
Royal Palace of Aranjuez, sebuah situs kerajaan yang akan menjadi tempat tujuan pertama tour mandirinya, istana kerajaan yang dibangun oleh Felipe II di situs istana tua para tuan Santiago itu mulai di bangun pada tahun 1564, istana aranjuez lebih megah daripada istana mana pun yang ditawarkan oleh kota Madrid,
Royal Palace of Aranjuez adalah tempat peristirahatan favorit bagi para bangsawan Spanyol selama berabad-abad, Istana dengan 300 kamar ini meniru Versailles Prancis dan dikelilingi oleh taman yang luas dan terawat sempurna. Museum dengan alasan memamerkan segala sesuatu mulai dari perhiasan kerajaan di Casa del Labrador hingga kapal pesiar yang dicintai oleh bangsawan dengan terlalu banyak waktu luang di Museo de Falúas.
pada tour pertamanya ini, cia tidak sendiri, ia ditemani oleh seorang bodyguard yang menjelma menjadi supir pribadi sekaligus pemandu tournya,
saat ia izin untuk pergi jalan-jalan, tanpa ba-bi-bu mama Sofia langsung memanggil semua bodyguard yang ia punya untuk menemaninya, jelas saja ia langsung menolaknya, ia hanya ingin pergi jalan-jalan sebentar, bukan bertarung,
akhirnya setelah perdebatan panjang yang hampir menguras seluruh energinya itu, cia yang menang, walaupun begitu, ia tetap harus menerima syarat yang di berikan mama Sofia kepadanya, syaratnya yaitu, ia harus bersedia di temani satu bodyguard milik keluarga Mackenzie, tentu saja cia sangat setuju dengan syarat itu, mana mungkin ia berani menjelajahi kota Madrid ini sendirian, ia sadar betul ia tidak tahu apa-apa tentang kota yang yang dijuluki sebagai kota yang 'terbangun' ketika langit malam turun ini,
sudah hampir 30 menit cia duduk anteng di dalam sebuah mobil yang terkenal dengan tingkat keamanannya yang tinggi, Maserati Ghibli, mobil yang harganya ditaksir bisa mencapai 3.2 miliar rupiah itu menjadi kendaraan yang harus ia gunakan sebagai syarat kedua ia boleh pergi keluar, entah apa tujuan ia diharuskan memakai mobil ini, padahal ia hanya seorang gadis biasa dari keluarga yang biasa-biasa saja juga,
( Maserati Ghibli )
butuh waktu sekitar satu jam untuk sampai ke istana Aranjuez, kondisi jalan yang lenggang membuat cia tidak bosan-bosannya menatap bangunan-bangunan tua yang berjejer rapi di sepanjang jalan, tapi itu tidak bertahan lama, karena tiba-tiba saja ada sebuah mobil menyenggol mobilnya dari arah samping
BRAAAK
rasa pusing disertai denyutan perih langsung cia rasakan setelah kepalanya terbentur dengan keras ke kaca mobil di sampingnya, teriakan dari Edward bodyguard khusus keluarga Mackenzie bahkan terdengar samar-samar di telinganya, semuanya terasa buram, bahkan kesadarannya seakan sedang di tarik paksa keluar dari tubuhnya,
setelah beberapa menit berlalu, akhirnya cia bisa mendengar dan melihat dengan jelas, dengan panik ia langsung memegang kuat-kuat sabuk pengaman yang sedang ia pakai ketika kedua manik coklat keemasannya bisa melihat dengan jelas mobil tadi sedang mencoba menabrak mobil kami lagi,
__ADS_1
" pegangan yang kuat nonaa!! " mendengar teriakan dari Edward membuat cia semakin merasa takut, jelas ini bukan kecelakaan biasa, rasanya orang itu memang sengaja mau mencelakai dirinya, saking paniknya, cia bahkan sampai melupakan rasa sakit karena benturan tadi, bahkan darah yang menetes dari keningnya saja tidak ia sadari,
di sela-sela kepanikannya, samar-samar cia bisa melihat Edward sedang menelpon seseorang, setelah selesai menelpon, kini cia bisa merasakan pria itu semakin kencang melajukan mobilnya membelah jalanan yang lenggang itu, rasa takut terus menerus menghantui cia, air mata bahkan tak henti-hentinya mengalir dari kedua matanya, ia takut hidupnya akan berakhir tragis seperti ini,
