Possessive Vs Bucin

Possessive Vs Bucin
Cobaan


__ADS_3

Kriiiing


Kriiiing


Seseorang menggeliat di bawah selimut, terlihat merentangkan kedua lengannya ke atas.


Ngghhh


Tidur nyenyaknya terganggu kala mendengar alarm dari jam dinding di hadapannya.


Matanya seketika waspada saat melihat tembok itu bukan tembok rumahnya. Menatap ke kanan dan kiri, lalu Ia buka perlahan selimutnya mengintip keadaan dirinya.


Ia takut dengan apa yang dipikirkannya.


Matanya membola kala melihat pakaiannya gak ada.


"AAAAAAAAAHHHH. Mmmmpppp." Ara menatap si empu tangan yang sedang membekap mulutnya.


Posisinya saat ini Ia masih telentang di ranjang yang entah punya siapa.


"Sshhtt."


"By?" Ara memastikan jika yang ada di sampingnya adalah Bryan karena penerangan yang remang - remang.


Bryan menjentikkan jarinya dua kali, sekejap kamar itu terang benderang. Dan terlihatlah Ara dengan wajah bingungnya. Mata bening dengan bulu lentik itu mengerjap cepat.


Bryan terkekeh melihat reaksi Ara. Dengan gemas Ia menjawil hidung mancung Ara.


"Mm gemes banget sih, calon bini siapa si ini?" Ara mempoutkan bibir cherry yang tak sepucat tadi, kesal.


Ara memukul - mukul lengan Bryan pelan. Bryan pun melepaskan jawilan pada hidung Ara.


Lalu Bryan kembali mendekap tubuh Ara yang tak sepanas tadi.


"Jantung oh jantuuuuuung, berhentilah loncat - loncat pleeeaaassseee." Batin Ara.


Tau gak siiiiiiiiiih deg - degan nih guueeeeeeee pelukan kek giniiiiiiii. Batin Ara berteriak.


Sedangkan Bryan hanya sekedar mendekapnya, gak ada niat untuk menggoda Ara meski Ia ingin. Bryan sedang menahannya sekuat tenaga.


"Mmm, By." Lirih Ara memanggil Bryan.

__ADS_1


"Hmm." Bryan menyangga kepalanya dengan lengan kanannya. Menatap kekasih otw wifey nya ini yang terlihat malu - malu meong.


"Mmm, la.. (kruuuukkk) per. Hehehe." Ucap Ara terkekeh malu dengan perutnya yang gak ada sopan santunnyaa. Sembarangan bunyiii.


Bryan terkekeh.


"Aku minta pelayan anter kesini aja ya makanannya." Ucap Bryan.


Ara menggelengkan kepalanya tanda Ia gak enak dengan orang rumah.


"No, Kamu masih lemes, gak Aku ijinin untuk kemana - mana. Kamu tetap disini." Ucap Bryan yang tak bisa di bantah.


Ara menggerutu sebal. Ia agak merinding juga melihat raut wajah dan tatapan Bryan barusan. Mukanya kok dingin banget siiiihhh.


Ara menghela nafasnya lalu Ia berniat untuk mengambil pakaian yang ada di atas ranjang besar Bryan. Ternyata benar kata Bryan, tubuhnya masih lemas.


"Bawakan makanan ke kamar Saya!" Perintah Bryan dingin pada pelayan rumahnya.


Ara makin merinding kala mendengar suara itu. Sepertinya Bryan banyak sekali perubahan selama mereka gak ketemu.


Bryan berjalan cepat menghampiri Ara kala melihat tunangannya itu ingin memakai pakaiannya namun terlihat sekali masih sempoyongan.


"Gak usah pakai yang ini. Bentar, Aku ambil dulu." Ucap Bryan menaruh pakaian Ara di laundry bucket kamarnya.


Ternyata walk in closset. Ada satu pintu lagi, dan ruangan tanpa pintu. Bryan suka sekali dengan warna hitam, sampai seluruh ruangan ini interiornya hampir 70% hitam. Sisanga silver dan putih.


Bryan kembali dengan membawa sehelai pakaian untuk Ara. Ara menatap curiga. Kenapa di kamar cowok ada pakaian cewek.


"Nih. Pakai ini aja, biar gak susah." Ucap Bryan ambigu.


Ara menerimanya. "Kok ada baju cewek?" Ara memberikan tatapan tajamnya. Setajam silet. Xixi


"Momy yang siapin, buat siapa lagi kalo bukan untuk menantunya." Ucap Bryan.


"Menantu Momy yang mana? Perasaan Bang Dave belum nikah." Bryan gemas dengan tunangannya yang kadang bersikap konyol.


Hap


Bryan menangkap wajah Ara dengan kedua lengannya, Ara mengerjapkan matanya cepat.


"Siapa lagi kalo bukan Princess Arabela Arthuro." Ucap Bryan lirih tepat di hadapan wajah Ara.

__ADS_1


Ara dapat menghirup bau mint dari nafas Bryan. Padahal cowok itu belum mandi.


Cup


Bryan mengecup kening calon wifey nya itu. Ara menyentuh keningnya terpaku.


"Pakai bajunya, pintu di sebelah walk in closset itu pintu kamar mandi." Ucap Bryan yang sudah mengenakan kaos putihnya.


Ara menganggukkan kepalanya. Ia menunggu Bryan untuk pergi, karena gak mungkin Ia jalan dengan keadaan yang hampir full naked.


Bryan berjalan menuju ruangan tanpa pintu di kamarnya. Ara yang melihat Bryan sudah hilang di telan tembok pun segera berlari ke kamar mandi.


Sedangkan Bryan yang ada di ruangan lain terkekeh melihat kelakuan seorang gadis yang ada di layar monitor miliknya.


Ceklek


Ara keluar dengan mengendap - endap. Ia sungguh kesal pada cowok yang namanya Bryan namun sayangnya cowok itu calon suaminyaaaaaa.


Ara sungguh malu saat ini, pakaian yang Bryan berikan membuatnya sangat malu. Paha putih mulusnya terpampang sempurna. Sleep dress satin putih, dengan tali spagheti. Meski satu set dengan kimononya. Namun Ara baru kali ini pakai pakaian seperti ini.


"CaMer gue absurd jugaaaa, masa Ia nyiapin baju kek giniiiii." Batin Ara berteriak.


Saat ini Ia sedang masuk ke kamar mandi setelah Ia membawa peralatan skin care nya. Sambil melakukan night routine, sambil mulutnya komat - kamit.


Di kamar mandi yang luas ini ternyata di luar ekspektasinya. Ia kira kamar mandi juga akan full hitam, ternyata enggak.



Ara berjalan ke arah bathtub, menatap pemandangan langit malam dan hamparan pohon lebat sampai terlihat gedung - gedung tinggi ibu kota.


Dinding full kaca di samping bathtub itu sepertinya akan membuat nyaman jika berendam. Sepertinya besok - besok Ia akan mencoba untuk berendam disini. Hihihii


Ara kembali ke washtafel menyelesaikan rutinitasnya. Ara menatap pantulan dirinya di cermin. Rambutnya sengaja Ia gerai untuk menutupi bagian depan tubuhnya yang tak terlalu tertutup.


Merapatkan kimononya, Ara berjalan keluar kamar mandi.


Ceklek


Grep


"Oh Tuhaaaaan, cobaan apalagi iniiiiiiiiii." Batin Ara berteriak.

__ADS_1


Sepertinya batin Ara tanpa henti berteriak saat Ia menempati kamar Bryan. Sabaar, 5 hari kedepan Ara harus waspada.


...Bersambung...


__ADS_2