Possessive Vs Bucin

Possessive Vs Bucin
Back To School (Berusaha Cuek)


__ADS_3

Hari ini hari ke 99 Ara berdiam diri di rumah. Setelah hari itu Bryan mendatanginya, esok dan seterusnya Bryan tidak pernah berkunjung atau sekedar bertanya kabar.


Tak ada satupun pesan atau panggilan dari lelaki yang sudah mengambil first kissnya dan segala kenangan manis hari itu.


Ara juga tak pernah bertanya pada kakaknya, Akio atau pada keluarga cowok itu.


Untuk mengalihkan segala kegalauan yang melanda, Ara sering mengundang empat sahabatnya untuk main ke rumahnya bahkan mereka sering menginap di kediaman Arthuro.


Syukurnya orang tua Ara tidak melarangnya. Dan itu membuat Mega bersorak gembira karena bisa menggoda kakak Ara.


Pukul 10 malam. Selesai makan malam bersama orang tuanya, Adelard dan Akio. Ara langsung pamit untuk segera beristirahat. Tapi nyatanya, sampai pukul 10 malam mata Ara masih terbuka.


Tangannya memegang ponsel dengan matanya menatap lekat pada wallpaper dirinya dan Bryan yang sedang berangkulan.


"Lagi?". Ara menghela nafasnya panjang.


Mengutak - atik ponselnya mencari nomor seseorang yang membuatnya galau berminggu - minggu.


Di layar ponselnya muncul tanda ringing pada panggilan yang Ia lakukan.


"Haloo?". Ara termenung saat yang mengangkat bukan seseorang yang diharapkannya.


"Baby, siapa itu yang telpon? Kenapa gak bilang Dady, hm?". Nafas Ara semakin memburu mendengar kalimat dari seorang cowok itu.


"Gak tau Dady, kan Ziva belum bisa baca." Jawab suara kecil nan imut itu.


Yah, yang mengangkat panggilan Ara adalah seorang anak perempuan. Ara gak tahu itu anak siapa, tapi anak yang bernama Ziva memanggil cowok itu Dady. D-A-D-Y. DADY.


Ara terpaku dengan menahan nafasnya. Seolah lupa cara bernafas.


Sedangkan di seberang sana, seoeang cowok terkejut bukan main ketika melihat nama di layar ponselnya.


"Bela? Bel, Bela?." Panggil Bryan.


TUT


Yah, hancur sudah keyakinan Ara. Setelah berjam - jam, bahkan berhari - hari Ara berusaha memantapkan hati untuk menghubungi cowok itu, namun dalam sekejap hancur tak bersisa keyakinan yang dibangunnya selama ini.


***


Jam dinding sudah menunjukkan pukul 7 pagi.


Di sebuah kamar bernuansa putih dan biru, seorang gadis sedang mematut dirinya di depan cermin. Meyakinkan hatinya untuk tetap tegar jika bertemu cowok yang sudah mengecewakannya.


Ceklek


Gadis itu berjalan ke arah lift, menekan tombol 1.


Ting


Pintu lift langsung terbuka di ruang keluarga. Sepi. Orang tuanya semalam berpamitan untuk ke Amerika beberapa hari.


Di meja makan sudah ada Adelard dan Akio yang menunggunya. Sedangkan Axel dan Ansel sudah dari beberapa hari yang lalu berangkat ke Inggris untuk menyelesaikan pendidikan masternya yang tinggal 6 bulan lagi.


"Pagi Hyung." Sapa Ara tersenyum pada Ad dan Akio. Tak lupa memberikan morning kiss pada hyungnya.


"Pagi, princess." Jawab keduanya.


Mereka bertiga sarapan dengan tenang, tak ada candaan atau obrolan yang biasanya terjadi. Ad dan Akio merasa ada yang berbeda dari adik bungsunya.


Terlebih Akio, Ia juga merasa ada sesuatu yang disembunyikan salah satu sahabatnya selama ini. Bahkan sahabatnya yang lain, termasuk sepupu cowok itu pun tak ada yang tahu sama sekali.


"Hyung, aku otw duluan yah." Ucap Ara setelah menyelesaikan sarapannya.


"Loh, bareng aja dek. Gue juga udah selesai nih." Ucap Akio.

