Possessive Ex-Boyfriend

Possessive Ex-Boyfriend
Ex chapter 36


__ADS_3

kedua manik birunya tidak pernah lepas dari sosok seorang gadis yang sedang tertidur dengan lelapnya, entah apa yang dipikirkan pemilik manik biru itu, tapi dari sorot matanya terlihat jelas sekali kalau ia sedang mengkhawatirkan gadis itu, dengan setia kedua tangannya menggenggam tangan mungil sang kekasih yang terasa dingin di genggamannya, mencoba menyalurkan rasa hangat dari tubuhnya,


rahang darien langsung mengeras begitu memori saat kekasihnya diobati terlintas di kepalanya, lebam-lebam yang dihasilkan karena benturan keras menghiasi hampir seluruh tubuh atas sang kekasih, ia teledor lagi, padahal baru beberapa hari yang lalu kekasihnya terluka, tapi sekarang karena dirinya lagi kekasihnya harus mengalami hal yang sama, kini ia merasa dirinya tidak pantas walau hanya untuk sekedar mengangkat kepalanya di depan sang kekasih,


ini semua salahnya, ia terlalu fokus menyiapkan kejutan untuk sang kekasih sampai-sampai ia menyepelekan keselamatannya, darien pikir cianya akan aman karena berada di mansion utama kedua orangtuanya, tapi ternyata tidak, bahkan mereka menyerangnya secara terang-terangan didepan publik,


baiklah, kali ini ia tidak akan peduli lagi siapa dalang dibalik ini semua, ia akan pastikan orang itu membayar perbuatannya, walaupun orang terdekatnya sekalipun,


" bagaimana kondisi cia? " mendengar suara yang tidak asing ditelinganya membuat darien mengalihkan tatapannya dari sosok seorang gadis yang masih asik tertidur itu " tidak ada luka yang serius, tolong jaga cia sebentar, darien ada sedikit urusan " ucapnya sambil bangkit berdiri kemudian berjalan ke arah kedua orang tuanya, darien tidak heran kenapa orangtuanya bisa tahu padahal ia sama sekali belum memberitahu mereka, ia yakin papanya menaruh pengawal bayangan di seluruh anggota keluarganya, termasuk cia,


" papa tidak akan melarang mu karena mereka memang sudah keterlaluan, tapi saran papa, jangan sampai membunuhnya, bagaimanapun mereka bukan orang asing bagi kita "


" mama setuju dengan ucapan papa, jangan gegabah, tetap hati-hati, mama akan menjaga cia disini, jadi kau bisa pergi dengan tenang " timpal mama Sofia yang langsung di angguki darien,


sebelum pergi, ia menyempatkan untuk mengecup singkat kening kekasihnya yang lagi-lagi dibalut oleh perban, tak lupa ia juga memberikan kecupan singkat di kedua pipi chubby dan bibir mungil yang selalu membuatnya ingin terus melahapnya itu,


setelah puas, darien bangkit kemudian dengan langkah lebar ia keluar dari ruangan sang kekasih, siap membuat lawannya bersujud minta ampun padanya.


***


" apa tugas dariku sudah selesai "

__ADS_1


" sudah tuan, saya sudah membuat para pengecut itu mendekam di balik jeruji besi, saya juga yakin mereka tidak akan bisa bebas dengan mudah "


" bagus, aku akan memberimu bonus "


" terimakasih tuan "


" tambah kecepatannya "


" baik tuan "


sesuai perkataannya tadi, saat ini ia sedang dalam perjalanan menuju dalang di balik semua peristiwa yang dialami sang kekasih, jangan kalian pikir kalau ia tidak tahu siapa dalang dibalik semua ini, jelas ia sudah tahu, bahkan sejak kecelakaan motor waktu lalu, tapi ia membiarkannya saja karena ia pikir dia tidak akan berani berbuat nekat seperti ini,


ia juga mempertimbangkan untuk tidak membalas perbuatannya karena mengingat hubungan yang sudah terjalin lama antara keluarganya dengan keluarga orang itu, tapi sekarang ia tidak akan peduli lagi dengan hubungan bullsh** itu,


