
sejak pertengkaran mereka 15 jam yang lalu, cia sama sekali tidak mau menoleh ke arahnya, bahkan gadis itu terus mengabaikan ucapannya, darien memakluminya karena ia tahu cia sangat menyukai pekerjaannya, tapi sepertinya cia melupakan satu fakta penting yang sudah sering ia beritahukan kepada gadis itu,
faktanya adalah, ia tidak mungkin melakukan sesuatu yang membuat Kekasihnya itu dalam bahaya, justru ia akan dengan senang hati memberikan nyawanya untuk melindungi sang kekasih yang telah membuatnya merasakan indahnya hidup di dunia ini, walaupun cara melindunginya terbilang kejam, ia akan tetap melakukan itu,
jika akhirnya cia membenci dirinya, ia tidak peduli, karena perbedaan benci dan cinta itu hanya setipis tisu, ia tinggal membuat cia tergila-gila lagi dengannya, hanya satu ketakutannya saat ini, ia takut gadis itu terluka karena dirinya, jika itu benar-benar terjadi, maka ia tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri.
keterdiaman cia semakin menjadi-jadi, membuat darien mulai merasa muak dengan keheningan diantara mereka, saat tangannya ingin menyentuh bahu kanan Kekasihnya, gadis itu langsung menggeser duduknya menjauh darinya,
merasa gemas dengan tingkah cia, darien dengan sigap menyelipkan tangannya ke belakang bahu dan bawah lutut cia, kemudian mengangkatnya tanpa ada rasa keberatan sama sekali, tidak mendapat protesan apapun membuat darien langsung mendudukkan gadis itu ke atas pangkuannya
" berhenti merajuk oke, aku akan meminta koki di mansion mama untuk membuatkan brownies kesukaanmu lagi, tapi....kau harus setuju untuk berhenti mengabaikanku seperti ini " bujuk darien mencoba membuat cia mengalihkan perhatiannya ke arahnya, karena sedari tadi gadis itu hanya diam saja, membuat darien merasa tidak tenang, tapi ia bersyukur karena cia masih mau bersandar di dadanya, dengan lembut tangannya mulai bergerak mengelus rambut hitam legam Kekasihnya itu, sesekali ia kecup pucuk kepalanya sayang.
" huh, dia pikir aku akan luluh kalau di sogok dengan kue brownies, enak saja " batin cia kesal dengan cara darien membujuknya,
saat ini mereka sedang berada diperjalanan menuju mansion utama kedua orang tua laki-laki yang sedang memangkunya ini, ia juga baru mengetahuinya tadi, ia tahu dari cerocosan darien yang sedari tadi ia hiraukan itu,
sinar matahari yang masuk melalui kaca mobil membuat cia menenggelamkan kepalanya kedada bidang darien, ia juga sedikit mengalami jetlag, di Madrid sekarang baru menunjukkan pukul 15.00 sore, karena itu matahari masih bersinar dengan terangnya,
__ADS_1
cia semakin merapatkan cardigannya ketika angin yang entah masuk darimana melewatinya, pertengahan Maret memang waktu yang pas sekali untuk berlibur ke Madrid, musim semi yang mulai datang membuat suhu mulai menghangat, tidak panas dan juga tidak terlalu dingin, selain itu, acara budaya yang paling terkenal di Spanyol juga berlangsung di bulan Maret, di Andalusia tepatnya, Festival de Jerez sedang berlangsung di Jerez, menampilkan para pemain flamenco paling berbakat di tempat kelahiran dan pusat genre musik paling terkenal di Spanyol ini, tetapi acara utamanya adalah Las Vallas di Valencia, festival yang menampilkan minuman dan tarian tanpa henti, pertunjukan kembang api yang fenomenal (dan sangat keras), musik live, dan humor satir, puncaknya adalah ritual massal pembakaran patung papier-mache raksasa (dikenal dengan 'ninots') di jalan-jalan,
tapi cia tidak yakin ia bisa melihat semua festival itu, mengingat darien datang kesini bukan karena ingin berlibur, tapi ingin menyelesaikan sedikit masalah di perusahaannya,
elusan tangan darien di kepalanya membuat cia tidak bisa menahan rasa kantuknya, lama kelamaan kedua manik cokelat keemasannya mulai tertutup, kemudian digantikan dengan suara dengkuran halus yang keluar dari mulutnya, sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya, ia bisa merasakan ada benda kenyal hangat yang menempel di keningnya, membuatnya semakin merasa nyaman, setelah itu, hanya kegelapan yang bisa ia lihat.
