Possessive Ex-Boyfriend

Possessive Ex-Boyfriend
Ex chapter 34


__ADS_3

" di mana dia? " tanya seorang perempuan dengan rambut pirang yang terurai acak acakan, di tangannya terdapat sebuah pistol mematikan yang sedang ia mainkan dengan santainya


" perempuan itu sedang bersama pemimpin Mackenzie nona "


tangan perempuan itu langsung mencengkeram kuat pistol yang sedang berada di genggamannya begitu mendengar kalimat yang membuat darahnya mendidih seketika, " katakan dengan jelas!!! " bentaknya merasa kurang puas dengan informasi yang disampaikan anak buahnya


" ma--maaf nona, mereka sedang berada di Madrid sekarang " ujar anak buah itu ketakutan, tubuhnya bahkan gemetaran saking takutnya pistol yang sedang mengarah ke kepalanya itu benar-benar akan mengeluarkan timah panas


" disini? " tanyanya memastikan, setelah di jawab dengan sebuah anggukan oleh anak buahnya, rasa senang tiada tara tidak bisa perempuan itu tahan, suara tawa yang menggema di sebuah ruangan yang di dominasi warna coklat itu menjadi pertanda bagaimana bahagianya perempuan berambut pirang yang kini terlihat semakin acak-acakan, tawanya langsung terhenti begitu ide jahat terlintas di kepalanya, perempuan itu menyeringai senang sambil memutar-mutar pistol di tangannya " terus awasi dia "


" baik nona "


***


pagi-pagi cia sudah dibuat kesal saat laki-laki yang semalam ia rawat karena demam itu sudah kelayapan entah kemana, tidak ada yang tahu kemana laki-laki itu pergi, bahkan kedua orang tuanya saja lupa kalau anak mereka sedang berada disini, membuat cia hanya bisa tersenyum canggung mendapati jawaban yang membuatnya speechless itu,

__ADS_1


alhasil dirinya sekarang hanya bisa mondar mandir sana sini tanpa tujuan yang jelas, ia merasa canggung kalau harus ikut bergabung dengan kedua orang tua darien, sebisa mungkin ia akan menyibukkan dirinya sendiri, entah berkeliling mansion atau bermain dengan Ariel, tapi harapannya langsung kandas saat mama Sofia memanggilnya, dengan pasrah cia mengikuti kemana mama Sofia akan membawanya pergi,


ternyata ia di bawa ke hadapan papa Leon, membuatnya semakin merasa was-was, tapi akhirnya cia bisa bernafas lega saat ia tahu tujuan ia di ikut sertakan dalam kumpulan keluarga ini, pemilihan betina untuk Ariel, itulah judul dalam diskusi yang terasa seperti sidang ini, perdebatan sengit sepasang suami istri yang masih terlihat seperti ABG itu membuat cia hanya bisa menelan ludah kasar, tidak tahu apa yang harus ia lakukan,


ia jadi bertanya-tanya, apa sebenarnya arti kehadirannya disini, akhirnya yang bisa cia lakukan hanyalah mengelus-elus tubuh gempal kucing besar yang sedang tertidur pulas di atas pangkuannya, ia dibuat takjub saat kucing besar itu tidak terusik sedikit pun, seakan-akan telinganya sudah kebal mendengar cekcok sepasang suami istri yang masih setia beradu argumen itu, bahkan telinganya saja rasanya sudah tidak kuat, dari percekcokan itu cia jadi tahu satu hal, ternyata papa Leon tidak sependiam yang ia kira,


akhirnya setelah perdebatan panjang itu, pilihan mama Sofia yang menang, kalian tahu apa yang mereka debatkan? mereka debat hanya karena perbedaan letak corak tutul di tubuh jaguar betina pilihan mereka masing-masing, cia benar-benar dibuat ngeri dengan sepasang suami istri di hadapannya ini,


