
ranjang yang biasanya terasa hangat, kini hawa dinginlah yang hampir mendominasi busa empuk itu, bantal kesayangan yang biasanya masih setia menemaninya, kini hilang entah kemana, merasakan keanehan, dengan mata tertutup darien raba ranjang disebelahnya, kosong, tidak ada tanda-tanda sosok pemilik manik cokelat keemasan yang biasanya masih ia peluk dengan erat, merasa panik, ia buka paksa kedua manik birunya, sepi, hanya dirinya yang ada di ruangan kaca itu, dengan sigap darien pakai kembali kaos berwarna hitam yang sudah tergeletak tak berdaya di lantai dingin itu sembari berjalan keluar dari kamar,
" sayaaang...." teriaknya sambil terus mencari keberadaan istri mungilnya yang entah ada dimana, saat ia sedang berada di ruang tamu, samar-samar telinganya bisa mendengar suara gemericik air, refleks ia langsung keluar dari villa ini menuju kolam renang di depan,
segumpal kain yang melayang kini menjadi fokusnya sekarang, kain berwarna orange yang terus bergerak didalam sana, tak pernah terlewat sedetikpun dari kedua manik birunya, rahangnya mengeras, kedua tangannya ia kepal dengan kuat, mencoba menahan rasa amarah yang terus bertambah setiap kali melihat kain itu bergerak dengan lincahnya, merasa tak tahan lagi, dengan sigap darien lompat ke dalam kolam renang itu, perbedaan tinggi badan yang signifikan antara dirinya dengan cianya, membuatnya dengan mudah mengejar pemilik kain orange itu, dan hap... ia berhasil menangkapnya,
" aaaaa!!! " suara teriakan dari cianya ia hiraukan, dengan sigap ia bawa tubuh sintal itu untuk ia dudukkan ke pinggiran kolam renang, setelah sampai, ia lepas kaos hitam miliknya kemudian dengan paksa ia pakaikan ke tubuh yang hampir telanjang itu, " apa yang kau pakai " geram darien sambil tetap memegang erat pinggang ramping istrinya agar tidak terjatuh,
kelu, lidah cia terasa sangat kelu sekali walau sekedar hanya untuk di gerakkan, ia tidak menyangka darien akan semarah ini hanya karena ia memakai bikini, padahal jelas-jelas bikini itu yang ada di dalam kopernya, kalau tidak digunakan, terus fungsinya untuk apa, lagipula bukan dirinya yang memasukkannya, para pelayan yang melakukannya, karena ia hanya terima beres saja sesuai perintah laki-laki itu, " bikini... k-kan sayang kalau tidak dipakai " ucapnya takut-takut saat melihat manik biru itu terus menatapnya dengan tajam, " bukannya kau yang memerintahkan para pelayan untuk memasukkannya? " lanjutnya sambil mencoba untuk tidak terlihat ketakutan,
" **** " umpat darien pelan saat sadar bukan cianya yang melakukannya, " maafkan aku mi querido... jangan memakainya lagi..oke? " mendapat sebuah anggukan dari cianya membuat darien tidak bisa menahan senyuman manisnya, merasa senang karena cianya begitu penurut, ia kecup lembut kedua tangan mungil itu kemudian ikut duduk di samping istrinya, lalu dengan sigap ia gendong tubuh sintal itu ala bridal style untuk ia bawa masuk kedalam villa, " tanganmu sudah mengkerut... waktu berenangnya sudah selesai "
***
pasir putih yang membentang mengelilingi sepanjang bibir pantai pulau ini menjadi tempat tujuan cia yang kedua, rambut hitam legamnya yang berterbangan dengan bebas seiring dengan langkah kakinya yang semakin ia percepat, angin sepoi-sepoi yang terus menghantam dirinya menjadi pendukung untuk rambutnya semakin berterbangan tak tahu arah, gaun berwarna putih sepanjang betis dengan tali berbentuk pita di kedua bahunya juga ikut berterbangan ketika angin itu melewatinya, lama-kelamaan langkah kakinya terasa semakin berat kala pasir putih itu telah memenuhi kedua kakinya, merasa lelah, cia memutuskan untuk berhenti sebentar,
" lelah hhm ? " mendengar suara seorang laki-laki yang berasal dari belakangnya, membuat cia refleks membalikkan tubuhnya ke arah laki-laki tersebut, tepat dibelakangnya, berdiri sesosok laki-laki yang memakai pakaian dengan warna yang hampir persis seperti gaun miliknya, laki-laki itu memakai kemeja putih tulang di padu padankan dengan celana selutut berwarna coklat muda, tak lupa kacamata hitam yang setia bertengger di hidung mancungnya, walaupun kedua manik birunya tertutup dengan benda gelap itu, tapi aura ketampanannya tidak bisa disembunyikan,
