
" aku akan memaafkanmu karena aku hafal nomor Grace, kalau Ken, mudah saja, tinggal minta pada Grace " ucap cia sembari tersenyum manis, merasa menang dalam pertarungan kecil ini,
" lakukan saja, aku tinggal membuang ponselmu, mi amor "
speechless, cia tidak bisa melawan kalau ancamannya seperti itu,huh, kali ini ia harus mengalah lagi " baiklah-baiklah, sebenarnya apa maumu " tanyanya dengan nada lembut, tapi tersirat kekesalan yang mendalam
" tidak ada "
haaah, cia benar-benar harus ekstra sabar menghadapi laki-laki dedemit di depannya ini, merasa sudah tidak kuat, cia memutuskan untuk keluar dari kamar inapnya, ia butuh udara segar
" mau kemana?? "
" jalan-jalan sebentar "
" aku iku..." sebelum darien menyelesaikan ucapannya, cia lebih dulu membuka pintu kemudian keluar, ia sengaja melakukannya karena ia mulai bosan mendengar suara laki-laki yang selalu seenaknya sendiri itu, ia butuh suara lain,
puluhan pengawal berbaju hitam berbaris rapi di depan ruangannya, sekarang ia sudah tidak heran lagi dengan kehadiran mereka, jelas ia tahu siapa yang mereka layani, yang pasti bukan dirinya,
" kau semakin berani hhm " mendengar suara yang tidak asing di telinganya tidak membuat cia berinisiatif untuk berhenti, dengan cuek ia tetap melanjutkan langkahnya seolah-olah suara tadi hanyalah angin lalu bagi dirinya, baru beberapa langkah setelah mendengar suara yang tidak asing itu, kini beralih menjadi sepasang tangan kekar yang berhasil membuat langkahnya terhenti,
posisi yang terkesan mesra ini membuat orang-orang disekitar mereka menatapnya dengan pandangan risih, sadar menjadi pusat perhatian, cia mencoba melepaskan lingkaran tangan darien dari perutnya, bukannya terlepas, kedua tangan itu malah semakin erat memeluk perutnya, tidak hanya sampai disitu saja, bahkan dengan tanpa malunya darien mencium puncak kepalanya dihadapan banyak orang, rasanya saat ini cia ingin sekali menenggelamkan dirinya ke dasar laut sangking malunya,
" darien lepaskan, aku malu "
" baiklah " begitu mendengar jawaban dari darien, cia refleks mendongakkan kepalanya, merasa tidak percaya dengan kata-kata yang baru saja keluar dari mulut laki-laki itu, ia dibuat keheranan dengan sikap patuhnya,
lamunannya langsung buyar ketika sebuah tangan kekar menggenggam tangan kanannya, setelah itu tubuhnya terasa tertarik mengikuti langkah laki-laki di depannya
__ADS_1
" jangan terlalu lama, kau harus banyak istirahat mi amor "
" hhm "
***
Taman rumah sakit
tidak seperti taman lainnya yang selalu dipenuhi dengan tawa ceria anak-anak, disini kedamaianlah yang menyelimuti setiap bagian dari ujung sampai ke ujung,
balita, anak-anak, remaja, dewasa, hingga lansia semuanya ada disini, kebanyakan dari mereka terlihat memakai pakaian rumah sakit, pertanda bahwa mereka adalah seorang pasien, satu kesimpulan yang cia dapat, penyakit tidak akan pandang umur maupun gender,
mungkin menghirup udara segar menjadi alasan bagi mereka untuk bisa keluar dari pengapnya ruangan yang di dominasi bau obat-obatan, atau menikmati indahnya alam yang mungkin hanya bisa mereka nikmati untuk yang terakhir kalinya,
satu fakta miris yang sering terjadi di setiap belahan bumi ini, banyak lansia yang merasa kesepian di saat-saat terakhir hidup mereka, mereka tidak akan meminta hartamu, mereka hanya ingin melihat anak-anak yang sudah mereka besarkan dengan susah payah ada di saat mereka menutup mata untuk yang terakhir kalinya,
banyak hal yang bisa terjadi dalam setiap detik di bumi ini.
tanpa bisa cia tahan, air mata menetes dari kedua manik coklat keemasannya, dengan cepat ia usap sebelum darien menyadarinya,
" kenapa kau menangis, apa aku berbuat salah lagi??!! " mendengar pertanyaan yang tersirat nada kekhawatiran itu membuat cia langsung paham kalau usaha menutupinya sia-sia,
" tidak, hanya saja, hargai nyawa seseorang, kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang telah mereka alami, kita tidak punya hak untuk menghakimi hidup seseorang, kita bukan tuhan "
bukan tanpa alasan cia mengatakan itu semua, mengingat sifat darien yang tidak pernah pandang bulu dan tidak punya belas kasih, di tambah sifatnya yang suka seenaknya sendiri, ia yakin tangan darien tidak sesuci itu, cia harap hati darien akan sedikit tergugah setelah mendengar kata-kata dari dirinya,
keterdiaman darien membuat cia semakin yakin dengan dugaannya, walaupun begitu, ia masih terus berharap pria pemilik manik biru itu akan berhenti melakukan hal-hal kotor lagi.
__ADS_1
lama kelamaan kedua manik coklat keemasannya mulai terasa berat, angin sepoi-sepoi yang terus menerpa dirinya berhasil membuat cia tidak bisa menahan rasa kantuknya, pelukan hangat dari darien ditambah dengan suasana yang begitu menenangkan seakan menjadi pendukung untuk dirinya segera terlelap ke alam mimpi,
satu kecupan lembut di puncak kepalanya menjadi hal terakhir yang bisa cia rasakan sebelum kedua manik coklat keemasannya tertutup dengan sempurna,
***
melihat gadis berambut hitam legam yang sedang bersandar pada dada bidangnya itu sudah tertidur, membuat darien semakin mengeratkan pelukannya, agar gadis itu tidak terjatuh dan semakin merasa nyaman, ia tidak berniat untuk segera memindahkan gadis itu ke atas ranjangnya, darien akan menunggu beberapa saat lagi, ia takut jika ia akan membangunkan gadis itu jika ia pindahkan sekarang,
" hola senor "
darien refleks menoleh ke arah samping begitu telinganya mendengar suara seorang nenek-nenek yang sepertinya memang ditujukan untuknya,
dan benar saja, saat ia menoleh, disampingnya sudah berdiri seorang nenek dengan pakaian rumah sakitnya, melihat rambut putihnya yang hampir mendominasi seluruh kepalanya, membuat darien langsung bisa mengira-ngira usia nenek tersebut, " hola " balasnya sambil tetap memeluk cianya yang masih terlelap
" apa aku boleh duduk disini? "
" tentu " darien sedikit menggeser tubuhnya agar nenek itu bisa duduk di sampingnya,
" apa dia istrimu? " mendengar pertanyaan yang diajukan sang nenek, tanpa pikir panjang darien langsung menjawabnya " ya, dia istriku "
" beruntungnya istrimu memilikimu di sisinya, senor "
" tidak....aku yang beruntung karena memilikinya di sisiku "
" hhha, sepertinya kau sangat mencintainya "
" ya, aku sangat mencintainya ".
__ADS_1