
Ara terkesiap kala Ia menabrak tubuh tegap tinggi di balik pintu kamar mandi. Ara mendongak sedikit karena memang tinggi Ara hanya sebatas leher Bryan.
Begitupun Bryan yang menatap Ara tak berkedip di bawahnya.
"Aaaa." Ara reflek mengalungkan kedua lengannya di leher Bryan kala cowok itu tiba - tiba menggendongnya ala bridal style.
"Ssshhhtt, Kamu teriak nanti orang kira Aku apa - apain Kamu." Ucap Bryan.
"Atau Kamu mau Aku apa - apain?" Tanya Bryan seraya menaik - turunkan alisnya dengan mata menggoda Ara.
Ara tak menjawab, Ia memalingkan wajahnya karena malu. Ia gak tahu aja kalau kamar Bryan ini kedap suara. Semua kamar utama di kediaman Dominic memakai kedap suara. Hanya kamar tamu saja yang tidak.
Bryan menurunkan Ara di ranjangnya pelan dengan tatapan intens menatap kedua manik biru spahire milik tunangannya. Ara yang sejak tadi tidak bisa mengontrol detak jantungnya, sehingga nafasnya turun naik tak beraturan.
Tok
Tok
Tok
"Tuan muda, makanannya sudah siap." Ucap pelayan yang mengantar makanan ke kamar Bryan.
Bryan berdecak karena kesenangannya di ganggu. Sedangkan Ara tersenyum kaku dan bernafas lega saat Ia terselamatkan dari predator di depannya.
Meski hanya sebentar.
Ceklek
Bryan membuka pintu tanpa berkata - kata. Seorang pelayang wanita memasuki kamar majikannya. Mondorong troli makanan sampai di samping ranjang tuannya.
Ara tersenyum ramah pada pelayan yang Ia taksir usianya di atas 20 an itu. Saat ini Ara menutup dirinya dengan selimut sampai batas leher.
Malu tentu saja.
Pelayan wanita itu membalas senyuman gadis yang Ia yakini calon Nona Muda Dominic.
Setelah pelayan keluar kamar, Bryan kembali menutup pintu dan tak lupa menguncinya. Agar tak ada yang mengganggu waktu berdua mereka.
Ara yang melihat Bryan berjalan mendekat, sontak saja mengencangkan pegangan pada selimut. Bryan yang melihat gelagat tunangannya itu pun tersenyum smirk.
Bryan membungkukkan badannya menghadap Ara, menatap gadis pujaannya lekat. Lalu perlahan Ia membuka selimut yang menyelimuti Ara.
Entah sadar atau enggak, pegangan Ara pada selimut melemah. Dan itu membuat Bryan dapat menarik selimut itu dan membukanya hingga Ara yang di balut sleep dress terlihat sempurna di mata Bryan.
Ara menempelkan punggungnya di head board kala Bryan mendekatinya perlahan.
"You're so beautiful, Bela." Lirih Bryan dengan wajah yang hanya berjarak 5 cm dengan wajah Ara.
__ADS_1
Cup
Mata Ara membulat kala Bryan menyatukan bibir mereka. Dada Ara semakin bergemuruh. Ara diam mematung.
"Maaf jika Aku lancang. Hanya ini saja. I'm promise." Lirih Bryan kembali.
Perlahan Bryan kembali menyatukan bibir mereka, dan *******nya pelan. Ara yang sudah rilex perlahan menutup kedua matanya dan membalas ******* Bryan.
Bryan merengkuh pinggang ramping Ara lalu dalam sekejap keadaan sudah berbalik. Bryan menempatkan Ara di atas pangkuannya dengan Ia yang menyandar pada head board.
Ara menjambak pelan rambut Bryan untuk sebagai penyaluran sensasi yang pertama kali Ia rasakan. Bryan menarik pinggang Ara merapat padanya.
Karena posisi Ara itu, Bryan bisa merasakan jika paha putih susu Ara terpampang sempurna. Saat tangannya mengusap pelan merambat ke atas.
Ara gelisah dengan perlakuan tangan Bryan, belum sempat Ia melepas ******** perutnya sudah demo kembali. Reflek Ara menjauhkan wajahnya yang memerah bak tomat matang karena malu. Sedangkan Bryan tersenyum melihat wajah malu Ara.
"Kamu mau makan itu, atau makan Aku?" Tanya Bryan menggoda Ara dengan tatapan mesumnya.
