
Madrid, Spanyol
Darien sudah tiba dari 2 jam yang lalu, di Madrid sekarang baru pukul 15.00 siang, perbedaan waktu yang signifikan membuatnya sedikit mengalami jetlag, tapi itu tidak menyurutkan niatnya untuk bermain-main dengan tikus kecilnya,
ia sedikit dibuat takjub dengan tikus kecil dihadapannya, tikus kecil itu masih bisa bertahan setelah menerima berbagai siksaan darinya, yaah kalau tikus itu tetap tidak mau mengaku, terpaksa ia harus menggunakan cara yang lebih keji lagi, darien menyeringai "panaskan besi " sesaat ia bisa melihat rasa takut di kedua mata tikus kecil itu, tapi dengan cepat tikus kecil itu merubah ekspresinya menjadi datar lagi, darien sedikit menyayangkan kenapa bukan dia yang menemukan tikus kecil itu duluan, tikus kecil itu pasti akan sangat berguna baginya
" ini tuan " ucap Michael sambil menyodorkan sepotong besi yang sudah ia panaskan, sesuai perintah tuannya tadi, ia sedikit bergidik ngeri membayangkan bagaimana sakitnya terkena besi mendidih itu,
Darien menerima potongan besi itu dengan senang hati, dengan jahil ia menempelkannya ke paha kiri tikus kecil itu, alhasil suara teriakan yang sangat nyaring langsung menyambut telinganya, " menyerah atau besi ini akan menancap di jantungmu "
bukannya memohon ampun, tikus kecil itu malah terkekeh senang, seakan-akan dirinya sedang memberikannya sebuah lelucon, merasa geram, darien langsung menusukkannya ke paha kanan tikus kecil itu,
" aaaaaaaaaaahhhhh!!!! "
Darien menyeringai senang saat mendengar melodi indah yang keluar dari mulut tikus kecilnya, " apa sekarang kau mau mengaku? "
" hahaha, aku kira kau sangat pintar, tapi tipuan kecil seperti ini saja kau bisa tertipu?! " dengan menahan sakitnya, orang yang sedang terikat kuat di atas kursi itu masih bisa memainkan emosi darien, bahkan darahnya saja sudah berceceran dimana-mana, mungkin jika ia tertusuk sekali lagi, nyawanya akan benar-benar melayang, tapi orang itu seakan tidak peduli, ia bahkan masih dengan beraninya menatap tajam ke arah manik biru yang siap membunuhnya kapan saja,
" Smith & Wesson " pinta darien sambil menyodorkan tangannya ke arah Michael, kesabarannya benar-benar sudah habis, ia akan menghabisi tikus kecil dihadapannya itu dengan sekali tembak, dengan patuh Michael langsung mengulurkan pistol paling mematikan di seluruh dunia itu ke tangan tuannya, nama lengkapnya adalah Smith & Wessong 500 Magnum, pistol berjenis revolver yang punya daya hancur hampir sama seperti Desert Eagle, namun pistol yang satu ini memiliki kelebihan lain, dikarenakan moncongnya yang lebih panjang dari revolver biasa, sehingga akurasinya juga lebih hebat, Kemampuan ini juga didukung oleh kecepatan pelurunya yang dilontar di mana mampu menembus angka 2.075 kaki per detik,
" aku hitung sampai 3, kalau kau masih menutup mulut busukmu itu, peluru ini akan menembus otakmu "
" hahaha kau bodoh dari-- aaaaaah...." satu peluru berhasil ia tancapkan ke perut tikus kecil dihadapannya, sebagai bukti kalau ia sedang tidak ingin bermain-main, "satu..dua..tig-- "
" kau terlambat darien " dengan lirih orang itu masih bisa meladeni darien, walaupun darah semakin deras keluar dari mulutnya, tapi sepertinya itu tidak akan menyurutkannya
" apa maksudmu!!! "
" uhuuk...sudah kubilang ini hanya tipuan hahah--
__ADS_1
hening,
tidak terdengar lagi suara tawa ataupun omong kosong, sebagai gantinya, lantai usang itu semakin banyak menampung darah dari laki-laki yang sedang terikat kuat di kursi dengan kepala yang sudah menganga lebar, darien menatap datar tikus di hadapannya," bakar mayat itu" kemudian ia berbalik pergi dengan tangan yang sibuk mengelap wajahnya, tanpa rasa jijik ia usap cipratan darah dari tikus kecil itu dengan sapu tangan miliknya
