Possessive Vs Bucin

Possessive Vs Bucin
Done


__ADS_3

Ara yang terkejut sontak saja tangannya reflek mengayunkan tasnya untuk memukul si pelaku.


Bugh


"Aws. Parah Kamu, Bel. Masa aku di timpuk." Ucap Bryan seraya mengusap dadanya.


Bukannya merasa bersalah, Ara justru memasang wajah jutek. Satu, karena Bryan mengejutkannya. Yang kedua, karena Bryan jadi pusat perhatian cewek - cewek bahkan ibu - ibu di mall itu.


Bryan malah terkekeh melihat ekspresi Ara tersebut. Menurutnya, Ara jadi semakin menggemaskan.


Ara yang melihat Bryan terkekeh makin kesal saja. Dengan cepat Ara merangkul lengan kiri Bryan. Agar tak ada yang jelalatan menatap cowok yang Ia sukai itu.


Bryan tersenyum saja melihat tingkah laku Ara. Ia meminta paper bag yang di tangan Ara agar Ia saja yang membawanya. Takut cewek di sampingnya ini kelelahan.


"Katanya di cafe xx. Kok malah disini?". Tanya Ara mengingat tempat janjian mereka bukan di mall.


"Cafenya di mall ini. Kenapa, kamu takut aku liat kamu yang nongkrong di JCo berduaan sama Mr. Gavin?." Ucap Bryan dengan nada tak sukanya.


"Kamu nguntitin aku?". Ara mendelik tak suka.


Bryan menghela nafas. Ia memang tak sengaja melihat Ara yang duduk dengan Gavin di JCo tadi. Makannya Ia bisa menghampiri Ara


"Hanya kebetulan. Mau banget aku nguntitin kamu?". Tanya Bryan menggoda Ara dengan tatapan nakalnya.


Ara mengalihkan pandangannya menyapu toko - toko yang Ia lewati. Asalkan tidak menatap manik hitam legam itu.


"Ziva gak ikut?". Tanya Ara.


"Ziva sama orang tuanya." Jawab Bryan.


Ara mengangguk saja. Mereka berjalan naik eskalator menuju lantai dimana ada banyak resto dan satu lantai dengan time zone juga cinema*.


"Disini." Bryan menarik lembut tangan Ara memasuki restoran jepang.


Ara menatap sekitar. "Tapi aku gak mesen yah, tadi udah makan soalnya." Ucap Ara.


"Sama Mr. Gavin?". Tatap Bryan tak suka.


Ara menggeleng."Sama empat rempong juga." Jawab Ara tanpa menatap ke arah Bryan.


Bryan tak menanggapi lagi. Mereka menaiki tangga menuju lantai dua resto itu.


"Itu mereka, ayo!". Ucap Bryan menunjuk satu meja dengan dagunya.


Ara menatap meja tersebut. Ada Ziva dan dua orang beda usia disana. Yang Ara yakini, cewek di meja itu yang sepertinya seusia dengan Bryan merupakan Momy Ziva. Becca.


Dan yang pria matang itu sepertinya Dady Ziva, Zack.


"Mooomy, Uncle Bryan dan Aunty Bela sudah dataaaaaang." Ucap Ziva girang di pangkuan Zack.


Becca dan Zack mengalihkan pandangan mereka ke arah sepasang manusia yang mendekati meja mereka.


Becca dan Zack berdiri menyambut kedatangan Bryan dan Ara.


"Gak usah formal. Duduk, Bel." Ucap Bryan menarik kursi untuk Ara duduki.


"Hai, kamu Arabela? Saya Becca." Sapa Becca mengulurkan tangannya ke hadapan Ara.


Ara menyambutnya dengan ramah."Iya, Saya Arabela." Ucap Ara.


"Jadi ini perempuan yang Lo lindungi mati - matian?". Tanya Zack menatap Ara. Memperhatikan detail wajahnya, sepertinya mirip seseorang.


