
Sepanjang jalan Akio mengomel tidak jelas di belakang stir yang di kemudikannya. Sebenarnya tidak terlalu jauh waktu yang di tempuh dari kediaman Dominic ke AIHS. Hanya 30 menit.
Tapi tetap saja Ia ingin bermalas - malasan.
Terlebih lagi dengan pasangan bucin bin absurd di belakang. Akio semakin mengomel tidak jelas kala melihat Bryan yang tengah manja - manja pada adiknya lewat kaca spion tengah.
Akio mendengus kala melihat Bryan yang tengah mendusel - dusel wajahnya di ketiak Ara sambil rebahan di pangkuan adiknya itu.
"Astagaaaa sobat lucknut lu. Gue nyetir lu enak - enakan ngetek sama adek gue." Sewot Akio yang tak di tanggapi oleh Bryan.
Tak ada sahutan apa - apa dari belakang. Akio memutar kepalanya untuk melihat situasi di belakang.
"Dek, si kunyuk kenapa itu kok diem - diem bae?" Tanya Akio sedikit keras karena Ia yang kembali fokus pada kemudinya.
"Sshhhttt, jangan berisik ih Abang. Bryan lagi tidur." Tegur Ara seraya mengusap - usap rambut pirang Bryan.
Yah, entah sejak kapan cowok itu tertidur dengan merebahkan kepalanya di pangkuan Ara dan kedua lengannya yang memeluk pinggang Ara posesif.
Padahal sebelumnya Bryan tengah menjahili Ara dengan mendusel - dusel wajahnya ke ketiak Ara. Niatnya agar Ara kegelian, justru malah cowok itu yang tertidur.
"Mabok ketek Kamu tu, Dek." Gurau Akio.
"Enak aja, ketek Aku wangi yaa!" Ucap Ara sengit menatap Akio dengan tajam.
Akio meringis. Adiknya lebih sangar daripada sang Momy.
"Ini mau mampir dulu gak? Beli apa gitu." Ucap Akio yang tahu jika di depan ada supermarket. Siapa tahu mau beli camilan atau minuman untuk snack di sekolah. Biar nanti gak bolak - balik ketika udah sampe di sekolah.
"Boleh deh Bang. Tapi Abang yang turun ya? Nanti Aku wa listnya." Ucap Ara dengan wajah imutnya merayu sang kakak.
"Bilang aja Kamu mau berduaan sama tu kunyuk." Gerutu Akio namun tetap menuruti permintaan sang adik. Sedangkan Ara terkekeh tak menanggapi gerutuan kakaknya.
"Jangan lupa listnya." Ucap Akio sebelum turun sempurna dari mobil Bryan.
"Ai ai kapten!" Ucap Ara seraya memberi tanda hormat pada kakaknya. Akio menggelengkan kepala melihat tingkah sang adik.
Ara pun mengetik apa saja yang mau di beli. Yang pasti camilan dan minuman yang sekiranya cocok untuk menemani mereka latihan.
Setelah mengirimkan list belanjaan pada Akio, Ara kembali fokus pada ponselnya yang sedang menampilkan kucing berlari mendapatkan koin.
Bryan yang sudah bangun beberapa saat yang lalu pun kesal karena diabaikan kekasihnya. Ara.
Dengan cepat Bryan merampas ponsel milik Ara lalu dimasukkan ke saku celana jeansnya. Ara yang terkejut dengan gerakan cepat Bryan pun tersentak. Lalu dengan mata garangnya berusaha untuk merampas kembali ponsel miliknya.
Bryan menahan ponsel Ara dengan tangannya di dalam saku celananya. Ia terkekeh kala melihat wajah kesal Ara.
Saat Ara membungkukkan setengah badannya untuk bisa meraih saku celana Bryan, hal tak terduga terjadi sepersekian detik.
Wajah Ara tepat ada di atas dadanya membuat Bryan tak tahan dengan ekspresi itu. Secepat kilat Bryan mengalihkan wajah Ara menghadap ke arahnya dan
__ADS_1
Cup
Tubuh Ara mematung. Tiba - tiba saja buyar sudah usahanya yang ingin merebut ponselnya kembali.
"Kenapa Bryan jadi kayak bebek siiih, nyosor mulu kerjaannyaaaaa. Bebek mesuuuummm." Batin Ara kesal.
Ara mendorong dada Bryan sehingga kecupan kilat itu terputus. Ara duduk menyilangkan lengannya di dada memalingkan wajahnya ke arah jendela.
Kesal sama bebek mesum ceritanya.
Bryan terkekeh melihat sang tunangan yang sedang merajuk. Ia pun mendudukkan tubuhnya namun memberikan jarak dari tempat Ara duduk.
Dengan santainya Ia membuka ponsel Ara. Tidak bermaksud apa - apa. Hanya iseng.
Kek gak ada kerjaan aja sii Bryaaaaan.