***


sempat terlintas di pikirannya untuk pergi jalan-jalan sendiri, tapi mengingat dirinya tidak tahu apapun tentang Madrid, ia jadi mengurungkan ide tersebut,


yang setia menemani dirinya dari pagi sampai ke petang hanyalah seekor kucing besar yang sedang sibuk bermain dengan mainannya di hadapannya, ia heran kenapa Ariel suka sekali mengikutinya, padahal mereka juga baru dekat akhir-akhir ini, tapi ia bersyukur kucing itu terus menempeli dirinya, ia jadi punya teman mengobrol, yaah walaupun hanya ia yang aktif mengoceh, tapi ajaibnya, kucing itu akan duduk diam sambil menatap ke arah kedua matanya saat ia sedang mengoceh, seolah-olah kucing itu benar-benar mengerti maksud ucapannya, membuat cia senang bukan main.


jam menunjukkan pukul 10 malam, ternyata sudah 3 jam cia menunggu kepulangan darien, tapi laki-laki itu tak kunjung juga menampakkan diri, bahkan kedua manik cokelat keemasannya sudah terasa berat, tapi ia masih memaksakannya untuk tetap terjaga,

__ADS_1


lama-kelamaan rasa kantuk itu semakin menyerangnya, membuat cia sudah tidak kuat lagi menahan gejolak ingin segera pergi ke alam mimpi, akhirnya cia menyerah, ia lebih memilih untuk tidur duluan, ia sudah mengembalikan Ariel ke kandangnya selepas makan malam tadi, jadi ia sudah merasa sedikit tenang, tak butuh waktu lama untuk dirinya menyelam ke alam mimpi, suara dengkuran halus yang keluar dari mulutnya menjadi pertanda dirinya sudah benar-benar terlelap,


beberapa menit setelah cia tertidur, laki-laki yang sedari tadi gadis itu nantikan akhirnya pulang, tapi sayang dirinya sudah terlelap,


dengan pelan pria pemilik manik biru itu mulai berjalan mendekat ke arah sang gadis, setelah sampai, ia usap surai kehitaman itu lembut, kemudian ia daratkan satu kecupan di bibir mungil yang sedikit terbuka itu, setelah puas memandangi wajah polos sang gadis, laki-laki itu bangkit lalu berjalan menuju kamar mandi, ia perlu membersihkan tubuhnya yang terasa sedikit lengket karena seharian ini ia harus menyelesaikan beberapa pekerjaan yang seharusnya ia kerjakan minggu-minggu berikutnya, ini semua ia lakukan agar ia punya waktu untuk berlibur tanpa harus memikirkan pekerjaan lagi,


hanya butuh waktu 15 menit untuk dirinya menyelesaikan ritual malamnya, setelah selesai mengeringkan rambut, laki-laki itu langsung merebahkan tubuhnya di samping tubuh sang gadis, kemudian dengan pelan ia bawa tubuh gadis itu kedalam pelukannya,


aroma menenangkan yang dikeluarkan tubuh sang gadis membuat darien tidak bisa berhenti untuk terus menghirupnya, merasa kurang puas, ia telusupkan kepalanya ke ceruk leher sang gadis, disana ia semakin rakus menghirup aroma yang membuatnya kecanduan itu, rasa lelah bercampur dengan rasa nyaman membuatnya tidak butuh waktu lama untuk menyusul sang gadis ke alam mimpi.


***


lagi dan lagi saat ia membuka kedua manik cokelat keemasannya laki-laki itu sudah pergi, membuat cia semakin kesal dibuatnya, tadinya ia pikir mungkin itu hanya berlaku untuk beberapa hari saja, tapi sudah seminggu ini laki-laki itu terus seperti itu, baiklah, ia akan pergi jalan-jalan sendiri saja, mungkin saja ia bisa menemukan laki-laki yang lebih tampan dan lebih waras dari darien, bahkan rasanya sudah lama sekali ia tidak melihat wajah pria pemilik manik biru itu, karena darien akan berangkat pagi-pagi sekali sebelum ia bangun kemudian pulang setelah ia terlelap, begitu seterusnya sampai sekarang,


cuaca yang cerah membuat cia merasa sudah tidak sabar lagi untuk segera menjelajahi kota Madrid " let's goooo "

__ADS_1


__ADS_2