__ADS_1


Ara menggelengkan kepalanya seraya tersenyum lebar.


"Nope, empat rempong udah jemput tuh. Takutnya karatan. Xixixi." Kekeh Ara.


"Yasudah, kalian berangkat lah. Hyung juga mau berangkat ke kantor nih." Ucap Ad. Ara dan Akio menganggukkan kepala sebagai jawaban.


Ara berangkat ke sekolah dengan empat sahabatnya. Sementara Akio berangkat dengan mobil sportnya sendiri. Namun tetap mengawasi di belakang kendaraan sahabat adiknya itu.


***



BMW putih convertible series 2021 memasuki halaman sekolah internasional elit. AIHS.


Siapa saja yang melihatnya sudah pasti hapal mobil siapa itu.


Mobil putih itu terparkir sempurna di depan gedung utama sekolah. Seharusnya parkir di area yang sudah disediakan, namun memang pemilik mobil yang satu ini suka sekali melanggar aturan tata tertib parkir.


4 pintu terbuka dan meperlihatkan 5 pasang kaki yang turun bergantian. Bak slow motion, adegan turun mobil saja sudah seperti di film - film.


5 siswi most wanted, berjalan bersamaan. Membuat para siswa yang melihat mereka terpesona dan riuh meneriakkan nama mereka.



...(credit by pinterest)...


Tak berselang lama, 3 monil sport car hitam berhenti di sebelah bmw putih tadi.


Sama halnya dengan 5 girls squad. Ke 5 cowok most wanted ini juga mendapat sambutan yang riuh dari para siswa.


Satu cowok terlihat berjalan cepat mengejar seseorang.


Ke empat sahabat cowok itu menatap heran dengan satu sahabatnya. "Kenapa lagi sih?". Pikir mereka.


"Bela." Panggil Bryan saat Ara dkk sudah akan memasuki kelas XII IPA 1.


Jangan kira mereka tak tahu. Mereka tahu permasalahan apa yang sudah membuat sahabatnya itu kecewa kembali pada satu cowok kurang di ajar ini.


"Gue mau ngomong bentar sama Bela." Jawab Bryan dingin.


"No, udah basi." Ucap Manda ketus lalu merangkul Ara untuk memasuki kelas mereka.


Ara sekilas menatap ke arah Bryan. Wajahnya tampak tak menyiratkan emosi satu pun.



***


Sekuat hati Ara berusaha menahan gemuruh di dadanya agar tidak membuat sahabatnya khawatir.


Selama pelajaran berlangsung, Ara mencoba fokus pada penjelasan guru dan catatannya. Beruntungnya tak ada ulangan dadakan hari ini.


"Baiklah, sampai disini dulu materi kita hari ini. Jangan lupa tugas kelompok minggu depan dikumpulkan yah!". Ucap Bu Guru kesenian.


"Iya Bu." Jawab siswa siswi kelas XII IPA 1.


"Yes, olahragaaaaaa." Heboh Mega di bangku kedua dari bangku Ara dan Manda.


"Yaudah yuk buruan, ganti baju. Nanti yayang bebeb gue karatan nungguin kita lagi." Kelakar Manda.


"Bebeb bebeb, bebek soang." Canda Rain.


Mereka berlima berjalan menuju ruang ganti ruang olahraga setelah sebelumnya mengambil baju olahraga dalam loker di kelas.


Setelah mengganti baju dengan baju olahraga, mereka semakin terlihat menawan. Sudah wajah - wajah itu di atas rata - rata. Ketika memakai baju olahraga khas sekolah itu makin - makin keluarlah pesonanya.

__ADS_1


Atasan baju tanpa lengan, pas di tubuh meski tidak ketat. Dipadukan dengan short pants sejenis leging. Beda lagi dengan laki - laki, meski model atasan sama tanpa lengan, tapi bawahan short pant seperti celana sepak bola.


Ara mencepol rambutnya asal. Hari ini olahraga basket regu. Yang pastinya Ara dkk menjadi satu tim.


Siswi kelas XII IPA 1 berjalan bersamaan memasuki pagar lapangan out door. Bisa di lihat disana bukan hanya kelas Ara, namun kelas XII IPS 1.


