Possessive Ex-Boyfriend

Possessive Ex-Boyfriend
Ex chapter 41


__ADS_3

hari ini adalah hari terakhir cia berada di rumah sakit, ia benar-benar sudah tidak sabar untuk segera pulang setelah 5 hari ia dikurung di ruangan yang pengap ini, perban di keningnya juga sudah dilepas kemarin, sekarang tinggal menunggu bekas lukanya menghilang dengan sendirinya,


daritadi cia dibuat keheranan dengan tingkah darien, padahal yang akan keluar dari rumah sakit adalah dirinya, tapi kenapa laki-laki itu yang sibuk mondar-mandir sana sini tidak jelas, laki-laki itu juga terus menanyainya sudah makan apa belum, padahal yang menyuapinya makan adalah dirinya sendiri, merasa pusing melihat tingkah darien, akhirnya cia memutuskan untuk bermain game di ponselnya, sepertinya itu lebih bermanfaat bagi dirinya daripada memperhatikan laki-laki yang masih sibuk mondar-mandir tidak jelas itu,


" kau sudah makan kan " mendengar pertanyaan yang sudah diajukan entah keberapa kalinya itu membuat cia kesal bukan main, tapi sebisa mungkin ia tahan, ia tidak ingin di hari yang bahagia ini moodnya rusak hanya karena pertanyaan tak berbobot seperti itu, " sudah darien, tadi pagi kan kau yang menyuapiku " balas cia sambil tetap bermain game di ponselnya,


" baguslah, ayo pulang "


tanpa cia duga, tubuhnya tiba-tiba saja melayang, dengan sigap ia melingkarkan kedua tangannya ke leher darien, pelaku yang membuat dirinya terkejut dan hampir saja menjatuhkan ponsel berharganya, " kau menyebalkan " dengus cia sembari memberikan sebuah cubitan kecil di punggung kokoh darien, karena ulahnya, laki-laki yang sedang menggendong dirinya ala bridal style itu sedikit memekik kesakitan,


***


sepanjang lorong rumah sakit orang-orang menatap kami dengan pandangan aneh, cia tahu dengan jelas apa penyebab mereka begitu, ini semua karena keberadaan puluhan pengawal yang berjalan di belakang kami, tubuh besar ditambah dengan tampang yang menyeramkan berhasil membuat orang-orang bergidik ngeri saat berpapasan dengan mereka,


Sejujurnya cia juga risih dengan keberadaan puluhan pengawal itu, kalau bisa ia ingin sekali mengusir semua pengawal itu pergi, tapi sayangnya, ia tidak punya hak untuk melakukan itu, dia bukan tuan mereka, jadi tidak mungkin mereka akan menuruti perkataannya,

__ADS_1


***


sebuah mobil mewah yang entah cia juga tidak tahu namanya apa sudah terparkir rapih saat kami keluar dari rumah sakit, di samping mobil itu berdiri seorang Michael dengan iPad yang selalu dibawanya kemana-mana,


cia kira dirinya akan terbebas dari pandangan menusuk orang-orang ketika ia keluar dari rumah sakit, tapi nyatanya, dirinya malah semakin di pandang aneh oleh orang-orang, padahal bukan kemauannya untuk tampil seheboh ini, karena malu, cia semakin menenggelamkan kepalanya kedada bidang darien, tapi rasanya percuma saja, akhirnya ia lebih memilih menegakkan kepalanya kembali kemudian bertingkah seolah-olah tidak ada yang terjadi,


" kau menyebalkan " gerutu cia lagi saat mereka sudah naik kedalam mobil, sepertinya semua hal yang berhubungan dengan darien terlalu berlebihan untuknya.


sepanjang perjalanan dari rumah sakit sampai tiba di mansion utama keluarga Mackenzie hanya di isi oleh keheningan, cia juga keheranan dibuatnya, ia yang tidak tahu apa-apa lebih memilih ikut diam daripada mengajak berbicara darien yang terlihat sedang banyak pikiran itu, " mungkin masalah perusahaannya semakin rumit " pikir cia,


ia semakin dibuat keheranan saat keluar dari mobil, mansion yang biasanya terlihat ramai dipadati oleh para pelayan yang jumlahnya tidak sedikit itu kini sepi seperti tidak ada penghuninya, suara mama Sofia yang biasanya bisa terdengar dari halaman mansion juga tidak terdengar, kini hanya aura mencekam yang keluar dari mansion itu, " kemana semua orang? " tanyanya pada darien yang sudah lebih dulu keluar dari mobil,


tidak sesuai dengan perkataan darien, hanya keheninganlah yang mengisi setiap sudut di dalam mansion ini, entah apa maksud perkataan laki-laki itu tadi, yang pasti cia semakin dibuat tidak mengerti dengan situasi yang tengah terjadi,


" naiklah ke kamar ku, disana sudah ada orang yang menunggumu " tanpa banyak kata, cia langsung menuruti perkataan laki-laki itu, dengan langkah lebar ia mulai berjalan menuju tangga agar bisa naik ke tempat kamar darien berada,

__ADS_1


***


setelah melihat kepergian cia, dengan sigap darien masuk ke salah satu kamar yang terletak di lantai 1, begitu ia masuk, sosok kedua orang tuanyalah yang langsung menyambutnya " semua sudah siap, tinggal menunggu kalian berdua datang " mendengar perkataan mamanya, membuat darien semakin dilanda kegugupan,


sedari pagi perasaannya sudah tidak menentu, karena pada akhirnya, kejutan yang sudah ia siapkan dari jauh-jauh hari bisa terlaksana, tapi akibatnya, sedari pagi ia tidak bisa mengontrol ekspresinya, karena itulah ekspresi kaku yang selalu nampang di wajahnya,


" bersiap-siaplah, kami menunggumu di halaman belakang "


***


yang tadinya terlihat megah dan mewah, kini hanya kesan mistislah yang menyelimuti sepanjang perjalanan menuju kamar darien, bahkan beberapa kali cia dibuat merinding saat melihat lukisan-lukisan mahal yang terpajang di sepanjang dinding-dinding lorong tersebut, ia merasa lukisan itu seperti sedang memperhatikannya, merasa takut, cia semakin mempercepat langkahnya,


akhirnya cia bisa bernafas lega saat ia telah sampai di depan pintu kamar darien, dengan sigap ia buka pintu kayu tersebut kemudian masuk, sebuah gaun mewah berwarna putih tulang dengan panjang menjuntai sampai kelantai menjadi pemandangan pertama yang bisa cia lihat begitu ia masuk, dibelakang gaun tersebut, berdiri beberapa pelayan yang sering ia lihat berlalu lalang di dalam mansion ini, dibelakangnya lagi berdiri beberapa wanita yang tidak cia kenali,


speechless, cia benar-benar tidak mengerti dengan situasi yang sedang dihadapinya sekarang,

__ADS_1


" selamat datang nyonya, kami bertugas untuk membantu anda membersihkan diri "


" haa??!!! "


__ADS_2