" tidak, aku hanya... senang berada disini " ucapnya sambil meneruskan kembali langkahnya yang sempat terhenti, " aaa darieeen " cia dibuat kaget saat tiba-tiba saja laki-laki itu berjongkok membelakanginya kemudian tanpa aba-aba menggendongnya seperti anak kecil, " aku tidak lelah, turunkan aku sekarang " protesnya sembari mengalungkan kedua tangannya dengan erat ke leher laki-laki itu, merasa takut karena ia bisa saja terjatuh dan menyakiti kedua bokongnya,
" nikmati saja mi querido "
" jangan menyesa...aaaa darieeen... hhha berhentiii " tawa bahagia itu keluar begitu saja dari mulutnya tanpa bisa cia tahan saat dirinya dibawa berlarian dengan posisi masih berada di gendongan laki-laki itu, merasa lucu karena ia seperti sedang bernostalgia tentang masa kecilnya yang suka bermain gendong-gendongan, bukannya berkurang karena lelah, kecepatan lariannya semakin lama malah semakin bertambah, yang mana membuat cia semakin erat memeluk leher pria itu,
tak cukup dengan bermain gendong-gendongan, sekarang ia sedang berada di atas kuda dengan darien dibelakangnya memeluk perutnya erat, tak lupa laki-laki itu juga menyandarkan dagunya ke atas bahu kanannya, merasa gemas, sesekali cia kecupi pipi yang hampir dipenuhi dengan bulu-bulu halus itu, " bercukurlah " ucapnya sambil ikut memegang tali kekang kuda yang sebenarnya ia juga tidak tahu bagaimana cara menggunakannya, cuaca yang begitu terik tidak menyurutkan cia untuk berhenti menikmati setiap pemandangan yang tersaji di depannya,
__ADS_1
" aku mencintaimu "
" aku juga "
cup
***
" pelan-pelan saja... pegang tanganku.. yaa terus lurus.. jangan berhenti .. sedikit lagi sampai " ucap darien mengarahkan istri mungilnya yang sengaja ia tutup dengan kain merah di kedua manik cokelat keemasannya, tepat didepan sana, sebuah kejutan kecil sudah ia siapkan untuk istri tercintanya itu, taburan bunga mawar merah menjadi pengiring setiap langkah kaki kami, lilin-lilin kecil yang dengan rapi berbaris di sepanjang jalan menjadi pelengkap suasana romantis ini, " oke sampai... sebentar aku buka "
samar-samar kedua manik cokelat keemasannya bisa melihat sebuah meja di tengah-ditengah atap yang luas ini, ia kedipkan kedua maniknya beberapa kali agar pandangannya semakin jelas, taburan mawar mewah yang memenuhi setiap inchi atap ini benar-benar membuat cia speechless, apalagi ditambah dengan lilin-lilin kecil yang terselip di antara tumpukan-tumpukan kelopak mawar itu, benar-benar indah untuk dipandang, tidak bisa berkata-kata, yang bisa cia lakukan hanyalah memberikan sebuah kecupan lembut dibibir seksi laki-laki yang masih setia menggenggam tangannya itu, sebagai ucapan terimakasih karena telah menyiapkan kejutan untuknya,
" kemarilah "
tak hanya dibuat terkesan dengan kejutan ini, ia juga dibuat terkesan dengan sikap laki-laki itu yang dengan gentlenya menarikkan kursi untuknya agar bisa ia duduki dengan nyaman,
menikmati sunset bersama di pinggir pantai, menaiki jet ski, menunggang kuda, berlarian disepanjang bibir pantai, hingga makan malam romantis ditemani dengan ribuan bintang, dalam waktu 10 hari itu, kenangan-kenangan indah terus saja bertambah di setiap harinya, hingga tertanam dengan kuat di ingatannya sampai-sampai tanpa sadar kenangan itu sudah berlalu sekitar satu bulan yang lalu, kini ia sudah kembali ke kenyataan yang sesungguhnya, menjalankan aktivitas sebagai ibu rumah tangga yang penuh dengan gemerlap kemewahan,
yang bisa ia lakukan hanyalah berbaring, makan dan jalan-jalan, semua pekerjaan rumah sudah diambil alih oleh 5 orang pelayan perempuan yang darien pekerjaan khusus untuk dirinya, apalagi ditambah dengan keadaannya yang sedang berbadan dua, membuat darien semakin melarangnya untuk melakukan ini dan itu, yaa.. kalian tidak salah dengar, saat ini dirinya sedang mengandung seorang anak dari laki-laki pemilik manik biru itu, ia juga tidak menyangka akan di beri kepercayaan secepat ini, tapi mengingat bagaimana rajinnya darien bercocok tanam di lahannya, membuat kemungkinan itu menjadi sangat mungkin untuk terjadi,
jika ia sedang bosan begini, pasti pikirannya langsung memerintahkannya untuk menyusul ayah bayi yang sedang dikandungnya ini, entah kenapa semenjak ia hamil, ia suka sekali menempel pada laki-laki itu, sepertinya anaknya akan suka sekali menjahili ayahnya itu, " Robert!!! antar aku kekantor suamiku "
