
Sepasang suami istri yang baru saja sah di mata hukum agama dan negara itu, terlihat masih nyaman bergelung di bawah selimut tebalnya walaupun matahari sudah berada di titik puncaknya, tidak ada tanda-tanda kalau keduanya akan segera terbangun, yang ada hanyalah suara dengkuran halus yang saling bersahutan, pertanda bahwa keduanya baru saja melewati hari yang sangat melelahkan,
Menit demi menit terus berlalu, tapi keduanya tak kunjung juga menampakkan maniknya, bahkan sang surya yang sedari tadi mencoba membangunkan dua insan manusia itu, kini memilih menyembunyikan dirinya di balik celah awan, hingga di menit berikutnya, mulai terlihat gerakan-gerakan samar dibalik selimut tebal itu, setelahnya terdengar suara lenguhan seorang gadis kemudian disusul dengan gerakan lainnya,
Seorang gadis yang kini sudah resmi menyandang status sebagai seorang istri dari keluarga Mackenzie terlihat sedang mencoba membuka kedua manik cokelat keemasannya, setelah beberapa kali percobaan, akhirnya kedua manik cokelat keemasannya bisa terbuka dengan sempurna, hal pertama yang manik itu lihat ialah, rambut hitam legam milik sang suami, saat ia ingin menyentuh rambut itu, ia baru merasakan bagaimana remuknya tubuhnya, karenanya, ia langsung mengurungkan niatnya tersebut, kini ia lebih memilih untuk membangunkan laki-laki yang masih asik menyelam di alam mimpinya itu,
" Darieen...bangunlah... darieen " ucapnya sambil menggoyang-nggoyangkan tubuhnya dengan pelan, agar laki-laki yang kini sudah resmi menyandang status sebagai suaminya itu merasa terganggu, tak kunjung mendapatkan hasil, akhirnya gadis itu maksudnya wanita itu memilih menyerah,
cuaca yang baru saja memasuki awal musim semi membuat suhu udara tidak terlalu panas, karenanya ia tidak terlalu risih dengan kehadiran selimut tebal dan bayi besar yang masih setia menempel di depan dadanya itu, tapi beberapa kali ia harus menahan geli saat hembusan nafas hangat milik suaminya itu mengenai kulitnya,
Ditengah keterdiamannya, tiba-tiba saja pikirannya berkelana memikirkan kejadian kemarin siang, ia dibuat bingung sekarang, apakah ia harus merasa kesal atau merasa lucu, malam sakral yang biasanya dilakukan para pengantin baru itu kini berubah nama menjadi siang pertama khusus untuk dirinya, ini semua karena bayi besarnya yang tidak sabaran sekaligus nafs*an, karena peristiwa itu juga dirinya dibuat tumbang seperti sekarang, saking lelahnya, ia bahkan sampai merasa kesulitan walau hanya untuk sekedar mengangkat tangannya, dan yang lebih anehnya lagi, Seharusnya yang masih tertidur dengan lelap itu adalah dirinya, tapi kenapa malah laki-laki yang ada di dekapannya ini yang merasa paling lelah sendiri, padahal dirinyalah yang diserang habis-habisan " benar-benar terbalik " dumel batinnya,
__ADS_1
setelah lama menunggu, akhirnya pria pemilik rambut hitam legam itu mulai menunjukkan tanda-tanda akan segera terbangun, yang mana membuat seorang wanita yang sedari tadi setia dengan posisi menyampingnya itu bisa sedikit bernafas dengan lega, karena pada akhirnya tubuhnya bisa berbaring dengan nyaman, ia juga mulai merasa kepanasan karena dekapan ditubuhnya itu semakin erat, " darien...bangunlah " ucapnya lagi, mencoba peruntungan jika caranya kali ini akan berhasil,
" Eeeuh....pagi mi querido " sapa seorang laki-laki yang sedari tadi ditunggu kesadarannya, bukannya terbangun, laki-laki itu malah dengan santainya semakin masuk kedalam pelukan hangat di depannya, kemudian tanpa rasa bersalahnya mulai mengecupi dua bulatan kenyal yang menjadi bantalannya semalam,
" Tidak, ini sudah siang " jawab wanita itu tegas, merasa kesal saat mendengar sapaan pagi dari suara serak milik laki-laki yang sedang berbuat sesuatu lagi terhadap tubuhnya, " darien hentikan, aku harus mandi " lanjutnya sambil mencoba menjauhkan bibir seksi itu dari kedua dadanya, karena jika tidak ia hentikan, takutnya akan terjadi lagi hal-hal yang tak diinginkannya, tubuhnya sudah remuk, dan ia tidak ingin tubuhnya semakin dibuat remuk olehnya,
Sadar karena telah membuat istrinya kelelahan, dengan ogah-ogahan darien bangkit kemudian mulai menelusupkan kedua tangannya ke bawah ketiak dan lutut sang istri, setelah itu dengan enteng ia angkat tanpa ada rasa keberatan sama sekali,
Mendengar teriakan dari cia, tidak membuat darien langsung menuruti ucapannya, lagipula mereka sudah melihat satu sama lain, jadi tidak ada lagi yang perlu di tutup-tutupi, karena itu ia dengan santainya tetap melanjutkan langkahnya menuju ke kamar mandi sesuai dengan perintah istrinya tadi, " aku sudah melihatnya mi querido, tidak perlu ditutupi lagi " ucapnya saat melihat istrinya itu masih saja mencoba menutupi aset-asetnya,
" Dasar menyebalkan "
__ADS_1
" Suamimu sayang "
***
" kenapa kau ikut masuuk!! " protes cia sambil menyiprat-nyipratkan air ke wajah yang sedari tadi membuatnya kesal, saat ini posisi mereka sedang duduk berdua di dalam bathtub dengan darien sebagai sandaran punggungnya, padahal niat awalnya ia ingin berendam sendirian saja, tapi laki-laki yang sedari kemarin selalu membuatnya tidak berdaya itu malah ikut masuk dan dengan tanpa malunya langsung memeluk perutnya erat, " jangan aneh-aneh, milikku masih perih " lanjutnya sembari menyandarkan kepalanya kedada bidang dibelakangnya, tak lupa ia juga memejamkan kedua matanya, cia masih merasa ngantuk sekali karena darien yang tidak pernah membiarkannya istirahat walau hanya untuk sebentar saja, kata menyesalah yang terus memenuhi pikirannya sekarang, lain kali ia tidak akan terberdaya lagi dengan wajah memelas pria pemilik manik biru itu, " dikasih hati minta jantung " dengus cia pelan,
Darien hanya bisa terkekeh saat mendengar peribahasa yang sepertinya memang ditujukan untuknya, jangan salahkan dirinya jika ia tidak bisa menahan keinginannya kemarin siang, cia tidak tahu saja kalau ia sering kali hampir khilaf memangsa dirinya, tapi untung saja pikirannya selalu bisa ia kendalikan, jika sampai hal itu terjadi, ia yakin saat ini cia tidak akan pernah menjadi miliknya,
kedua tangannya yang sedang melingkar sempurna di perut rata itu mulai ia gerakkan untuk mengelus lembut tempat calon anak-anaknya akan tumbuh, lalu ia sandarkan dagunya pada bahu kecil di depannya kemudian ikut memejamkan kedua matanya tanpa menghentikan gerakan tangannya,
" Bantu aku keramas "
__ADS_1
" Baiklah "