
Ara POV.
Dady benar - benar merealisasikan ucapannya. Oh Good, borring banget di rumah teruuuuussss. Batin Ara berteriak seraya menendang - nendang air di kolam renang yang ada di balkon kamarnya.
Ara benar - benar di buat shock setelah keputusan Dady yang mendadak itu. Serasa hukuman baginya dan juga Bryan.
Bagaimana enggak. Ara benar - benar tidak diperbolehkan keluar rumah selama 99 hari. Ke sekolah apalagi hang out bareng temen - temen.
Sampai - sampai Ara mengambil home schooling atas permintaan sang Dady.
Berasa lagi di pingit deh. Batin Ara.
Byur
Ara kembali menyeburkan diri ke dalam kolam. Itung - itung mendinginkan kepala.
Tak sadar ada seseorang yang mengendap - endap di balik kamarnya. Menengok ke arah kolam renang, tiba - tiba mata orang itu melebar dengan jakun yang naik turun.
Setelah puas berenang, Ara menyembulkan kepalanya ke permukaan Air. Mengusap wajahnya dan rambut yang menghalangi matanya.
"Haah segernyaaaa." Ucap Ara.
"Bel." Panggil seseorang membuat Ara terkejut bukan main.
"AAAAAAAAA-ah, Bryan? Kamu kok bisa ada disini?". Tanya Ara setelah menenangkan jantungnga yang terkejut melihat Bryan ada di balkon kamarnya.
Bukankah Dady melarang kita ketemu, lalu kenapa Bryan bisa datang kesini?. Batin Ara bertanya - tanya.
Ara berjalan menaiki tangga kolam renang. Entah lupa atau apa, Ara berjalan menghampiri Bryan dengan penampilan yang, mmm... Wow.
Bryan benar - benar sulit menelan ludahnya sendiri. Apalagi ketika Ara berdiri tepat di hadapannya.
Ara hanya memakai setelan pakaian renangnya, yang hanya terdiri dari short pants dan sport br*. Warna yang menantang.
So red. ****, gue tiba - tiba pengen ngawinin Bela. Oh God, Bryan sabar sabar sabar. Batin Bryan.
"Bel, bisa gak kamu pakai handuk kamu dulu?". Tanya Bryan tercekat.
Ara mengangkat alisnya sebelah. Saat Ia memperhatikan tatapan Bryan, Ia tersadar lalu memukul lengan Bryan dan berlari ke dalam kamarnya.
"MESUUUUUUM." Teriak Ara.
Bryan meringis mengusap - usap lengannya yang ngilu. Enggak sang Momy, lalu Bela. Sama - sama suka kdrt.
Bryan menyusul Ara ke dalam kamar, duduk di sofa santai depan tv seraya menonton film action sambil menunggu Ara selesai bersih - bersih.
__ADS_1
Ceklek
Ara keluar dari pintu walk in closset menatap Bryan yang dengan santainya menonton tv sambil memakan camilannya.
"Emang dasar laki lucknut." Gerutu Ara pelan.
"Geser." Ketus Ara duduk di samping Bryan.
Bryan mengalihkan pandangannya ke samping kanannya. Ia menghirup harum dari rambut Ara yang masih basah.
"Wangi banget sih, bikin pengen." Ucap Bryan.
Ara mendelik tajam pada laki itu. "Pengen apa?". Bryan nyengir menggelengkan kepalanya lalu kembali menonton tv.
"Bukannya Dady larang kita ketemu? Kok kamu bisa ada disini?". Tanya Ara heran seraya mengambil snack yang ada di tangan Bryan.
"Iya, tapi tadi si Akio ajak aku ke rumah kamu aman kok." Ucap Bryan santai tanpa mengalihkan pandangannya dari film di depan mereka.
"Hah? Masa sih? Pengawal Dady gak ada yang usir kamu, tendang kamu atau seret kamu gitu?". Tanya Ara enteng.
"Emang kamu tega liat aku di tendang, di seret?". Tanya Bryan menatap Ara tak suka. Ara hanya nyengir tanpa membalas pertanyaan Bryan
Tanpa meminta persetujuan Ara, Bryan merebahkan kepalanya di paha putih mulus Ara yang terekspos. Karena Ara sedang mengenakan shrot jeans dan atasan crop top.
