Possessive Ex-Boyfriend

Possessive Ex-Boyfriend
Ex chapter 38


__ADS_3

Aroma sabun yang begitu menenangkan membuat seorang gadis yang tengah tertidur semakin menelusupkan kepalanya ke arah aroma tersebut, bukan hanya aroma menenangkan saja yang ia dapatkan, tapi juga rasa hangat, membuatnya semakin masuk hingga tanpa sadar membangunkan sipemilik aroma dan rasa hangat tersebut,


" Selamat pagi " mendengar suara yang akhir-akhir ini tidak ia sukai, membuat gadis itu langsung membalikkan tubuhnya memunggungi si pemilik suara tersebut, karena gerakannya yang tiba-tiba, membuat kepalanya terasa sedikit pusing, alhasil suara ringisan lirihpun keluar dari mulutnya tanpa bisa gadis itu tahan,


" pelan-pelan " ucapan yang begitu tersirat kekhawatiran disertai usapan lembut di kepalanya membuat gadis itu merasa semakin nyaman, rasa pusing yang tadi merasukinya seketika hilang entah kemana, " terimakasih " ucapnya tanpa mau menoleh ke arah pemilik tangan yang masih setia mengelus-elus kepalanya,


" apa yang sedang kau pikirkan "


" tidak ada " jawab gadis itu cepat, mencoba meyakinkan bahwa tidak ada yang ia sembunyikan,


" kau tidak bisa membohongi ku mi amor, semuanya terlihat jelas di kedua bola matamu, keluarkan semua yang menggangu pikiranmu " ucap pria pemilik manik biru itu sembari menelusupkan kedua tangannya ke pinggang sang gadis, rasanya ia ingin tertawa saat mendengar kebohongan yang dilontarkan kekasihnya, padahal terlihat jelas sekali kalau wajah itu sedang memikirkan sesuatu, tapi sebisa mungkin ia tahan, ia tidak mau gadis yang sedang ia peluk itu semakin marah kepadanya hanya karena ia menertawakannya,


beberapa menit berlalu tapi gadis itu masih setia dengan keterdiamannya, karena sudah tidak tahan lagi, akhirnya ia balikkan tubuh gadis itu kemudian mengukungnya di bawah tubuhnya, " katakan cia, apa yang sedang kau pikirkan " tanyanya lagi dengan tangan sibuk menahan tubuh sang kekasih yang mencoba kabur dari kungkungannya, membuatnya semakin yakin kalau gadis itu sedang menyembunyikan sesuatu darinya,

__ADS_1


" apa yang sebenarnya kau lakukan akhir-akhir ini " mendapat pertanyaan seperti itu membuat darien langsung paham kenapa kekasihnya marah kepadanya, sebenarnya ia bisa saja memberitahukan alasannya, tapi jika ia melakukan itu, sia-sia semua kerja kerasnya selama ini, karenanya, ia lebih memilih untuk berbohong, " ada sedikit masalah di perusahaan " ucapnya dengan seyakin mungkin, mencoba membuat gadis itu percaya dengan kebohongannya,


" kau bohong " bukannya merasa panik karena ketahuan berbohong, darien malah terkekeh saat mendengar gadisnya tidak percaya dengan ucapannya, " kenapa kau berpikir begitu? " tanyanya, mencoba mengulik seberapa jauh kecurigaan gadisnya kepadanya


***


cia mendengus kasar saat mendengar pertanyaan konyol yang keluar dari mulut darien, ia yakin laki-laki itu sudah tahu apa maksudnya, karena kesal, cia lebih memilih untuk diam, ia diam sembari menatap tepat di kedua manik biru yang sedang menatapnya dengan tajam, tanda bahwa ia enggan untuk menjawab pertanyaan dari laki-laki itu,


sekali lagi cia memberontak, mencoba keluar dari kungkungan laki-laki itu, nyatanya, seberapa keras apapun usaha yang telah ia lakukan, tubuhnya tetap berada di bawah kendali laki-laki itu, yang ada dirinya malah merasa lelah sendiri, karena itu, akhirnya cia memilih untuk menyerah,


