
Ara masih menatap bingung pada anak kecil di depannya. Namun sedetik kemudian, Ara mendudukkan anak itu di sampingnya.
Anak itu masih diam menunduk tak berani menatap seorang perempuan yang di ketahuinya dari Bryan.
"Hei, kita belum kenala loh. Nama aunty, Ara. Nama kamu siapa?". Tanya Ara riang.
Anak kecil itu mengangkat kepalanya seraya tersenyum lebar.
"Ziva aunty." Jawab Ziva dengan riang.
"Waah, nama yang bagus." Ucap Ara mencubit pelan pipi Ziva.
"Ngomong - ngomong, kenapa tadi Ziva minta maaf sama aunty?". Tanya Ara pelan.
"Aunty jangan salah paham sama Dady Bryan. Ziva bukan anak Dady Bryan kok, Ziva anaknya Dady Zack dan Mom Becca. Tapi karena Ziva udah anggap Dady Bryan sebagai Dady nya Ziva, jadi Ziva minta ke Mom Becca buat tinggal sama Dady Bryan." Ucap Ziva meski bicaranya masih kurang jelas.
Ara terdiam mencerna ucapan Ziva. Anak yang belum genap 3 tahun itu sudah bisa berbicara seperti orang dewasa.
"Ziva seneng bisa tinggal sama Da-dy Bryan?". Tanya Ara tergagap namun tetap menampilkan senyumnya.
Ziva mengangguk antusias. Namun tak bertahan lama berganti dengan ekspresi sedih.
"Tapi Dady Bryan jadinya sedih terus setiap malem, Aunty. Dady suka liatin muka aunty di ponselnya. Setiap Ziva minta Dady buat ajak Aunth main, Dady selalu jawab gini. "Gak bisa sekarang, Baby. Nanti kalau ada orang yang jahatin Aunty Bela gimana?". Gitu aunty. Ziva pernah denger juga katanya dulu Dady Zack dan Dady Bryan musuhan." Jelas Ziva.
"Maaf ya aunty." Ucap Ziva sedih karena tak mendapat jawaban dari Ara.
Rain menyenggol lengan Ara agar sahabatnya itu tersadar. Ara terhenyak, lalu segera mengangkat tubuh kecil Ziva ke pangkuannya.
"Iya, aunty juga minta maaf yah. Sebelumnya aunty gak tau apa - apa. Tapi karena Ziva sudah kasih tahu aunty, kita bestfriend. Gimana?". Ara memberikan jari kelingkingnya ke hadapan Ziva yang langsung di sambut tawa riang anak itu.
Ara dan empat sahabatnya tersenyum lega. Dalam hati Ara bertekad akan meminta penjelasan pada Bryan.
Ara dkm dan Ziva pun akhirnya bersenda gurau. Sambil menikmati makanan yang sudah tersaji di meja di hadapan mereka.
Dady Shi Won dan Mom So Ra mendekat.
"Sayang." Panggil Momy So Ra.
Ara tersenyum mengangguk agar Momy nya itu tidak terlalu mengkhawatirkannya. Ia yakin, Dady nya sudah mengatakan apa yang Dady ketahui pada Momy. Setelahnya mereka berdua pamit untuk beristirahat duluan.
Di sisi lain, Bryan yang mendengar suara tawa di seberang sana mengalihkan atensinya ke meja Ara. Bryan terkejut ketika melihat keakraban Ziva dan Ara.
"Hei, pergi gak bilang - bilang Dady." Ucap Bryan menginterupsi keceriaan di meja Ara.
Ziva langsung berlari menghampiri Bryan dengan mengangkat kedua tangannya meminta di gendong. Tidak merasa keberatan, Bryan menggendong Ziva.
__ADS_1
"Dady, Aunty Bela dan Ziva jadi bestfriend. Yeeeeeeaaaaay." Ucap Ziva kegirangan.
Bryan menatap Ara lekat. Yang di tatap berdiri dan berjalan mendekati Bryan.
"Aku tunggu kepastianmu." Ucap Ara saat berdiri di samping Bryan. Tanpa menatap wajah, tanpa ekspresi.
Tanpa menunggu jawaban, Ara berjalan menjauhi Bryan. Di susul ke empat sahabatnya. Karena waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, mereka berinisiatif untuk istirahat.
Begitupun dengan Bryan. Ia pun pamit pada Akio dan yang lain, karena Ziva yang terus menguap.
***
Keesokan harinya, di kediaman Dominic.