***


" lepaskan akuu!! " teriak seorang wanita dengan kondisi tangan dan kaki terikat kuat di sebuah kursi, luka lecet di pergelangan tangan dan juga kakinya menjadi pertanda bahwa wanita itu terus memberontak minta dilepaskan, " siapa kalian!!!, lepaskan aku!! kalian tidak tahu siapa akuu!!! " teriaknya lagi pada sekumpulan penjaga yang lagi-lagi hanya di jawab oleh keheningan, bukan hanya pergelangannya saja yang terluka, tapi wajah dan juga lengannya hampir di penuhi oleh lebam-lebam kebiruan,


ruangan yang pengap dan panas membuat wanita itu beberapa kali mengalami kesulitan bernapas, terbukti dari suara deru nafasnya yang terdengar berat, bahkan bulir-bulir keringat terus saja bercucuran dari kening wanita itu " SH** " umpatnya lirih ketika luka sobek dibibirnya tidak sengaja tergigit, akibatnya denyutan perih lagi-lagi ia rasakan, ia mendongakkan kepalanya ketika sepasang sepatu tiba-tiba muncul di hadapannya


" DARIEEN!!! "

__ADS_1


***


melihat sosok teman masa kecilnya yang kini terlihat mengenaskan tidak membuat darien iba, justru pemandangan seperti inilah yang ia tunggu-tunggu sedari dulu, rambut pirang yang selalu dibanggakannya kini terlihat acak tak beraturan, wajah sok polosnya itu kini dipenuhi lebam kebiruan, entah apa yang membuat dirinya dulu bisa menyukai wanita ular seperti ini, bahkan hanya mengingatnya saja sudah membuat tubuhnya bergidik ngeri,


dengan santai darien mulai berjalan mendekat ke arah sosok wanita yang sedang terkulai lemas itu, ia menyeringai senang ketika sebuah ide terlintas dikepalanya


" holaaa bit** "


" DARIEEN!!! "


" bagaimana kabarmu " ucapnya sambil mengambil posisi jongkok untuk menyamai tinggi wanita di depannya, darien tertawa mengejek ketika sadar pertanyaan konyol yang baru saja keluar dari mulutnya, " apa kau suka hadiah dariku " lanjutnya


" bagaimana bisa kau tega melakukan ini padaku, kau lup-- " belum sempat wanita itu menyelesaikan ucapannya, darien sudah menyelanya terlebih dahulu " jangan sok polos bianca, seharusnya kau bercermin dulu sebelum bertanya " yaa kalian tidak salah baca, dalang dibalik semua ini adalah Bianca, karena itu darien tidak bisa langsung membalasnya, tapi itu dulu, sekarang ia bebas melakukan apapun pada wanita itu,


mendengar suara ringisan yang bukan sekali dua kali keluar dari mulut bianca membuat darien semakin menyeringai lebar, merasa kurang puas, kini tangannya bergerak mengusap lembut rambut pirang yang sudah terlihat acak-acakan itu, kemudian ia tarik dengan pelan karena merasa gemas, tapi sepertinya bagi bianca tarikannya terlalu kasar, terbukti dari suara jeritan yang keluar dari mulut wanita itu yang terdengar bagai melodi indah di telinganya,


" darien..sakit, lepaskan aku, aku mohon " bukannya merasa kasihan, darien malah merasa jijik saat mendengar wanita itu memohon kepadanya, refleks ia melangkah mundur kemudian menoleh ke arah jam tangannya, ternyata sudah 1 jam lebih ia meninggalkan sang kekasih bersama orang tuanya, sepertinya ia tidak perlu bermain-main lagi, sayang sekali kalau waktunya ia habiskan hanya untuk meladeni satu tikus saja,


" laporkan pada ayahmu bianca, lawan aku juga kalau kalian bisa, tapi sayangnya...dunia ini kejam bianca, mereka tidak akan mau berpihak pada yang lemah, jadi pikirkan lagi sebelum berbuat sesuatu, terakhir...selamat menikmati waktu istirahatmu di rumah sakit, see you "


DOR DOR

__ADS_1


dua peluru berhasil darien tanamkan ke dua paha bianca, suara jeritan kesakitan yang terus keluar dari mulut wanita itu terdengar seperti lagu pengantar tidur untuknya, begitu menenangkan, darien terkekeh saat sadar dirinya benar-benar seorang psikopat, ia harus berterima kasih kepada ayahnya, berkatnya ia jadi punya hobi yang menarik.


__ADS_2