
Terlihat seorang remaja pria sedang duduk di depan meja laptop. Sibuk dengan stick gamenya. Tak tanggung - tanggung, 3 laptop apel di gigit berlayar lebar dan 1 laptop cekung di tengahnya.
Kamar bernuansa hitam dan biru dongker itu yang sesuai dengan karakter si empunya. Kamar yang sangat luas tak banyak barang juga hiasan. Hanya 1 ranjang king size dengan 2 nakas di samping kiri dan kanannya.
Rak buku seluas 1 sisi dinding. 1 lemari kaca besar yang terisi dengan banyaknya piala dan piagam. Jam dinding besar tertempel di dinding di hadapan ranjang.
1 pintu menuju bathroom dan walk in closset.
Tok
Tok
Tok
Terdengar ketukan di pintu kamar dengan 2 daun pintu dan bercat putih polos.
Si empunya beranjak dari duduknya, melangkahkan kali ke arah pintu di dinding samping kiri ranjang.
Ceklek
"Ya, Mom." Sapanya pada wanita cantik di balik pintu.
Si wanit menghela nafasnya lelah menatap putera bungsu di hadapannya.
"Kamu lupa?" Tanyanya yang di jawab anggukkan kepala puteranya.
"Lupa apa, Mom?" Tanyanya yang di jawab gelengan kepala sang Momy.
"Astaga Bryaaan, Papih sama Momy kan udah bilang semalam. Masa iya kamu lupa. Belum ada 24 jam." Ucap sang Momy kesal menggelengkan kepala dengan kebiasaan sang putranya itu.
Sedangkan si remaja lelaki yang masih berdiri di ambang pintu kamarnya hanya mengedikkan bahunya acuh.
"Bener - bener kamu ini. Buruan siap - siap! Papih sama Kakak udah nungguin di bawah. Tau ada acara penting, satu keluarga di undang. Emang harus di kawinin kayaknya, biar ada yang ngurus." Ucap sang Momy kesal ngomel seraya berjalan menjauh dari anaknya.
"MERRIED MOOOM BUKAN KAWIIIIN." Teriak sang putra hingga terdengar sampai ruang keluarga di lantai 1.
Dua orang pria beda generasi yang sedang duduk di sofa ruang keluarga itu mengalihkan pandangannya ke arah tangga yang meliuk - liuk di belakang mereka.
Terlihat seorang wanita cantik dengan gaun menutup kaki jenjangnya turun dengan omelan yang belum berhenti.
"Kenapa, Mom?" Tanya seorang pria yang lebih tua.
Yang di tanya menatap dengan tatapan tajam. "Anak kamu ituh. Masih muda udah pikun." Jawab si wanita yang tak lain isteri dari pira yang usianya baru menginjak usia 43.
Sedangkan sang isteri baru menginjak usia 42 tahun. Selisih 1 tahun. Meski sang isteri terlihat masih kesal, namun dengan sabar sang suami menenangkannya.
Pria dewasa yang tak jauh dari mereka hanya terdiam dengan senyum menatap keharmonisan orang tuanya itu.
"Tuan, mobil sudah siap." Ucap seorang pria yang seusia dengan pria yang di panggil tuan itu.
"Mom, acara apa sih?" Belum sang tuan menjawab ucapan asistennya.
Suara barithone dari pemuda yang berjalan ke arah mereka menginterupsi indera pendengaran.
Empat manusia yang ada di ruang keluarga itu mengalihkan pandangannya ke arah pemuda yang sudah rapih dengan stelan jas hitam, kaos hitam yang melekat di tubuh atletisnya, sepatu pantofel senada dengan pakaiannya, juga jam tangan hitam mahal terpasang di pergelangan kirinya.
Pemuda dengan anting di telinga kirinya dan potongan rambut yang pas dengan bentuk wajahnya.
"Benar - benar kamu ini, Bryan. Acara penting seperti ini kamu lupa. Benar kata Momy kamu, sepertinya kamu memang harus dikawinkan." Ucap sang Papih frontal membuat seseorang yang merupakan asistennya menunduk menahan tawa.
Bryan yang melihatnya pun mendengus kesal. Dan menatap sang Papih sebal.
"Sudah, lebih baik kita berangkat sekarang Mom, Pih. Kamu akan tahu ketika kamu disana, Bryan." Ucap pria dewasa berusia 25 tahun seraya menepuk sang adik.
Akhirnya, sepasang suami isteri dengan kedua putranya itu berjalan ke halaman depan kediaman yang sangat besar itu.