"Wah, si Jimmy cari mati apa. Kirim - kirim pesan sama calon istri gue. Liat aja nanti." Gerutu Bryan membuat Ara secepat kilat mengalihkan pandangannya ke arah tunangannya itu.
"Ish, siniin deh Yank hp gue." Ucap Ara seraya merebut ponselnya.
Bugh
"Bebek mesuuuuuuummmm malah narik gue, nabrak kan jadinyaaaa." Batin Ara teriak kembali.
"Kalo mau di peluk bilang aja kali, Yank. Gak usah pura - pura mau ngambil hp." Goda Bryan membuat Ara kesal.
Kayanya berbekas tuuuhh hahahaa itung - itung di cap ya Bryan. Xixixixi
Ara benar - benar kesal sekarang. Terlebih setelah menggodanya Bryan justru sibuk dengan ponselnya. Tak ingin ambil pusing, Ara pun membuka aplikasi chating dan berbalas dengan sahabat juga Jimmy yang menginfokan kabar tak terduga.
Ara berdecak dan itu mengalihkan perhatian Bryan, namun cowok itu tak menanggapi karena yang Ia baca saat ini lebih penting saat ini.
"Sial, masa iya ganti siih. But well, it's oke. Kita pasti bisa lakuin yang terbaik." Batin Ara.
Ceklek
Akio masuk setelah menaruh belanjaanya di bagasi. Akio terlihat bingung menatap sepasang kekasih yang tadi lagi anget - anget, eh sekarang jadi dingin - dingin gini.
"Tumben diem - dieman, lagi sariawan pada?" Tanya Akio seraya memasangkan sabuk pengaman.
"Jalan aja." Dua suara berbeda berucap berbarengan. Tapi sama - sama berucap dengan nada dingin.
"Bener - bener lagi pada anyep kayaknya." Gumam Akio lalu menjalankan mobil
Tak sampai 10 menit mobil sport bmw xm activity vehicle black gold memasuki halaman depan AIHS.
Sekilas sekolah tampak sepi, karena memang siswa/i kelas 10 dan 11 diliburkan. Sedangkan kelas 12 dipersilahkan untuk datang jika ingin menggunakan ruangan sekolah untuk persiapan classmeet.
__ADS_1
Dan juga anggota osis beserta panitia classmeet selalu datang setiap hari untuk menyiapkan segala keperluan acara nanti.
Saat mobil itu terparkir sempurna di halaman lobi AIHS, ada beberapa siswa/i yang sedang keluar dari lobi.
"Wah gila siiih, siapa itu yang bawa mobil? Mewahnya." Ucap salah satu siswi anggota osis.
"Kalo bukan dari gengnya Bryan siapa lagi? Gengnya Ara mana mungkin bawa sport car model gitu." Ucap siswa di sampingnya.
"Kayaknya si pangeran gue, Babang Bryan." Ucap siswi tadi seraya senyum - senyuma gak jelas.
Ceklek
Dua siswa/i itu semakin memperhatikan mobil sport car bmw yang di ketahui lumayan mahal.
Satu, dua pasang kaki keluar bersamaan dari samping kanan mobil.
"OMG itu Babang Kio sama Babang Bryaaaan." Ucap siswi tadi tertahan.
Ceklek
"Wah, ada Ara juga tuh." Ucap siswa tadi.
"Mana mana?" Siswi tadi celingak celinguk lalu bahunya lemas seketika kala matanya melihat Ara keluar dari mobil yang sama dengan idolanya.
Apalagi ketika lengan Bryan merangkul bahu Ara posesif. Sementara Akio membawa beberapa kantong camilan dan minuman di belakang.
"Waah, kayaknya bener gosip yang katanya Bryan sama Ara jadian. Liat aja tuh sikapnya." Ucap siswa tadi membuat temannya semakin patah hati sebelum berjuang.
Sementara di sisi Ara.
"Paraaah, adek sama calon adek ipar jadiin gue kacuuuung." Gerutu Akio di belakang Ara dan Bryan.
Ara mengalihkan pandangannya ke belakang.
"Sini, Aku bantuin Bang." Ucap Ara.
Belum sempat berbalik, Bryan sudah menahannya untuk tetap di sampingnya.
"Awas ih, Aku mau bantuin Bang Kio, Yank." Ucap Ara pada Bryan.
"No, nanti tangan Kamu lecet." Sanggah Bryan.
"Yaudah nih, Kamu bawa sebagian." Ucap Ara final.
Ara berjalan terlebih dahulu menuju studio tari. Meninggalkan Bryan yang terbengong dengan empat kantong di masing - masing tangannya.
"Mamam noh. Hahahaa." Ucap Akio meledek Bryan, lalu berjalan menyusul adiknya yang sudah menaiki tangga di samping aula.
"Demi Ayank deh, gue rela jadi kacungnya." Gumam Bryan.
__ADS_1