
***
" tidak usah, kau penjahat " tolak cia saat darien ingin membantunya mengancingkan baju, ia baru saja selesai membersihkan diri dengan mendapat sedikit bantuan dari laki-laki itu, keningnya masih dibalut oleh perban, jadi tidak mungkin jika ia bisa keramas sendiri,
" tidak usaah, aku bisa sendiri " tolak cia lagi saat darien masih saja mencoba untuk membantu dirinya, ia tangkis kedua tangan kekar itu dengan pelan, merasa was-was kedua tangan itu akan menyerang dirinya lagi,
ia masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana rasanya ketika tangan itu menjahili asetnya, ngilu, membayangkannya saja sudah membuat cia tidak mau merasakannya lagi.
kancing terakhir berhasil cia kancingkan dengan mulus tanpa gangguan apapun, setelan baju tidur berlengan panjang menjadi pilihannya sebagai outfit selama ia dirawat di rumah sakit, ia merasa lebih nyaman memakai piyama daripada pakaian rumah sakit,
tanpa memperdulikan kehadiran darien, cia dengan santainya berjalan ke arah nakas, tempat rantang pemberian mama Sofia berada, ia belum sempat memakannya karena tadi ia memilih untuk membersihkan diri terlebih dahulu, beberapa menu sarapan khas Madrid tersusun rapi di dalam rantang pemberian mama Sofia, ia tidak tahu dengan jelas nama-nama makanan tersebut, yang pasti setiap makanannya dimasak dengan berbagai macam rempah-rempah yang membuat aroma masakan terasa lebih harum dan menggoda untuk segera di santap,
__ADS_1
fokusnya kini beralih ke rak terakhir dari rantang tersebut, disana terdapat camilan khas Spanyol yang terlihat masih hangat dengan saus cokelat sebagai cocolannya, membayangkan rasa gurih dan manis yang bercampur menjadi satu membuat cia semakin tidak sabar untuk segera menyantapnya,
saat tangannya ingin mengambil satu buah churros, ada satu tangan kekar yang menahan tangannya, cia tahu dengan jelas siapa pemiliknya, jadi ia tidak terlalu dibuat terkejut,
" makan sarapannya terlebih dahulu, makan itu nanti " larang darien saat melihat cia akan mengambil satu buah churros, tangannya dengan sigap menahan tangan sang kekasih lalu dengan enteng ia angkat tubuh mungil itu untuk duduk ke atas pangkuannya, saat dirasa cia sudah nyaman, satu tangannya lagi ia gunakan untuk mengambil semangkuk potaje, sup sehat yang terdiri dari sayuran dan kacang-kacangan, sup ini juga biasanya ditambahkan dengan daging atau beberapa tulang untuk menambah cita rasa, Sup ini pekat, tidak cair seperti sup pada umumnya,
satu sendok potaje berhasil masuk kedalam mulut cia, ia perhatikan dengan seksama bagaimana reaksi kekasihnya setelah sup ini masuk kedalam mulutnya, kedua alis yang mengkerut menjadi pertanda bahwa kekasihnya merasakan keanehan di lidahnya, " kau suka? " tanyanya dengan tangan siap menyuapi kekasihnya lagi
" not bad " mendengar jawaban dari cia membuat darien tidak bisa menahan suara kekehannya, merasa lucu karena perkataan dan tindakan cia sangat bertolak belakang, pasalnya kekasihnya itu malah semakin lahap menerima suapan darinya,
" kenapa tadi kau menyuapi ku sup bukannya ini " protes cia, merasa tidak adil karena dirinya diberi semangkuk sup ketimbang sepiring pancake, dan bodohnya lagi kenapa tadi ia mau-mau saja disuapi sup itu, dengan kesal cia mulai menyuapi satu persatu potongan pancake itu kedalam mulut darien, walaupun sebenarnya ia ingin sekali menggeplak wajah songong di hadapannya, tapi sebisa mungkin ia tahan, apalagi mengingat sepiring churros yang sama sekali belum ia sentuh, tidak lucu kalau camilan selezat itu tidak bisa ia makan hanya karena menggeplak wajah songong di depannya,
__ADS_1
di sela-sela ia menyuapi bayi besar di hadapannya, tiba-tiba saja pikirannya teringat dengan Grace dan Ken, cia mulai merasakan keanehan, ia merasa aneh karena selama ini Grace tidak pernah menghubunginya, Ken juga tidak protes saat dirinya tiba-tiba saja resign dari perusahaannya, dan yang lebih anehnya lagi, kenapa ia tidak pernah terpikir untuk menghubungi sahabat satu-satunya itu, ini pasti karena dirinya terlalu sibuk memikirkan nasib masa depannya, sampai-sampai melupakan orang-orang disekitarnya,
setelah suapan terakhir berhasil masuk ke dalam mulut darien, cia dengan sigap bangkit berdiri dari pangkuan darien kemudian berjalan ke arah ranjang rumah sakit, ia perlu mengecek ponselnya,
kosong, benar-benar tidak ada satupun panggilan tak terjawab atau pesan dari Grace maupun Ken, cia mulai mencurigai laki-laki yang masih asik duduk santai di sofa itu, melihat ketenangannya membuat cia tidak bisa tidak berpikiran aneh-aneh tentang laki-laki itu, " kau apakan ponselku " tanyanya sembari berjalan ke arah darien, meminta penjelasan tentang semua keanehan yang terjadi,
" hanya sedikit pembersihan " jawab enteng darien dengan tangan menyuapi satu buah churros ke depan mulut cia, ia tahu cianya tidak akan bisa menolak camilan khas Spanyol ini, selanjutnya ia dibuat terkekeh saat melihat cia lahap memakan churros di tangannya,
sedangkan cia, ia mau-mau saja saat di suapi camilan yang terbuat dari tepung terigu dan mentega itu, lagian siapa juga yang akan menolak kalau disuapi camilan selezat ini, darien juga harusnya bersyukur, berkat churros, amarahnya sedikit mereda, merasa tidak sabar, cia rebut churros di tangan darien kemudian ia nikmati sendiri, setelah habis, ia ambil sepiring churros di atas meja depan sofa lalu duduk di atas pangkuan darien, posisinya sekarang membelakangi laki-laki itu, menurutnya, dada bidang darien adalah sandaran ternyaman untuk punggungnya,
" kau suka? " tanya darien sembari menelusupkan kedua tangannya ke depan perut sang kekasih, karena tindakannya, gadis yang sedang duduk diatas pangkuannya itu sedikit terhentak, terkejut dengan gerakan tangannya yang tiba-tiba,
__ADS_1
" jangan macam-macam " peringat cia sambil tetap memakan churros dengan saus cokelat yang hampir memenuhi setiap bagian camilan itu
" hhm "