Sebuah mobil limousin hitam sudah terparkir sempurna di depan teras. Pintu dengan daun pintu sangat lebar dan tinggi itu sudah terbuka menyambut tuan rumah.
6 pengawal bersenjata berbaris di masing masing sisi pintu menyambut tuan dan keluarganya.
" Hormat kami, Tuan Dominic." Sapa para pengawal yang berjumlah 12 itu dengan melakukan bow tanda hormat pada tuan dan keluargamya.
Sang Tuan hanya mengangguk menjawab sapaan anak buahnya.
"Jaga rumahku dengan baik." Ucap sang Tuan tegas di jawab anggukan patuh dari anak buahnya.
"Sore Tuan. Silahkan." Ucap seorang pengawal di samping pintu penumpang yang sudah di buka sejak melihat kedatangan tuan dan keluarganya.
Dominic dan sang istri masuk terlebih dahulu di susul kedua putranya.
"Silahkan Tuan Dave, Tuan Bryan." Ucap si pengawal mempersilahkan dua putra majikannya untuk memasuki mobil limousin itu.
__ADS_1
Setelah sang Tuan dan keluarganya duduk nyaman. Mobil mewah itu melaju keluar halaman luas mansion.
Dengan seorang supir dan asisten yang duduk di kursi depan. Juga 4 mobil hitam yang berada di depan dan belakang mobil sang majikan.
2 diantaranya di depan dan 2 lagi di belakang. Mobil hitam rang rover yang tiap mobilnya berisikan 4 - 6 pengawal pribadi.
Iring - iringan mobil itu melaju dengan lancar. Terlebih 1 mobil polisi memandu perjalanan mereka agar tak terkendela.
"Waaaaaah beruntungnya gue bisa liat mobil keluarga Dominiiiiic." Seru heboh pemuda pemudi yang berpapasan dengan iring - iringan mobil itu.
"Gimana lo bisa tahu kalo itu mobil keluarga Dominic?" Tanya seorang pemuda pada temannya yang heboh itu.
"Lo liat gak, tadi warna platnya putih? Ada gambar warna emas di platnya. Itu plat khusus milik keluarga Dominic. Ada lagi, plat khusus keluarga Arthuro yang juga putih dengan ukiran naga biru peraknya." Ucap temannya tadi.
"Bukannya plat pribadi harusnya warna item?" Tanya temannya lagi heran.
Si temannya tadi menghela nafasnya. "Mereka itu salah satu keluarga berpengaruh disini. Orang tajir melintir. Sultan mah bebas." Jawab si temannya langsung menarik temannya itu masuk ke gerbang kampus di ibu kota J agar tak banyak bertanya lagi.
Hanya butuh waktu 30 menit ke tempat perhelatan besar di hotel terbesar dan termewah di Negara I bagi mobil limousin hitam mengkilat itu.
Dengan pengawalan ketat dan 1 mobil polisi, perjalanan mereka tak terhambat sedetik pun.
Ceklek
Suara pintu mobil terbuka. Dua pintu samping kiri dan kanan mobil limousin terbuka menampakkan empat sosok yang di segani dan terkenal di jagat raya.
Sepasang suami istri berjalan beriringan dengan lengan kanan sang istri mengait di lengan kiri sang suami. Di ikuti dua lelaki di belakangnya yang setia dengan raut muka yang bertolak belakang.
Yang satu dengan raut ramahnya membalas sapaan reporter dan para undangan yang berada di luar tempat acara. Sedangkan satunya dengan raut datar.
Ketika sepasang kaki menginjak lantai acara setelah melewati daun pintu yang terbuka lebar. Sebuah lagu terdengar mengiringi langkahnya di sertai tepukan tangan dari tamu undangan lainnya.
Bersamaan indera penglihatannya menatap objek yang berdiri di atas panggung. Menatapnya lekat dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia rasa lagu itu mewakili perasaannya.
Another summer day
Has come and gone away
In Paris and Rome
But I wanna go home, mmm
May be surrounded by
Still feel all alone
Just wanna go home
Oh, I miss you, you know
Langkah kaki tetap melangkah mengikuti dua pasang kaki di depannya yang menuju ke arah si empu perhelatan akbar itu.
Langkahnya terhenti mengikuti dua pasang kaki yang sedang berdiri di depan si empu acara, saling menyapa bercakap akrab.
Sedangkan sepasang kaki lainnya berada tak jauh darinya menghampiri sahabat si pemilik kaki yang merupakan anak dari tuan rumah.