saat cia menoleh kebelakang, bukan hanya satu mobil saja yang mengikutinya, kini ada 3 mobil sedan yang mengejarnya, " siapa mereka Edward!! " bentak cia, sebenarnya ia tidak bermaksud membentak pria itu, tapi karena perasaan takutnya terlalu mendominasi, jadinya ia tidak bisa menjaga intonasi nada bicaranya
" tenang saja nona, bantuan sedang menuju kemari " mendengar jawaban Edward yang kelewat santai membuat cia kesal, bagiamana ia bisa tenang kalau nyawanya sedang terancam seperti ini,
bahkan beberapa kali tubuhnya terbentur pintu mobil di sampingnya ketika pria itu mencoba menghindar dari kepungan 3 mobil yang semakin ganas menyerang mobil mereka
" Edward!! kenapa kau lambat sekali!! "
" ini sudah kencang nona "
" SH** " umpat cia, sedari tadi mulutnya tidak mau berhenti merutuki Edward yang sudah menyepelekannya,
" tenang nona, tetap menunduk seperti itu "
" SH** kenapa dia selalu menyuruhku tenang, mana ada manusia yang bisa tenang di situasi seperti ini " batin cia kesal
" bantuan sudah datang "
cia refleks menoleh ke arah belakang saat mendengar perkataan Edward, bisa ia lihat ada 4 mobil yang kini mengepung 3 mobil sedan yang sedari tadi mengikutinya,
akhirnya cia bisa bernafas lega, kemudian ia sandarkan tubuhnya di sandaran mobil sambil memijat pelan keningnya yang terasa sedikit pusing, cia sedikit meringis saat tangannya tidak sengaja menyentuh luka bekas benturan tadi, rasa sakit itu baru terasa saat rasa panik dan takutnya sudah hilang,
__ADS_1
Cia elap darah yang sedikit keluar itu dengan dress yang sedang ia pakai, sekarang ia tidak tahu ia akan dibawa kemana, tenaganya benar-benar sudah habis walau sekedar digunakan untuk bertanya, cia memilih diam sambil memejamkan kedua matanya, mencoba menghalau rasa pusing yang semakin melanda,
Cia sedikit menyayangkan sambutan pertama yang ia dapat saat keluar untuk jalan-jalan, ia merasa sambutannya terlalu anti-mainstream untuk dirinya, sekarang ia tahu kenapa ia diharuskan memakai mobil ini, entah siapa yang kurang kerjaan mengincar dirinya,
***
" kita akan kerumah sakit nona, tuan darien sudah menunggu anda disana " ucap Edward yang hanya di jawab dengan sebuah gumaman oleh nonanya, ia menghela nafas panjang, mencoba menguatkan dirinya yang pasti akan mendapat sebuah bogeman mentah karena tidak becus menjaga kekasih tuannya,
ia tidak tahu seberapa parah tuan darien akan menghukumnya, apalagi setelah melihat kondisi nonanya yang bisa di katakan tidak baik itu,
detak jantungnya langsung berdegup dengan kencang saat mobil yang ia kendarai berhenti tepat di parkiran rumah sakit, dari jauh ia bisa melihat tuan darien yang sedang berlari ke arah mobil mereka, rasa panik seketika langsung menyerangnya " apakah ini yang dirasakan nonanya tadi " ucap batin edward, sepertinya bukan hanya nonanya saja yang akan dirawat dirumah sakit, tapi dirinya juga akan ikut-ikutan di rawat.
dengan sigap Edward keluar kemudian membukakan pintu mobil untuk nonanya begitu melihat tuannya sudah hampir sampai di mobil mereka, dan.... BUGH sebuah bogeman mentah benar-benar ia dapatkan,
" tunggu hukuman dariku "
mendengar perkataan tuannya membuat Edward hanya bisa menelan ludahnya kasar " habis sudah riwayatnya " gumamnya lirih
***
melihat mobil yang tidak asing di kedua manik birunya membuat darien langsung berlari ke arah mobil itu, sebuah penyokan di pintu belakang berhasil membuat darien tidak bisa menahan emosinya lagi, dengan kuat ia meninju pipi bodyguard keluarganya untuk melampiaskan sedikit amarahnya, apalagi saat kedua manik birunya melihat kondisi sang gadis yang tidak baik-baik saja itu,
dengan rahang yang semakin mengeras, dengan lembut darien mengangkat tubuh lemah sang kekasih untuk segera di obati, " maafkan aku " ucapnya menyesal saat melihat beberapa lebam di tubuh gadis itu, ia semakin dibuat bersalah saat matanya tidak sengaja melihat sebuah noda darah di gaun putih kekasihnya,
" darieen "
__ADS_1
" aku disini, maafkan aku "