
" Perkataan darien memang tidak pernah salah "
" Apa maksudmu " sahut Mike sambil menikmati segelas cocktail di tangannya
" Kalian pengangguran "
" Si**** kau max "
Bukannya tersinggung dengan ucapan max, Bastian dan Mike malah tertawa,
Yaah seperti itulah mereka, bukan setahun dua tahun mereka berteman, mereka sudah berteman sedari mereka kecil, alasannya klise sekali, karena orang tua mereka juga berteman, maka mau tak mau mereka jadi sering bertemu dan akhirnya menjadi teman juga,
Mereka bertiga sedang duduk di kursi depan meja bartender dengan minuman alkohol masing-masing tersaji didepan mereka, Sebenarnya mereka tadi duduk di ruang VIP, tapi karena max ingin memantau keadaan clubnya, dua orang itu jadi ikut-ikutan mengikutinya
" Kenapa kita tidak mengajak darien saja ke sini "
" Kau mau cari mati bas, kalau begitu aku tidak ikut-ikutan, kau tidak lupakan, pawangnya sudah kembali " walaupun penampilan Mike terkesan seperti preman ( preman ganteng ), tapi ia tidak pernah berani mencari masalah duluan dengan darien, ia trauma, karena dulu ia pernah melakukannya, dan hasilnya, ia di rawat dirumah sakit selama seminggu penuh, bukan tanpa alasan darien membuatnya begitu, ia juga sadar itu kesalahannya, mengingat hal itu saja sudah membuat bulu kuduknya berdiri
" Biarkan saja, mungkin dia ingin merasakan rasanya menginap di rumah sakit " itu bukan hanya sekedar ancaman belaka, karena max juga sudah pernah merasakan apa yang di rasakan mike dan itu sudah cukup untuknya, ia tidak ingin menambah lagi pengalaman pahitnya
" kalian berdua merusak moodku!! " kesal Bastian sambil meminum cocktail dihadapannya dengan sekali teguk
" Bukankah itu cia?? "
Max dan Mike kompak menoleh ke arah tunjuk Bastian, dan benar saja, disana ada seorang gadis yang sangat mereka kenali baru saja masuk ke dalam club, kedatangan gadis itu berhasil menarik perhatian para laki-laki hidup belang, tapi dengan cepat max memperingati mereka agar tidak mendekati gadis itu, tentunya dengan cara diam-diam,
Mereka memutuskan untuk mengawasinya dari jauh, setiap gerak gerik gadis itu tidak pernah lepas dari tiga pasang mata yang senantiasa memperhatikannya, mulai dari gadis itu yang menyapa teman-temannya kemudian berbasa-basi, sampai gadis itu duduk sendirian di kursinya
Tanpa sepengetahuan Max dan Mike, diam-diam Bastian memotret gadis itu kemudian mengirimkannya ke sang pawang, setelah selesai ia langsung mematikan ponselnya, lalu tinggal menunggu drama menarik yang akan tersaji di depannya
__ADS_1
" Sepertinya kita harus menghampirinya, atau kita yang akan di hajar darien karena membiarkan gadisnya disentuh orang lain "
Setuju dengan ucapan max, Mike dan Bastian bangkit dari duduknya mengikuti max, kemudian berjalan menghampiri gadis yang sedang duduk sendirian itu,
" Hai ciaaa, kita ketemu lagi "
Mereka bertiga sepakat untuk berpura-pura tidak tahu tentang kedatangan cia, walau sebenarnya mereka sudah memperhatikannya sejak tadi,
Saat sedang menakut-nakuti cia, max dan Mike dikejutkan dengan perkataan Bastian,
Mereka sama sekali tidak tahu kapan Bastian menghubungi darien, baru saja mencerna kata-kata Bastian, orang yang tidak mereka harapkan kedatangannya sudah ada di hadapan mereka,
Sedangkan Bastian, Bukannya takut, ia malah diam-diam merasa senang, karena sebentar lagi ia bisa menyaksikan drama rumah tangga yang sudah ia nantikan sejak tadi
***
Darien langsung pergi ke tempat max begitu menerima pesan masuk dari Bastian, ia benar-benar dibuat geram dengan ulah gadisnya,
