Possessive Ex-Boyfriend

Possessive Ex-Boyfriend
Ex chapter 42


__ADS_3

" terimakasih, biar aku saja " tolak cia halus saat para pelayan terus memaksa untuk membantu dirinya membersihkan tubuh, walaupun mereka sama-sama perempuan, tetap saja ia merasa malu untuk terang-terangan tel*nj*ng di depan mereka semua,


pada akhirnya cia kalah debat dengan para pelayan yang jumlahnya tidak sedikit itu, apalagi saat mereka membawa-bawa nama darien sebagai tuan mereka, ia tidak setega itu sampai membuat para pelayan yang tidak bersalah di pecat hanya karena tidak membantu dirinya mandi,


pijatan lembut di kepalanya berhasil membuat cia merasakan kantuk lagi, apalagi ditambah dengan sensasi berendam di air hangat, membuat tubuhnya semakin rileks dibuatnya, sekarang ia tidak menyesal membiarkan para pelayan menyentuh tubuhnya,


ditengah kenyamanannya, tiba-tiba saja cia tersadar dengan situasi aneh yang sedang ia rasakan, mansion yang sepi, para pelayan yang melayaninya, dan kehadiran gaun putih beserta dengan para perias di dalam kamar darien, bagaimana bisa ia tahu kalau mereka adalah seorang perias, mudah saja, karena di samping mereka sudah berjajar rapi sederetan peralatan make up lengkap dengan hiasan-hiasan untuk rambut, mengingat semua itu membuat pikiran cia berkelana memikirkan sesuatu yang tidak mungkin, karena penasaran, akhirnya cia lebih memilih untuk bertanya pada salah satu pelayan daripada menerkanya sendiri,


" apa ada suatu pesta yang akan terjadi di sini? "


" huh? nona tidak tahu?? hari ini kan pernikahan nona dengan tuan darien "


" apaa!!! "


***


cia benar-benar tidak menyangka dirinya akan menjadi istri orang dalam beberapa jam lagi, entah sudah berapa kali ia mempertanyakan pertanyaan yang sama untuk memastikan pendengarannya tidak bermasalah, tapi melihat wajahnya yang sedang dirias, membuat cia semakin yakin kalau dirinya benar-benar akan menikah hari ini,


decakan kagum tidak bisa cia sembunyikan begitu melihat hasil dari tangan-tangan profesional yang sedari tadi merias wajahnya, make up flawless yang terkesan natural membuat wajahnya terlihat semakin cantik dan segar, di kesehariannya, ia jarang sekali menggunakan make up, biasanya ia hanya menggunakan sunscreen dengan sedikit bedak, jadi saat melihat wajahnya di rias, ia merasa pangling sendiri,


" sudah selesai, sekarang tinggal memakai gaunnya "


" ba--baiklah "


***

__ADS_1


gaun berwarna putih tulang dengan panjang menjuntai sampai kelantai kini telah melekat sempurna di tubuh ramping cia, disekitar tulang selangkanya, terdapat mutiara-mutiara kecil yang membuat gaunnya terlihat semakin cantik, begitu pula dengan tiaranya, tiara dengan ukuran sedang yang sudah ditata sedemikian rupa diatas kepalanya itu juga di dominasi dengan hiasan mutiara-mutiara kecil, bukannya terlihat berlebihan, justru tiara itu membuat penampilannya terlihat semakin elegan,



Perasaan gugup sekaligus cemas yang sedari tadi menyerangnya kini semakin tidak bisa cia kendalikan, cuaca yang hangat bahkan tidak bisa membuat tubuhnya ikut menghangat, untuk mengurangi rasa cemasnya, cia genggam kedua tangannya erat-erat, sesekali ia remas ujung veilnya sebagai pelampiasan,


detik demi detik terus berlalu tapi perasaan cia malah semakin dibuat tidak menentu, kini ia benci kata menunggu, ia tidak tahu kalau kata menunggu akan menjadi semenakutkan ini, berulang kali ia mencoba mengatur pernapasannya agar membuat tubuhnya sedikit rileks, tapi gagal, segala upaya juga sudah ia coba, tapi tidak ada satupun yang berhasil membuat tubuhnya sedikit tenang, merasa lelah sendiri, cia memutuskan untuk kembali duduk, belum sempat bokongnya menyentuh gumpalan busa itu, terdengar suara ketukan pintu, dengan sigap cia langsung menegakkan tubuhnya kembali, " masuuk " jawabnya


ceklek


Begitu pintu terbuka, muncul sosok seorang laki-laki yang sangat cia kenali sedang berdiri tepat di tengah-tengah pintu, laki-laki itu memakai setelan jas berwarna hitam lengkap dengan dasi kupu-kupu, yang mana membuat penampilannya terlihat semakin muda, " pa, ci-cia gugup sekali " adunya sembari berjalan menghampiri laki-laki yang ia sebut sebagai papa


" it's okay, itu normal, dulu waktu papa meminang mamamu, papa bahkan sampai tidak bisa tidur " mendengar candaan atau sebenarnya kenyataan dari papa Leon membuat cia merasa sedikit rileks, dengan yakin, ia terima uluran tangan dari papa Leon untuk menuntunnya sampai ke altar, menurut informasi dari para pelayan, halaman belakang yang luasnya hampir seluas lapangan sepak bola itu yang menjadi tempat pemberkatannya,


" sudah siap? "