Sedangkan dirnya berhenti tak jauh di hadapan objek yang sedari tadi mengalihkan dunianya.
And I've been keeping all the letters
That I wrote to you
Each one a line or two
I'm fine baby, how are you?
Well I would send them but I know
That it's just not enough
My words were cold and flat
And you deserve more than that
Matanya menatap lekat gadis di depannya yang terlihat semakin cantik dengan balutan gaun yang jatuh menyapu lantai.
Dengan lagu yang terdengar sangat serasi dengannya. Mengenang waktu yang mereka habiskan dengan jarak yang memisahkan tanpa bertegur sapa. Karena dirinya.
Another airplane
Another sunny place
__ADS_1
I'm lucky I know
But I wanna go home
Mmm, I got to go home
Let me go home
I'm just too far
From where you are
I wanna come home
Let me go home
I've had my run
Baby, I'm done
I gotta go home
Let me go home
It'll all be all right
I'll be home tonight
I'm coming back home
"Selamat datang untuk keluarga Dominic. Tuan Julian Dominic, Nyonya Anastasya Dominic. Dan kedua putranya, Tuan Dave Marvelino Dominic dan Tuan Bryan Marvelino Dominic yang menjadi tamu istimewa pada acara ini." Ucap salah satu MC di acara tersebut menyambut keluarga Dominic.
Tepuk tangan menggema menyambut keluarga penting itu. Tidak mempengaruhi seorang pemuda yang berdiri di hadapan seorang gadis.
Saat kaki akan melangkah mendekati gadis itu, seorang pemuda dengan setelan tuxedo silver terlihat berhenti dan mengajak gadis yang tak lain Ara ke tengah - tengah ballroom.
Bryan mengepalkan tangannya kala melihat Ara tersenyum menyambut uluran tangan pemuda yang tak lain Diego untuk berdansa.
"Selesaikan masalahmu dan jangan jadi pengecut." Tegur Dave menyadarkan Bryan dari fokusnya.
Sedetik kemudian, tak sengaja matanya menangkap sosok yang di kenalnya selama di luar negeri.
Bryan berjalan menghampiri sosok yang sedang berdiri di samping meja yang menyuguhkan banyak jenis kudapan ringan.
"Dimanapun tempatnya yang di cari tetap saja makanan." Tegur Bryan membuat lawan bicaranya berjengkit kaget.
"Oh God! Bryan, you surpised me." Sosok gadis yang di hampirinya ternyata Quenara.
"Mau dansa bersamaku?". Bryan mengulurkan tangannya di depan Quenara.
Quenara atau kerap di sapa Ara yang notabennya cepat tanggap, tanpa ragu menerima uluran tangan seorang Bryan.
Siapa yang berani menolak ajakan seorang Dominic? Tidak ada tentunya. Hanya kekaguman dan keterpesonaan yang dapat menarik semua gadis mendekat pada seorang Dominic.
Hanya saja itu tidak berlaku bagi seorang Ara.
Bryan dan Ara berjalan ke tengah - tengah ballroom tanpa melepaskan genggaman tangan mereka.
Sangat serasi. Batin Ara.
Bryan dengan percaya diri merangkul pinggang Ara tak jauh dari pasangan Ara dan Diego.
Bukan tak menyadari, justru Ia sangat - sangat sadar jika Ara-nya memperhatikannya sedari Ia berjalan dengan Ara.
"Kau sudah berjanji akan mengakhirinya, Bryan." Ucap Quenara tegas dan penuh penekanan. Berbanding terbalik dengan air wajahnya yang seperti bunga bermekaran.
"Kau memang actres paling top." Balas Bryan menanggapi ucapannya.
"Cih, ketika Dia di ikat pria lain lihat saja, mungkin kau akan menabrakan diri dengan truk?". Ejek Quenara.
"Stop it dan berpura - pura lah!". Kesal Bryan namun Ia tetap bergerak mengikuti irama musik.
Quenara hanya tersenyum mengejek tanpa membalas debat Bryan.
Sesaat mata memandang, orang akan mengira jika mereka adalah pasangan. Begitupun dengan Ara.
Ara menjadi tak fokus saat Diego mengajaknya berbincang sambil berdansa.
"Ara?". Tegur Diego.
"Ah, yah. Sorry Die, aku pamit ke toilet dulu." Ucap Ara bergegas meninggalkan Diego sendiran terpaku menatap punggung gadis yang berjalan - jalan tergesa itu.
__ADS_1
.......................................Bersambung