Ara tidak terkejut atau protes. Membiarkan Bryan merebahkan kepalanya. Ara tahu, pasti Bryan lelah setelah pulang dari sekolah.
"Kalo capek kenapa gak langsung pulang ke rumah aja sih?". Tanya Ara kesal namun tangan kanannya mengusap lembut rambut Bryan yang sedikit ikal.
"Ini juga pulang ke rumah." Jawab Bryan yang saat ini memeluk pinggang Ara.
"Iishhh." Sebal Ara.
"Iya iyaaa, kangen tau Bel. Emang gak boleh kangen?". Tanya Bryan yang iseng mengusak hidungnya ke pusar Ara yang terlihat.
"Bryan, geli iiih. Awaaaas." Ara berusaha menjauhkan kepala Bryan namun tak bisa, akhirnya Ara menghalangi pusarnya dengan telapak tangannya.
Bryan malah mencium telapak tangan itu berkali - kali. Menatap lekat Ara yang tengah menatapnya juga.
"ILY." Ucap Bryan seketika membuat semburat merah muncul di kedua pipi Ara.
Ara ingin menutupnya dengan kedua tangannya namun tertahan oleh Bryan.
Bryan mengubah posisinya menjadi duduk. Masih dengan menatap Ara lekat. Bryan mendekatkan wajahnya, menyatukan kening mereka hingga nafas keduanya bersahutan.
"I love you, Bela." Ucap Bryan berbisik.
Ara menatap dalam manik Bryan. Seakan menelisik kejujuran cowok itu.
__ADS_1
"I love you to, Bryan." Balas Ara.
Bryan memeluk erat Ara. Seakan tak ingin melepaskannya. Ara membalas pelukan Bryan, mengusap punggung tegap itu pelan.
Seakan merasakan sesuatu yang tengah melanda cowok itu.
Saat ini mereka sudah berpindah di atas bed queen size Ara. Bryan meminta Ara untuk istirahat, dan Ia akan menemaninya sampai Ara tertidur.
Entah sejak kapan Bryan membuka kaosnya. Ara yang baru saja selesai mengecek ponselnya di buat terkejut. Menatap dada bidang dan roti sobek milik Bryan. Perawakan remaja 18 tahun itu sudah seperti pria di atas 20an.
Bryan yang sadar dengan tatapan Ara, menarik tangan gadis di sampingnya menyentuh roti sobeknya.
Perlahan, Ara mengusapnya seakan mengagumi cipataan Tuhan yang tanpa cela itu. Merambat pelan ke dada bidang cowok yang memeluknya dari samping itu, terlihat tato elang di bagian dada kirinya. Kecil, mungkin hanya 8 cm ukuran tatonya.
Ara memegang jari tangan kanan Bryan. Disana juga ada tato huruf.
🔹 •B• 💟 •A• 🔹
"Ini?". Ara menatap lekat tato itu. Inisial nama siapa itu?
"Bryan love Arabela." Jawab Bryan lugas.
Ara langsung menatap Bryan tak berkedip. Nafasnya kembang kempis. Ada perasaan gelisah disana, tapi Ara tak tahu apa artinya.
Tak ada percakapan di antara kedunya. Beberapa menit kemudian Bryan mendengar dengkuran halus dari sampingnya.
Terlihat Ara sudah tertidur pulas. Bryan memiringkan badannya, dan mengecup kening gadis yang di cintainya lama.
"Aku berharap ke depannya, apapun yang akan terjadi kita akan tetap selalu bersama. Menghadapinya bersama. Maafkan aku, Bela. I love you. Nice dream." Ucap Bryan pelan.
***
"Ngh..". Ara menggeliat dari balik selimutnya.
Matanya terbuka perlahan, menatap jam dinding yang ternyata sudah pukul 7 malam.
Mengedarkan pandangannya ke segala penjuru kamarnya, namun Ia tak menemukan sosok yang tadi sore bersamanya.
"Mungkin udah balik. OMG, gue telat banguuuuun" Teriak Ara tertahan lalu segera berlari ke bathroom, dan berganti dengan pakaian tidur terusan berwarna putih.
***
Sedangkan di tempat lain, seseorang sedang merenung di balkon kamar yang gelap tanpa penerangan sedikit pun. Menatap langit malam yang di penuhi ratusan bintang.
Matanya menatap sendu ke langit malam kala itu.
"Tuhan, bolehkah gue egois?". Lirihnya.
__ADS_1