Possessive Ex-Boyfriend

Possessive Ex-Boyfriend
Ex chapter 20


__ADS_3

" Kenapa ramai sekali, apa terjadi sesuatu? " Leon keheranan saat melihat semua pelayan dan istrinya seperti sedang panik dan terlihat mencari sesuatu


Ia baru saja mengantar Jackson sahabatnya ke bandara, makanya ia tidak tahu peristiwa apa yang telah terjadi


" Cia menghilang " Jawab Sofia sambil berjalan menghampiri suaminya


" Menghilang?? "


" Iya, darien sedang mencarinya keluar "


" Mana mungkin hilang Tante, cia sudah dewasa, masa tidak tahu jalan pulang " sela Bianca tidak suka saat semua orang mengkhawatirkan cia,


Sofia mengabaikan ucapan Bianca, ia sebenarnya tidak terlalu suka dengan bianca, entah apa yang membuat putranya dulu bisa jatuh cinta dengan perempuan sepertinya


" Itu mereka "


Mendengar ucapan suaminya, membuat sofia refleks menoleh ke arah pintu masuk


Bukannya senang, Sofia malah merasa gemas sendiri dengan anaknya yang seenaknya memanggul anak orang lain seperti karung beras


" Darieeen!!! Astaga!! Turunkan cia "


Bukannya menuruti perkataan mamanya, darien malah pamit ke kamarnya kemudian pergi begitu saja


" Maaa selamatkan ciaa " pinta cia pasrah dari atas panggulan darien ke arah mama sofia


" Maaf sayang " sofia juga tidak bisa berbuat apa-apa saat darien sudah membuat ekspresi serius seperti itu


" Diam sayang " darien menepuk lagi pinggul cia, tapi tidak sekeras tadi


" Berhenti menepuknya!! " sewot cia kesal sambil mengusap-usap pinggulnya, merasa sakit karena darien menepuknya dengan keras


Melihat semua adegan itu membuat Bianca tidak tahan lagi, untuk melampiaskan kekesalannya ia mengepalkan kedua tangannya erat, kemudian pamit pergi ke kamarnya dipandu oleh seorang pelayan


" Kenapa dia tidak pulang bersama ayahnya saja tadi " ucap Sofia tidak suka


" Biarkan saja, katanya dia masih ingin jalan-jalan di sini "


***


Kamar Darien

__ADS_1


Keadaan kamar darien benar-benar kacau sekarang, ini karena cia yang beberapa kali mencoba kabur dari kungkungan darien, tapi selalu berhasil darien tangkap dan ia tindih kembali,


Seperti saat ini, cia masih mencoba untuk keluar dari kungkungannya, membuat gaun yang cia pakai sedikit tersingkap keatas, dengan jahil darien menyentuh lembut paha cia yang terlihat, kemudian mencubitnya pelan


" Darienn!! Singkirkan tanganmu dari pahaku sekarang juga!! " cia tidak bisa melawan karena kedua tangannya dicekal tangan kanan darien kemudian menyatukannya ke atas kepala


" Berhenti memberontak maka aku akan melepaskannya "


" Oke-oke " dengan pasrah cia menuruti perkataan darien,


Lalu sesuai janjinya, darien melepaskan paha cia kemudian menurunkan gaun cia yang sedikit tersingkap


" Sekarang lepaskan aku " cia tahu rasanya percuma menyuruh darien untuk melepaskannya, buktinya, bukannya melepaskannya, darien malah berbaring ke atas dadanya, membuatnya merasa sedikit sesak, ia hanya diam saja, ia benar-benar tidak ingin berdebat dengan darien


" Kenapa diam saja? " tanya darien dengan masih berbaring nyaman di atas dada empuk cia,


Hanya keheningan yang menjawab darien


" Itu hanya masa lalu cia, percayalah padaku oke "


" Aku tidak percaya "


" Semuanya "


Darien terdiam, ia tahu ia salah karena tidak pernah menceritakan masa lalunya ke cia,


Darien melakukan semua itu karena tidak ingin cia kepikiran, apalagi mereka bersekolah di sekolah yang sama saat SMA,


Darien semakin mengeratkan pelukannya, kemudian beralih menenggelamkan kepalanya ke ceruk leher cia


" kejadian di malam prom night itu...


