
Suara bising seperti suara baling-baling helikopter menyadarkan cia dari tidur panjangnya, saat kedua manik cokelat keemasannya terbuka, pemandangan lautlah yang pertama kali menyambutnya, birunya lautan berhasil mengingatkannya pada sesosok laki-laki pemilik manik biru yang hingga kini masih ia cintai setelah apa yang telah ia perbuat kepadanya, sihir, ia bagaikan tersihir dengan tatapan kedua maniknya yang seolah-olah mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja, bahwa ia tidak perlu mencemaskan apapun, bahwa ia hanya perlu menyandarkan kepalanya pada bahunya, maka semua hal akan terjadi sesuai dengan keinginannya, dan anehnya lagi, ia mempercayai semua arti dari tatapan itu,
Di tengah lamunannya, samar-samar telinganya bisa mendengar suara seseorang sedang memanggil-manggil namanya, refleks ia mencoba keluar dari alam bawah sadarnya itu, saat ia sedang mencoba keluar, sepasang tangan kekar tiba-tiba saja menangkup wajahnya, yang mana berhasil membuat cia tersadar dari lamunannya itu,
manik biru sebiru lautan di bawahnya menjadi hal kedua yang ia lihat setelah maniknya terbuka, ia selalu berpikir bahwa sosok laki-laki yang ada di depannya ini adalah salah satu ciptaan tuhan yang paling sempurna, Wajah rupawan, kekayaan berlimpah, kasih sayang orang tua, dan teman-teman yang setia menemaninya, seolah-olah tidak ada satupun kekurangan yang tuhan berikan kepadanya, ia dibuat kaget saat sebuah kecupan tiba-tiba mendarat ke bibirnya, untung saja gerakan refleksnya terbilang lemah, jadi tangannya masih setia berada di sampingnya, bukan di rahang tegas yang didominasi bulu-bulu halus itu,
" Kita hampir sampai "
" Huh? " cia refleks menolehkan kepalanya ke arah bawah begitu mendengar ucapan dari mulut suaminya itu, dan benar saja, tepat di bawah sana..terdapat sebuah pulau yang dikelilingi luasnya hamparan laut biru yang kini berhasil menjadi pusat perhatiannya, di tengah-tengah pulau itu, terdapat sebuah villa yang cia yakin luasnya tidak main-main, " apakah ini yang dibicarakan darien semalam? " Pikirnya,
***
Helipad ( landasan helikopter )
Cia sedang mencoba melepaskan sabuk pengamannya setelah helikopter yang ditumpanginya itu mendarat dengan sempurna beberapa menit yang lalu, tapi entah kenapa sabuk pengaman itu terasa sangat sulit sekali untuk ia dilepaskan, saat ia sedang berusaha, satu tangan kekar dengan mudahnya melepas sabuk itu tanpa ada rasa kesulitan sedikitpun, " terimakasih " ucapnya sambil melepas headset di kepalanya,
Seperti yang ia duga, luas villa ini memang tidak main-main, dan yang lebih membuatnya terpukau, terdapat sebuah kolam renang tepat di depan villa itu, berenang sambil menikmati indahnya alam menjadi hal pertama yang akan ia lakukan di villa ini, tapi tunggu... kenapa disini sepi sekali, tidak ramai seperti penginapan-penginapan lainnya, tiba-tiba satu kata terlintas dikepalanya, cia melebarkan kedua matanya begitu kata itu terasa sangat pas sekali dengan keadaannya sekarang, tak ingin semakin dibuat penasaran, akhirnya cia lebih memilih untuk bertanya pada laki-laki yang sedang menggenggam tangannya itu, " ini pulau milikmu? "
" Bukan...mereka tidak mau menjualnya kepadaku....aku hanya bisa menyewanya, tenang saja, aku sudah punya beberapa data tentang pulau-pulau yang kusiapkan untukmu "
__ADS_1
" W-what?!, Ti-tidak perlu...kurasa aku tidak membutuhkannya " tolaknya saat darien dengan santainya menawarinya sebuah pulau, jika itu perempuan lain, mungkin mereka akan menerimanya dengan senang hati, tapi tidak dengannya, ia merasa memiliki sebuah pulau tidak terlalu berguna untuknya,