10 menit, waktu yang ia butuhkan untuk sampai di tempat max, ia langsung masuk kedalam club begitu sampai, ia bahkan tidak memperdulikan mobilnya yang parkir sembarangan,
Lautan manusia yang sedang menggila menjadi pemandangan pertama begitu ia masuk kedalam, tapi ia tidak peduli dengan semua itu, yang darien pikirkan hanya satu, yaitu tentang dimana keberadaan gadisnya,
hingga tak butuh waktu lama, manik birunya berhasil menemukan sosok seorang gadis yang sedari tadi ia cari, dengan langkah lebar ia hampiri gadis itu,
Menghiraukan keberadaan ketiga sahabatnya, darien langsung menarik tangan cia untuk pergi mengikutinya,
Ia baru melepaskan tangan itu saat mereka sudah sampai tepat di samping mobilnya,
" Masuk "
__ADS_1
Mendengar nada datar dari darien, membuat cia tidak bisa berkutik lagi, ia benar-benar takut sekarang, diam adalah solusi terbaik untuknya, makanya dari tadi ia hanya diam dan menuruti semua perintah dari darien,
Sepanjang perjalanan hanya keheningan yang menyelimuti kami berdua,
Hingga 20 menit kemudian, mobil berhenti tepat di depan mansion darien,
Cia semakin merasa takut saat darien turun begitu saja dari mobil tanpa mengucapkan sepatah katapun, dengan sigap ia ikut turun, kemudian sedikit berlari untuk menyusul darien yang sudah berjalan jauh di depannya
" Maafkan aku " Cia sedikit berteriak karena jarak keduanya, harapan cia langsung pupus saat melihat darien terus berjalan, seolah-olah ia tidak pernah mendengar permintaan maaf dari cia,
Dengan lesu cia berjalan mengikuti darien ke arah kamar mereka, sesampainya di kamar, hanya keheningan yang menyambutnya, tapi samar-samar cia bisa mendengar suara air yang mengalir dari dalam kamar mandi, pertanda darien sedang ada di dalamnya, cia memutuskan untuk duduk sembari menunggu darien selesai mandi,
***
Ceklek, Suara pintu yang terbuka membuat cia mengalihkan tatapannya yang semula menatap ke arah jari kakinya, memastikannya tetap 10
" Biar aku bantu " ucap cia sambil merebut handuk di tangan darien, merasa ucapannya tidak akan direspon, cia memilih untuk menarik tangan darien, kemudian mendudukkannya ke atas pinggiran kasur, karena tidak mungkin jika ia mengeringkan rambut darien dengan posisi berdiri, tingginya saja hanya sampai dada darien,
" darieeen maafkan aku, oke " cia masih mencoba meminta maaf kepada darien, karena ia merasa lebih baik di marahi daripada di diamkan seperti ini, tapi nihil, sama seperti tadi, permintaan maaf cia hanya di jawab oleh angin lalu, tapi cia tidak akan menyerah, ia akan melakukan apapun asal mendapat maaf dari darien
" selesai~ " walaupun ia tahu perkataannya tidak akan di respon, tapi ia tetap terus mencoba mengajak darien berbicara,
" aku mau mandi sebentar, jangan tinggalkan aku, kita akan makan malam bersama, oke "
cia langsung masuk kedalam kamar mandi tanpa menunggu jawaban dari darien, karena itu percuma, darien sedang mode ngambek, jadi dia tidak akan merespon apapun perkataan cia, ini sudah sering terjadi, jadi cia tidak terlalu kaget, tapi sepertinya ini akan memakan waktu lebih lama dari biasanya, karena ia juga sadar, kesalahannya tidak kecil
***
cia hanya bisa menghela nafas panjang saat melihat darien sudah tidak ada di dalam kamar mereka, dengan tergesa-gesa cia mengerikan rambutnya dengan hairdryer, setelah lumayan kering, ia langsung turun ke lantai satu memastikan darien ada di sana
__ADS_1
" kenapa tidak menungguku, aku kan sudah bilang tadi, jangan meninggalkan ku " dengan berani cia mengecup singkat bibir seksi darien, mencoba membuat sang empu memperhatikannya, tapi nihil, hanya ekspresi datar yang ia dapatkan, menyerah, cia lebih memilih menghabiskan makanannya dalam diam