"Iiissshh." Ara mencubit perut six pack Bryan yang ada di bawahnya. Karena saat ini Ara masih menduduki pangkuan cowok itu.
"A aawss, geli tau Beb." Ucap Bryan tersenyum mengejek membuat Ara mencebikkan bibirnya.
"Betah banget kayaknya sampe gak mau turun." Bryan kembali menggoda Ara.
Ara yang sadar jika posisinya masih eeerrrrrr, langsung saja Ia turun.
"Begini lebih nyaman." Ucap Bryan di samping talinga Ara.
Ara merinding di buatnya. Ternyata cowok pujaannya ini sangat M-E-S-U-M.
Tak mau di bahas lagi karena perutnya sudah meminta untuk di isi. Ara melihat ke troli makanan yang banyak jenisnya.
Ada nasi dengan tumis hati sapi kacang merah, capcay brokoli wortel, dan omlete. Lalu ada brownies cokelat lumer kesukaannya dulu jika Ia main ke rumah Bryan saat kecil. Ada salad buah, jus, susu dan air mineral.
Ara menatap Bryan ke samping yang saat ini cowok itu tengah menopang dagunya di bahu Ara.
"Banyak banget. Emang bakalan habis?" Tanya Ara tidak yakin.
"Gak habis gak apa - apa. Bisa di buang." Ucap Bryan enteng.
Ara menyikut pelan perut cowok itu pelan.
"Gak boleh, gak baik buang - buang makanan." Sungut Ara.
Lalu mereka pun melakukan makan malam yang terlambat itu di kamar Bryan. Bryan benar - benar merealisasikan ucapannya dimana Ara tidak boleh keluar dari kamarnya.
Setelah menyelesaikan makannya, meski baru nasi dan minuman mereka yang habis tak tersisa. Ara meminta Bryan jangan dulu mengembalikan makanannya. Siapa tahu Ara nanti kembali ingin makan. Sudah ada camilan.
Bryan membiarkan Ara menonton tv, sedangkan dirinya kembali ke ruangan tanpa pintu di kamarnya. Ara yang sebenarnya penasaran namun sungkan untuk menyusul Bryan.
__ADS_1
Ia gak mau di cap sebagai kekasih tidak tahu diri.
Ara kembali melanjutkan tontonannya seraya memakan brownies buatan Momy Bianca. Rasanya tidak berubah sedikitpun. Sepertinya Ia akan belajar cara memasak brownies ini.
"Beb, can you come here?" Teriak Bryan dari ruangan itu.
"Wait." Ara turun dari ranjang dan jalan perlahan. Ia tak ingin jika besok dirinya masih lemas sementara mereka harus ke sekolah besok.
"By, Aku masuk yah." Ucap Ara. Ia melangkah sejauh 5 meter melewati lorong yang lebarnya hanya cukup untuk dua orang.
Saat kakinya menapaki ruangan yang di dominasi warna grey, dan cokelat matanya menatap binar kala melihat rak buku dengan banyak buku.
(credit by pinterest)
Bukan waktunya untuk mencari buku, Ara harus mencaru Bryan yang memanggilnya. Dimana Dia?
Ara menaiki 3 anak tangga lalu berjalan ke ruangan yang ada di balik tembok dengan pintu kaca.
Ceklek
...(credit by pinterest)...
Ternyata studio. Ada juga work space di sudut lain dengan beckgroun pemandangan yang terlihat di balik dinding kaca.
Ara menghampiri Bryan yang sedang duduk di balik meja komputer.
...(Credit by pinterest)...
Anggap aja itu pemandangannya pohon - pohon yaaak xixi
"Kenapa, Beb?" Tanya Ara mendekati Bryan.
"Temenin. Sini." Ucap Bryan memerintah Ara untuk duduk di pangkuannya menghadap tubuhnya.
Ara menggelengkan kepalanya. Canggung laaah.
"Sini, atau mau aku hukum?" Ucap Bryan lagi penuh penekanan dengan tatapan mesumnya.
Kalo begini Ara hanya bisa pasrah. Liat tatapannya udah kayak mau nelen Dia hidup - hidup.
Ara duduk seraya memeluk leher Bryan. Entah berapa lama mereka dalam posisi itu di ruang kerja Bryan. Yang pasti, Ara sudah tertidur pulas.
...Bersambung...
__ADS_1