
" darien dimana ma? " tanya cia pada mama sofia yang sedari tadi sibuk mengupasi kulit buah-buahan untuknya, padahal ia sudah melarangnya untuk melakukan semua itu, tapi tetap saja perkataannya tidak digubris sama sekali,
" darien ada sedikit urusan diluar, paling sebentar lagi anak itu akan kemari, tenang saja " jawab mama Sofia sambil mengulurkan sepiring penuh buah-buahan yang sudah di potongnya menjadi kecil-kecil
" makasih ma " ucap cia sedikit merasa tidak enak, karena ia terus saja merepotkan kedua orang tua darien, dan lagi, kemana laki-laki itu pergi, bahkan di saat kondisinya yang pasca kecelakaan sekalipun laki-laki itu tetap bekerja, waah, sepertinya ia terlalu berharap lebih,
baru saja pria pemilik manik biru itu terlintas dikepalanya, kini tiba-tiba saja laki-laki itu sudah berdiri tegap di sebelah ranjang rumah sakit tempat dirinya dirawat, karena terkejut, cia tersedak apel yang sedang dikunyahnya, apel yang sudah tak berbentuk itu berhasil di keluarkan saat sebuah tepukan keras menepuk bahunya, tanpa rasa jijik, tangan yang tadi menepuk bahunya itu kini beralih menampung mamahan apel yang keluar dari mulutnya,
cia belum sadar siapa yang melakukannya, karena ia terlalu fokus mencari air minum untuk meredakan tenggorokannya yang terasa pedas sekaligus panas, lagi-lagi tangan kekar itu yang menolongnya, dengan sigap, ia langsung mengambil segelas air putih yang di sodorkan kearahnya itu kemudian meminumnya sampai habis
" terimakasih " ucap cia sambil mendongakkan kepalanya, penasaran siapa yang telah menolongnya " oh, jadi kau baru ingat aku sekarang " lanjutnya dengan nada sinis saat tahu pria pemilik manik biru itulah yang menolongnya
" aku juga merindukanmu "
" aku tidak mengatakan ituu!! " kesal cia sambil sedikit menaikkan nada bicaranya
__ADS_1
" iya-iya aku tahu, jangan berteriak, nanti tenggorakan mu sakit lagi "
" naah karena darien sudah ada disini, mama sama papa pamit dulu ya, jangan terlalu banyak bergerak cia, byee " sela mama Sofia saat melihat perdebatan kecil sepasang kekasih di depannya, dengan sigap ia menarik kasar tangan papa Leon yang sedang asik memakan buah apel kupasannya sambil bermain ponsel seolah-olah tidak ada yang terjadi, kemudian menyeretnya keluar dari kamar tempat calon menantunya di rawat,
sedangkan darien yang melihat semua tingkah kedua orangtuanya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, lalu tatapannya kembali fokus ke arah sang gadis yang sepertinya sedang marah kepadanya, terlihat dari gerak gerik cia yang selalu berusaha menghindar dari sentuhannya,
merasa lelah, darien memutuskan untuk ikut berbaring disebelah sang kekasih yang sudah berbaring duluan, punggung mungil cianya menjadi pemandangan yang bisa ia lihat, dengan iseng, darien mulai menggambar abstrak di atas punggung gadis itu, akibatnya, beberapa kali punggung itu bergerak tidak suka, bukannya berhenti, ia malah semakin aktif membuat pemilik punggung itu merasa terganggu
" dariiieeen " mendengar suara rengekan cia membuat darien terkekeh geli, dengan enteng, ia angkat tubuh mungil itu kemudian menaruhnya ke atas tubuhnya, tidak mendengar protesan apapun membuat darien semakin yakin kalau cianya benar-benar sedang marah kepadanya,
" belum mengantuk? " Satu pertanyaan yang keluar dari mulutnya berhasil membuat gadis itu semakin berekspresi kesal, yang mana membuatnya lagi-lagi tidak bisa menahan suara kekehannya, " kau mau punya anak berapa " tanyanya lagi yang kini langsung di jawab dengan sebuah pelototan, mungkin bagi cia itu adalah wajah menyeramkannya, tapi bagi darien, wajah menyeramkan cia malah terlihat lucu di matanya, merasa gemas, darien kecup bibir mungil itu bertubi-tubi, membuat sang empunya semakin dibuat kesal karenanya,
mendapat penolakan dari cia tidak membuat darien menyerah begitu saja, dengan sigap ia tahan tengkuk sang kekasih dengan tangan kanannya, lalu tangan kirinya bertugas menahan tubuh gadis itu agar tidak terjatuh, setelahnya, ia lum** bibir Semerah ceri itu dengan lembut, mencoba membuat sang empu terlena dengan ciumannya,
Darien tersenyum di sela-sela ciuman mereka, merasa senang karena akhirnya cia mau membalas lum**annya, mendapat sebuah balasan membuat darien semakin bersemangat membuat bibir itu membengkak karena ulahnya,
__ADS_1
Akhirnya darien melepaskan pungutan mereka setelah beberapa kali ia mendapat pukulan bertubi-tubi di bahunya, begitu pungutan mereka terlepas, ia bisa melihat betapa rakusnya cia menghirup oksigen di sekitarnya, sebagai penutup, ia kecup singkat kedua pipi chubby pemilik netra keemasan itu, merasa gemas dengan semua hal yang dilakukan sang kekasih.
dengan pelan darien mulai menurunkan tubuh mungil itu dari atas tubuhnya, ia perlu membereskan sesuatu, dan cianya tidak boleh sampai tahu, karena itu ia memutuskan untuk keluar sebentar dari kamar inap sang kekasih, " tidurlah, aku perlu menelpon seseorang "
***
cia merasa ada yang aneh dengan darien, pria itu selalu pulang larut malam dan pergi sebelum ia terbangun, bahkan ia sering sekali mempergoki darien sedang telponan dengan seseorang, bukan hanya itu saja yang membuatnya curiga, yang semakin menguatkan dugaannya adalah, cara darien menerima telpon tersebut, ia akan langsung menjauh darinya begitu ponselnya berdering,
rasanya seminggu ini ia hanya bertemu dengan pria itu sebanyak 2 sampai 3 kali, itupun waktu ia tidak sengaja terbangun pagi-pagi sekali, cia berharap semua dugaannya salah, jika benar, maka mundur adalah jalan terbaik untuknya, lagipula apa yang perlu dipertahankan dari dirinya, ia hanyalah seorang gadis yatim piatu yang tidak punya apa-apa, bahkan rumah saja ia tidak punya, rasanya sayang sekali kalau darien menikahi wanita seperti dirinya,
tak terasa air mata menetes dengan derasnya dari kedua matanya, cepat-cepat cia usap sebelum darien kembali keruangannya, bukannya mengering, pipinya malah semakin basah, bahkan kini ia bisa mendengar suara isak tangisnya sendiri, takut ketahuan, dengan sigap cia menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut rumah sakit, mencoba menyamarkan suara tangisnya,
" mi amor? " mendengar suara darien membuat cia menghela nafas lega, merasa beruntung karena ia tidak terlambat waktu menutupi tubuhnya, cia hanya diam saja, tidak berniat menjawab panggilan dari darien, ia ingin membuat darien mengira kalau dirinya sudah tertidur,
" selamat beristirahat mi amor, aku akan ke kamar mandi sebentar " cia langsung membuka selimutnya ketika samar-samar telinganya bisa mendengar suara pintu tertutup, lalu tak lama kemudian terdengar suara air mengalir, pertanda darien benar-benar sedang berada di dalam kamar mandi, " kau membuatku ragu darien "
__ADS_1