"Gak usah liatin Dia kayak gitu." Ucap Bryan penuh penekanan. Tak suka melihat cowok lain menatap Ara lekat.

__ADS_1


Zack tersenyum mengejek. Namu tak membalas ucapan Bryan.


Ara justru tidak tahu harus berkata apa. Karena yang Ia kira Bryan mengajaknya mengobrol berdua. Namun ternyata ada pihak lain.


"Ekhem. Bela, Saya minta maaf jika kehadiran Ziva membuat kamu tidak nyaman.Terlebih hubungan kamu dan Bryan jadi renggang. Sebelumnya memang saya sangat terobsesi untuk miliki Bryan. Namun tidak lagi. Zack sudah menjadi suami yang saya harapkan." Ucap Becca


Ara memegang tangan perempuan itu dan tersenyum hangat seraya mengangguk.


"Seharusnya bukan kamu yang meminta maaf." Ucap Ara seraya mendelik tajam ke arah Bryan.


Uhuk


Uhuk


Bryan yang di tatap seperti itu pura - pura batuk.


"Lagian itu kan masa lalu. Semua orang tentu punya masa lalu, meski berbeda. Yang kita miliki saat ini, patut kita syukuri. Dan kalian menjadi contoh yang baik sebagai pasangan. Bersedia menerima dan menjalani masa depan bersama." Ucap Ara bijak.


Mereka berbincang santai. Setelah segala percekcokan di antara Bryan dan Zack dulu. Saat ini mereka mau untuk duduk di satu meja dan mengobrol. Meski sangat irit.


***


"Uncle Bry dan Aunty Bel gak ikut kita?" Tanya Ziva yang ada di gendongan sang Dady.


Ara menggeleng. "Uncle dan Aunty harus sekolah. Nanti kalau libur, kita pasti main ke rumah Ziva." Ucap Ara lembut seraya menjawil pelan pipi Ziva.


Bryan mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata apapun.


Zack, Becca dan Ziva menaiki mobil yang akan membawa mereka ke bandara. Begitupun dengan Ara dan Bryan. Mereka berjalan ke arah mobil rolls royce sport car yang di kendarai Bryan sore ini.



(credit by google)


Ceklek


Ara menganglat kedua alisnya, namun setelahnya Ia menjulurkan lidahnya pada Bryan.


"Wleek."


Bryan melotot. "Eh, mau di gigit itu lidahnya? Hm?" Ara menghindar dengan segera masuk ke dalam mobil dan menutup pintunya cepat.


Bryan menggelengkan kepalanya juga terkekeh melihat tingkah laku Ara saat ini. Segera memutari kap mobil, lalu masuk ke pintu driver.


"Seat belt, Bel." Ucap Bryan seraya mengencangkan sabuk pengamannya.


Ara mengangguk lalu memasangkan seat beltnya. Mobil pun segera melaju keluar dari pelataran mall.


Kriiiing


"Ya, Mom?". Bryan mengangkat panggilan dari Momy Brianna.


"Kamu dimana Bryan?". Tanya Momy Brianna.


" Otw pulang, Mom. Kenapa, Momy mau di beliin sesuatu?". Tanya Bryan.


Brianna menggelengkan kepalanya di seberang sana meski puteranya itu tak bisa melihatnya.


"Kamu sudah sama calon menantu Momy?". Tanya Bryan www2s - hati di jalan. Kami semua sudah menunggu kalian di tempat yang kemarin kami sepakati. Segera ya Bryan." Ucap Momy Brianna lalu menutup panggilannya sepihak.


"Ekhem, Bel." Panggil Bryan ragu.


Sebetulnya malam ini ada sesuatu yang sangat penting. Untuk Bryan dan Ara, juga dua keluarga besar.

__ADS_1


Namun Ara tidak mengetehaui apa- apa. Bryan jadi ragu untuk mengatakannya pada Ara. Ia takut jika Ara malah menolaknya mentah - mentah.