" Kau sudah punya, itu hanya untuk cadangan "
Speechless, satu saja ia tidak tahu fungsinya untuk apa, apalagi punya dua, " terserahlah " pasrahnya sembari mengikuti langkah laki-laki itu yang masih setia menggenggam tangannya, karena tertidur, ia tidak tahu dengan cara apa ia bisa sampai kesini, yang ia tahu hanyalah saat menaiki helikopter, sisanya ia benar-benar dibuat bingung, " mungkin pesawat? " pikirnya,
sebuah kamar dengan puluhan kaca sebagai dindingnya berhasil membuat cia tidak bisa berhenti berdecak kagum, membayangkan luasnya lautan biru itu menjadi pemandangannya setiap pagi membuatnya tidak sabar untuk segera terbangun di pagi hari, atau yang lebih indahnya lagi, ia bisa menikmati sunset dari dalam kamarnya tanpa harus susah payah keluar dari villa ini, beberapa jam lagi sunset akan datang, yang mana membuat cia semakin tidak sabar dibuatnya,
" ayo mandi bersama " satu kalimat itu berhasil menghancurkan semua ekspektasinya tentang keindahan alam, tatapan tajam langsung ia layangkan pada laki-laki yang selalu seenaknya sendiri itu, " tidak, aku mau mandi sendiri " tolaknya sambil berjalan ke arah kasur empuk yang sedari tadi melambai-lambai untuk ia tiduri, alasan lain ia menolak ajakan itu karena ia tahu dengan jelas bahwa kata mandi disini bukan hanya merujuk pada kegiatan membersihkan diri, tapi juga terselip kegiatan lain, dan saat ini ia sedang tidak ingin melakukannya,
" come on "
" darieeen "
***
" darien, kalau kau menggosoknya seperti itu.. kapan bersihnya..biar aku saja "
" istirahatlah, biar aku yang melakukannya "
__ADS_1
" yaa.. sudah seharusnya begitu, salahmu membuat ku lelah "
darien hanya diam, ia tidak mau menyahutinya karena jika ia mengeluarkan sedikit saja kata pembelaan untuk dirinya, ujung-ujungnya pasti ia juga yang disalahkan, padahal istrinya itu menikmati kegiatannya tadi, tapi ya sudahlah, ia akan memakluminya, karena ia juga mendapatkan bayaran yang setimpal dengan omelan cianya itu, " ayo pindah... waktunya membilas tubuh " ajaknya sembari menggendong tubuh mungil itu ala koala,
" hmm "
***
" ini dimana? " tanya cia penasaran karena sebenarnya ia juga tidak terlalu yakin dengan nama tempat yang didengarnya semalam,
" tagomago sayang " mendengar jawaban dari darien membuat cia semakin yakin kalau nama yang di dengarnya salah, lagipula apa itu tomago? " seperti tomat saja " dumelnya pelan,
secercah cahaya matahari yang mulai meredup menjadi hal terbaik untuk penutup harinya hari ini, rona merah bercampur orange keemasan itu tak pernah terlewat sedetikpun dari kedua maniknya, kacamata hitam dengan setia bertengger di hidung mancungnya sebagai pelindung dari terangnya senja di depan sana, segelas jus alpukat di tangannya menjadi pelengkap sempurna ketenangannya kali ini, seperti yang ia kira, ia bisa melihat indahnya sunset dari dalam kamarnya tanpa harus susah payah keluar dari villa, sepertinya ia akan betah tinggal disini walaupun hanya ada mereka berdua di pulau ini...dan beberapa karyawan maksudnya, " kau tidak mau? " tawarnya sembari menyodorkan segelas jus miliknya pada laki-laki yang sedang menjadi sandaran untuk punggungnya itu,
" no...untukmu saja "
" oke...mmm berapa lama kita akan disini " tanyanya lagi sambil semakin menyandarkan punggungnya pada dada bidang dibelakangnya,
" hanya sepuluh hari...maaf...lain kali aku akan merencanakannya lagi "
__ADS_1
" baiklah "
cup