Possessive Vs Bucin

Possessive Vs Bucin
Pulang


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit menggunakan kendaraan roda empat. Mobil hitam mewah berhenti di depan rumah minimalis dua lantai dengan papan bertuliskan, "Rumah Kasih Bunda".


Ara turun setelah lelaki jangkung yang di ketahuinya Prince Pertama turun. Di ikuti si lempeng, dan dua lelaki tampan imut dengan perbedaan tinggi badan yang kentara dari jok belakang.


Ara melihat motor maticnya sudah terpartkir di depan teras rumah. Karena tadi pria bernama Shi Won Arthuro meminta salah satu anak buahnya untuk membawa motornya pulang terlebih dahulu ke rumah kasih bunda.


Tok


Tok


Tok


"Buunnn, Ara pulaaaaang." Teriak Ara, agar Bundanya segera membukakan pintu. Tak malu jika ke enam orang yang sedang bersamanya mengetahui sisi bar - barnya.


Ia sudah tak sabar ingin segera mengetahui fakta yang dikatakan wanita yang berdiri di samping kirinya. Dan pria yang berdiri di samping kanannya. Serta ke empat lelaki tampan yang berdiri di belakangnya.


"Iyaaa sebentaar." Teriak seorang wanita menjawab panggilan Ara.


Ceklek


Wanita paruh baya yang tak lain adalah sosok bunda di rumah itu tersentak kaget melihat dua orang yang di kenalnya berdiri di hadapannya.


"Eh, mari silahkan masuk. Tak baik tamu berdiri di luar." Sapa bunda ramah mempersilahkan tamunya masuk.


Mereka masuk dan duduk di ruang tamu. Sedangkan bunda berlalu ke dapur untuk membawakan tamunya minuman.


"Silahkan di minum, maaf seadanya." Ucap bunda tak enak karena hanya air putih yang disuguhkan.


"Tidak usah repot - repot, May." Jawab So Ra, terlihat akrab.


"Bagaimana kabarmu selama ini?" Tanyanya pada Maya.


Maya tersenyum mengangguk. "Baik. Kalian sendiri apa kabar?" Tanya Maya ramah.


"Kami juga baik." Jawab So Ra. Sedangkan Ara dan ke empat lelaki lainnya hanya diam mendengarkan.


"Syukurlah."


"Maya, maaf jika kedatangan kami mendadak seperti ini. Tapi sesuai janji kami dulu, kami akan membawa kembali Ara saat usianya akan menginjak 17 tahun." Ucap So Ra membuat Ara terkejut sedangkan Maya tersenyum seraya menggenggam tangan Ara menenangkan dari keterkejutannya.

__ADS_1


"Bun, maksudnya apa ini?" Tanya Ara shock.


Apa maksudnya mengambil kembali. Memang dia barang. Bisa di oper - oper. Hati Ara kesal dan belum tahu kenyataannya seperti apa.


"Sayang, Ara dengerin Bunda yah. Bunda rasa ini saatnya Ara tahu kebenarannya dan latar belakang Ara. Ara, Princess Arabella. Dulu Ara datang kesini saat usia Ara 6 bulan. Mr. Choi dan Mrs. Choi yang mengatarnya langsung pada Bunda saat Bunda masih di kampung dulu. Bunda dan Mrs. Choi memang saling kenal. Maka Mrs. Choi mempercayakan Bunda, temannya, untuk menjaga dan merawat kamu. Semua itu ada alasannya. Untuk hal ini lebih baik nanti orang tuamu langsung yang memberitahumu. Intinya, selama ini orang tuamu memperhatikanmu dari kejauhan. Dan tak pernah lepas dalam ikut mengurusmu melalui Bunda." Jelas Maya panjang x lebar.


Ara mencerna semuanya dengan baik. Efek memiliki otak cerdas. Ara manggut - manggut.


"Jadi selama ini kita gak kekurangan apapun dalam memenuhi kebutuhanku dan adik - adik, semua dari kalian?" Tanya Ara ragu dalam menyebut kedua orang tua di depannya.


Dua orang itu tersenyum maklum. Karena selama ini pula Ara tidak diperkenalkan pada orang tuanya sampai usianya cukup. Karena suatu hal.


Dan meskipun panti berkecukupan, tapi Ara tetap melakukan kerja part time dan sekolah pun atas usahanya melalui beasiswa. Ara ingin mandiri dan tidak merepotkan Bunda Maya.


"Jadi Princess ikut pulang dengan kita hari ini kan?" Tanya si prince ke empat dengan semangat.


Membuat kedua kakaknya geleng - geleng kepala. Sedangkan si lempeng tak berbuat apa - apa.


Ara mengalihkan pandangannya pada Maya saat mendengar kata pulang dengan mereka. Maya mengangguk, Ara mengalihkan pandangannya pada dua orang tua awet muda di depannya yang sedang tersenyum dengan pancaran berharap padanya.


