Possessive Vs Bucin

Possessive Vs Bucin
Menghindar


__ADS_3

Masih di hari dan tempat yang sama. Namun dengan keadaan yang berbeda.


Ara masih terdiam di tempat duduknya. Hanya benda pipih dan ear phone yang menjadi temannya saat ini.


Meski ada sahabat - sahabatnya juga kakak - kakaknya dan teman - teman kakaknya. Tak membuat Ara menikmati hang out pertamanya dengan ke empat kakaknya.


Meski pun Ara terlibat obrolan dengan ke empat sahabatnya, namun rasanya tak seperti biasanya. Akan seru dan asik.


Ke empat sahabatnya di buat heran dengan sikap Ara kali ini. Tak biasanya, Ara yang selalu ceriwis ketika hang out bersama mereka, saat ini lebih banyak terdiam dengan ear phone yang terpasang di kedua telinganya.


"Si Ara kenapa sih?" Tanya Tiara pada ke tiga sahabatnya. Si paling pendiem kalo gak ada kepentingan akhirnya gatal untuk bersuara.


Kompak Amel, Mega dan Rain, mereka mengangkat bahunya tak tahu. Seketika pandangan mereka teralihkan pada seseorang yang duduk di samping Ara.


Kening mereka mengkerut seketika ketika tak sengaja mereka menangkap tatapan orang itu pada Ara.


"Kalian sepemikiran sama gue gak, sih?" Tanya Amel yang di angguki ke tiga sahabatnya.


"Kayaknya mereka ada something." Ucap Mega di angguki kembali oleh mereka.


"Kalian ngerasa gak sih, kalo tu cowok yang pernah di ceritain Ara ke kita? Yang pernah Ara tunjukkin fotonya waktu piyyik." Tanya Rain di angguki sahabatnya.


Mereka berbicara dengan berbisik - bisik dan duduk agak merapat. Agar tak di ketahui orang - orang yang duduk bersama di empat meja itu.


Tanpa ke empat sahabat Ara sadari, semua pasang mata menatap mereka heran. Tentu saja kecuali dua orang lawan jenis yang hanya fokus dengan dunianya.


Semua mata memandang heran mereka karena duduk merapat dengan gelagat aneh seraya menatap dua orang di depannya.


Kompak semua mata itu mengalihkan pandangannya ke arah dua orang lawan jenis yang menjadi objek perbincangan kelompok cecan yang di ketahui sahabat Ara itu.


"Aaaaa iyaaaaaaa." Teriak Mega refleks saat apa yang di pikirkannya dan sahabatnya benar.


Brugg


Uhuk - Uhuk


Semua mata menatap terkejut pada Mega. Beberapa pasang mata cowok di empat meja itu menatap sebal pada Mega karena mengagetkan mereka.

__ADS_1


Ada yang mengusap dada, mengusap mulut dengan tisu yang basah karena sedang minum dan di kagetkan dengan teriakan Mega akibatnya minumannya tumpah.


Ara pun tak luput dari keterkejutan yang di buat Tiara sehingga Ia menjatuhkan benda pipih di tangannya. Hal itu karena saat Ara melepas earphone di telinganya, langsung di sambut teriakan Mega yang menggelegar di restoran itu.


Tak ayal para pengunjung resto di lantai 2 pun merasa terkejut dan kesal secara bersamaan.


Mega yang sadar jika ia berbuat salah langsung melakukan bow pada semua pengunjung seraya mengucapkan kata maaf.


Ara menghela nafas lalu tubuhnya menggeser kursi ke belakang sedikit sehingga Ia dapat membungkukkan badannya. Untuk apa lagi jika bukan mengambil ponsel nya yang terjatuh ke kolong meja.


Dugg


Tak sengaja kepala Ara terbentur sesuatu yang keras. Sedikit mendongakkan kepalanya, di lihat kepalanya sudah berada di kolong meja.


Deg


Deg


Deg


Tukk


Dua pasang mata dengan warna manik berbeda itu bertatapan tat kala kening mereka terbentur.


Ara yang ingin secepatnya keluar dari keadaan tersebut pun segera mengambil ponselnya yang berada di tengah - tengah kolong meja itu.


Secepat kilat Ara keluar dari kolong meja.


Semua pergerakan Ara tak luput dari pandangan tajam sepasang mata ber manik biru laut.


Hingga,


DUGG


Sebuah benturan agak keras mengagetkan mereka yang sedang berbincang di empat meja itu.


"Astagaaaaa Araa ngapain, Loo?" Tanya Mega heboh ketika Ara mengangkat kepalanya seraya membenahi duduknya.

__ADS_1


Ara belum menjawab pertanyaan Mega. Satu tangannya masih sibuk mengusap kepala bagian depan dekat pelipisnya yang terbentuk dengan meja kayu keras.


Sedikit meringis.


"Sssttt."


"Mana sini yang sakit." Pergerakan Ara terhenti tat kala telinganya menangkap suara barithone, datar, dari seseorang yang sangat di kenalinya.


Nyeessss.


Bak mendapatkan oase di gurun gersang.


Ara terdiam merasakan usapan lembut dan tiupan hangat di kepalanya. Dengan dada yang bergemuruh hebat. Bayangan masa lalu yang selalu di kenangnya dengan kenangan manis yang membuatnya selalu merindu. Rindu yang Ia simpan rapat - rapat di hatinya untuk seseorang yang dinantikan kepulangannya.


Hingga semuanya berubah menjadi pahit. Sepasang mata bermanik hazel teduh itu sudah berembun. Tak kuasa menahan gemuruh di dadanya yang membuatnya sesak.


Di tepisnya tangan kekar putih itu, lalu dengan segera Ia beranjak dari kursinya tanpa menyentuh makanannya.


Ara berlari menuruni tangga restoran jepang itu dengan tas slempang di bahu kirinya, dan ponsel yang di genggamnya di tangan kanannya.


Semua orang terkejut akan sikap Ara. Semua mata tertuju pada seorang cowok yang menjadi tertuduh karena menyebabkan Ara pergi.


Saat empat kakak Ara akan beranjak menyusul Ara. Saat itu pula, empat sahabat Ara melarang dan meminta ijin agar mereka yang menyusul Ara.


Empat kakak Ara mengangguk mengijinkan. Karena mereka yakin, empat sahabat adiknya tahu apa yang menjadi permasalahan Ara hingga menyebabkan Ara pergi menjauh.


Kompak semua mata menatap kembali pada cowok tadi. Dengan pandangan bertanya - tanya. Namun cowok itu tetap bersikap datar.


...💜💜💜...


Nyok ayo baca novel ane, nyooook...


Kalo ada kritik saran yang membangun, komen aja, nyooookkk


Jangan lupa pencet like nyaaaa, kalo bisa di favoritin jugaaaa..


See you at next chapteeeerrrr. Byeeeeeee 😘

__ADS_1


__ADS_2