"Hm?". Ara mengalihkan pandangannya ke arah Bryan, menatap cowok itu lekat.


Bryan semakin gugup di buatnya. Namun Ia juga harus segera mengatakannya. Ini pun permintaan dari Dady Ara.


"Loh, aku baru ngeuh kalo kita bukan ke arah rumah Dady. Kita mau kemana Bryan?". Tanya Ara clingak clinguk ke kiri dan kanan.


Ara mengerutkan dahinya saat mereka melewati jalan yang di sisinya pohon - pohon sawit yang tinggi.


Ceklek


Ara menatap Bryan yang melepas sabuk pengamannya. Bryan menatap Ara serius. Ara merasa waspada ketika menerima tatapan itu.


Bryan memajukan badannya, dan Ara reflek mundur hingga punggungnya terbentur pintu mobil.


"B-Bryan, kamu mau apa?". Tanya Ara terbata - bata.


"Kamu sudah yakin kan, kalau Bryan cuma cinta sama Bela?". Tanya Bryan menatap lekat kedua manik biru laut Ara.


Ara terdiam mendengar pertanyaan Bryan yang tiba - tiba. Dan itu membuatnya blank.


"Bela." Panggil Bryan lembut.


Ara tersadar dan merasakan aroma mint yang masuk ke indera penciumannya saat Bryan memanggilnya. Ara baru sadar kalau saat ini jarak mereka berdua sangatlah dekat.


"K-Kamu nanya a-pa tadi?". Tanya Ara gugup dengan nafas yang tersengal - sengal.


"Kamu sudah yakin kan, kalau Aku cintanya cuma sama Kamu?". Tanya Bryan kembali dengan nada lebih pelan.


Ara menatap kedua manik hitam legam milik Bryan. Maniknya yang dapat selalu menenggelamkan dirinya.


"Jujur?". Bryan mengangguk.


"Aku belum yakin Bryan." Bryan mendesah kecewa dan kembali menduduki kursk drivernya. Menyenderkan badannya pasrah.


"Aku belum yakin kalau Kamu belum jadi milikku sepenuhnya." Lanjut Ara menatap Bryan malu - malu dengan senyuman manis yang terukir disana.


Bryan terkejut bukan main. Segera mengubah posisi duduknya menyamping.


"Kamu bilang apa, Bel?". Tanya Bryan ingin memastikan kembali apa yang Ia dengar.


Ara menunduk. " Aku belum yakin kalau Kamu belum jadi milik Akuuuu." Teriak Ara satu tarikan nafas.


"Thanks Gooooood." Teriak Bryan segera memeluk Ara erat.


Ara membalas pelukan Bryan tak kalah erat.


"Bela, kalau kita merried sekarang Kamu mau?". Tanya Bryan membuat Ara kaget bukan main dalam pelukan hangat cowok itu.


Ara mengangkat wajahnya menatap wajah tampan dan gently itu lekat. Dalam benaknya Ia memang sangat ingin dinikahi cowok ini. Ia ingin semua cewek di luaran sana tahu kalo cowok ini hanya miliknya. Dan akan memilihnya. Hanya dirinya.


Ara mengangguk pelan. Bryan yang merasakannya segera menjauhkan badan mereka. Menatap Ara lekat.


"Apa Bel? Jangan cuma ngangguk - ngangguk." Ucap Bryan.


"Iya Bryaaaaaaaaan, Aku maaaaaaauu." Teriak Ara.


Bryan kembali memeluk Ara erat. Lalu setelahnya, dengan perasaan gembira Bryan melajukan kembali mobilnya.


Bryan mengetik pesan pada seseorang.


"Siapkan semuanya."

__ADS_1


...Bersambung...


Hayoloooooh siapin apa tuuuuuuuuuhhh hihi


__ADS_2