***
Mackenzie corp
__ADS_1
" sayaaang berhentilah bergerak, jangan memancingku seperti itu " geram darien pelan saat istrinya itu terus saja bergerak di atas pangkuannya, sejak ia tahu kalau didalam perut mungil istrinya itu sedang tumbuh anak pertamanya, ia jadi tidak berani untuk masuk kedalam istrinya, ia takut ia akan menyakiti anaknya mengingat dirinya yang tidak bisa bergerak dengan santai,
" aku hanya ingin memeluk dirimu...tidak boleh?! " mendengar cianya itu sedikit menaikkan nada bicaranya, membuat darien langsung paham kalau istrinya itu sedang kesal kepadanya, " boleh...hanya saja jangan terlalu banyak bergerak oke " pasrahnya sembari melingkarkan kedua tangannya pada pinggang ramping itu, jaga-jaga agar istri mungilnya tidak terjatuh, usia kandungannya baru menginjak beberapa minggu, jadi cianya itu masih bisa bergerak dengan bebas tanpa ada halangan apapun, saking bebasnya, ia malah sering dibuat ngeri dengan cara jalan cianya yang semakin sembrono, maka dari itu ia menugaskan beberapa pengawal untuk mengawal istrinya itu kemampuan ia pergi, jadi ia akan merasa sedikit tenang saat sedang ia tinggal bekerja seperti ini, " kau mengantuk? tidurlah " ucapnya sembari menyandarkan dagu istrinya itu keatas bahunya, ia sudah hafal dengan kebiasaan baru istrinya yang suka sekali menyusul dirinya hanya untuk sekedar tidur di atas pangkuannya, walaupun akibatnya beberapa pekerjaannya harus tertunda karena ia tidak bisa bergerak dengan bebas, tapi ia tidak masalah dengan semua itu, justru ia merasa senang jika cianya semakin manja kepada dirinya, sebuah kecupan lembut ia berikan pada puncak kepala yang sedang tertidur dengan nyenyaknya itu, merasa gemas saat mendengar suara dengkuran-dengkuran halus yang keluar dari mulut seksi istrinya itu, setelah puas memberikan kecupan-kecupan singkat, dengan sigap darien melanjutkan kembali pekerjaannya yang sempat tertunda tadi,
***
9 bulan kemudian
" dariiieeen... jangan menggendongnya seperti itu, nanti prince jatuh " protes ibu satu anak itu saat melihat tingkah suaminya yang semakin hari semakin sering membuatnya jengkel,
" kenapa?..aku belajar dari dokter yang membantumu melahirkan sayang..katanya prince suka digendong seperti ini...lihatlah... dia nyaman sayang "
prince Mackenzie, cucu pertama dari keluarga ternama Mackenzie, prince baru saja lahir ke dunia ini satu Minggu yang lalu, tapi dalam waktu satu Minggu ini, anak laki-lakinya itu sudah sering kali menjadi rebutan kakek neneknya ditambah dengan suaminya, ia sebagai ibunya bahkan jarang sekali menggendongnya, paling saat ia sedang menyusui bayi mungil itu baru ia bisa menggendongnya, semua bagian dari bayi mungil itu hampir semuanya diborong oleh gen suaminya, mungkin ia hanya kebagian rambut hitam legamnya saja, tapi suaminya juga berambut hitam legam, oke, sekarang ia akan mulai menerima kenyataan kalau anaknya itu sama sekali tidak mirip dengannya, padahal dirinyalah yang mengandungnya selama 9 bulan, semua suka duka sebagai ibu hamil telah ia rasakan, mulai dari kedua kakinya yang membengkak, pinggangnya yang sering encok, lelah, mual, tidak nafsu makan, sampai ia tidak bisa tidur dengan nyenyak di setiap harinya, untungnya suaminya itu selalu siap siaga saat ia sedang membutuhkan sesuatu, jadi ia tidak terlalu lelah dibuatnya,
melihat pemandangan indah yang selalu diimpikan oleh semua wanita diluaran sana, membuat cia tidak bisa berhenti bersyukur kepada Tuhan karena telah di beri kebahagiaan indah seperti ini,
" sayang kau melamun?? lihat prince...dia tertidur "
" jaga prince..aku akan mandi sebentar "
" baiklah~"
cup
END
__ADS_1
***
akhirnya selesai juga perjalanan kisah cinta cia dan darien😭 terimakasih para pembaca setia cookie yang udah nemenin cookie dari cerita cookie yang masih abstrak banget, sekarang masih abstrak s, cuma lebih baik kali ya>.< tanpa kalian cookie nggak bisa selesain cerita ini dengan hati gembira, awal-awal cookie takut banget nggak ada yang baca soalnya cookie buat ceritanya emang niat ringan, nggak mau berat-berat, ternyata banyak yang suka😭 makasih semuanyaaa😚😚😚 BYE BYE 😭