jantung cia langsung berdebar kencang saat darien mulai mengungkit kejadian yang membuat mereka berpisah, dan lebih parahnya lagi darien langsung menghilang sehari setelah kejadian itu, merasa kesal, cia mencubit perut rata darien dengan keras membuat darien mengaduh kesakitan,


tapi rasanya itu belum cukup untuk melampiaskan kemarahannya, dengan gemas cia mulai menjambaki rambut darien


" aaaah!!! hei-hei sayang hentikan oke " darien mencoba menjauhkan tangan cia dari rambutnya, ia bisa merasakan beberapa helai rambutnya tercabut karena jambakan cia,


setelah beberapa kali percobaan akhirnya kedua tangan cia sudah ada di dalam genggamannya, " hentikan oke, beri aku waktu untuk menjelaskan kejadian itu, boleh? "


melihat tatapan serius dari darien membuat cia seolah-olah terhipnotis kemudian tanpa sadar menganggukkan kepalanya

__ADS_1


" sebentar " darien mengambil posisi duduk bersandar di headboard kasur, kemudian ia membawa cia untuk duduk di atas pangkuannya


" itu semua bukan kemauanku cia, Bianca yang menjebak ku, dia memasukkan sesuatu ke dalam minumanku dan aku tidak bisa merusakmu, kau paham maksudku kan? "


" kau langsung menghilang setelah kejadian itu kena-- " belum sempat cia menyelesaikan kalimatnya darien sudah menyela


" aku harus segera menyelesaikan pendidikan ku dan juga belajar mengelola perusahaan, itu adalah syarat dari papa agar aku bisa bebas melakukan apapun yang aku suka.." darien membawa kepala cia untuk bersandar ke atas dadanya kemudian melanjutkan perkataannya


" dan kalau kau mau bertanya kenapa aku tidak pernah menghubungi mu, itu karena jika aku mendengar sedikit saja suaramu, mungkin saja aku akan langsung menghampiri mu dan melupakan tanggung jawabku, 5 tahun aku menahan semua itu cia"


mendengar penjelasan darien membuat cia merasa kasihan, tapi tetap saja perbuatan darien itu salah dan tidak bisa dibenarkan


" selama 5 tahun itu, apa kau pernah jajan di luar? "


mendengar pertanyaan cia membuat darien mati kutu, ia bingung harus menjawab apa


" darien, detak jantungmu berdebar kencang "


skakmat, merasa tidak bisa berbohong lagi akhirnya darien jujur " mmm beberapa kali "


cia sudah menduganya, tapi tetap saja ia merasa kecewa, " kapan kita akan pulang "


" nanti sore, tidurlah aku akan membangunkan mu nanti "


kecupan di kening dari darien membuat cia merasa semakin nyaman, lama kelamaan manik cokelat keemasan nya mulai tenggelam digantikan suara dengkuran halus yang keluar dari mulutnya,


melihat semua itu membuat darien tidak bisa menahan rasa gemasnya, beberapa kali ia kecup singkat bibir mungil cia kemudian ikut memejamkan kedua matanya


***


darien tahu kalau daritadi cia merasa tidak nyaman, ini semua karena Bianca yang memaksa ikut naik ke jet pribadinya, dan darien tidak bisa menolak itu hanya karena satu alasan, Bianca anak teman dekat papanya,


karena itu darien membawa cia ke dalam kamar yang ada di dalam pesawat, mengukungnya untuk dirinya sendiri,


Michael sudah ia suruh pulang terlebih dahulu, karena ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan menggantikan dirinya


cia mulai merasa kepanasan karena darien tidak pernah mau melepaskan pelukannya dari tubuh cia, bahkan bisa cia rasakan darien sedang membuat beberapa tanda di sekitar dadanya, cia tidak bisa melihat karena darien menyelimuti tubuhnya sampai batas leher, sementara kepala darien masuk kedalam selimut, karena itulah cia merasa kepanasan


" darien hentikan itu " ucap cia sambil mencoba menjauhkan kepala darien dari dadanya, tapi akhirnya cia mengalah, ia membiarkan darien berbuat sesuka hatinya, karena ia merasa lelah sendiri menghentikan darien yang tidak pernah mau menuruti perkataannya


sementara itu Bianca yang merasa sengaja di abaikan oleh darien, memilih menghabiskan waktunya untuk meminum sebotol wine yang disediakan oleh seorang pramugari dengan perasaan dongkol

__ADS_1


__ADS_2