Possessive Vs Bucin

Possessive Vs Bucin
Menolak


__ADS_3


Mobil yang di kendarai Gavin dan Ara melaju membelah padatnya ibu kota. Menuju salah satu mall besar yang selalu ramai di kunjungi.


"Mau kemana dulu nanti, mau langsung main atau ada yang di beli dulu?". Tanya Gavin yang fokus ke depan sesekali melirik Ara.


Ara terlihat berfikir dengan menempelkan telunjuknya di dagu.


"Sebenernya sih ada yang mau di cari Kak. Tapi gak bisa Aku sendiri. Harus bareng sama temen - temen aku." Jawab Ara sedikit ragu.


"Emangnya mau nyari apa, Ra?". Tanya Gavin kembali.


"Baju sama aksesoris, Kak." Jawab Ara.


"Kalo cuma itu kenapa harus rame - rame?". Tanya Gavin heran. Justru Ia ingin jalan berdua dengan Ara. Bagaiman kalo empat sahabat Ara ikut? Kacau.


Wah, roman - romannya Gavin ada rencana buat ehem xixixi


"Gak bisa Kak. Kan kita punya selera sendiri. Terus juga baju dan aksesoris itu mau kita pakai buat kostum di acara classmeet nanti." Jawab Ara.


Gavin manggut - manggut.


"Yaudah, Kamu telpon aja mereka Ra. Lagian udah mepet kan waktunya." Ucap Gavin yang pasrah dengan keputusannya.


"Gak apa, Kak? Aku gak enak nih sama Kak Gavin." Ucap Ara ragu.


Gavin tersenyum seraya mengangguk. Tanpa sadar tangan kirinya mengusap puncuk kepala Ara.


Ara langsung mengalihkan pandangannya pada Gavin. Sesaat Ara terpesona melihat senyuman Gavin.


Ini pertama kalinya Ara melihat cowok kulkas yang merupakan sahabat dari kakak pertamanya itu tersenyum.


Hanya terpesona. Tidak lebih.


Ara tak mengucapkan apa - apa. Ia kembali sibuk dengan ponselnya. Melakukan panggilan grup pada sahabatnya.


"Girls, ke mall xx yah. Kita cari kostum buat classmeet. Gue otw nih." Ucap Ara.


"Telat lo Raaaaaa." Ucap Rain.


Ara mengangkat alisnya sebelah.


"Maksudnya?". Tanya Ara.


"Kita udah di mall xx kali Raaa. Lo lupa jangan - jangan." Ucap Mega heboh.


"Semalem gue wa di grup, Ra. Lo sibuk siiihh sama cemeweeeww." Ucap Manda mengejek Ara.


"Iiisssh apaan si looo. Iya gue lupa.Yaudah ini bentar lagi gue nyampe. Bye." Ketus Ara kesal pada sahabatnya itu.


Tut


Panggilan terputus. Ara menyimpan ponselnya kembali di tas slempangnya.


"Mereka udah di mall xx, Kak." Ucap Ara memberitahu. Gavin mengangguk lalu fokus kembali pada kemudinya.


***


Mobil Gavin memasuki pelataran depan mall. Gavin memarkirkan mobilnya di area parkir depan loby.


Gavin dan Ara keluar berbarengan. Mereka berjalan memasuki mall dan langsung menuju lantai dimana empat sahabat Ara berada.


^^^Lovely Girls^^^


^^^Ara:^^^


^^^Dimana?^^^


^^^Manda:^^^


^^^Bell's La Cucina^^^

__ADS_1


^^^Ara:^^^


^^^Okke^^^


"Dimana katanya?". Tanya Gavin.


Mereka berjalan berdampingan, menelusuri toko - toko dan resto yang berjejer.


"Di resto Itali Kak. Kayaknya mereka nyarap dulu disana." Jawab Ara.


Gavin manggut - manggut. Sepanjang mereka jalan, tak sedikit orang yang menatap mereka kagum. Terlihat serasi sebagai pasangan.


Meski mereka berbeda. Gavin yang asli kelahiran tanah air, berkulit kuning langsat dan Ara keturunan negeri gingseng. Memiliki kulit putih susu.