" pelankan mobilnya " perintah darien kepada supir pribadi kedua orangtuanya yang ditugaskan untuk menjemputnya dari bandara, ia semakin menyamankan posisi duduknya karena ia berniat untuk menyusul sang Kekasih yang sudah masuk duluan ke alam mimpi itu, sebelum matanya benar-benar terpejam, ia menyempatkan untuk mengecup singkat kedua kelopak mata yang sedikit mengalami pembengkakan karena ulahnya, setelahnya, hanya keheningan yang menyelimuti sepanjang perjalanan mereka
***
Mansion Mackenzie
baru saja kedua kakinya menginjak lantai marmer mansion mewah itu, suara teriakan nyaring seorang perempuan yang sudah bisa darien tebak siapa pemiliknya langsung menyambutnya, dengan sigap ia semakin merapatkan tubuh gadis yang masih terlelap itu kedalam pelukannya
" sssst maaa, pelan-pelan " bisik darien sepelan mungkin, berharap suaranya tidak akan terdengar oleh sang kekasih yang masih tertidur dengan lelapnya
" maafkan mama...mama tidak tahu hhe, sana bawa cia kekamarmu " ucap Sofia ikut-ikutan berbisik, karena gadis yang sedang berada di pelukan anak semata wayangnya itu sedikit bergerak, pertanda tidurnya mulai terusik.
__ADS_1
setelah mengecup singkat kening mamanya, darien melanjutkan lagi langkahnya yang sempat terhenti menuju kamar miliknya, setelah sampai, dengan pelan ia mulai membaringkan tubuh mungil sang kekasih ke atas kasur kingsize miliknya, setelah dirasa Kekasihnya sudah nyaman bergelung dibawah selimut tebal miliknya, darien keluar dari kamar, ia harus segera menyelesaikan masalah yang membuat kejutan spesialnya itu sedikit tertunda.
***
Ruang tamu
" dimana papa? " tanya darien pada sang mama yang tengah asik memainkan ponselnya sambil duduk di sebuah sofa panjang dengan Ariel di atas pangkuannya
" papamu? entahlah, mama juga tidak tahu..mungkin sedang pergi memancing bersama teman-temannya " jawab Sofia dengan tangan aktif mengelus badan kucing besar di pangkuannya
" kapan Ariel datang? " tanyanya lagi sambil ikut bergabung mengelus-elus badan kucing besar peliharaannya itu
" baru saja "
" ooh...darien titip cia sebentar, kabari kalau terjadi sesuatu, makasih ma " tanpa menunggu jawaban dari sang mama, dengan iseng darien langsung pergi begitu saja, ia terkekeh saat samar-samar telinganya bisa mendengar umpatan yang keluar dari mulut wanita tercintanya itu.
" dengarkan mama Ariel, jangan jadi seperti dia oke " nasehat Sofia pada kucing besar peliharaan putranya, ia dibuat senang saat jaguar itu menganggukan kepalanya seolah mengerti apa yang baru saja ia katakan,
__ADS_1
" mama lupa kalau kau juga sudah dewasa, nanti mama datangkan betina untukmu oke, buatlah anak-anak yang lucu, mama dengan senang hati merawat mere...hhha " tawa Sofia langsung pecah saat kucing besar itu menjilat-jilati wajahnya, ia tahu kalau jaguar dipangkuannya ini merasa kesenangan saat ia tawari betina untuknya " oke hentikan, ayo telpon papamu, kenapa dia tidak pulang-pulang dari tadi "