Bryan diminta datang ke rumah orang tuanya. Tentu saja oleh sang Dady. Dan atas paksaan sang Momy pastinya.
Walau bagaimana pun, anak akan tetaplah menjadi anak meski usia mereka sudah dewasa. Momy Bianca mengkhawatirkan putranya Bryan. Yang tiga bulan ini selalu kabur - kaburan dan entah menginap dimana.
Ting
Tong
Suara bel nyaring terdengar di seluruh penjuru rumah megah bergaya modern.
Ceklek
"Masuk! Kamu bikin Momy khawatir aja." Ucap Momy Bianca ketus.
Mereka berjalan ke ruang keluarga, disana sudah ada Dady dan Kakaknya.
"Sore Dad, Bang." Sapa Bryan di balas anggukkan kepala oleh dua pria itu.
Bryan masih menggendong Ziva. Ziva tampak ketakutan menemui orang baru.
Akhirnya mereka duduk berhadapan, menunggu pelayan menyajikan minuman dan camilan sore.
Momy Bianca menatap Ziva dengan tersenyum lebar.
"Hai manis, nama kamu siapa hm?". Momy Bianca menyapa Ziva.
" Ziva, mmm... . Ziva harus panggil siapa, Dad?". Tanya Ziva seraya menatap Bryan dengan tatapan imutnya.
"Panggil Grandma, karena Dia Momy nya Dady." Ucap Bryan lembut.
Hal itu tak luput dari perhatian sang Dady dan Kakaknya.
__ADS_1
Sedangkan Momy Bianca mengangguk antusias seraya merentangkan kedua tangannya lebar. Meminta Ziva menghampirinya.
Momy Bianca memangku Ziva dan terkadang menjawil pipi tembem itu gemas.
"Momy udah gak sabar buat punya cucu. Apalagi kalo masih bayi, pasti Momy seneng banget. Anak - anak Momy sih, masih ngelajang aja." Sindir Momy Bianca.
Bryan dan Dave tampak biasa saja, tidak ada yang memberi tanggapan. Sedangkan Dady Dominic tampak menatap Bryan serius.
"Jadi gimana? Sudah Kamu selesaikan?". Tanya Dady Dominic yang selalu setia dengan wajah tegasnya.
Bryan menghela nafas. " Antara Bryan dan Beca sudah selesai. Saat ini Bryan sedang menunggu Zack dan Beca untuk menjemput Ziva. Sekalian saja, rencananya Bryan akan mengajak Bela untuk bertemu mereka." Ucap Bryan.
"Selama itu Ziva sama Kamu?". Bryan mengangguk.
"Gimana sekolah Kamu?". Tanya Dady kembali.
"Bryan sewa pengasuh, Dad. " Jawab Bryan singkat.
"Kalo gitu besok pas Kamu ujian, biar Ziva tiggal disini aja. Itung - itung Momy latihan punya cucu." Dady, Bryan dan Dave menghela nafas bersama.
Sang Dady mengangguk saja mendengar keputusan istrinya.
"Terus Lo sama Bela gimana?". Tanya Dave menatap Bryan.
"Gimana apanya?". Bukannya menjawab, Bryan malah balik bertanya pada Dave.
Dave menghela nafasnya. Kadang - kadang, adiknya ini suka lupa injak bumi.
"Hubungan Lo sama Bela lah!". Sewot Dave.
"Kalo Lo gak jadi lanjut, biar Gue yang maju." Ucap Dave seraya tersenyum miring. Mengejek sang adik tentu saja.
Bryan berdecak. "Ya lanjut lah. Gue selesaikan ini dulu, kalo udah clear baru gas. Lagian kan mau UN." Jelas Bryan dengan nada swot.
Dave manggut - manggut.
"Awas ketikung, temen gue Gavin juga suka sama Bela. Dan Dia bisa nyaingin Lo." Ucap Dave menakut - nakuti adiknya.
Tapi itu kenyataan kok. Gavin yang merupakan teman Dave dan Adelard saat kampus dulu dan sampai sekarang masih berkomunikask baik. Kemarin sempat menceritakan ketertarikannya pada Bela.
Dan itu langsung di depan Kakak pertamanya Bela.
"Yasudah, kamu tidur di rumah jangan keluyuran lagi. Biar Kamu bisa fokus belajar." Ucap Momy mengakhiri obrolan keluarganya.
Mereka pun bubar, pergi ke kamar masing - masing. Dan Ziva? Tentu saja Ia tidur di kamar Bryan.
__ADS_1
...Bersambung...