Namun Gavin dan Ara tetap fokus berjalan dan sesekali mengobrol.


Saat keki mereka memasuki resto Italia, Ara melihat empat sahabatnya duduk di meja tengah.


"Araaaa." Teriak Mega membuat tiga sahabatnya mendelik tak suka. Sedangkan Ara meringis saat melihat tatapan beberapa pengunjung ke arahnya.


"Untung udah copot urat malunya." Batin Ara.


Ara dan Gavin berjalan menghampiri meja itu. Gavin menarik kursi untuk Ara duduk. Barulah Gavin duduk di samping Ara.


Manda, Tiara dan Rain sudah memperhatikan sikap guru olahraganya itu ketika masuk ke resto bersama Ara.


Mereka tak menyangka, jika guru olahraga yang terkenal galak dan killer itu bisa se sweet ini.


Namun ketiga sahabat Ara itu hanya diam dengan segala pikiran yang mengendap di benak mereka. Berbeda dengan Mega yang tengah fokus foto - foto makanan yang tadi di pesan dan dengan tidak sengaja Ia memotret ke arah Gavin dan Ara.


Dimana Gavin yang tengah memperhatikan Ara yang sedang melihat - lihat buku menu. Yang langka, Gavin tersenyum di depan anak muridnya yang lain.


Dan PARAHNYA lagi. Mega memotret dengan aplikasi ig yang mana itu di story nyaaaaaaaa.


"Pesen apa Kak?". Tanya Ara.


"Samain aja sama pesenan Kamu." Jawab Gavin lembut.


Uhuk


Uhuk


Manda dan Rain langsung menyambar jus masing - masing untuk meredakan sakit di tenggorokkan mereka.


Ara menatap mereka dengan alis mengkerut. Kenapa dua sahabatnya ini. Sedangkan Gavin sedang menyebutkan pesanan untuknya dan Ara.


Sebetulnya empat sahabat Ara ini sudah mendapat cerita tentang Mr. Gavin yang merupakan sahabat kakak pertama Ara.


Namun mereka di buat terkejut dengan segala sikap Gavin pada Ara. Yang mana itu membuat banyak spekulask pada Manda, Rain dan Tiara. Mega? Dia mah gak akan nyambung.


***


Setelah menyelesaikan sarapan dengan menu pasta dan jus. Mereka berenam melangkah menuju satu toko brand pakaian yang sudah terkenal.


Sebetulnya Ara dkk sudah memutuskan dimana mereka akan membeli baju dan lainnya. Maka dari itu, mereka tidak perlu berkeliling untuk memilah dan memilih.


Gavin merasa diuntungkan dengan itu, karena sejujurnya Ia tak suka jika harus berlama - lama belanja.


Ara dkk sudah menemukan pakaian yang di rasa cocok. Ada 2 setelan berbeda yang mereka beli. Terakhir mereka menuju tempat aksesoris, yang pasti sudah mereka list jauh - jauh hari.


Setelah mendapatkan apa yang dibutuhkan, dan pastinya mereka membayar belanjaan itu dengan uang yang mereka hasilkan dari yutub.


Yup, Ara dkk memiliki akun channel yutub yang di buat sejak dua tahun lalu. Setelah mereka lengkap menjadi berlima, dan memiliki hobi yang sama. Mereka berkomitmen membuat channel di yutub.


Dan tak ada yang menyangka jika akun mereka akan banjir subscriber. Dan banyak dari mereka yang menyukai konten yang mereka buat.


Bukan untuk mendapatkan penghasilan, mereka hanya ingin share apa yang mereka bisa. Dan ada juga konten - konten dimana mereka mengikuti kompetisi.


"Habis ini kemana lagi?". Gavin bertanya karena sepertinya Ara dkk sudah tidak membeli barang lagi.


"Mm, kayaknya kita mau pulang Mr." Ucap Manda terlebih dahulu.

__ADS_1


Mega yang akan protes di tahan Tiara. Gavin manggut - manggut.


"Kalo gitu Saya pinjam Ara dulu." Ucap Gavin membuat Ara mendelik.


"Pinjem pinjem, emangnya barang." Ucap Ara pelan seraya mengerucutkan bibirnya.


