
...Tenoneng...
...Tenoneng...
...Tenoneng...
Hoooaaam
Seperti biasa, pukul 3.15 aku bangun setelah bunyi alarm ponselku terdengar. Sudah menjadi kebiasaan untukku bangun pagi - pagi sekali. Karena aku harus membantu Ibu menyiapkan keperluan adik - adikku sekolah.
Selesai cuci muka dan gosok gigi aku langsung keluar kamar dan berjalan menuruni tangga rumah minimalis modern dua lantai. Kemana lagi kalau bukan dapur tujuanku. Jangan kalian pikir aku tidak bisa memasak, eiitss big nooo.
Setiap hari membantu Ibu di rumah baik itu memasak, mencuci, menggosok dan membersihkan rumah. Aku jadi lumayan mahir dalam urusan per-rumah tanggaan. Hihi
Camkan. Lumayan!!!
"Kaka, astaga maaf sayang Ibu telat bangun jadi ngerepotin kamu lagi." Ucap seorang wanita paruh baya yang baru saja memasuki area dapur.
Aku menengok ke asal suara lalu tersenyum lebar.
"It's ok, Bu. Biar Ibu bisa istirahat banyak, aku udah selesein sebagian pekerjaan rumah. Hehe. Maaf, ya Bu gak bisa semuanya, ini hari terberat buatku, Bu. It's monday. Huhu." Ucapku lebay.
Sebenarnya aku bukan lebay sih, hanya heboh hahahaaa
Dan memang monday atau hari senin menjadi hari terberat. Kenapa? Kalian mau tahu? Mau aja laaah, biar cepet xixi. Aku ituh gampang pusing kalo berdiri terlalu lama apalagi di bawah sinar terik matahari pagi.
Meski matahari pagi itu bagus untuk kesehatan, tapi memang dasarnya saja tubuhku ini sangat sensitif. Alias gampangan. Dikit - dikit capek, dikit - dikit lemesss. Pusing pula, mual apalagi.
Terlebih memang sejak kecil aku gampang banget kena anemia. Makannya, Ibu selalu siap sedia buah - buahan, apalagi buah naga merah dan apel kesukaanku.
Dan kelemahanku ini selalu membuat salah seorang di sekolah geleng - geleng. No No, bahkan tak sedikit yang geleng - geleng dan heran melihatku saat di hari senin itu.
Wanita yang di panggil Ibu olehku hanya menggelengkan kepala seraya tersenyum geli.
Kami pun menyelesaikan pekerjaan memasak untuk sarapan pagi ini.
"Bu, aku pamit yah. Doakan terus supaya sekolahku lancar." Ucapku setelah menyelesaikan sarapan dan bergegas berpamitan pada Ibu.
Ibu mengangguk dan mencium keningku lembut.
"Jangan makan sembarangan, ya nak! Ingat, jaga kesehatan kamu." Ucap Ibu yang lebih terdengar seperti perintah yang tak terbantahkan.
Aku mengangguk tersenyum lebar. Lalu tak lupa aku mencium satu - satu pucuk kepala adik - adikku.
...💜💜💜...
Aku bolak balik melihat jam di pergelangan tangan kiriku. Sudah pukul 6.35. Untungnya tak jauh lagi aku sampai di gerbang sekolah.
Aman. Pikirku saat melewati gerbang yang di penuhi oleh anggota osis dan siswa - siswi yang sedang di periksa atributnya. Aku? Aku juga sudah di periksa tadi. Dan untungnya lagi aku tak lupa membawa atribut sekolah untuk upacara.
...*SMA Arthuro*...
__ADS_1
Aku tiba di parkiran khusus kendaraan roda dua untuk siswa SMA elit Kota Jakarta ini. Tentunya setelah melewati halaman depan gedung sekolah yang lumayan luuuaaaassss. Dan area parkir juga yang tak kalah luasnyaaaaaa. Bayangkan saja, SMA ini memiliki kurang lebih 1350 warga, termasuk guru dan staf selain siswa siswinya tentu saja.
Aku berjalan melewati lorong lantai satu. Yang tentu saja melewati hiruk pikuk lapangan yang super big luas. Lapangan yang biasa untuk di pakai upacara hari senin.
Waktu awal masuk sini memang membuatku sering menggerutu. Apalagi coba, jika bukan luasnya area sekolahan ini yang membuatku 5L?
Lesu
Lemah
Letih
Lemas
Lunglai
Tapi tentu saja itu menguntungkanku karena membuatku sering absen. Dan berakhir duduk manis di pinggir lapangan yang teduh dengan pohon - pohon beringin. Saat MPLS dulu tentunya.
Dan tetap saja itu merugikanku. Karena membuatku terlambat untuk berkenalan dengan teman - teman baruku di masa putih abu - abu dan keseruan lainnya. Untungnya keseruan aku dapatkan di saat malam puncak MPLS.