dddrt dddrt
getaran dari ponselnya tidak membuat langkahnya terhenti, dengan santai ia mengambil ponsel itu dari saku celananya, kemudian menempelkannya ke telinga begitu tahu siapa yang menelepon
" maaf tuan, nona cia kecelakaan "
" SH**!!! "
Tut
darien langsung menutup panggilan itu, dengan tergesa-gesa ia berlari keluar dari gudang tua itu dengan darah yang masih menempel di wajahnya, ia seakan tidak peduli dengan semua itu, isi pikirannya sekarang hanyalah cia, cia, dan cia, bahkan suara teriakan dari micahel seakan tidak terdengar oleh telinganya,
begitu sampai di tempat mobilnya parkir, ia langsung masuk, tanpa menggunakan sabuk pengaman, ia langsung menginjak pedal gas itu kuat-kuat
Tut
sekarang ia tahu apa maksud perkataan tikus kecil itu, " si****!!! " darien melampiaskan amarahnya dengan memukul beberapa kali setir yang ada di genggamannya, ia semakin dalam menekan pedal gas itu, menghiraukan pengendara lain yang protes dengan cara menyetirnya
Adolfo Suárez Barajas, Madrid
begitu sampai di bandara, ia langsung keluar dari mobil kemudian berlari menuju tempat landasan pesawat, melupakan mobilnya yang entah ia tinggalkan dimana
***
" eeeuuh " terdengar suara ringisan yang keluar dari mulut seorang gadis yang sudah 1 jam terbaring pingsan di atas ranjang rumah sakit, dengan perlahan gadis itu mencoba membuka kedua matanya, tapi rasa pusing mengalahkannya, membuatnya memejamkan kedua matanya kembali
__ADS_1
" jangan di paksakan, istirahatlah lagi ", terdengar suara yang tidak asing ditelinganya, seperti seseorang yang ia kenal, tapi suara ini terdengar lebih berat dari biasanya, dengan mata terpejam ia mencoba memastikan pemilik suara yang ada di sampingnya "Ken?"
" bukan, aku Kenzo "
" Kenzo? " cia terheran-heran, bagaimana bisa ia pingsan bersama Ken tapi malah Kenzo yang ada di sampingnya
" iya, aku ada di sana saat kau terserempet motor, Ken sedang membeli makanan sebentar, katanya kau pasti tidak akan menyukai makanan rumah sakit "
cia mengangguk-anggukan kepalanya mengerti, ia mencoba membuka kedua matanya kembali, setelah beberapa percobaan, akhirnya kedua manik cokelat keemasannya bisa terbuka,
" terimakasih sudah menolongku " ucap cia tulus dengan senyuman manis yang terpatri di wajahnya
" itu bukan apa-apa, apa kau ingin duduk? "
" iya, bisakah? "
" tentu saja " jawab Kenzo sambil membantu cia untuk duduk, ia juga meletakkan satu bantal di belakang punggung cia, untuk membuat cia semakin nyaman
" kau sudah sadar "
Cia langsung menoleh ke arah pintu saat ia mendengar suara Ken dari sana, " iya, terimakasih sudah menolongku "
" astaga ciaaa, aku sangat takut saat kau pingsan tadi " ucap Ken sambil mempercepat langkahnya ke arah ranjang cia
" hha aku baik-baik saja Ken, tenanglah...oh iya, dimana pak Yanto? Supir yang tadi menungguku " tanya cia saat Ken sudah ada di hadapannya
" ooh dia sedang ku suruh untuk makan, sepertinya sekarang ia sedang ada di kantin rumah sakit, dan cia, siapa orang-orang yang berdiri di depan pintu kamarmu itu "
" orang-orang siapa?? "
__ADS_1
" masa kau tidak tahu, mereka tiba-tiba datang entah darimana kemudian langsung merebut mu dari gendongan ku saat aku dan Kenzo akan membawamu ke rumah sakit, aku dan Kenzo kira mereka akan menculikmu, ternyata setelah kami ikuti, mereka membawa mu kesini "