Gavin terkekeh dibuatnya. Sedangkan Manda dan lainnya mempersilahkan Gavin dan Ara. Mereka berpamitan pada Ara dan Gavin.


"Kita mau kemana, Kak?". Tanya Ara setelah empat sahabatnya tak terlihat oleh pandangannya.


"Kamu maunya kemana?". Gavin bertanya balik. Meminta pendapat Ara.


"Mm, kita ke JCo aja deh. Gimana Kak?". Tanya Ara.


Gavin mengangguk menyetujui saran Ara. Sepertinya gadis itu masih ingin makan. Gavin terkekeh kala melihat badan Ara yang tinggi ideal. 1 tahun ini Ia memperhatikan Ara.


Bahkan kebiasaan makan banyak di kantin pun Gavin tahu. Makannya Ia tak heran lagi dengan Ara yang akan kembali makan.


Saat Ara dan Gavin sampai di Jco. Ara memesan donat kesukaannya dan cappuchino. Sementara Gavin memesan americano.


Mereka duduk di meja samping kaca menunggu pesanan datang.


"Makasih ya Mbak." Ucap Ara di angguki pelayan.


Mereka pun menikmati makanan dan minuman yang mereka pesan. Sesaat kemudian Gavin memulai pembicaraan serius dengan Ara.


"Ra, boleh Saya mengatakan sesuatu?". Tanya Gavin seraya menatap lekat Ara.


Ara yang sedang mengunyah donat pun segera minum untuk melegakan tenggorokkannya. Ara dengan tenang mengangguk.


Sepertinya Ara sudah tahu niat Gavin mengajaknya jalan berdua.


"Saya menyukai Kamu, Ara. Maukah Kamu jadi pacarku?". Ucap Gavin serius.


Sedetik Ara terdiam, menatap sepasang mata coklat legam milik Gavin. Ara menghela nafasnya pelan.


"Sejak kapan, Kak?". Tanya Ara.


Sebetulnya sudah banyak dari cowok yang menembaknya, baik itu dari lingkungan sekolah atau dari media sosial. Terlebih Ara juga lumayan terkenal selama bergabung dengan yutub.


"Sejak pertama kali melihat Kamu, waktu saya masuk di sekolah." Ucap Gavin.


"Makasih Kak Gavin udah mau suka sama Aku. Tapi maaf Kak, Aku gak bisa menerima ajakan Kakak. Kak Gavin udah aku anggap seperti Kakak Aku sendiri. Kak Gavin lelaki yang baik, Aku do'akan Kakak mendapatkan perempuan yang baik pula untuk jadi pacar Kakak." Ucap Ara.


"Sekali lagi maaf ya, Kak."


Gavin menghela nafasnya. Lalu manggut - manggut seraya tersenyum.


"Iya, tidak apa - apa. Asalkan liat Kamu seneng, Saya juga seneng." Ucap Gavin.


Mereka pun mengakhiri obrolan itu dengan pesanan yang juga sudah habis.


Gavin dan Ara berjalan keluar dari Jco.


"Kakak pulang duluan aja gak apa - apa. Aku ada janji ketemu juga sama orang." Ucap Ara saat mereka akan melangkah menjauh dari Jco.


Gavin berhenti dan membalikkan badannya menatap Ara.


"Yakin? Masalahnya Add minta Saya untuk jaga Kamu." Ucap Gavin.


Ara mengangguk yakin. "Mm gak apa - apa kok Kak. Tadi aku juga udah wa ke orang rumah, kalo aku gak bareng Kakak pulangnya." Jawab Ara meyakinkan Gavin.


Yah, Ara memang berniat tidak pulang bareng dengan Gavin. Rasanya capek jika harus bolak - balik pergi. Mending capek sekalian.


Gavin mengangguk mengerti, tidak ingin membuat Ara risih padanya.


"Yasudah, Saya duluan kalo gitu. Kamu hati - hati. Bye Ara." Pamit Gavin.


Ara mengangguk melambaikan tangannya dengan senyuman lebarnya.


***

__ADS_1


"Seneng banget kayaknya yang abis jalan berdua." Ucap seseorang di belakang Ara membuat Ara terkejut dan hampir berteriak jika saja Ia tak melihat mukanya.


__ADS_2