Kegiatan One Night Camp di lapangan sekolah. Puluhan tenda - tenda sudah disiapkan oleh anggota osis dan kesiswaan. Ada api unggunnya pula. Untunglah acara camp itu tidak seperti acara pramuka yang selalu terbayang di benakku. Melelahkan.
"ARAAAAA."
Aku mengalihkan pandanganku dan menghentikan langkahku yang hampir saja memasuki kelas tercinta.
Grepp
BRUGG
Mataku melebar sempurna saat tiga orang menyusul menubrukku.
Aku menatap sebal mereka.
"Astagaaa, gak ada penyambutan hangat gitu untuk Princess XI IPA 4 tercinta." Ucapku agak sewot seraya menatap satu persatu wajah - wajah dengan ekspresi berbeda - beda itu.
"Ah elaaaah gak sempet Incess Araa. Buruan sekarang kita ke lapangan olahraga, katanya ada something special di sana hari ini." Ucap satu orang yang pertama kali menubrukku.
Amel. Atau lengkapnya, Amelia Tri Utami Angkasa.
Ke tiga sahabatku yang lain mengangguk membenarkan lalu mendorongku pelan bersamaan ke dalam kelas untuk menaruh tasku dan bergegas ke lapangan olahraga.
Untunglah karena hal heboh ini aku diuntungkan karena tak usah capek - capek mengikuti upacara senin.
Tiara Andini Darmawangsa.
Mega Maharani Sukma.
Rain Tamara Brata.
Oh ya, kami baru aja masuk lagi setelah libur akhir smester satu bulan penuh kemarin. Sangat menyenangkan. Bukan berarti aku gak senang masuk sekolah. Hanya saja, tentunya liburan full itu membuatku senang karena aku full free untuk mengisi part time ku.
__ADS_1
Whoooooooo
Prok
Prok
Prok
Lamunanku tentang ingatan liburan kemarin buyar saat indra pendengaranku di penuhi suara teriakan dan tepukan yang sangat ramai.
Aku mengedarkan pandanganku dan ternyata kamu sudah sampai di lantai tribun bawah.
Kenapa gak ke area lapangan sesuai ucapan sahabatku. Yaa bagaimana bisa kami ke lapangan sedangkan lapangan olahraga sudah di penuhi siswa siswi yang bejibun memenuhi seisi area lapangan. Untunglah tribin kosong, jadi kami tak perlu desak - desakkan.
Aku mengerutkan kening heran, mengapa seramai ini. Sepertinya ada hal yang bisa mengalahkan euphoria holiday session.
"Kita sambut keluarga pemilik sekolah kita sekaligus keluarga pengusaha ternama di negara kita. Keluarga Arthuro." Seru Mr. Hendrick yang merupakan wakil yayasan sekolahku setelah memberikan sambutan singkat yang tidak kami ikuti.
Hening seketika ketika pintu area parkir samping gedung olahraga indoor terbuka. Lalu keluarlah beberapa orang berjalan ke tempat Mr. Hendrick tadi berdiri.
Satu orang memakai jas formal lengkap, di sampingnya seorang wanita paruh baya yang masih cantik dan muda menggandeng lengan orang tadi dengan dress flower selututnya. Di sebelahnya seorang lelaki tampan dengan kemeja cashual tak lupa kaca mata hitam menambah ketampanan dan aura kharismatiknya.
Di ikuti tiga orang di belakangnya. Yang dua menggunakan pakaian cashual. Satu lagi memakai seragam yang sama seperti kami. Ketiganya tak kalah tampan dan berkharisma.
Woooooooaaaaaw
Aku berjengkit kaget ketika sahabatku yang bar - bar semua menjerit heboh melihat kedatangan mereka. Sepertinya karena ke empat lelaki tampan itu.
Seketika kami menjadi pusat perhatian. Dan tamu agung tak luput memperhatikan kami. Kecuali para bodyguardnya yang setia fokus bersiaga mengawal majikannya.
Aku meringis dan melihat ke arah lapangan. Lalu tak sengaja mataku melihat ke arah keluarga pemilik yayasan sekolah.
'Sahabat kutu kupret'
Aku tak sadar jika mata mereka memancarkan keterkejutan saat melihatku. Aku masih larut dalam rasa maluku memiliki sahabat yang sangat bar - bar.
...^. Ooh Inceessss kamu sungguh tak sadar diri sekali jika kamu tak kalah bar - baaarrr .^...
Jadilah hari pertama kami sekolah di awali kehebohan yang berlanjut sepanjang hari ini. Dan sepertinya akan berlanjut ke hari - hari berikutnya.
Oh my.
.........................................................Bersambung^.^
Semoga cerita ini bisa menemani ke mageran kalian ya man temaaan (✿ ♥‿♥)
Sok tah di kasih sepanjang rel kereta paragrafnya 🤣
Salam, Ivy Violeta
See You 🌼
__ADS_1