Tak sedikit dari siswi kelas Ara yang heboh dan kegenitan saat tahu jam olahraga hari ini disatukan dengan kelas tersebut. Secara, kelas tersebut penuh dengan cowok - cowok tampan. Meskipun di kelas mereka sendiri juga sudah bejibun stok cowok tampan.


Ara dkk terlihat biasa saja saat melewati siswa - siswi kelas IPS 1 yang terlihat duduk di tribun menunggu jam olahraga di mulai. Menghampiri guru olahraga dan memberi salam. Itu yang dilakukan Ara dkk. Terlebih Manda yang terlihat tak berhenti senyum. Secara guru mereka ini merupakan guru termuda di sekolah mereka.


Mr. Gavin, 25 tahun. Seusia kakak pertama Ara, Adelard.


"Adelard masih di indo, Ra?". Tanya Mr. Gavin pada Ara.


Ara menatap Gavin dengan satu alis terangkat, mengisyaratkan keheranan.


Gavin terkekeh. "Aku dan Adelard teman satu kumpus dulu." Ara mengangguk mengerti.


"Iya, Hyung masih disini. Sibuk ngurusin kantor tuh. Memang kenapa, Mr?". Tanya Ara balik.


Banyak pasang mata yang menatap pada guru dan siswi itu mengobrol. Terlihat akrab. Tidak seperti biasanya.


Yah, biasanya guru olahraga mereka ini tertilah tidak mudah akrab dengan seorang perempuan.


Hal itu membuat seorang cowok yang sedang duduk di tribun atas mengeraskan rahangnya. Bryan. Yah, Akio menatap Bryan yang terlihat menahan amarah dari riak wajahnya.


Sebelum Bryan menghampiri Mr. Gavin dan Ara. Pluit sudah berbunyi, tanda kelas olahraga akan di mulai.


Setelah tim sudah di bentuk, siswa siswi dua kelas tersebut bertanding basket sesuai dengan nomor urut yang sudah di ambil setiap ketua tim basket.


Tim Ara mendapat giliran main pertama, melawan tim siswi dari kelas IPS 1. Serena dkk.


Terdengar riuh dari teriakan siswa IPA 1. Meneriaki na Ara dkk. Terlebih dari ruang kelas yang ada di sekitaran lapangan pun tampak keluar kelas untuk menonton.


15 menit kemudian permainan basket tim Ara dan tim Serena selesai, dengan poin terbanyak dari tim Ara dkk.


Selanjutnya, tim Bryan dkk melawan tim Marvel dkk dari IPA 1.


Ara dkk terlihat duduk di tribun bawah. Permainan dua tim itu terlihat sengit. Terlebih jika di lihat dari tatapan Bryan dan Marvel.


"Ra, lo gak liat noh si Bryan sama si Marvel udah kayak perang aja?". Tanya Rain.


Ara mengalihkan pandangannya dari layar ponsel ke tengah lapangan.


"BRYAN, BRYAN."


"AKIO, AKIO."


"MARVEEL."


Teriakan riuh para siswi yang menonton permainan basket dua tim itu.


Ara hanya mengendikkan bahunya acuh. Ia berusaha untuk cuek.


Setelah 15 menit permainan basket berjalan, permainan dimenangkan oleh tim Marvel. Dan itu membuat Akio dkk terlihat kesal.


"Lo kalo ada masalah gentle dong, Bro. Jangan lu bawa - bawa ke jam pelajaran.". Kesal Akio.


Kesal? Kesal lah, gimana gak kesal kalo Bryan bermain kasar dan berakibat pada pengurangan poin tim mereka. Yah, selama permainan berlangsung, Bryan beberapa kali menyenggol Marvel dan membuat cowok itu terjatuh.


Bryan tak mengindahkan ucapan Akio. Ia masih fokus pada satu orang yang tengah berdiri dengan botol minum. Saat amarah sudah benar - benar menguasainya, Bryan dengan cepat melangkah.


"Nih, minum lo." Ara memberikan botol minum pada Marvel.


Yah, karena sebelumnya Marvel menitipkan botol itu padanya.

__ADS_1


"Gue ke kantin duluan ya." Setelah memberikan botol itu, Ara dkk berjalan keluar lapangan untuk menuju kantin.


...Bersambung...


__ADS_2