
Ara terus berlari menuruni eskalator yang menghubungkan lantai 3 dan 2, sambil mengucapkan kata maaf karena sadar menabrak orang - orang di depannya.
Tak peduli dengan teriakan empat sahabatnya yang juga mengejarnya.
"ARAAAAAA."
"ARAAA TUNGGUUU."
Ara terus berlari. Amel berinisiatif menelfon Ans. Kakak ketiganya Ara.
Kok bisa?
Nanti yaaaah.
"Hallo, Ans. Ara lari keluar mall." Ucap Amel teriak karena panik mengejar Ara.
Bukan apa - apa. Ara belum pernah ke ibu kota sendirian, dan Ara merupakan salah satu orang yang sangat payah menghafal jalan dan daerah baru yang belum pernah di laluinya.
Di restoran jepang ke empat prince terlonjak kaget panik, beranjak berdiri dari duduknya. Belum sempat mereka beranjak dari meja resto, cowok yang menjadi biang keladi kepergian Ara melesat cepat menuruni tangga resto.
Semua pasang mata di meja mereka melongo.
"DON'T WORRY. BElA BIAR SAMA GUE." Teriak cowok itu.
Ke empat pasang mata prince memancarkan gelisah dan heran bersamaan.
Gelisah karena adik mereka belum mengenal jalanan ibu kota. Dan heran dengan sikap cowok tadi yang merupakan adik dari sahabat dekat Add.
Add menatap sahabatnya dengan satu alis terangkat.
Yang di tatap hanya menghembuskan nafasnya pelan.
"Lo tahu sesuatu, Dave?" Tanya Add pada sahabatnya. Dave. Yang tak lain merupakan kakak dari cowok tadi.
Dave mengangguk pelan.
Lalu mengalirlah cerita dari Dave. Empat Prince, dan dua teman dari Ax dan Ans pun ikut menyimak cerita dari Dave.
Singkat cerita.
Dulu keluarga Dave tinggal di kota yang bertetanggaan dengan ibu kota. Itu saat umurnya 11 tahun dan adik laki - lakinya berumur, 6 tahun.
__ADS_1
Di kota itu mereka tinggal di satu desa yang dekat dengan perkebunan teh. Di daerah situ, ada sebuah panti asuhan yang jaraknya hanya 2 km dari rumah keluarganya tinggal dulu.
Ketika Dave kecil dan adiknya berjalan - jalan di temani ibu mereka. Mereka bertemu gadis kecil se usia adik Dave di dekat danau tengah memberi makan ikan dengan sepotong roti.
Gadis itu sangat cantik. Meski usianya masih 6 tahun, namun dari parasnya terlihat kedewasaan yang tercetak jelas.
Matanya yang hazel kekuningan itu seakan menghipnotis Dave kecil dan adiknya untuk mendekat. Bak magnet yang menarik mereka. Hampir setiap hari setelah Dave kecil dan adiknya selesai home scooling, mereka akan menghampiri gadis kecil cantik itu di panti asuhan dan mengajaknya bermain.
Hingga usia Dave 13 tahun dan adiknya 8 tahun. Mereka harus berpisah dengan gadis kecil mereka.
Hanya Dave yang berpamitan dengan gadis kecil itu. Tidak dengan adiknya.
Dave sudah mengira jika pertemanan sang adik dengan gadis kecil itu bukan hubungan pertemanan biasa. Tanpa dua bocah itu sadari, rasa sayang sudah mengikat mereka.
Ada sebuah janji yang diucapkan sang adik pada gadis kecil mereka ketika di danau. Saat itu Dave bersembunyi di balik pohon besar tepat di belakang mereka yang sedang duduk di batu besar di sisi pohon lainnya.
"Bel, kalo kita besar nanti kamu gak boleh pacaran sama cowok lain. Gak boleh nikah sama cowok lain. Hanya Aku yang boleh. Karena Bella cuma milik Bryan." Dave tersentak dengan kalimat bocah 8 tahun itu. Yang tak lain adalah adiknya.
Sampai Dave dan adiknya akan berangkat menuju bandara. Dave tak pernah melihat adiknya berpamitan pada Bella.
Hingga mereka beranjak remaja. Dave yang saat itu sudah kuliah, Bryan - adiknya - usia smp kelas 2, sudah mulai mengajak kencan gadis.
Dave pun mengetahui jika Bella selalu membuka akun Bryan. Yang mana di akun adiknya itu banyak foto sang adik dengan kekasihnya.
Namun Dave tak tahu, ketika mereka akan kembali ke Negara I, apa Bryan dan kekasihnya masih memiliki hubungan atau tidak.
Karena sampai Dave dan Bryan kembali ke Negara I. Bryan tak pernah sekalipun menceritakan tentang hubungan dan perasaannya.
Bryan memang tipikal cowok tertutup. Datar, Dingin.
Dan Dave semakin yakin tentang perkiraannya selama ini. Jika Bryan masih menyimpan rasa pada Bella. Terbukti dengan tindakan adiknya tadi pada Bella.
Yah, Dave masih ingat bagaimana Bella. Karena parasnya sama sekali tak banyak berubah.
Princess Arabella.
Gadis kecil mereka yang ternyata adalah adik dari sahabat Dave.
Princess Arabella Arthuro.
Meski orang tua Dave berteman baik dengan orang tua Empat Prince. Namun mereka sama sekali tak tahu tentang adanya seorang Princess di keluarga Arthuro.
__ADS_1
Princess yang selama ini di tutupi dari dunia.
"Begitu, Add " Ucap Dave mengakhiri ceritanya.
Add mengangguk setelah mendengar cerita dari Dave.
Tak ada kesan berarti di wajahnya. Berbeda dengan kedua adiknya. Ax dan Akio. Ada sorot amarah di mata mereka. Namun mereka tahan.
Sedang di sisi Ara.
Ara sudah sampai di loby utama hotel, melirik sana sini mencari taksi atau ojek yang dapat di tumpanginya.
Belum Ara melangkah, keterkejutan menguasai Ara tat kala tubuhnya melayang dan hinggap di bahu kekar seseorang.
"AAAAAAAAAA TURUNIN TURUNIIIIIIIN. PENCULIIIIIIK." Teriak Ara histeris seraya menggerakkan kedua kakinya yang hanya menendang udara dan tangan yang memukuli punggung keras orang itu.
Sampai sebuah suara menghentikan aksi Ara.
"Calm down, Bel." Suara barithone yang Ara rindukan dan benci bersamaan masuk di indera pendengarannya.
Tes
Tak dapat di tahan. Air mata berjatuhan tak tahu diri.
Ceklek
Klik
Suara pintu mobil terbuka dan suara seat belt yang melingkari perut Ara membuatnya tersadar.
Deg
Kedua pasang mata hazel dan hitam legam itu bertatapan lamat - lamat. Sepertinya waktu belum ingin memisahkan mereka.
Masih dengan air mata yang berlomba - lomba jatuh dari kedua mata bermanik hazel dan bahu bergetar. Dadanya sangat sesak menatap dekat lelaki yang dirindukan dan di benci Ara.
"Sssttttt.."
...💜💜💜...
Holla hollaaaaaaaaaa ketemu lagi di cerita Incess Ara. Masih perkenalan yaaaaaaah
__ADS_1
Sampai jumpa di chapter selanjutnya guuuuyyyysssssss
Byeeeeeeeee 😘