" sebenarnya siapa yang sakit disini " dumel cia sembari menggoyang-goyangkan bahunya, berharap laki-laki itu merasa terganggu dengan gerakannya " tubuhku sudah remuk dan sekarang dibuat remuk lagi " lanjutnya yang membuat laki-laki itu langsung bangkit dari atas tubuhnya,


" maafkan aku mi amor " ucap darien lirih, merasa bersalah karena baru saja melupakan hal yang begitu penting, dengan sigap ia bangkit kemudian menyingkir dari atas tubuh cia, lalu ia baringkan lagi tubuhnya ke samping tubuh sang kekasih,

__ADS_1


" jangan berpikiran yang aneh-aneh tentangku, aku tidak mungkin melakukan hal kotor yang saat ini sedang kau pikirkan, percaya padaku " lanjutnya sembari menatap langit-langit kamar rumah sakit tempat cianya di rawat, tak lupa juga kedua tangannya dengan setia menggenggam tangan mungil sang kekasih yang sengaja ia letakkan ke atas dadanya, agar tangan itu bisa merasakan degupan jantungnya yang seolah-olah mengatakan bahwa ia tidak berbohong,


setelah itu hanya keheningan yang menyelimuti mereka berdua, mereka terlihat sibuk dengan pemikiran mereka sendiri sampai-sampai tidak menyadari kehadiran sepasang suami istri yang sedang menatap keheranan ke arah sepasang kekasih yang sedang berbaring itu, mereka dibuat keheranan dengan suasana hening saat ini yang tidak biasanya terjadi, mulai merasa lelah karena terus berdiri, akhirnya salah satu dari sejoli itu pura-pura terbatuk agar menyadarkan lamunan para penghuni kamar yang masih setia dengan keterdiamannya,


" mama cuma mau mengantar sarapan untuk kalian berdua, tenang saja setelah ini mama akan langsung pulang " ucap mama Sofia sambil terburu-buru meletakkan rantang makanan yang ia bawa ke atas nakas di samping tempat tidur kemudian langsung menarik tangan papa Leon yang sedari tadi hanya diam saja keluar dari kamar,


" maa... aish "cia mendengus kesal karena mama Sofia langsung meninggalkannya, padahal ia ingin sekali keluar dari situasi yang sangat canggung ini, cia menoleh ke arah darien, memeriksa apa yang sedang dilakukan laki-laki itu, cia refleks membuang muka ke arah kanan, terkejut karena wajahnya hanya berjarak beberapa centi saja dengan wajah darien, bahkan hidungnya saja hampir bersentuhan dengan hidung mancung milik pria itu,


jangan tanya bagaimana kondisi jantungnya saat ini, tentu saja seperti mau melompat dari tempatnya, cia merutuki dirinya sendiri karena masih saja belum terbiasa dengan semua hal yang ada pada diri pria itu,


di lain sisi, ada seorang pria yang merasa lucu dengan tingkah gadis di sampingnya, karenanya, ia malah semakin berniat untuk membuat gadis itu merasa malu, dengan jahil, ia menelusupkan kepalanya ke leher belakang sang gadis, kemudian ia kecupi sampai membuat gadis di depannya bergerak tidak nyaman, merasa kurang puas, kini ia semakin berani mengeksplor tubuh gadis didepannya, bahkan kini tangannya dengan lancang masuk kemudian mengelus-elus punggung yang hanya di balut dengan baju tidur, ia telusuri sepanjang garis punggung itu sampai satu tangan menghentikan kegiatannya,


" darieeen... jangan aneh-aneh " mendengar larangan dari cia tidak membuat darien menurut begitu saja, ia malah semakin menggerakkan tangannya yang saat ini masih setia di cekal tangan sang kekasih ke arah depan, kini tangannya berada tepat di depan perut rata sang kekasih, ia elus lembut perut rata itu sembari naik sedikit demi sedikit, setelah sampai di tempat tujuannya, dengan iseng darien re*** kedua bulatan kenyal itu sampai membuat sang empunya berteriak kesakitan

__ADS_1


" darieeeeeen!!! "


__ADS_2