***


halaman belakang yang tadinya hanya di isi dengan pohon-pohon dan beberapa bangku kayu, kini berubah menjadi lautan bunga mawar putih, ia tidak tahu kapan panggung untuk prosesi pemberkatannya ini di bangun, ia benar-benar speechless dibuatnya,


disepanjang jalan menuju altar, hiasan bunga mawar putihlah yang menyambutnya, sangking banyaknya, ia bahkan sampai bisa mencium aroma harum yang dikeluarkan bunga-bunga tersebut, dan tepat diujung sana, berdiri sosok seorang laki-laki yang sebentar lagi akan menjadi suaminya,


langkah demi langkah terasa sangat menegangkan bagi cia, ia bahkan merasa jantungnya seperti akan melompat keluar dari tempatnya jika ia tidak menahannya dengan sekuat tenaga, kini jarak diantara kami berdua semakin dekat, begitu juga dengan penglihatannya yang semakin jelas, sekarang kedua manik cokelat keemasannya bisa melihat dengan jelas sosok yang dibalut setelan jas navy itu, harus ia akui bahwa laki-laki yang akan menjadi suaminya itu sangatlah tampan, rambut hitam legamnya yang biasanya selalu terlihat santai, kini kesan tegaslah yang dapat ia lihat, bahkan dari cara kedua manik biru itu memandangnya, hingga cara dia berdiri, semuanya terasa sangat berbeda dari biasanya,


tanpa cia sadari, kini ia telah sampai tepat di hadapan laki-laki itu,

__ADS_1


" jaga cia untukku, atau aku akan mencoretmu dari KK " pesan atau lebih tepatnya ancam papa Leon sembari melepaskan tautan tangan kami berdua kemudian memberikannya kepada anak semata wayangnya,


" dengan senang hati "


***


sosok seorang gadis yang tengah berjalan ke arah dirinya benar-benar telah mengambil alih seluruh isi dunianya, bahkan kedua manik birunya dibuat tidak bisa berpaling walau hanya sedetik pun, kini rasanya hanya sosok itu yang terlihat di kedua bola matanya, sedangkan yang lainnya, terasa seperti bayang-bayang samar yang hampir pudar,


" Saudara darien, maukah saudara menerima wanita ini sebagai istri yang dijodohkan oleh Tuhan didalam pernikahan yang kudus ? Maukah saudara mengasihi dia, menghibur dia, menghormati dan memelihara dia baik pada waktu dia sakit maupun pada waktu dia sehat , serta melupakan orang lain tetapi hanya mengasihi dia saja, selama saudara berdua hidup didunia ini ? "


Suara lantang pendeta berhasil membangunkan lamunannya dari rasa kekagumannya, dengan penuh keyakinan, ia serukan kata-kata yang membuat tubuhnya ikut merinding saat mengucapkannya " yes, i do " sedikit demi sedikit perasaan gugup yang sedari pagi menggerogotinya mulai pergi, yang ada sekarang hanyalah perasaan yakin dan kebahagiaan tiada tara,


Ternyata tidak semudah itu, sekarang ia dibuat was-was saat pertanyaan yang tadi di ajukan kepadanya berganti di ajukan kepada sosok perempuan yang sedang ia genggam tangannya dengan kuat, ia harus menyiapkan mentalnya jika saja perempuan yang amat ia cintai itu tidak mau menerimanya, tapi bukan berarti ia akan menyerah begitu saja, justru jika diperlukan, ia tetap akan memaksa cianya untuk menikah dengannya, memikirkan semua kemungkinan itu, membuat darien tanpa sadar terkekeh kecil,


Semua pikiran jahatnya langsung lenyap begitu telinganya mendengar kata setuju dari sosok gadis di depannya, senyuman manis yang jarang sekali ia perlihatkan kini muncul tanpa bisa darien cegah, sedangkan perutnya, ia merasa seperti ada ribuan kupu-kupu yang sedang berterbangan dengan bebas di dalam perutnya, Sebentar lagi inti dari semuanya akan segera di mulai, ia sudah tidak sabar untuk segera mencium bibir mungil Semerah ceri itu,


"Saya Darien Mackenzie mengambil engkau Alecia menjadi istri saya, dengan mengasihi, menghormati, dan memelihara engkau sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan, ini janjiku padamu!"


"Saya Alecia mengambil engkau Darien Mackenzie menjadi suami saya, dengan mengasihi, menghormati dan memelihara engkau sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan, ini janjiku padamu!"


ia semakin dibuat tidak sabar saat mendengar sumpah dari istrinya, yaa sekarang cianya sudah resmi menjadi istrinya, tanpa menunggu instruksi dari sang pendeta, dengan sigap ia buka penutup kepala istrinya, kemudian ia l*m*t bibir Semerah ceri itu dengan lembut, rontaan dari cianya ia hiraukan, kini sebelah tangannya sudah bertengger cantik dibelakang tengkuk istrinya, tanpa basa basi, ia semakin memperdalam ciuman mereka, sorakan dari para tamu undangan tidak membuat darien menyurutkan niatnya untuk segera melepaskan bibir Semerah ceri ini, yang ada dirinya malah semakin dibuat semangat mela*h*p bibir mungil istrinya,


" Lihat anak siapa itu, liar sekali "


" Tentu saja anak kita, jangan menyalahkan aku lagi, darien mendapatkan sifat itu dari kita berdua "

__ADS_1


" Huh!! "


__ADS_2