Ara menghembuskan nafasnya. Memang sudah lama sebelum ini Ia sangat di hantui rasa penasaran akan keluarga kandungnya. Karena Ia tahu jika Ia bukan anak kandung Maya.


Terbukti saat Maya sakit kritis dan membutuhkan donor darah. Ketika Ia mengajukan diri untuk mendonorkan daranya, ternyata golongannya tidak cocok.


Ara tak ambil pusing semenjak itu. Namun saat ini ketika Ia di suguhi fakta yang selama ini membuatnya sangat penasaran.


Ia tidak begitu terkejut. Terlebih setelah melihat kemiripannya dengan salah satu prince bersaudara dan wanita yang menjadi orang tua mereka.


Ara menghembuskan nafasnya pelan.


"Bunda memang tak apa, Ara pindah dari sini?" Tanya Ara pelan namun masih terdengar oleh semua orang yang berada di sana.


Bukan apa, Ara hanya tidak akan tenang jika Bunda sakit dan tidak ada yang bisa menjaganya. Secara yang paling besar di rumah panti asuhan itu hanya Ara. Sedang adik - adiknya hanyalah anak sd dan adapun si paling kecil yang sangat dekat dengannya.


"Kamu tenang saja, sayang. Akan ada dua art yang nanti di sini untuk bantu Maya. Kamu juga bisa main kapan pun ke sini, bahkan kalau kamu mau ajak adik - adikmu main ke rumah kita juga boleh. Momy akan sangat senang jika rumah besar Dady mu TAK SEPI lagi." Ucap So Ra menekankan kata terakhir seraya melirik ke lima pria di sana.


Ara tersenyum lalu mengangguk girang setuju. Jika seperti itu Ia tak akan terlalu khawatir. Semua orang ikut tersenyum senang.


Ara berlalu ke kamarnya untuk membereskan barang - barangnya. Satu koper kecil dan beberapa box siap di angkut. Tak banyak barang Ara. Karena Ara bukan tipikal gadis yang senang membelanjakan uangnya untuk memuaskan dirinya.

__ADS_1


Hanya baju - baju yang tak seberapa. Seragam, buku - buku, tas sekolah, sepatu sekolah 1 dan sandal 1. Dan barang endorse tentu saja.


Ara berjalan ke luar kamar, seketika kakinya terhenti saat melihat delapan adiknya berdiri di depan kamarnya. Ara tersenyum haru melihat mata mereka yang berair.


Ara memeluk mereka. Atau mereka yang mengepung Ara tepatnya.


"Kita dengar, Kakak mau pergi dari sini." Ucap salah satu adik paling kecil. Perempuan, 3 tahun. Balita pintar, sudah lancar bicara dan cantik.


Ara tersenyum menatap mereka satu per satu. "Kakak bukan pergi, Kakak hanya akan tinggal bersama keluarg Kakak. Nanti Kakak pasti sering main ke sini, kalian juga boleh banget main ke rumah orang tua Kakak. Mereka gak keberatan, malah mereka senang banget kalo kalian ke sana." Ucap Ara menenangkan adik - adiknya.


"Kamu yang paling tua dari mereka. Kakak titip, jaga adik - adik dan bunda yah. Gak boleh main terlalu lama lagi, sering - sering temenin adik kamu belajar dan main. Ingetin bunda buat minum obat teratur, yah!" Si anak lelaki yang baru saja kelas 6 mengangguk mantap seraya mengeluarkan air matanya.


Ara turun dengan di temani delapan adiknya dengan tangan yang menarik koper. Sedangkan 2 box sudah di bawa 2 anak laki - laki.


Saat sudah sampai di depan rumah, keluarga kandungnya sudah siap di samping kendaraan mereka.


Ara kemudian berpamitan pada bunda dan pada adik - adiknya dengan melambaikan tangannya.


"Jadi anak baik dan rajin belajar yaaaah." Teriak Ara di dalam mobil sebelum mobil Dady nya itu melaju meninggalkan rumah yang sudah 13 tahun ini Ia tempati dengan keluarga panti asuhan setelah pindah dari kampung.


1 jam kemudian, kendaraan yang di kendarai Dady mereka memasuki gerbang tinggi hitam yang terbuka otomatis dengan sensor mengarah ke mata Dady.


Sensor pendeteksi.


Ara tercengan menatap rumah besar mewah di hadapannya. Dan banyak tanaman serta pohon yang membuat halaman rumah itu begitu asri dan sejuk.


Ara sangat menyukai kesejukan.


"Welcome home, Princess." Ucap ke Empat Prince, kakak Ara seraya saling berpelukan.


"Thank you, Hyung."


...........................................................Bersambung


。・:*:・(✿◕3◕)❤.


Tunggu kelanjutannya yaaaahhh


Salam,

__ADS_1


LiliP 😘


Byeeeeeeee


__ADS_2