darien semakin khawatir,


semua pelayan sudah ia kerahkan untuk mencari keberadaan cia, tapi sampai saat ini masih nihil, belum ada tanda-tanda keberadaan cia


" Ma aku akan mencarinya keluar " pamit darien ke Mamanya


"Kalau sudah ketemu langsung telpon mama" Sofia juga mengkhawatirkan calon menantunya yang entah pergi kemana, ia takut terjadi sesuatu pada calon menantunya


Feeling darien, cia pergi ke pantai yang berhadapan langsung dengan villa, setelah beberapa menit ia berjalan, akhirnya darien sampai di pantai yang ia tuju,


pantai itu masih tergolong sepi pengunjung,


karena belum banyak yang tahu tentang keberadaan pantai itu,


dengan sedikit berlari darien mulai mencari keberadaan cia, ia amati setiap sudut pantai tanpa terlewat sedikit pun, hingga tatapannya jatuh ke sosok yang sangat ia kenali, tangan darien langsung terkepal kuat melihat miliknya sedang tertawa bersama laki-laki lain, dengan langkah lebar darien mulai mendekati dua sosok yang belum menyadari kehadirannya


" cia!!! "


mendengar suara yang tidak asing di telinganya, cia refleks menoleh ke arah belakang, rasa takut langsung menghinggapinya saat melihat darien sudah ada dibelakangnya dengan ekspresi yang terlihat jelas kalau darien sedang marah,


tapi tunggu, kenapa ia harus takut, memangnya siapa darien? kekasih bukan, suami juga bukan


" kenapa " jawab cia tenang seolah-olah tidak peduli dengan kehadiran darien


" pulang " daritadi darien sudah mencoba menahan tangannya yang ingin segera memberi Bogeman mentah ke arah laki-laki yang sudah berani menyentuh miliknya, tapi ia tahan, darien tidak ingin cia takut kepadanya, jadi sebisa mungkin ia harus menahan emosinya


" jadi dia temanmu cia?? " sela Kenzo entah sengaja atau memang benar-benar tidak bisa membaca situasi, padahal terlihat jelas sekali aura mencekam yang keluar antara cia dan darien


" ya dia temanku "


mendengar kata teman keluar dari mulut cia


membuat darien sudah tidak bisa menahan emosinya lagi, dengan enteng darien memanggul cia ke atas bahu, mengabaikan teriakan cia, kemudian pergi begitu saja


" tunggu!! turunkan cia, dia sudah bilang tidak mau, jangan memaksanya "


omongan Kenzo bagai angin lalu bagi darien,


dia tetap terus berjalan tanpa menghiraukannya sama sekali


" Aku tidak apa-apa Kenzo, senang bertemu denganmu!! byeee~ "


dengan gemas darien menepuk keras pinggul cia hingga membuat cia mengaduh kesakitan

__ADS_1


" senang bertemu denganmu juga ciaa!! "


__ADS_2